
Part 10
“Stop. Aku udah ngerti pembicaraan kamu kemana arahnya. Jadi tidak perlu dilanjutkan. Aku pergi!” tidak mau cek cok dihadapan orang banyak aku lebih memilih pergi dari tempat itu. Jalanku menuju kearah kasir sembari semberikan sejumlah uang yang harus dibayarkan.
“Ini kembalianya ka!” ucap kasir
“Ambil Aja mbak….!”
“Makasih…!
“Sama sama!
Angga yang tak mau dilihat orang sedang dalam keadaan ginting, dia memilih menungguku diluar dibanding mengikuti langkahku.
“Melllll, tunggu!” teriak Angga gari kejauhan
“Kita akhiri saja hubungan ini. Kamu akan terbebas dari tanggung jawab. Iya khan!”
“Ga bisa kaya gitu dong. Kita masih punya alternative lain!”
“Alternatif apa? Melanjutkan aktifitas sexual kita, dengan cara mengugurkan dulu kandungan ini? begitu kah?”
“Mel, plis. Kita harus membicarakan ini dengan hati dan kepala dingin!”Kata kata Angga yang sedikit menyakinkan.
“Okeh, kalau kamu mau kandungan ini di aborsi. Dengan 1 syarat. 1 bulan setelah aborsi kamu nikahin aku.”
“Emmmhhhhh… tapi…tapi!”Jawab Angga masih dipenuhi keraguan
“Masih bukan? Kamu pikir aborsi itu mudah, siapa yang paling dirugikan dengan aborsi itu. Perempuan mas. Lagi pula kita sudah berbuat dosa apa harus ditambah lagi dengan dosa yang lain?”Ucapku dengan tegasnya.
“Sayang kita itu saling mencintai…..”
“Cinta? Masih saja cinta yang menjadi alasan? Kalau kamu cinta, kenapa dengan mudah kamu bilang aborsi? Bukankah anak itu adalah buah dari cinta, kenapa cintamu harus mengaborsi?atau jangan jangan? Berapa wanita yang pernah kamu suruh aborsi mas?
“Plakkkkkk…….!” Tamparan keras Angga hinggap dipipi kiriku
“Kamu mas…..!”sembari memegang pipi yang ditampar tadi, aku lari sekencang kencangya. Menuju ke arah kontrakanku.
“Mel Tunggu…..!” teriak Angga sambil mengejarku
Bruk……
__ADS_1
Aku menutup pintu kontrakanku dengan keras. Angga yang mengejarku, tiba di kontrakanku hanya berselang 2 menit.
“Mel…sayang. Buka pintunya, aku ga bermaksud nyakitin kamu. Aku hanya kepancing. Emosiku kepancing sama semua omongan kamu sayang. Plis buka dulu pintunya yach. Aku mohon!”suara itu terdengar dengan rintihan tangis.
Angga yang menangis diluar begitu juga aku yang merintih didalam ruangan. Selain malam kemarin bersama Mega ternyata Malam ini terasa begitu Pekat dan dingin. Aroma perpisahan sudah Nampak kepermukaan. Aku yang tak tau benar atau salah bertindak karena kekesalanku terhadap laki laki si kumbang ******. Yang hanya ingin meneguk cinta dari serpihan serbuk sari si Bunga tak berdaya.
Bolehkan aku kembari ke waktu itu waktu dimana aku tak mengenal cinta palsu jenis ini. Aku terpukau wajah polosnya Angga yang dipenuhi keanggunan pria gagah perkasa. Yang lebih jelasnya lagi dia hanya mampu mengagahi ku saja tanpa mewarisi kegagahan pria seutuhnya. Apa lagi yang diharapkan dari seorang pria selain pertanggung jawabanya. Bertanggung jawab dalam tingkah laku, bahsa dan sikap yang diambil dari semua perbuatan.
Aku, ya aku yang masih gammang dengan hal yang harus ambil dari keputusan dalam hidup ini. Melanjutkan hubungan dengan resiko aborsi, atau melanjutkan hidup dengan mendapati diri sendiri menanggung beban. Memertahankan sang jabang bayi hasil perbuatan haram kami.
Sesekali aku buka hanphoneku. Ingin menuliskan pesan terhadap kelurgaku, mengungkapkan semua hal beban yang menindih pundakku tapi tak mampu. Menghubungi teman terbaikku Riki dan menangis pilu, terasa seperti aku mempermalukan diriku sendiri.
Akhirnya aku menuliskan pesan pada Mega,
“Askum, Mega kayaknya 3hari kedepan aku izin ga masuk sekolah. Aku mau pulang Ke Bandung, tolong bilangin aja ada urusan keluarga. Terimakasih”
Dan aku menuliskan pesan juga untuk mamahku dirumah,
“Mah kayaknya aku ke Bandung, gak tau kenapa aku ngedadak kangen rumah. Sediain sayur asem yach!”
Aku menuliskan kedua pesan ini sembari terisak, Angga yang merasa terabaikan diluar kontrakan ku menyerah pulang karna tidak dibukakan pintu. Dan aku memutuskan untuk sejenak pergi dari kenyataan dengan menikmati hawa Rumahku syurgaku. Mengharapka aroma ketentraman dari hal yang aku hadapi.
++++
“Garut…Garut…Ongkosnya teh?’ suara kondektur ini terasa begitu memekikan telinga
“Baru juga naik, ko udah di pinta ongkos?”Kataku ketus
“Iya teh, sengaja. Biar tau kemana tujuanya!”
“Ini 60rb…”
“Cileunyi kan…”
Setelah mendapatka uangya dia langsung pergu begitu saja, aku duduk dibanku kedua setelah supir, tak mau ada orang yang duduk disebelahku sengaja disimpan tasku disana.
Grek…grek…grek
Terus melangkah melupakanmu
Hati hati perhatikan langkahku
__ADS_1
Jalan pikiran mu, buatku meragu
Grek..grek…grek
“Eh itu lagu Noah, kenapa dipindahin pa supir!”kata hatiku
“Baiklah kita berjumpa lagi dalam acara dangdut di goyyyang……!” Dari radio bis itu terdengar suara pembawa acaranya.
“Ko jadi acara dangdut…!” Masih kata hatiku
“Ini dia lagu yang udah di request listener dirumah, selamat mendengankan goyyyang…!”
Bungaku Dahlia……
Wahai bunga pujaan. Kau bunga Dahlia
Kau bunga kesayang. Bunga Dahlia
Datanglah kumbang menghampirinya. Kumbang tiada belas kasihan.
Bungaku layu layu ditaman bunga Dahlia
Bungaku layu layu ditaman ditaman impian.
“Lagu itu…!” tak kuasa aku menahan tangis.
Lagu yang mengiasi perjalan 3 jamku menuju Bandung. Dihiasi lagu yang unpredictable. Pernah aku mendengar lagu ini, tapi baru kali ini terdengar lebih mengena kehatiku. Aku bilang kau sikumbang ****** yang menghisap madunya bunga ini. Tanpa tau kalau aku jenis bunga apa? Kini aku tau, bunga ini adalah bunga Dahlia. Nampak jelas dari liriknya, bunga pujaan dan bunga kesayangan menjadi layu ditaman setelah dihampiri kumbang tiada belas kasihan.
“Bila aku bunga Dahlia, apakah aku masih berwarna? Bila saja aku berwarna, warna apa yang cocok dengan keadaanku saat ini. Merah? Kuning? Hijau? Jingga? Adakah warnanya gelap gulita? Yang malah Nampak pekat dilihatnya.” Air mata ini membasai semua permukaan pipikku, tak kuasa menahan tangis karna lirik lagu yang baru saja menghantam hatiku.
Mah, Bunga Dahlia ini pulang! Berharap masih ada tangan terbuka yang hangat menyambutku disana. Memberikan cinta seutuhnya, tanpa pamrih dan tanpa Aborsi.
Sesampainya dirumah,
“Sayang, mamah kangen banget. Cape ga? kita makan dulu yach. Sayaur asemnya udah siap didapur. Kamu pasti cape khan?” Sambut mamahku
Aku dipeluk mamahku, dikecup adikku dan disambut hangat oleh bapakku. Membuyarkan ingatanku yang pekat disana. Membiarkanya sedikit pergi dulu dari benakku
Srupppppppppt….
Suara sruputan sayur asemku terdengar jelas kepermukaan, “maaf maaf enak banget soalnya!”
__ADS_1
Mereka tertawa riang melihatku bahagia dengan semangkuk sayur asem ini, tak kuasa aku melihat mereka. Seandanya mereka tau tentang ini mungkin tawa riang itu belum tentu hadir.