Dahlia Pekat

Dahlia Pekat
Part 28


__ADS_3

Yang terbersit dalam pikiranku adalah, kenapa orang ini sombongnya bukan main. Padahala gajihnya separuh dari gajih ku. Karena dia berposisi sebagai pegawai tidak tetap, sehingga dia masih dalam masa percobaan. Gajihnya hanya setenganya dari gajih kami yang sudah menjadi pegawai tetap. Kalau saja gajih ku 6 juta, maka gajihnya Angga 3 juta. Belum lagi dibagi dua denganku. Apakah uangnya akan cukup, untuk kebutuhanya sehari hari?


“Emang dasar, kenapa aku terima uangnya….!” Ungkap ku sembari memukul mukulkan kepalan tangan kepala.


“Kenapa?” Mega sontak memberi respon dari sikapku yang berlebih menyikapi kata hatiku.


“Aku melupakan sesuatu, kayaknya!” aku kembali melangkahkan kaki ketempat pentri tadi, disana malah aku melihat mereka berdua sedang tersenyum berdua. Bersendau gurau, berbicara manja, layaknya sepasang kekasih. Aku memasuki ruangan itu, sembari mengukirkan senyuman sinis bak pemeran antagonis dalam sinerton striping panjang tak berujung. Pura pura membuat teh manis, padahal tadi aku sudah membuatnya 1 gelas. Niat untuk mengembalikan amplop isi uang, malah hati ini terasa gammang melihat kemesraan mereka yang tak menghiraukan aku.


“Hadeuhhhh,……diabetes militus nich, aku!”


Aku kembali lagi mengakhiri kegamanganku di dalam ruangan itu, ke rauangan Aula yang masih terasa bising. Mereka masih mempertontonkan acara yang ada.


“Hemhhhhh…!” aku hanya mampu menghela nafas panjang. Dari adegan yang mereka bikin di pentri. Entahlah kegamangan ini dari mana berasal, tak mungkin aku cemburu. Aku sudah memiliki Mas Rendraku yang baik hati dan perhatian. Mungkin hanya merasa tidak nyaman, melihat orang yang pernah ada dalam dekapanku menjadi orang yang terspesialkan oleh orang lain.


Padahal niat ku baik, ingin memberikan kembali uang ini yang terasa tak akan cukup untuk kebutuhan dia. Tapi malah, ada rasa tidak enak dalam hati yang aku dapatkan.


“Sudahlah, sudah……!”


“Heh, kenapa? Dari tadi ngomong sendiri, jadi khawatir aku.”


“Gak apa-apa, lagian dari tadi aku gak ngomong sendiri. Tapi, lagi nyanyi ngikutin anak anak.” Jawabku untuk menutupi rasa malu.


“Halo, lagu apa? Dari tadi juga, gak ada lagu “sudahlah”!” mata Mega yang terbelalak menuju kearah wajahku, yang dengan jelas aku mengelak dari rasa maluku.


“Udah, dech jangan lebay!”aku pun mencari alasan baru untuk mengelak.


Aku menutup, komunikasi yang dibikin dari rasa heran seorang Mega terhadap temannya. Berguman sendiri memang bukan kebiasaanku, tapi beberapa pemandangan yang Nampak di pelupuk mataku membuat aku mempunyai kebiasaan baru.


“Sudahlah,…..! Aku harus menyudahinya, pergi pergi, hush hush!”

__ADS_1


Aku berharap, gumanku ini tidak terlalu keras. Pasti Mega meberi protes keras. Kalu saja suara hati ini keluar karena saking jengkelnya.


+++++


Karena Riki sedang ada ditempat yang sama dengan kami, dia mengajak kami pulang bersama.


“Kita naek angkot Meg?” tanyaku pada Mega.


“Dia lagi belajar bawa mobil, terus yang jadi percobaanya kita berdua.”


“Percobaan jadi penumpang? Ga boleh!” ujar ku sembari menggelengkan kepala.


Diluar ternyata ada mobil Avanza abu, yang bertuliskan nama yayasan tempat kami bekerja. Mobilnya masih baru, padahal pengemudinya juga baru bisa.


“Serius…mobil ini juga kelinci percobaan?” tanyaku dengan meraba bagian mobil.


“Ayo, naik!”ajak Riki dengan begitu percaya diri.


Kami bertiga naik mobil, dengan perasaan senang karena bisa naik kendaraan pribadi. Tapi ada rasa gusar, karena sebagai kelinci percobaan.


“Jadi mel, kamu mesti tau. Kalau tiba tiba kita gak ada di kontrakan, atau malah jalan berdua. Justru kami sedang dalam pembelajaran kursus mobil.” Ungkap Mega menjelasan beberapa alasan yang pernah dibikin, ketika mereka ngilang berdua. Dan membiarkan aku dengan mas Rendra berduaan.


“Ough…!” responku datar.


“Tapi jangan khawatir, dia udah mempuni. Iya, khan sayang!” ujar Mega sembari mencolek pipi putih kekasihnya.


Bagus kalai saja Riki sudah lancer membawa mobil, walaupun terkesan memberi surprise namun tidak jadi hal yang luar biasa.


“Eh, kita jalan dulu yuk?” ajak Riki.

__ADS_1


“Asik, kemana?” aku yang pura pura bahagia ditengah kegamangan.


“Minimarket……….!” Kata kata ini diungkapkan Riki seperti melengkapi jiwa ragaku yang sedang dalam keadaan lusuh. Aku sontak merespon ungkapanya dengan wajah BT tingkat Anjasmara.”Okeh….”


Mereka berdua terbahak bahak, menertawakan responku yang ber-angan terlalu tinggi. Dan jatuh ke bagian dasar bumi.


Aku pikir jalan jalan itu, kepantai, kegunung, kehutan, atau paling enggak ke Mol tarap artis ibu kota. Ini malah minimarket, yang berjejeran dimana mana. Aku jadi ingat minimarket berhadapan, tempat aku dan Angga berkenalan dulu. Tempat ini ada di gerbang menuju bangunan seribu pintu. Sekarang ada lagi minimarket, menuju rumah kontrakan kami. Aku yang duduk dibelakang sendiri, menikmati beberapa pemandangan kota yang penuh sesak. Dengan hirup pikuk manusia di jam pulang kerja, sedangkan mereka berdua ada didepan. Duduk berdua sembari tertawa cekikikan, melihat expresi ku tadi,


Sesampainya diminimarket, Melia Nampak seperti orang kesetanan. Memang minggu ini adalah minggu pertama, dan minggunya gajihan. Biasanya aku dan Mega selalu belanja untuk kebutuhan sehari hari, tapi karena teringat dengan uang dalam amplop yang Angga berikan tadi. Aku membawa semua jenis cemilan yang Nampak enak dihadapan.


Mega dan Riki bingung, melihat tas belanjaku yang penuh. Dan bertanya sejenak,


“Mel, kenapa belanja sebanyak itu. Kita masih bisa kesini lagi minggu depan atau minggu depanya lagi!” Ungkap Mega yang Nampak bingung dengan tingkahku.


Ketika pandanganku menuju kearah tas belanja yag dari tadi dijinjing, aku baru sadar. Ternyata cemilan yang aku bawa terlalu banyak, “Ough, iya. Kebanyakan nich!”Masih seperti orang kesetanan, aku kembalikan beberapa cemilan yang Nampak terlalu banyak ini ketempat semula.


“Mel, are you oke?”ungkap Mega dengan mata terbelalak.


“I’m fine,….!” Responku masih datar bak orang yang merasa tidak ada masalah.


“Kamu tuh, udah aneh dari tadi pagi. Ngomong sendiri, nah sekarang malah kakak orang yang …..gini tau ga!” Mega mengungkapkan kata kata itu dengan kesalnya dan sembari menguratkan jari ke dahinya. Untuk menujukan kata’Gila’ pada teman terdekatnya itu.


Masih dengan wajah datar, aku menganggap semua baik baik saja. Tak sadar bahwa belanjaanku hampir 500ribu hanya untuk cemilan saja.


Dibayar dikasir, dengan uang yang aku keluarkan dari amplop pemberiannya Angga. Seperti menujukan kekesalanku terhadap prilakunya tadi, aku melampiaskan dengan menghabiskan uang untuk yang tidak perlu.


Memakan makanan yang aku beli tadi tanpa henti, yang ini dibuka. Yang itu dibuka juga, mega sontak berkomentar keras.


“Kamu lapar atau….?” Tanya Mega, dengan menggelengkan kepala.

__ADS_1


“Menurut mu…!”


“Nafsu…!” ungkap Mega yang yakin dengan apa yang keluar dari mulutnya.


__ADS_2