Dahlia Pekat

Dahlia Pekat
Part 2


__ADS_3

Perbincangan perbincangan yang penuh dengan canda tawa ini, cekakak sana cekakak sini. Beberapa pasang mata melirik kami berdua. Entahlah mungkin tawaria kami membingungkan atau memberi beban di telinga mereka. Padahal di restaurant itu masih ada lantunan lagu noah yang sendu, tetap saja suara kami yang lebih unggul.


“ssst…udah deh ketawanya diskip dulu, buat besok!”kata Riki


“Habisnya siapa yang bikin comedy dadakan, so so an ngajak pacaran. Padahal dari dulu juga kamu yang bilang kita udah cocok banget temenan dan belum tentu peralihan status ini bias membahagiakan. Biasa saja kita memang tercipta hanya untuk berteman.”


Tawa Riki makin melebar saja, hanya merespon kata kata ku dengan 2 anggukan.


Dia sama yakinnya dengan aku, aku mesti berguman lagi dalam hatiku.


“Yang penting kamu selalu ada!”


Treng terang….HP ku berbunyi. Di sela sela perbincangan kami, datanglah suara itu.


“Cek HPnya tuh!” Seru Riki


“Iya, baiklah temanku” Jawabku bercanda


Suara itu berasal dari bunyi emaiku, disana tertera panggilan wawancara kepada Melia Anjani. Dengan jelas disana disebutkan aku sebagai pelamar harus datang tepat waktu pukul 7.00 wib. Yang bikin heran aku sama sekali belum pernah mengajukan lamaran ke tempat manapun. Aku yakin ini adalah surprise yang dijanjikan seorang Riki Firmansyah.


“Ki, please jangan bercanda dong. Ini tempat kerja jenis apa?” Tanyaku


“Sekolah..!”


“Kenapa sekolah? Aku ini lulusan ekonomi UPI lho, kenapa harus mengajar. Kayaknya ga salah juga kalua aku berfikir untuk bekerja dikantoran dengan stelan jas rapih. Masa ini disekolah?terus kapan aksi ini diluncurkan?” Pertanyaanku bertubi tubi.


“Aku pikir kamu punya watak keibuan, bekerja di jenis Sekolah SD IT Bekasi kayaknya lumayan menggiurkan. Belum lagi tidak ada jam lembur yang harus dilaksanakan. Kalau soal waktu kamu juga tau kapan tepatnya!”


Semua pertanyaanya dijawab lengkap dan lugas, begitu penuh keyakinannya dia saat berkata kata. Tak ada keraguan sedikit pun darinya. Saat kulihat lagi waktunya ternyata 2 hari lagi dari sekarang. Mengajar bukan pilihanku, namun sang sahabat baikku beranggapan aku yang memiliki jiwa keibuan ini mampu untuk mengemban tugas ini.

__ADS_1


Seperti yang tersirat dipikiranku, kalau seorang Riki berani berbuat berani bertanggung jawab. Tidak hanya sekedar melamarkan pekerjaanku, tapi dia mengantarku ketempat yang dituju. Jam 3 pagi kami berangkat dari Bandung, wawancaraku pagi pagi sekali. Jadi dia memutuskan berangkat jam segini dari pada harus menginap.


Disaat tes wawancaraku bergulir, seorang Riki menungguku diluar. Aku menyuruhnya untuk mendoakanku dan tidak keluar dari masjid sekolah.


“Melia Anjani,”


“Iya pa, saya!”


“Silahkan jelaskan alasan anda melamar kesekolah ini?”, pertanyaan ini adalah salah satu yang ku ingat dari 15 pertanyaan yang diajukan. Dan entahlah jawaban jenis apa yang harus diucankan untuk jenis pertanyaan ini.


“Sial, aku harus menggunakan alasanya Riki nich. Soal karakter keibuanku yang dimiliki!” gerutuku dalam hati


Entahlah Riki itu jenis manusia macam apa? Dari sisi mana dia melihat karakter keibuanku ini, aku suka dunia anak anak. Dekat dengan mereka, melihat tawa ceria mereka yang tulus tidak mengada ngada. Ringan tanpa beban. Tapi itu sesekali, kalua setiap waktu: aku tidak yakin bias menampakan karakter itu.


Yang mengagetkan lagi dari 15 pelamar, ternyata yang diterima itu ada 2 orang. Yaitu aku dan salah satu laki laki rapih , yang urutan test nya berdampingan denganku.


“Ibu Melia dan Bp Wisnu, selamat bergabung dengan sekolah kami. Anda berdua akan mengemban tugas sebagai guru IPS. Semoga bisa kerasan dan mengabdi dengan hati. Gajih di sekolah memang tidak sebesar diperusahaan tapi inysaallah kepuasan yang lain yang akan didapat. Misalnya ketika melihat anak yang mampu mengaplikasikan materi dengan baik. Itu luar biasa, kemudian silahkan tandatangan kontaknya. Kontrak ini berlaku untuk 2th, bisa di perpanjang kontraknya atau bahkan menjadi pegawai tetap disini. Labih tepatnya GTY(guru tetap Yayasan), silahkan!”ucap bapak bagian personalia itu sembari memberikan secari kertas pada kami.


“Hemmm …….udara angina asli yang aku hirup. Hah segarnya, setelah tadi paru paruku agak terbelenggu!” kini lumayan sedikit ringan. Walaupun sebenarnya udara diluar hotnya bukan main. Dari pada diruangan dingin berAC yang penuh tekanan.


Diluar ruagan aku agak terheran heran, kenapa baru sekarang aku lihat dia mengobrol dengan seorang wanita dipenuhi sukacita.


“Ada apa ini, ko aku mulai curiga?”kata hatiku dipenuhi kelicikan


Bisa bissanya dia bincang bincang dengn penuh pesona, sedangkan temanya sedang ada dalam satus yang menegangkan. Jangan jangan dia kenalan, atau bahkan kenalannya di chating, atau ……………….?


Ketika melihatku keluar, dia langsung menghampiriku


“Selamat yach!” katanya sambal mengulurkan tangan

__ADS_1


“Kok selamat, tau dari mana aku selamat?”


“Pasti kamu yang selamat, orang yang lain udah pada keluar. berarti kamu orang yang selamat!” Riki masih menggodaku


“Ki, jujur ya. Tadi ngobrol sama siapa?jangan jangan dia! Siapa ayo jelaskan?” lagi lagi pertanyaanku tidak kurang dari 2


Dia bicara dengan lantangnya, menjelaskan semuanya. Tipu muslihat dan akal bulusnya.


“Ough jadi dia si MM itu, siapa namanya Mega …em……ma… .siapa sich lupa!” ujarku sambal menunjukan ke BTan ku.


“Iya dia MM tepatnya Mega Maharani…!”


Enak saja dia, mau main main denganku. Dia yang sengaja melamarkan pekerjaa untukku ditempat teman chatingya bekerja. Tau memang, itu dilakukan suapaya dia bisa berdekatan dengan alasan aku. Sekarang sudah tiba waktunya aku terabaikan. Tidak pernah aku melihat Riki ku itu menatap lawan jenisnya dengan tatapan mendalam. Meskipun aku seharusnya berterimakasih dengan jasanya ini, tapi ada PR lain yang hrus terselesaikan. Bagaimana tidak, aku yang dari dulu menjadi orang yang perjuangakan sekarang ada orang lain yang terspesialkan. Spesianya bukan martabak manis tapi senyum yang manis.


Mungkin bagi mu dia adalah Mega Maharani tapi bagiku MM itu Mega Mendung, orang yang membuat langitku sendu, menutup matahari yang sesaat bersinar dengan Mega mu itu. Gelap hari ku ini, kenapa kau hadir sesaat aku piker ada secercah harapan. Harapan dapat masuk kesela sela hati Riki ku. Ternyata, Mega mu Itu Mendung. Benar benar menutup sebagian pandanganku terhadapnya.


“Ayo sini aku kenalin!” kata Riki sembari sedikit menyeret tangaku dengan lembut


Kenalin ini Mega teman cahtingku dan ini Melia teman baikku.


“Hai ..aku Melia”


“Aku Mega….!


“Senang bisa berkenalan sama kamu..!”


“Iya aku juga!


“Kita akan selalu bertemu disini, semoga kita bisa menjadi teman juga rekan kerja.”Mega menucapkan itu sembari mengulurkan tangan.

__ADS_1


Aku yang berharap dalam hati, semoga saja dia tidak merasakan getaran amarah terpendamku. Amarah yang merenggut sebagian perhatianya Riki terhadapku.


__ADS_2