Dahlia Pekat

Dahlia Pekat
Part 17


__ADS_3

2 tahun sudah kejadian itu berlalu dihadapanku, mereka menganggapku ibu yang tidak manusiawi. Membuang anak hasil hubungnan haramnya ketempat yang tidak tau seperti apa jelasnya. Berkomitmen untuk melahirkanya tapi setelah melihat kenyatanya menjadi orang tua dalam keadaan yang tidak semestinya, bukan hal yang mudah. Bukan soal bagaimana orang menilai atau menghakiminya, tapi dirinya sendiri yang menghakimi kelakuan tidak terpujinya itu.


6 bulan pertama aku diliputi rasa bersalah dengan mimpi buruk tak terhitung. 6 bulan kedua aku memaafkan kesalahan sendiri mengakuinya terhadap Allah dan mulai mencintai diriku sendiri. 6 bulan ketiga aku menyibukkan diri dengan segudang aktifitas untuk melunturkan ingatanku tentang semuanya. 6 bulan yang keempat Aku sudah mendapatkan seorang laki laki dewasa nan tampan Menghiasi hidupku.


Bukan perkara mudah Move on, tapi Mega dan Riki selalu menjadi sutradara didalam kehidupanku. Mereka mengenalkan aku dengan laki laki yang bernama Rendra Abimana. Dia adalah seorang pegawai di penerbit yang di pilih sekolah untuk memasok buku yang dibutuhkan. Dia berwajah putih bersih sehingga orang akan melihatnya Nampak tampan. Bajunya yang selalu rapih, membuat aku selalu kagum dengan pembawaanya. Berbicara santun dan dewasa. Dia berusia sekitar 34tahunan dengan status Duda beranak satu. Perceraiyan mereka dikarnakan sesuatu hal yang sudah tidak sejalan.


“Aku mau makan siang! Bareng yuk!” ajak Rendra padaku.


“Kamu tunggu aku dikantin, nanti aku nyusul. Mau nemenin Aisah dulu sebentar!” Jawabku dengan wajah berseri.


Kembali membuka hati setelah pahitnya kenyataan hidup yang aku punya memang bukan hal yang mudah. Mega menjodohkan ku denganya, karena Rendra selalu bertemu denganku setiap satu minggu sekali disekolah. Tapi aku selalu bersikap dingin. Sehingga Mega berfikir kami harus disatukan dengan sedikit skenarionya.


“Aku nungguin kamu ko lama banget,,,,!” Ucap Rendra dengan wajah ditekuk


“Maaf mas, nanggung tadi.”


“Aku udah pesenin tuh, mie tek tek. Mau ga?”


“Yach, aku kepengenya nasi. Tapi ga apa apalah. Aku suka ko!”


“Ough Lambung kamu yach, aku lupa!”


“Jangan khawatir aku mau makan mienya di temenin nasi…..xixi…!”


Aku selalu tersenyum bila saat denganya. Karna wajahnya yang sumringah dan pembawaanya yang mengayomi membuat aku nampak dimengerti olehnya. Entahlah rasa ini ada karna bisa saja kami berdua pernah terluka, jadi kamu selalu berusaha sekuat tenaga untuk saling memahami.


Melihat wajah sumringah kami berdua Mega jelas tidak berdiam diri,


“Wah makannya ga ajak ajak ini, menyalahi koridor ini!” Mega datang tiba tiba.


“Koridor apa?” Rendra sontak bertanya


“Mestinya mak comblangnya juga diraktir”


“Ough dasar….mau gratisan nich punya teman!”

__ADS_1


“Iya ayo gabung aja…!”Jawab Rendra sedikit lega.


Rendra tak pernah bisa diajak bercanda, bercanda sedikit saja wajahnya tak bisa diajak kompromi.


“Malam minggu besok kami mau merayakan hari jadi, agak lebay sich Nampak kaya ABG tapi ga apa apa khan. Nanti kalian datang juga, tempatnya di Lippo. Udangan ini terbatas, limited edition soalnya!”


Mega menjelaskan rencana itu pada kami yang sedang sumringah. Biasanya aku berangkat ketempat itu selalu dengan mereka bertiga. Sekarang senangnya hatiku sudah bisa ada yang mendampingi.


+++++++


Malam minggu Di Lippo sangat padat. Daerah Bekasi yang dipenuhi penduduk pendatang yang ikut bekerja, menjadikan tempat ini menjadi salah satu yang dikunjungi sebagai pelepas penat. Kami bertiga sudah sampai setengah jam yang lalu tapi HPku masih belum menunjukan ada tanda tanda berbunyi.


“Coba Mas Rendranya di hubungi Mel, Cek aja lokasinya ada dimana sekarang!” Kata Riki


“Iya aku telpon, dech!”


“Pastikan posisinya masih dimana, keburu malem ini!”


Rencananya memang celebration hubungan mereka, tapi kami diajak biar agak seru. Karena seperti pasangan lainya setelah makan biasanya nonton di bioskop, kalau terlalu malam nanti nontonya keburu ngantuk.


“Apa katanya?”


“Sorry gak bisa datang soalnya anaknya sakit!” Aku membacakan pesan yang Rendra kirim padaku tadi sore, dan baru kebuka saat semuanya hampir sempurna.


“Yach, gagal dech doubledet nya…hehe!”Ucap Riki dengan sedikit bercanda.


“Kalian makan aja dulu, aku mau jalan jalan!” Kataku pada mereka karna sedikit kecewa.


Berpacaran dengan seorang duda memang mempunyai resiko tertentu, kadang ini kadang itu tanpa ada angin dan hujan. Takut takut nya nanti tiba tiba ada petir yang tak bisa aku perkirakan. Kami berdua memang sudah berniat serius setelah satu tahun rencana nya kami mau bertunangan. Dia sudah aku kenalkan ke kelurgaku yang ada di Bandung begitu juga aku yang sudah dikenalkan oleh Rendra ke keluarganya yang berada di Jakarta. Masalahnya kelurganya berdekatan dengan tempat tinggal keluarga mantan istrinya Mas Rendra. Sehingga ketika ada kondisi seperti ini, Rendra seperti sontak memberikan perhatian penuhnya ke kelurganya yang terdahulu.


“Anak jadi alasan, begitu pentingkah anaknya dibanding aku. Padahal aku juga sudah punya anak. Tapi malah diabaikan.”Kata hatiku tak karuan.


Kata hati yang tak karuan ini sontak menyadarkan apa yang sudah aku perbuat, menjadi ingat lagi soal anak itu. Malah bertanya tanya anak itu bagaimana keadaanya? Dengan Siapa? Sudah sebesar apa?


“Mel,……” Suara laki laki dari belakangku.

__ADS_1


“Iya…kenapa yach?” Responku sembari memalingkan muka ku kebelakang. Ingin lebih jelas lagi siapa laki laki yang memanggilku.


“Hai, apa kabar? Kamu masih inget aku?”


“Yu..u..u..da khan?”


“Waw gak yangka benget bisa ketemu sama kamu disini. Gimana kabarnya?”


“Baik..ka.ka..mu gimana” Jawab Ku sedikit terbata bata. Takutnya ada teman baiknya dibelakang nonggol yaitu Angga.


“Eh kita duduk dulu yuk…!”


Kami akhirnya mencari tempat duduk untuk sekedar berbincang. Membicarakan betapa lamanya kami tidak bertemu. Dan ketakutan ku ada temen baiknya nongol ternyata tidak tepat.


“Aku mau nikah, kamu bisa datang khan?”Ucap Yuda


“Nikah, wih hebat. Sama cewe mu yang waktu itu?”


“Emhhhh…bukan”


“Upst sorry, aku pikir kalian masih lanjut”


“Itu jadi kisah pilu, aku masih sangat mencintainya. Tapi ternyata dia memilih putus denganku dan menjadi simpanan Anggota polisi daerah Depok. Sampai saat ini rasa itu masih ada, tapi kenyataan membuat aku harus bangun. Dan menata hidupku dengan perempuan lain”


“Sorry banget, aku gak bermaksud. Btw selamet atas pernikahan kalian. Kapan waktunya?”


“Akhir Desember, kalau kamu mau kesana aku serloknya. Hubungi aku aja nanti!”


“Kamu orang Yogya khan, jauh banget kesana nya gak. Riki suka gak ngijinin kalau aku berangkat jauh jauh!


“Iya sich, aku juga gak pungkiri itu. Perjalanya lumayan panjang. Tapi jikalau kamu punya waktu senggang kamu hubungi aja aku kalau jadi kesana. Ini undangang nya”


“Makasih banget undanganya, aku cuman bisa doain. Tapi kalau kamu udah ke Bekasi lagi, aku nitip kado aja buat istri nanti yah!”


“Kalau aku inget kamu…..aku jadi kepikiran sama Angga”

__ADS_1


__ADS_2