Dangerous Fiancee

Dangerous Fiancee
Ciuman liar


__ADS_3

Pagi harinya Dambi masih tertidur dan meringkuk di atas


ranjangnya ketika suara ketukan pintu kamarnya berbunyi. Dambi


mengernyit, meraih jam beker di sebelah ranjangnya. Masih


jam enam pagi. Siapa yang datang ke kamarnya sepagi ini?


Dengan susah payah Dambi turun dari ranjang, ia melihat penampilannya sebentar di cermin dan dia baru tersadar ternyata dirinya tertidur masih lengkap dengan gaun pesta dan makeup yang tidak dia hapus. Astaga Dambi. Untung tak ada jerawat yang menghampiri wajah mulusnya.


"Dambi, kamu udah bangun sayang,"


ia kenal suara dari luar, ternyata mamanya Angkasa.


Dambi melangkah ke arah pintu dan membukanya. Mama Angkasa sudah berdiri dengan senyuman lebar didepannya. Kalau dipikir-pikir sebenarnya dirinya beruntung bisa mendapat mertua baik yang sayang padanya seperti orangtua Angkasa. Hanya saja ia merasa jengkel pada Angkasa yang selalu jahil, kadang suka mengancam dan bahkan senang mempermainkannya. Tapi mau bagaimana lagi, mereka sekarang sudah bertunangan. Dia tidak bisa lari dari kenyataan itu. Dia akan mencoba sebaik mungkin menghargai tunangannya. Tapi kalau Angkasa sengaja mempermainkannya, awas saja. Dia tidak akan tinggal diam.


"Tante ada perlu?" tanyanya menatap wanita paruh baya itu.


"Kok tante, panggil mama."


"M...mama," ucap Dambi lagi masih merasa canggung.


"Nah gitu kan lebih bagus. Mama mau ngecek aja. Kamu nggak kenapa-napa kan? Soalnya semalam Angkasa bilang kamu kecapean banget." karena teringat kata-kata Angkasa ditelpon, pagi-pagi sekali Ria langsung mengecek kondisi menantunya. Bahkan Dambi masih memakai gaun yang semalam yang dia pakai ke pesta. Pasti kelelahan sekali sampai ganti pakaian saja tidak sempat. Ria jadi kasihan.


"Nggak apa-apa kok ma, Angkasa aja yang terlalu berlebihan." sahut Dambi. Dasar Angkasa, pake cerita ke mamanya lagi. Dia memang capek semalam, tapi nggak perlu sampe lapor juga kan. 


"Oh ya udah kalo gitu. Kamu ada kuliah nggak hari ini?"

__ADS_1


"Ada jam delapan."


"Kalo gitu kamu siap-siap ya, terus turun sarapan biar bisa ke kampus bareng Angkasa." kata Ria lalu berbalik pergi meninggalkan Dambi yang termenung didepan pintu.


Pergi bareng Angkasa? Yang benar saja. Dia tidak mau jadi artis kampus. Kalau sampai para penghuni kampus mengetahui dia dan Angkasa ada hubungan, nama mereka pasti bakal jadi berita utama. Tidak, tidak. Jangan sampai. Dirinya masih ingin hidup nyaman di kampus, lebih baik tidak ada yang tahu. Tampaknya dia juga harus bilang ke Angkasa agar menyembunyikan hubungan mereka dari anak-anak kampus.


Dambi lalu ke kamar mandi, menggosok gigi, dan mencuci


mukanya. Dia mengernyitkan kening ketika menatap wajahnya


di cermin, ada lingkaran hitam di matanya, bengkak seperti


panda. Ini nih akibat tidak membersihkan diri sebelum tidur. Makeup-nya juga jadi luntur semua. Ya sudah, sekalian mandi saja kalau begitu.


                                   ***


Angkasa menatap gadis itu datar. Ia lagi fokus dengan bahan ajarnya buat hari ini jadi tampangnya serius.


"Kau ke kampus denganku mulai hari ini." putusnya.


Dambi memaksa menelan makanannya lalu melotot ke Angkasa.


"Aku bisa sendiri. Pakai taksi online saja." tolaknya langsung. Banyak hal yang ia takutkan kalau pergi bersama pria itu.


"Jangan ngebantah." raut wajah Angkasa sangat serius. Ia kini fokus menatap Dambi. Tatapan tajam dan mengintimidasinya membuat gadis itu sedikit menciut. Tapi dia tetap tidak mau pergi bersama.


Dambi memutar otaknya. Karena tidak mendapat alasan lain, gadis itu pura-pura sakit perut.

__ADS_1


"Aduh... P... Perutku," rintihnya memegangi perut dengan wajah sengaja dibuat-buat seperti seseorang yang sedang menahan kesakitan. Tapi tingkahnya tidak mempengaruhi Angkasa, pria itu tahu dia hanya berakting. Kentara sekali. Angkasa malah tertawa melihat akting buruknya.


"Berhentilah. Jangan bikin malu, aktingmu sangat payah manis." kata pria itu tertawa remeh. Mau tak mau Dambi menghentikan dramanya. Ia menatap Angkasa lurus, apakah dia perlu memohon? Mungkin Angkasa akan merasa kasihan dan mengiyakan permintaannya.


"Dengar, aku nggak pengen orang-orang kampus tahu tentang hubungan kita. Aku belum siap, jadi aku mohon biarin aku ke kampus  sendiri, mm?" pintanya sedikit memelas. Angkasa menatapnya lama. Entah apa yang pria itu pikirkan.


"Boleh," Dambi langsung bernapas lega. Tapi perkataan Angkasa selanjutnya sukses membuat matanya melotot lebar.


"Setelah kau cium bibirku." Angkasa tersenyum nakal menatap gadis itu. Dambi benar-benar ingin mencekik batang leher pria itu sekarang juga. Dia mengepal kedua tangannya kuat-kuat namun berusaha menahan diri agar tidak menyerang lelaki didepan sana.


"Tidak mau? Ya sudah. Kau tetap ke kampus denganku."


Dambi menutup matanya dalam-dalam. Dia berpikir keras. Akhirnya karena berpikir dirinya akan lebih kesulitan kalau orang-orang sampai tahu hubungan mereka, ia memilih mengiyakan permintaan Angkasa. Laki-laki itu masih duduk dengan gaya angkuhnya dikepala meja. Menunggu Dambi melakukan apa yang dia minta. Pria itu sangat senang karena apapun pilihan Dambi, tetap saja dirinya yang diuntungkan.


Dambi menyapukan pandangannya ke segala arah, ketika dilihatnya tak ada seorang pun di sana, ia berdiri mendekati Angkasa. Angkasa sendiri mengangkat wajahnya untuk mempermudah Dambi menciumnya nanti.


Semakin gadis itu mendekat, semakin ia tidak dapat menahan saat bibir mereka bersentuhan. Dambi membungkuk perlahan, ia menelan ludah. Gadis itu menahan rasa gugupnya. Jantungnya berdebar kencang. Semakin dekat wajahnya dengan Angkasa, semakin dirinya dapat merasakan hembusan napas bercampur dengan bau mint pria itu.


Dambi lalu menempelkan bibirnya ke bibir Angkasa sambil menutup mata kuat-kuat. Bibir mereka hanya saling menempel, tidak lebih. Hanya sepersekian detik setelah itu Dambi cepat-cepat mengangkat wajahnya. Namun Angkasa tidak membiarkan, pria itu malah menarik Dambi hingga gadis itu terduduk dipangkuannya.


Dambi yang kaget ditarik tiba-tiba begitu, berusaha melepaskan diri, namun Angkasa tidak membiarkan. Pria itu menekan pinggang Dambi kuat-kuat.


"Lepasin Angkasa." tekan Dambi dengan suara yang sengaja ia pelan kan. Takut ada yang mendengar dan melihat mereka. Angkasa tidak mendengarnya. Mata pria itu terus fokus pada bibir Dambi, lalu mengusapnya lembut dengan ibu jarinya. Wajahnya maju lebih dekat sehingga ia bisa merasakan nafas memburu tunangannya.


"Aku akan mengajarimu ciuman yang sebenarnya itu seperti apa." bisik Angkasa serak didepan wajah Dambi, lalu tanpa aba-aba Angkasa langsung menempelkan bibirnya ke bibir gadis itu. Pria itu tak tinggal diam. Ia menggigit kecil bibir Dambi agar lidahnya bergerak masuk dengan bebas di dalam sana.


"Mmphh..." Dambi memukul-mukul pria itu tapi tidak berhasil. Angkasa menciumnya seperti orang kesurupan. Melum at, me njilat, menggigit dan menyesap dalam-dalam. Ia baru selesai setelah puas.

__ADS_1


Nafas keduanya terengah-engah. Bibir Dambi bahkan terasa bengkak akibat ulah Angkasa. Ciumannya sangat liar. Gadis itu malu bukan main. Astaga, apa itu tadi? Ia cepat-cepat turun dari tubuh pria itu dan berlari keluar dapur. Meninggalkan Angkasa yang tersenyum puas.


__ADS_2