
Mana warungnya? Dambi tidak melihat ada warung seperti yang Vivi bilang tadi. Padahal ia sudah jalan sampai ke gang depan. Dambi mengernyitkan kening. Apa dia salah dengar? Tapi tidak mungkin, jelas dia dengar Vivi bilang letak warung tersebut di mana. Atau jangan-jangan pacarnya kak Rassya itu berbohong padanya? Tapi untuk apa? Apa untungnya?
Gadis itu terus berjalan mencari-cari kalau-kalau ada warung lain di sekitar tempat itu. Mudah-mudahan saja ada. Untung waktu dia keluar tadi sudah ada beberapa orang yang jalan diluar, jadi dia tidak merasa ngeri karena sendiri.
Ah di sana.
Dari jarak sepuluh meter ada satu warung yang buka. Dambi akhirnya bisa bernafas lega. Dengan setengah berlari, gadis itu menuju warung tersebut. Itu hanya warung kecil yang di jaga oleh satu ibu-ibu. Setelah membeli, ia keluar. Hatinya terasa berat ketika menyadari dia harus berjalan kaki melewati satu gang lagi untuk sampai ke rumahnya Vivi.
"Kenapa aku nggak nolak Vivi sih tadi," gumamnya pada diri sendiri dengan nada penuh penyesalan. Tapi mau bagaimana lagi, sudah seperti ini. Tidak ada gunanya menyesal. Gadis itu menarik napas panjang, lalu mengembuskannya. Ia kembali berjalan. Dia tidak sadar kalau hpnya sudah mati. Ketika teringat mau menelpon Angkasa, barulah ia sadar benda pipih yang dia bawah-bawah itu telah kehabisan daya. Genap sudah penderitaannya pagi ini.
Saat Dambi melewati sebuah gang sempit dan gelap, ia merasa bulu kuduknya berdiri. Gadis itu merinding. Perasaan waktu lewat jalan itu tadi, dirinya merasa baik-baik saja. Tidak ada rasa takut sama sekali. Kenapa makin terang malah makin terasa menakutkan? Seperti ada seseorang yang sedang mengikutinya.
Tidak, tidak. Itu bukan hanya perasaan saja. Memang ada yang sedang mengikutinya dari belakang. Dambi menahan napas. Rasa takutnya makin menjadi-jadi. Ia mempercepat langkah dan terus merapalkan doa dalam hati. Ya Tuhan, dia benar-benar masih mau hidup.
Oke. Dambi tidak tahan lagi. Langkah yang mengikuti dibelakangnya makin cepat. Lalu dalam hitungan tiga, gadis itu berlari sekencang mungkin. Sayang sekali yang mengikutinya tersebut dengan kecepatan penuh mengejarnya. Dambi terus berlari sekencang mungkin, ketika dirasanya orang tersebut makin dekat, tanpa pikir panjang ia melempar pembalut ditangannya sambil berteriak kuat. Berharap ada orang lain melewati gang itu dan menolongnya.
"Tolong!" kali ini Dambi berteriak keras. Ia sangat takut. Mereka masih saling kejar-kejaran dan orang yang mengejarnya makin dekat.
Sedetik kemudian, sebuah tangan kasar mencengkeram lengan Dambi, begitu menyakitkan hingga membuat Dambi menjerit,
"Tolong!" teriak Dambi panik. Ia menoleh dan mendapati dirinya ditelikung oleh lelaki berbadan besar dengan topeng diwajahnya.
__ADS_1
Lengan lelaki itu yang besar dan kuat menahannya sampai tangannya terasa kaku dan sakit.
Tapi Dambi tidak menyerah, dia meronta sekuat tenaga, mencakar, menggigit lengan yang tetap terasa sekeras batu itu. Napasnya terengah-engah dan wajahnya merah padam karena begitu ketakutan.
"Diam bangsat, atau kau akan mati di sini sekarang juga!" ancam pria besar tersebut. Seketika suasana serasa begitu mencekam. Dambi tidak bisa lagi menahan airmatanya. Ia sangat ketakutan.
"Tolong le ... Lepaskan saya," pintanya penuh permohonan. Namun pria berbadan kekar itu hanya tertawa, tak ada rasa iba sedikitpun pada perempuan yang tidak berdaya.
Lalu semuanya berlangsung cepat, Dambi tidak sempat lari karena tiba-tiba pria yang berbadan besar yang wajahnya tertutupi oleh topeng tersebut merenggutnya kasar, mengangkatnya kasar lalu membantingnya di pundaknya seperti sekarung beras sekejap dipenuhi rasa pusing karena posisi kepalanya dibalik mendadak.
Dambi tersadar bahwa dia sudah diangkat keluar pergi dari situ. Sekuat tenaga Dambi mencoba memberontak, tangannya memukul-mukul punggung pria itu dan kakinya menendang-nendang keras sambil berteriak-teriak menahan marah dan frustasi. Tetapi tubuh pria itu sekeras batu,
tidak bereaksi atas pemberontakan Dambi.
***
"Kau suruh adikku pergi ke mana? Jawab jujur," kata Rassya dengan nada menuntut. Ini sudah yang ke enam kalinya pria itu mengatakan kalimat yang sama tersebut. Dan Vivi hampir tidak tahan lagi menahan kesal. Yang Rassya pedulikan sejak dulu hanya Dambi. Kalau ada Dambi, pria itu tidak pernah lagi peduli padanya. Lihat saja sekarang, seolah hanya Dambi yang paling penting dalam hidupnya.
"Aku nggak menyuruhnya ke mana-mana Rass, kata Dambi tadi dia mau keluar sebentar untuk menghirup udara segar," jawab Vivi mengarang cerita.
Rassya memicingkan mata seperti tidak percaya. Bagaimana mau percaya coba, ia kenal sekali sifat Dambi. Tidak mungkin dia keluar pagi-pagi sekali, apalagi sendirian. Biasanya gadis itu akan memaksanya menemani walau sekedar menghirup udara segar. Dan, sekarang sudah jam sembilan. Aneh sekali Dambi menghirup udara segar sampai sekarang.
__ADS_1
"Sudahlah Rass, lagian Dambi itu sudah dewasa. Dia pasti baik-baik saja,"
"Tapi lokasi ini baru untuknya. Bagaimana kalau dia hilang jalan? Tidak, tidak bisa. Aku harus mencarinya." Rassya berdiri dari kursi dan siap-siap keluar. Ia sudah berkali-kali menelpon sang adik tapi tidak di angkat-angkat.
Saat ponselnya berdering, ia pikir itu Dambi. Sayang sekali bukan. Karena orang yang menelponnya adalah Angkasa. Pasti karena nomor Dambi tidak aktif.
"Halo," Rassya meletakkan benda itu di pipinya dan menyapa orang diseberang.
"Kemana Dambi, aku menghubunginya berkali-kali tapi nomornya tidak aktif," suara Angkasa terdengar khawatir. Rassya menghela napas.
"Aku masih mau mencarinya. Pagi tadi pacarku bilang dia keluar, tapi belum balik sampai sekarang. Kemungkinan besar hpnya mati jadi tidak aktif."
"Tenanglah Angkasa, aku akan memberimu kabar secepatnya," lalu Rassya mengakhiri pembicaraan tersebut. Angkasa terdengar sedikit panik saat ia menjelaskan tentang Dambi tadi. Jelas dong, dia saja khawatir sekali sekarang.
"Tadi itu Angkasa?" Vivi bertanya.
"Mm,"
"Dia akan ke sini?" tanya Vivi lagi tampak antusias. Rassya menatap wanita itu sekilas. Ia merasa ada sesuatu yang aneh pada pacarnya itu tapi tidak tahu apa.
"Aku tidak tahu. Aku keluar dulu cari Dambi," balas Rassya lalu pergi.
__ADS_1
Vivi mendengus keras. Dambi, Dambi. Dambi saja yang mereka semua utamakan. Pokoknya dia tidak membiarkan gadis itu kembali hidup-hidup. Vivi tertawa jahat kemudian menghubungi seseorang.
"Kau berhasil sayang? Baiklah, sebentar lagi aku ke sana." kemudian mematikan percakapan tersebut dengan tawa kemenangan.