
"Jangan lihat ke sini!" sentak Dambi yang sudah berdiri didepan lemari baju, hendak mengganti bajunya. Sayangnya gerakannya terlalu lambat sehingga Angkasa berhasil menariknya sebelum dia berhasil mengganti pakaiannya.
"Argh!" teriak Dambi. Ia kini tidak takut lagi teriakannya terdengar keras. Karena dirinya sudah tahu kamar itu kedap suara.
Dambi kini duduk di paha Angkasa. Angkasa memeganginya kuat-kuat sehingga dirinya sulit bergerak.
"Angkasa, kamu kenapa sih? Lepaskan aku. Aku mau ganti baju dulu."
"Tidak perlu. Aku ingin bicara denganmu sekarang." gumam pria itu sambil mengendus-endus leher Dambi yang terasa wangi. Dambi diam sejenak. Gerakan Angkasa dibelakang lehernya membuatnya terbuai. Tidak mampu menolak.
"Tentang semalam, aku minta maaf. Aku terlalu emosi. Maafkan semua kata-kata kasarku ya?" gumam pria itu. Dambi menghela napas. Kemudian berbalik menatap Angkasa.
"Aku juga minta maaf. Aku salah. Seharusnya aku tidak mengabaikan panggilanmu dan membuat keadaan semakin rumit. Juga tentang ucapanku semalam, itu benar-benar tidak dari hatiku. Aku ingin bersamamu Angkasa." balas Dambi tulus. Ia ingin belajar memahami seorang Angkasa. Karena pria itu adalah salah satu orang yang sangat berharga dalam hidupnya sekarang. Dan ketika Angkasa tersenyum lembut padanya, Dambi tahu hubungan mereka sudah membaik. Dua-duanya sama-sama telah menurunkan ego mereka. Sama-sama minta maaf, dan saling memaafkan. Dambi balas tersenyum lalu menyentuh pipi Angkasa, membelainya lembut.
"Jam berapa sekarang?" tanya Angkasa. Dambi menatap ke dinding. Jam dinding menunjukkan pukul enam pagi. Angkasa juga sudah melihatnya, jadi tidak perlu dia bilang lagi.
"Memangnya kenapa?" tanya Dambi.
"Aku masih punya tiga puluh menit." lalu Angkasa mendorong Dambi ke ranjang, melempar handuk yang membungkus tubuh polos Dambi dan menindih gadis itu. Hujan deras pagi ini membuatnya semakin bergairah.
"Bolehkan?" pintanya.
Angkasa sepertinya membaca penerimaan dari mata Dambi, lelaki itu lalu melum at bibir Dambi dengan bergairah, luma ta nnya tidak ditahan-tahan lagi. Lelaki itu
melahap seluruh bibir Dambi, menji lat dan memainkannya dengan lid ahnya, mencecap rasanya.
"Bibirmu sangat manis." Angkasa mengerang parau. Jemarinya
bergerak dan turun terus dan berhenti di buah dada Dambi yang ranum terpampang di depannya,
"Indah sekali... aku akan memujamu, aku akan membuatmu
merasakan kenikmatan sayang..." jemari Angkasa mulai bergerak lembut dan menyentuh put ing
pay udara Dambi, lalu bibirnya menyusul dan menyesa pnya lembut.
"Mmph..." Dambi mengerang, merasakan keintiman baru yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya.
__ADS_1
"Angkasa... jangan... jangan disitu. Ahh..." Dambi mengerang merasakan rasa panas menyerangnya, di puti ngnya yang sekarang menegak kaku dan pay u daranya yang
mengeras, rasa panas itu membakarnya, membuatnya hampir kehilangan kesadaran.
Angkasa mengangkat kepalanya dan tersenyum menggoda,
"Jangan di sini katamu?"
senyumnya polos dan sensual. Lelaki itu menji l at pu t ing Dambi sambil lalu kemudian meniupnya lembut,
"Kau yakin?" pria itu terus menggoda Dambi dengan lihai.
"Oh.. yaa... di situ..." Dambi mengerang putus asa, put i ngnya
mengencang. Ia Mendambakan bibir Angkasa yang panas dan lidahnya yang menggoda. Dan Angkasa mengabulkan permintaannya, tidak mau membuat Dambi tersiksa lama-lama.
Lelaki itu menundukkan kepalanya lagi, lalu mengis ap put i ng Dambi dengan penuh gairah, memuja pay u dara Dambi bergantian, membuat tubuh Dambi menggeliat dan melengkungkan punggungnya.
Jemari Angkasa bergerak dan menuju pusat gairah Dambi, tempat di mana rasa panas itu terus muncul ketika put i ngnya di h i sap dengan penuh gairah oleh Angkasa. Jemari itu menyusup menyentuh kewanitaannya. Dengan ahlinya Angkasa menggerakkan jarinya, menelusuri hati-hati dan menemukan titik paling sensitif di tubuh Dambi.
"Ahh..."
penuh gairah.
Jemarinya menggoda lagi, kali ini menggesek titik sensitif Dambi dan
kemudian melakukan usapan memutar.
"Ohh... Sshh..." erangan Dambi makin kencang, membuat mata Angkasa berkabut penuh gairah.
"Kau menikmatinya?" lelaki itu menunduk ke telinga Dambi
dan berbisik parau,
"Biarkan aku memuaskanmu." lalu cumbunya telinga Dambi membuat
gadis itu menggeliat penuh gairah.
__ADS_1
Darren tak tahan lagi, kepalanya pening oleh gairah. Tapi dia tahu bahwa dia harus berhati-
hari. Dambi masih perawan dan Angkasa harus menjaga supaya gadis itu terus larut dalam
godaan gairahnya.
Angkasa akan terus menggoda Dambi sampai tiba saatnya tubuh
perempuan itu tidak akan mampu menolaknya dan otaknya tidak mau bekerjasama lagi.
Dengan penuh gairah dan keahlian, Angkasa mencumbu Dambi, bibirnya ada di mana-mana, meninggalkan jejak panas dan basah di seluruh tubuh Dambi. Di lehernya, pundaknya, payu d aranya, perutnya, pinggulnya, dan...
"Ahhh..." Dambi menjerit ketika bibir yang panas itu menyentuh kewanitaannya.
Lelaki itu mencumbu kewanitaannya tanpa ampun, memujanya. Menggunakan bibir dan
li d ahnya untuk menggoda Dambi. Lidah Angkasa mengusap titik paling sensitif di kewanitaan Dambi dan kemudian lelaki itu mengh i sapnya, membuat Dambi memekik atas sensasi yang dirasakannya. Tubuhnya menggelinjang hebat mendapatkan kli maks yang luar biasa dari permainan mulut Angkasa di titik sensitifnya.
Ketika Angkasa memutuskan bahwa Dambi sudah sangat basah dan siap untuknya, lelaki itu
melepaskan pakaiannya hingga telanj ang di depan Dambi.
Dambi menatap Angkasa dengan
malu, pipinya merona, menyebar dengan cepat ke tubuhnya, Angkasa tampak sangat.... jantan... Padahal dia sudah pernah melihat benda keras dan besar itu, tapi tetap saja...
Tiba-tiba Dambi merasa takut. Apa Angkasa berniat memasukkan miliknya sekarang? Bukannya mau menolak, tapi Dambi rasa sepertinya benda sebesar itu tidak akan muat saat memasukinya.
"Kau yakin itu bisa masuk?" Angkasa terkekeh lalu mengecup singkat matanya.
"Jangan khawatir. Bahkan yang lebih besar dari ini bisa masuk." gumamnya dan mulai menggesek-gesek kejantanannya pada milik Dambi.
Gadis itu menahan napas dalam-dalam. Dan Angkasa sudah sangat siap. Ketika pria itu memasukkan ujung kejantanannya, ketukan pintu kamar Dambi berbunyi dengan keras. Menghentikan kegiatan mereka sesaat. Dambi cepat-cepat mendorong Angkasa saking kagetnya.
"Dambi, kamu di dalam sayang?
"Mama?" gumam Dambi. Bukan Ria mama Angkasa, tapi mamanya. Itu suara mamanya. Orangtuanya sudah pulang? Kenapa tidak bilang-bilang?
__ADS_1
Ia dan Angkasa saling bertatapan. Sepertinya Angkasa juga sadar kalau itu bukan mamanya.
"Pakai bajumu dan pergi sekarang." ucap Dambi dengan suara pelan. Wajah Angkasa berubah kesal. Padahal tinggal sedikit lagi. Tinggal sedikit lagi dirinya menyatu dengan gadis itu. Sial!