Dangerous Fiancee

Dangerous Fiancee
52


__ADS_3

Pagi ini sungguh menyebalkan. Perasaan Angkasa tidak membaik sepanjang pagi ini. Sudah lebih dari dua puluh kali ia menelpon Dambi tapi tidak di angkat-angkat. Jangankan di angkat, ponsel gadis itu bahkan tidak aktif.


Namun segala rasa jengkel yang ia rasakan sepanjang pagi ini tiba-tiba berganti menjadi perasaan takut dan khawatir bercampur aduk. Bagaimana tidak, saat ia memilih menelpon Rassya dan panggilannya tersambung, ia harus mendengar jawaban yang sungguh tidak ingin dia dengar.


Pikiran negatif kembali berkelabat di kepalanya. Rasa takut dan panik itu kembali merasuki pikirannya. Ia tahu jelas cara bicara Rassya tadi juga terdengar khawatir. Artinya keberadaan kekasihnya memang tidak pasti ada di mana.


Tidak, Angkasa tidak bisa begini terus. Ia tidak sanggup menunggu kabar dari Rassya. Ia harus ke sana. Lalu dikeluarkannya lagi ponsel di saku celananya dan kembali menghubungi Rassya.


"Kau sudah menemukannya?"


"Belum, aku bertanya pada beberapa warga di sini. Tapi mereka tidak melihat Dambi di jalan. Kalau sampai sejam lagi adikku belum kembali, aku akan segera melapor ke polisi," suara Rassya diseberang kini terdengar lebih panik dari tadi. Angkasa mengerang dalam hati, ikutan panik tapi berusaha tenang.


"Kirim alamatmu sekarang, aku segera ke sana." putus Angkasa langsung.


"Baiklah, kau masih ingat Vivi kan?" pertanyaan itu membuat Angkasa berpikir sebentar.


"Vivi?" ia mengulang nama itu.


"Teman sekelas kita yang dulu kau selamatkan dari preman, sekarang dia pacarku."


Oh iya, Angkasa ingat sekarang. Tapi kenapa Rassya tiba-tiba bicara tentang perempuan yang dia selamatkan yang kini menjadi pacarnya?


"Kenapa dengannya?"


"Tidak apa-apa. Aku tunggu kau di rumahnya, semalam aku dan Dambi menginap di rumah Vivi dan Dambi menghilang di area kompleks rumahnya, jadi lebih baik berkumpul di rumah Vivi saja."


"Baiklah, aku mengerti." balas Angkasa lalu menutup telpon dan bergegas keluar kantor.

__ADS_1


"Angkasa, kau mau ke mana?" Seru Kevin yang berencana masuk ke ruangan laki-laki itu. Angkasa menghentikan langkahnya sebentar, menoleh ke Kevin.


"Aku harus ke Bandung sekarang juga," katanya. Kevin mengernyitkan dahi bingung.


"Ke Bandung?"


"Dambi hilang, aku harus segera ke sana. Batalkan saja semua meeting hari ini," setelah mengatakan itu Angkasa berbalik pergi meninggalkan Kevin yang berdiri dengan tampang bingung.


Dambi hilang?


                                   ***


Dambi tidak ada di mana-mana!


Rassya kembali ke rumah Vivi dengan tampang kusut. Sudah lebih dari tiga jam ia mencari adiknya, tapi adik kesayangannya itu tidak ditemukan juga. Pria itu semakin yakin Dambi hilang. Atau ada yang menculiknya?


"Aku mandi dulu, tunangan Dambi akan datang sebentar lagi untuk cari adikku bersama-sama," gumam Rassya berdiri dari kursi dan masuk ke kamar tamu rumah Vivi, tempat yang dia tiduri semalam. Entah kenapa dia tidak bergairah bicara dengan wanita itu sekarang. Ia hanya terus memikirkan keadaan Dambi. Kalau sampai gadis itu tidak ditemukan juga, ia tidak tahu bagaimana cara bilangnya ke tante Dian sama omnya.


"Tunangan Dambi? Angkasa ...," gumam Vivi pelan setelah Rassya masuk. Wanita itu tersenyum puas.


"Aku akan segera membuatmu menjadi milikku," ucapnya lagi dengan senyum menakutkan.


Setelah mandi dan berganti pakaian, Rassya istirahat sebentar diruang tamu sambil berusaha menenangkan pikirannya. Hampir sejam kemudian Angkasa baru menelponnya, pria itu sudah berada didepan rumah Vivi.


Rassya langsung menghambur ke luar,


"Sudah ketemu?" tampang Angkasa sama dengan Rassya, bahkan lebih parah.

__ADS_1


"Masuk dulu," gumam Rassya.


"Kurasa kita harus melaporkan ke polisi. Aku tidak bisa menemukan Dambi di mana-mana. Dalam pikiranku saat ini adalah, dia mungkin diculik. Beberapa warga berkata mereka melihat seorang pria mencurigakan menggendong seorang gadis dan dimasukan ke mobilnya. Mereka tidak melihat wajahnya karena dia pakai topeng. Mungkinkah gadis itu Dambi?" Rassya menahan napas mengucapkan kalimat terakhirnya.


Mata Angkasa menggelap, kalau benar kekasih tersayangnya diculik, ia bersumpah akan menghabisi siapapun yang berani menculiknya.


"Rassya," Vivi tiba-tiba muncul dari dapur dengan dua gelas jus lemon.


Rassya mengerutkan kening mengamati pacarnya. Vivi berdandan? Seingatnya tadi wanita itu hanya biasa-biasa saja, pakaiannya juga masih sama. Dan dandanannya itu ... Terlihat menor.


"Minum dulu. Kalian pasti kehausan," ucap Vivi dengan nada yang sengaja di lembut-lembutkan. Ekspresinya malu-malu melihat Angkasa. Dan Rassya menyadarinya. Tapi pria itu berusaha membuang pikiran tersebut jauh-jauh. Dia tidak mau memikirkan hal lain dulu. Dambi jauh lebih penting sekarang.


"Dia Vivi. Pacarku, mantan teman sekelas kita juga dulu." ucap Rassya. Angkasa sudah menduganya. Pria itu sebenarnya tidak ingat lagi seperti apa tampang perempuan bernama Vivi itu.


Angkasa tersenyum tipis dan kembali fokus menatap Rassya. Tidak peduli dengan tawaran Vivi yang membawakan mereka jus. Ia tidak sedang ingin minum sekarang.


"Ayo ke kantor polisi sekarang," katanya. Tidak tahan berlama-lama di sini. Ia harus menemukan tunangannya secepat mungkin.


"Nggak minum dulu?" tawar Vivi lagi.


"Tidak perlu, menemukan Dambi jauh lebih penting." balas Angkasa tanpa menatap Vivi. Pria itu sudah berdiri dari sofa dan berjalan keluar.


"Vi, kamu tinggal di rumah aja. Telpon aku kalau ada apa-apa." ujar Rassya sebelum keluar mengikuti Angkasa.


Vivi kesal setengah mati. Lagi-lagi mereka melupakan dia, hanya mementingkan sih gadis sialan itu. Tunggu saja, dia akan membuat gadis itu menderita. Vivi tersenyum kejam lalu menelpon seseorang.


"Aku akan ke sana sepuluh menit lagi."

__ADS_1


__ADS_2