Dangerous Fiancee

Dangerous Fiancee
Ancaman 2


__ADS_3

Semua tatapan ke Dambi berubah total dibanding kemarin. Orang-orang di kampus tersebut tidak berani menatapnya dengan ganas lagi. Dambi merasa heran. Ia tercengang dengan dengan perubahan orang-orang tersebut. Padahal baru kemarin mereka menatapnya seperti menatap seorang narapidana. Ia terkikik sendiri saat menyamakan dirinya dengan seorang narapidana. Tapi Dambi akui, kekuatan Angkasa memang tidak main-main.


Padahal menurut Dambi Angkasa tidak perlu mundur dari statusnya sebagai dosen. Karena om dan tantenya, alias orang tua kak Rassya adalah pemilik kampus ini. Dambi pasti bisa meminta bantuan mereka. Dan ia yakin kalau kak Rassya sampai tahu masalah ini, pria itu sendirilah yang akan turun tangan membantunya. Tapi ya sudahlah. Sepertinya Angkasa memang mau berhenti.


"Dambi, kok kamu nggak bilang-bilang sih kalo pak Angkasa itu ternyata pacaran sama kamu." Andin mendekati Dambi saat melihat gadis itu masuk kelas. Seperti biasanya, cewek itu berlagak seperti mereka adalah teman yang sangat dekat. Padahal tidak sama sekali.


"Bukan pacaran doang, mereka sudah tunangan." timpal Yuka yang muncul dari belakang bersama Gery. Gery memilih duduk di tempat yang agak jauh dari mereka. Seperti biasanya kalau di kelas, laki-laki itu lebih suka fokus dengan pelajaran. Dibanding bergosip, apalagi sama cewek-cewek. Kayak nggak ada teman cowok saja. Padahal dia punya banyak teman cowok. Hanya saja Dambi dan Yuka adalah sahabat yang selalu bersamanya sejak SMA.


"Jadi kalian sudah tunangan? Gimana ceritanya?" seru Andin sampai-sampai yang lain ikut memperhatikan mereka. Dambi merasa tidak enak. Sih Andin ini menurutnya sok kenal sok dekat banget. Padahal mereka tidak terlalu dekat sampai dirinya harus menceritakan masalah pribadi. Ia tidak tahu kenapa, tapi menurutnya Andin mendekati mereka karena ada niat lain. Dambi seperti merasakan ada yang berbeda dari cewek itu, entah apa.


"Yuk, kalian ngobrol aja, aku ke sana dulu." ucap Dambi lalu berpindah tempat ke sebelah Gery yang masih kosong. Andin diam-diam menyimpan amarah dalam hatinya. Ia tidak terima dengan sikap Dambi yang menurutnya tidak sopan, tapi dia pura-pura tersenyum didepan Yuka.


"Sorry ya Din, dia emang gitu kalo lagi nggak mood." kata Yuka meminta maaf atas nama Dambi.


"Nggak apa-apa kok Yuk. Aku ngerti." balas Andin memaksa tersenyum.


Sementara dibagian kiri, Gery menatap Dambi yang kini duduk di sebelahnya. Pria itu tersenyum tipis melihat raut wajah sahabatnya yang tampak tidak begitu bersemangat. Kepalanya ia sandarkan di atas meja.

__ADS_1


"Kenapa lagi?" tanyanya. Dambi menggeleng.


"Heran aja sama orang-orang yang sok dekat karena ada maunya." ungkap gadis itu sambil memutar-mutar notebook milik Gery di atas meja. Lelaki itu melirik sebentar ke Andin yang masih berbincang dengan Yuka diseberang sana lalu terkekeh. Ia melirik Dambi lagi.


"Cuekin aja." katanya singkat. Gery memang tidak suka ikut campur masalah cewek. Tapi bukan berarti ia tidak memperhatikan niat Andin. Dari awal ia sudah menyimpulkan kalau Andin pasti sengaja mendekati kedua sahabatnya. Ia pernah dengar gosip kalau gadis itu suka memanfaatkan orang lain bahkan termasuk sahabatnya sendiri. Namun Gery memilih tidak menanggapinya, selama perempuan itu tidak melakukan sesuatu yang merugikan kedua sahabatnya.


Kalau memang Andin memiliki niat tersembunyi dan itu sampai merugikan Dambi atau Yuka, Gery tidak akan tinggal diam. Tapi selama ini gadis itu belum melakukan hal-hal diluar batas. Jadi tidak ada yang perlu dipermasalahkan.


"Tegakkan badanmu, sudah ada dosen." kata Gery menyikut Dambi yang malah mulai menutup mata. Ia yakin kalau dosen yang akan mengajar hari ini terlambat lima menit saja, Dambi pasti sudah ketiduran.


Sudah kubilang jauhi Dambi. Rupanya kau ingin salah satu dari kalian merasakan akibat dari kemarahanku.


Lagi, pesan dari orang tidak kenal itu masuk lagi. Angkasa yang baru selesai mandi dan mengganti baju kantornya menatap lurus ke ponselnya dengan raut wajah geram.


Brengsek.


Berani-beraninya sih brengsek itu mengancamnya. Lalu dengan wajah marah pria itu mengetik. Semalam ia masih diam, tapi rupanya orang itu tidak membiarkan dirinya tenang. Malah membawa-bawa Dambi juga dalam kalimat ancamannya. Jelas dia marah. Coba saja melukai kekasihnya.  Sampai ke ujung bumi pun Angkasa akan mencarinya.

__ADS_1


Percayalah, aku akan membunuhmu kalau sampai kau menyentuh kekasihku. Bahkan sehelai rambutnya saja.


balas Angkasa dalam pesannya. Saking geramnya ia tidak peduli lagi dengan kata-kata kasarnya.


Kalian terlihat mesra sekali pagi tadi, sayang sekali kemesraan kalian mengganggu penglihatanku.


Pesan balasan itu masuk lagi. Angkasa tertawa keras. Orang ini mau main-main dengannya rupanya.


Brengsek, tunggu saja sampai aku menemukanmu.


pria itu balas mengancam. Setelah itu tak ada pesan masuk lagi. Angkasa lalu menelpon salah satu kenalannya. Ia harus segera menemukan orang yang menerornya


"Halo, aku ingin kau menyelidiki salah satu kontak tak dikenal. Dia sengaja mengancamku. Bagaimana? Baiklah akan segera mengirim nomornya padamu. Sekalian dengan isi pesan ancamannya." selesai bicara, Angkasa langsung memutuskan sambungan.


Seseorang yang dia telpon tersebut adalah salah satu pria yang bekerja sebagai detektif di salah satu perusahaan swasta terkenal. Perusahaan tersebut mempekerjakan beberapa pengacara juga. Dan keluarga Angkasa adalah salah satu investor terbesar yang turut mendukung perusahaan itu. Tak heran seorang Angkasa memiliki banyak relasi dari berbagai bidang.


Pria itu lalu mengenakan jam tangan dan sepatunya sebelum keluar dari rumah. Dia masih ada urusan dengan beberapa klien papanya nanti. Jadi hari ini dia ke kantor. Sorenya menjemput Dambi. Sebenarnya tidak ada pembicaraan sebelumnya kalau dia akan menjemput gadis itu, tapi karena ancaman dari orang sialan tadi, Angkasa jadi merasa takut kalau-kalau terjadi sesuatu pada tunangannya.

__ADS_1


__ADS_2