
Hai, jangan lupa tekan like dan votenya yah, buat nambah semangat penulis😇
Selamat membaca🤗
___________________________
Hari sudah hampir tengah malam ketika Angkasa melangkah
memasuki rumah orangtuanya. Sebenarnya ia sudah
ingin pulang ketika menyelesaikan tugasnya di kantor tadi. Tapi tiba-tiba Kevin menelponnya. Pria itu baru saja putus dari pacarnya dan mengalami tekanan patah hati pasca putus. Jadi mau mau tak mau Angkasa menemaninya minum sebentar sembari mendengar curhatan pria itu. Itulah yang menyebabkan dirinya sampai pulang selarut ini. Ia yakin orang-orang sudah tidur. Termasuk Dambi. Sudah larut begini dan dia masih berharap tunangannya tersebut belum tidur? Mimpi saja sana Angkasa.
Pria itu hampir limbung ketika menaiki tangga menuju kamarnya. Padahal dia hanya minum sedikit tadi, tidak banyak. Tapi kenapa dia jadi limbung begini? Ah, mungkin karena kelelahan sepanjang hari ini dia mengalami banyak masalah dan harus menyelesaikan semuanya.
Angkasa melepaskan jas luarnya yang tebal dan menyampirkannya di sandaran sofa yang berada di antara kamarnya dan Dambi. Ia berjalan tanpa suara dan berhenti di depan pintu kamar Dambi. Ia membuka pintu dengan pelan dan melongokkan kepala ke dalam.
Dambi tampak sudah tertidur lelap. Angkasa tersenyum, tapi tidak berniat masuk. Pasti badannya berbau alkohol sekarang. Ia tidak mau mencemari Dambi nanti. Setelah puas mengamati gadis itu, ia menutup pintu kembali dan masuk ke kamar tidurnya sendiri.
Pria itu baru saja melangkah masuk ke kamar ketika ponselnya
berdenting, menandakan pesan masuk. Ia mengeluarkan
__ADS_1
ponselnya dan memeriksanya. Dari nomor tak dikenal.
Jauhi gadis itu...
Hanya itu bunyi pesannya. Tidak mengerti, Angkasa pun mengabaikannya dan mulai
melepaskan jas dan sepatunya. Tidak lama kemudian, ponselnya berdenting lagi. Dari nomor tak dikenal yang sama. Isi pesannya kali ini:
Jauhi tunanganmu, aku tidak main-main. Jangan membuatku terpaksa melakukan sesuatu yang nekat.
Sialan. Angkasa mendengus keras. Siapa yang berani-beraninya mengirimi dia pesan seperti ini? Jauhi Dambi? Huh! Jangan berharap brengsek. Maki Angkasa dalam hati.
Entah yang mengirimi pesan tersebut pria atau wanita, yang pasti Angkasa tidak peduli. Dia lebih mempedulikan darimana orang itu tahu nomornya? Karena ia tahu betul nomornya tidak ia serahkan pada sembarang orang. Dia juga marah karena orang tersebut berani sekali mengancamnya.
Angkasa mendengus keras. Sialan. Orang itu benar-benar mengganggu ketenangannya. Ia sudah terlalu lelah. Tentu saja ia langsung emosi mendapatkan pesan ancaman tersebut. Ah sudahlah. Masalah itu dipikirkan besok saja. Dia harus istirahat sekarang. Lalu Angkasa memasuki kamar mandi, membersihkan diri, kemudian tidur. Ia mematikan ponselnya karena tidak ingin mendapatkan gangguan seperti tadi lagi.
***
Pagi-pagi sekitar pukul setengah delapan, semua orang sudah berada di meja makan termasuk Dambi yang telah siap-siap ke kampus. Ia tidak ingin bolos lagi sekarang. Apalagi hari ini mereka ada pembekalan KKN. Dia sendiri tidak menyangka dirinya sudah mau KKN. Masih pembekalan hari pertama tapi. Mereka turun KKN-nya sendiri masih dua minggu lagi.
Angkasa bergabung di meja makan. Duduk di sebelah Dambi. Pria itu belum terlihat siap dengan gaya dosennya seperti biasanya. Padahal biasanya tiap pagi dirinya sudah rapi. Dambi saja penasaran tapi menahan diri untuk bertanya. Ia malu karena ada mertuanya.
__ADS_1
"Papa dengar kamu mengundurkan diri kampus. Tidak mau jadi dosen lagi?" ucapan tersebut sontak membuat Dambi langsung terbatuk-batuk. Jelaslah dia kaget.
Angkasa cepat-cepat menyodorkan segelas air ke mulut Dambi.
"Pelan-pelan makannya," katanya lembut. Sebelah tangannya mengusap-usap punggung Dambi. Mama dan papa mereka saling berpandangan dengan senyum penuh arti. Semakin hari hari Ria melihat anak dan menantunya ini makin akur saja. Sangat manis pokoknya.
"Kamu ngundurin diri dari kampus? Kenapa, karena masalah kemaren?" tanya Dambi dengan nada menuntut. Giliran orangtua mereka yang tidak paham. Ya iyalah nggak ngerti, kan mereka tidak tahu perihal masalah kemaren.
"Masalah? Masalah apa?" giliran Ria, mamanya Angkasa yang bertanya. Wanita tua itu menatap Dambi dan Angkasa bergantian. Berharap salah satu dari mereka akan menjawab.
"Kita ketahuan punya hubungan ma." Dambilah yang menjawab.
"Loh, emangnya kenapa? Ada larangan dosen sama mahasiswa nggak boleh pacaran? Mama beli juga tuh kampus." celetuk Ria saking kesalnya. Lagipula umur Angkasa dan Dambi tidak terpaut sangat jauh. Tidak aneh sama sekali. Malah pas.
Angkasa sampai tidak bisa menahan senyumnya karena kalimat terakhir sang mama. Dipikir beli kampus seringan menyebutnya apa.
"Udah makan aja dulu. Aku ngundurin diri nggak ada hubungannya sama masalah ketahuan tunangan sama Dambi. Pengen fokus kerja kantoran aja." ujar Angkasa menjelaskan. Sayangnya Dambi tidak sepenuhnya percaya. Papa pria itulah yang senang. Karena selama ini dia mau Angkasa mengambil alih bisnis mereka. Biar pria tua itu sedikit lebih santai.
"Kalo itu alasannya papa setuju sama kamu. Ayo makan." kata pria tua itu lalu lanjut makan dengan perasaan senang.
Sedang Dambi hanya bisa memaksakan seulas senyum. Ia tidak merasa senang seperti papa Angkasa. Dirinya malah merasa bersalah. Angkasa pasti berkorban demi dia.
__ADS_1
Lalu Dambi merasakan Angkasa menggenggam jemarinya yang tersembunyi dibawah meja.
Dambi melirik pria itu dan pria itu tersenyum padanya. Senyuman yang bisa membuatnya luluh. Yang membuat dirinya merasa baik-baik saja. Tapi tidak berarti dia melupakan masalah pria itu mengundurkan dirinya sebagai dosen.