
Angkasa bergerak gelisah. Ia sudah mengelilingi seluruh kampus tapi tidak menemukan keberadaan Dambi. Hari semakin sore dan hampir mau gelap. Bahkan kampus ini hampir kosong, semua orang sudah bubar. Hanya tersisa beberapa orangĀ mahasiswa yang masih asyik main di aula basket.
Angkasa ingin menelpon Gery, tapi ia tak ada nomor pria itu. Ia ingat belum meminta nomornya. Dan Yuka, ia sudah mendapatkan nomornya dari Kevin, tapi gadis itu sendiri tidak angkat panggilannya. Padahal ia sudah memanggil mereka berkali-kali. Sialan. Sebenarnya di mana Dambi? Kenapa nomornya tidak aktif?
Kepala Angkasa mulai dipenuhi dengan pikiran-pikiran aneh. Otaknya mulai melayang kemana-mana. Apalagi dua hari ini seseorang terus mengiriminya pesan ancaman. Jelaslah dia gugup. Kalau-kalau terjadi sesuatu pada tunangannya bagaimana? Tidak bisa, dia harus menemukan kekasihnya.
Angkasa berusaha keras untuk terpa tenang. Sekarang dirinya harus mencari keberadaan Dambi. Pria itu mengabsen satu persatu tempat yang pernah dikunjungi Dambi yang dia tahu. Sampai akhirnya matanya menemukan sosok yang dia kenal sedang berbincang-bincang di ujung sana. Di sebuah cafe taman seberang jalan yang ia lewati.
Gery.
Itu Gery. Angkasa terus menatap ke sana. Mencari-cari kalau ada Dambi juga dalam perkumpulan mereka atau tidak. Namun dirinya tidak melihat keberadaan Dambi di sana. Orang-orang yang bersama Gery hampir semuanya makhluk adam. Bahkan bukan hampir, tapi semuanya memang berjenis kelamin laki-laki. Dambi dan Yuka tidak ada di sana. Jadi, kemana mereka? Apa Dambi bersama Yuka? Mudah-mudahan saja mereka bersama. Pria itu lalu keluar dari mobil dan menyeberang ke cafe tersebut. Menghampiri Gery.
"Gery," Gery berbalik. Beberapa temannya ikut berbalik. Salah satu dari mereka mengenali Angkasa.
Kening Gery berkerut melihat keberadaan pria tersebut.
"Kau tahu di mana Dambi?" tanya Angkasa langsung.
"Belum pulang? Katanya dia mau langsung pulang tadi." sahut Gery.
__ADS_1
"Aku sudah menelpon pembantu rumahku. Katanya belum ada. Nomornya tidak aktif dari tadi. Apa jangan-jangan dia masih dengan Yuka?" Gery menggeleng. Tampak bingung juga karena melihat wajah tegang Angkasa. Kalau Dambi belum pulang, kemana perginya? Sahabatnya itu bukalah tipe cewek yang suka keluyuran, apalagi seorang diri. Gery bicara lagi.
"Pulang kampus tadi Yuka langsung ke Surabaya. Ada urusan keluarga katanya. Jadi tidak mungkin Dambi bersamanya." ucapnya pasti. Ia sendiri yang lihat Dambi dan Yuka naik mobil yang berbeda pulang tadi. Ketiganya berpisah di depan gerbang kampus.
Mendengar ucapan Gery, Angkasa baru ingat kalau Kevin tadi meminta ijin padanya karena ada urusan keluarga. Pria itu mengusap wajahnya kasar. Ia makin panik. Oh ya ampun, ke mana perginya Dambi sebenarnya?
Kemana dirimu...
Batin Angkasa.
Harusnya dia menyuruh Gery dan Yuka, atau orang lain memantau Dambi. Ia tidak berpikir sampai sana tadi. Setelah kejadian Dambi yang Kini belum jelas berada dimana barulah Angkasa menyesali kecerobohannya. Ia berharap tidak terjadi apapun pada Dambi, seperti pikirannya saat ini.
"Seseorang mengancamku, aku takut terjadi sesuatu padanya." katanya.
"Mengancam?"
Sebelum Gery bertanya lagi, salah satu di antara teman-temannya yang duduk berseru.
"Ini Dambi." seru salah satu cowok berambut cepak. Matanya fokus ke hpnya.
__ADS_1
Gery cepat-cepat merebut ponsel temannya tersebut dan melihatnya bersama Angkasa. Dalam video insta story IG yang mereka lihat, Dambi sedang berada di sebuah tempat karaoke dengan beberapa cewek yang tentu saja tidak Gery kenal. Ada beberapa cowok juga di sana. Mereka terlihat menikmati kegiatan menyanyi mereka. Beberapa cowok yang lain memakai tindikan dan ceweknya, rok mereka terlalu pendek, bahkan rambut mereka di warnai sangat terang. Aneh, sejak kapan Dambi punya teman-teman seperti itu?
Rahang Angkasa mengeras. Bisa-bisanya Dambi berteman dengan orang-orang itu. Tapi ia juga bisa lihat kalau Dambi tidak terlalu menikmati berada dalam perkumpulan tersebut. Ia menatap Gery tajam.
"Kau kenal mereka?" Gery menggeleng.
"Hanya pernah dengar dari Dambi. Dia pernah cerita dulu dia punya genk yang cukup nakal." ungkapnya.
"Mereka adalah teman-teman Dambi sebelum pindah sekolah. Teman sekelas gue juga." ujar sih cowok berambut cepak tadi. Namanya Nino.
Gery baru ingat kalau dulu sebelum pindah sekolah, Dambi pernah satu sekolahan sama Nino. Bahkan sekelas. Dambi sendiri yang cerita. Tapi Nino tidak ada dalam daftar teman ngumpulnya, menurut Dambi dulu laki-laki itu sangat kutubuku. Hobinya tiap hari ke perpustakaan. Tidak suka bergaul dengan anak-anak yang pergaulannya terlalu bebas seperti genknya Dambi. Ingatkan, dulu Dambi sampai di pindahkan oleh orangtuanya ke sekolah lain karena ketahuan bergaul sama genk nakal. Itu pun karena gurunya yang melapor berlebihan. Padahal dirinya tidak pernah terjerumus waktu temenan sama mereka. Kecuali diajakin nonton film porno pertama kali sih.
"Nggak perlu khawatir, meski teman-temannya itu nakal, mereka nggak pernah sampai menjerumuskan Dambi." kata Nino lagi.
Tapi Angkasa tidak percaya. Baginya, yang namanya bergaul sama orang-orang begitu, cepat atau lama tetap saja bisa terjerumus. Apalagi kalau terus-terusan berada di lingkungan itu. Mungkin sekarang belum, tapi nanti? Tidak ada yang bisa memastikan. Tunangannya harus dijauhkan dari orang-orang modelan begitu. Sudah benar dulu mertuanya mengambil tindakannya memindahkan gadis itu dari sekolah lamanya.
Pria itu kembali melihat video tersebut. Setelah membaca tulisan nama tempat, dia langsung bergegas.
"Aku ikut!" seru Gery mengikuti Angkasa dari belakang. Sementara Nino hanya mengangkat bahu acuh tak acuh lalu kembali berbincang dengan teman-temannya yang lain.
__ADS_1
"Biarin aja sih Gery, mau nyari temennya." katanya tak ambil pusing.