Dangerous Fiancee

Dangerous Fiancee
50


__ADS_3

Angkasa duduk di ranjangnya, di kegelapan malam sambil memegang ponselnya. Berkali-kali dia berusaha menghubungi Dambi, tetapi nomor hp kekasihnya itu tetap tidak aktif.


Apakah Dambi masih di rumah sakit? Bersama mamanya, Rassya, tantenya yang di rawat bahkan keluarganya yang lain? Kenapa Yaya tidak menghubunginya sampai sekarang? Padahal sebelum pergi tadi gadis itu sudah janji akan memberi kabar padanya.


Pria itu berpikir keras. Ia belum bisa tenang kalau belum mendengar suara Dambi. Berlebihan memang, tapi malam ini ia sungguh ingin mendengar suara kekasihnya. Ah benar, dia bisa telpon Rassya. Mungkin saja mereka sedang bersama.


Angkasa kembali meraih hpnya di nakas dan mencari nomor Rassya, sampai menemukan nama yang dia cari. Telponnya masuk, tapi tidak di angkat juga sama Rassya. Angkasa mengerang kesal. Kompak sekali kakak beradik itu. Akhirnya pria itu memutuskan untuk menyerah dan tidur saja. Dia menelpon lagi di pagi hari.


                                    ***


Bandung,


Dambi tersentak dan membuka matanya. Keringat dingin mengalir di dahinya, dan dia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Sejenak kehilangan orientasi karena dia tidak mengenali kamar ini.


Tapi lalu dia sadar, ini salah satu  kamar yang ada di rumah Vivi, sahabatnya kak Rassya dari SMA. Sekaligus calon kakak iparnya. Kak rasa dan Vivi sudah berpacaran hampir tiga tahun. Dambi ingat sekarang kenapa mereka tidur di rumah Vivi. Itu karena orangtua Vivi tidak pulang malam ini, jadi wanita itu meminta kak Rassya menemaninya. Kebetulan Rassya tidak bisa membiarkan Dambi tidur sendirian di rumah karena orangtuanya sedang menemani mamanya di rumah sakit, Rassya ikut membawa Dambi ke rumah Vivi. Lagipula Vivi tidak keberatan.


Belum lama Dambi ketiduran tadi, tapi ia tiba-tiba terbangun karena mimpi buruk. Dambi merasa pikirannya sedikit tidak enak. Mungkin karena mimpi buruk itu. Dengan sedikit terengah gadis itu mengusap keringat di dahinya, mimpi itu... Mimpi itu entah kenapa terasa begitu nyata sekaligus aneh.

__ADS_1


Dambi duduk di tepi ranjang lalu menuang air ke gelas dari teko yang terletak di meja samping ranjang. Setelah meminum seteguk air dia memejamkan mata. Perasaannya masih tidak enak. Seperti ada yang terus menerus mengawasinya di kegelapan, menunggu sesuatu terjadi.


Tetapi sesuatu apa? Dengan putus asa Dambi mengeryit, mengingat mimpi anehnya tadi. Benar-benar mimpi yang aneh...


Setelah mengedarkan pandangan ke sekeliling dan yakin bahwa dia sendirian di kamar ini, Dambi membaringkan tubuhnya dan mencoba memejamkan matanya lagi. Dia masih mengantuk. Itu pasti cuma mimpi aneh karena dia tidak terbiasa tidur di kamar yang bukan kamarnya sendiri atau di kamarnya yang berada di rumah Angkasa.


Itu cuma mimpi. Tapi kata-kata dalam mimpi itu tetap terngiang-ngiang di benaknya.


"Kau sudah merebut milikku Dambi, kau akan menyesal. Ingat itu." Dambi berusaha melupakan kata-kata itu sampai dia tertidur lagi.


Paginya Dambi terbangun di dini hari yang temaram, masih fajar dan sinar matahari sudah mulai menembus jendela-jendela yang ditutup oleh gorden putih yang indah.


Dambi baru menyadarinya sekarang, semalam ia terlalu lelah sehingga tidak sempat melihat ke sekeliling. Kamar ini bernuansa putih gading, semua ornamen dari karpet bulu yang tebal, gorden dan


tempat tidur semuanya bernuansa putih. Bahkan dinding-dinding dan kusen jendela serta atapnya semuanya berwarna putih. Untuk ukuran rumah sederhana, bagi Dambi itu sudah sangat indah. Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk.


"Masuk," ujar Dambi sambil mengernyitkan kening, siapa yang mengetuk pintu sepagi ini? Kak Rassya? Mustahil, pria itu selalu bangun kesiangan.

__ADS_1


Ternyata yang masuk adalah Vivi. Wanita itu tersenyum simpul ke Dambi. Tapi Dambi agak bingung, kenapa wanita itu mencarinya pagi-pagi begini? Ada urusan? Kayaknya sih salah orang. Harusnya kalau ada urusan, pasti urusannya sama kak Rassya. Apalagi dia dan wanita bernama Vivi ini tidak terlalu dekat. Sejak awal kak Rassya memperkenalkannya pada Vivi, ia selalu merasa bahwa wanita itu tidak menyukainya. Hanya pura-pura baik didepan kak Rassya saja.


"Kamu sudah bangun?" ujar Vivi dengan senyuman diwajahnya. Senyuman yang entah kenapa di yakini Dambi bukan senyuman yang tulus. Dan satu lagi, pertanyaan wanita itu sangat aneh. Jelas dia sudah bangun, masih ditanya begitu lagi. Meski begitu, Dambi balas tersenyum.


"Kak Vivi ada perlu sama aku?" tanyanya berusaha tidak terlihat canggung. Dalam hati ia berharap semoga tidak. Ia adalah jenis orang yang paling tidak mau direpotkan dan merepotkan orang lain.


"Begini Bi, aku bisa minta tolong sesuatu nggak sama kamu?" Dambi mengernyitkan dahi.


"Minta tolong apa?"


"Gini, kamu bisa beliin aku pembalut di warung depan nggak? Soalnya aku baru sadar ternyata aku lagi dapet, perutku sekarang sakit banget. Kayaknya bakal susah jalan sampai depan. Tadi aku udah bangunin Rassya buat minta tolong dia beli, tapi dianya nggak bangun-bangun. Bisa nggak kamu aja?" kata Vivi dengan raut wajah memohon.


Bukannya mau menolak, tapi ini masih sangat pagi dan suasana di luar pasti masih sepi. Apalagi rumah sih Vivi ini letaknya agak sedikit di perkampungan begini. Dambi ini tipe orang penakut, apalagi kalau jalan sendiri ditempat sepi dan baru. Juga, memangnya sudah ada warung yang buka sepagi ini?Dambi ingin menolak tapi tidak enak.


"Emang sudah ada warung yang buka?" tanyanya kemudian. Vivi mengangguk.


"Udah, di depan blok rumah ini doang kok. Nggak jauh," katanya. Dambi masih berpikir ragu, tapi akhirnya mengiyakan juga.

__ADS_1


"Ini uangnya. Makasih ya Bi sebelumnya," kata Vivi lagi sambil menyodorkan uang seratus ribuan ke Dambi. Dambi mengambilnya lalu berdiri dari kasur, merapikan rambutnya sebentar, sebelum akhirnya keluar.


Vivi yang masih setia duduk dikasur menatap kepergian Dambi lalu tersenyum sinis. Matanya memancarkan kebencian yang dalam.


__ADS_2