Dangerous Fiancee

Dangerous Fiancee
58


__ADS_3

Angkasa betul-betul tidak main-main. Karena seminggu kemudian, mereka pun melangsungkan pernikahan.


Tanpa kehadiran banyak orang. Hanya keluarga, sahabat dan kerabat dekat keduanya. Meski Angkasa memiliki kekayaan yang melimpah dan Dambi sendiri yang memang berasal dari keluarga berkecukupan, nyatanya semua itu tidak membuat mereka memanfaatkan semua yang mereka miliki untuk menggelar acara mewah.


Pernikahan mereka memang bisa dibilang mengeluarkan banyak biaya. Tapi pernikahan tersebut di gelar secara sederhana yang hanya dihadiri orang-orang terdekat mereka. Sebenarnya kalau mau mengikuti keinginan Angkasa, dia pasti akan membuat acara pernikahannya semeriah mungkin agar semua orang tahu Dambi adalah istri sahnya sekarang, namun pria itu menghargai keputusan Dambi yang ingin pernikahan mereka dilakukan secara sederhana saja.


Mereka sudah menikah. Dambi termenung, tiba-tiba saja mereka sudah sah sebagai suami isteri. Seperti mimpi rasanya. Terjadi begitu saja. Lalu sekarang apa? Dambi melirik ke arah Angkasa yang sedang duduk di sebelahnya, mereka sedang makan malam sederhana bersama, saksi pernikahan dan beberapa sahabat Angkasa serta Dambi. Lelaki yang duduk di sebelahnya ini. Angkasa. Sekarang adalah suaminya.


Suaminya… Dambi melafalkan kata-kata itu berulang-ulang dalam hati. Mencoba membuat hatinya terbiasa. Ia senang sekaligus gugup membayangkan apa yang akan dia lakukan nanti setelah menjadi istri Angkasa. Pasti dirinya akan sering melayani pria itu, terutama di atas ranjang. Memikirkan hal itu membuat Dambi tersipu malu. Astaga, apa yang kau pikirkan Dambi? gumamnya dalam hati, berusaha menghilangkan pikiran yang membuat sekujur tubuhnya terasa panas.


Rasanya memang terlalu cepat menjadi isteri seorang Angkasa yang tampan dan memiliki segalanya. Tapi Dambi tidak memungkiri kalau dia merasa sangat senang.


"Kau akan senang berada di sana, Dambi," suara Kevin mengagetkan Dambi dari pengamatan tersembunyinya kepada Angkasa. Dia sedikit terbatuk dan berusaha kembali ke dalam percakapan.


Mereka sedang membicarakan apa?


"Pulau itu, pulau pribadi milik keluarga Angkasa, tempat kalian akan berbulan madu nanti. Itu adalah pulau kecil yang sangat indah, dengan fasilitas yang lengkap tentunya. Angkasa punya rumah yang


indah di sana lengkap dengan para pelayannya, aku yakin kau akan senang di sana." Kevin menyambung perkataannya dan tersenyum kepada Dambi, membuat Dambi bingung harus menanggapi apa.


Mereka akan pergi ke pulau? Ia menatap Angkasa dengan raut wajah bertanya.


"Kami akan berangkat nanti, setelah menghabiskan beberapa hari di sini." gumam Angkasa lalu mengecup singkat dahi Dambi didepan yang lain. Gerry dan Yuka saling berpandangan dengan raut wajah bahagia. Jelas mereka bahagia melihat sahabat mereka bahagia. Apalagi sekali dia dapat pasangan, gadis itu langsung mendapatkan pria yang sekelas Angkasa.

__ADS_1


Angkasa menyentuh lembut jemari Dambi, yang kali ini sudah mengenakan cincin pernikahan


darinya, dengan berlian yang lebih besar dan lebih indah dari cincin pertunangannya.


"Aku sudah ambil cuti dua minggu untuk bulan madu kita nanti, dan di sana kita akan berusaha keras sampai kau hamil." Angkasa berbisik dengan nada menggoda ditelinga Dambi, membuat gadis itu tersipu malu.


***


"Sekarang kita sudah bisa tidur seranjang." Angkasa melepas dasinya dan menyampirkannya di kursi, dan menatap Dambi yang gugup dengan senyuman lembut. Karena mereka sudah suami isteri, tentu saja pria itu dengan bebas melakukan apapun sekarang. Ia tidak perlu takut dan ragu lagi untuk memasuki gadis itu.


"Kau siap malam ini?" walau Dambi bilang tidak pun, dia tetap akan melakukannya, karena Angkasa sudah tidak sanggup lagi menahan hasratnya untuk memiliki Dambi. Meski begitu dia masih bertanya. Angkasa tersenyum ketika Dambi mengangguk, memberinya lampu hijau.


Angkasa mengerang menahan perasaannya, lalu disentuhnya dagu Dambi lembut untuk mendongakkan kepalanya, kemudian dikecupnya bibir Dambi lembut. Lidahnya mendesak masuk kemudian, terasa panas dan menggoda, tanpa


lalu menemukan lid ah Dambi yang lembut dan berjalinan di sana.


Mulut Angkasa mel u mat


seluruh bagian bibir Dambi, seakan ingin menyerap semua rasanya. Pelukannya mengencang, jemarinya menelusuri permukaan kedua lengan Dambu, dan bergerak naik turun


dengan menggoda. Ketika ciuman itu terlepas, napas mereka berdua sama-sama terengah-engah.


Angkasa lalu mengecup lembut bibir Dambi lagi, beralih ke pipinya, diberinya hadiah kecupan-kecupan kecil, kemudian ke telinganya, menghembus lembut di sana membuat Dambi memekik kegelian.

__ADS_1


Angkasa tersenyum.


"Ini adalah titik sensitiv perempuan biasanya." Lelaki itu lalu mengecup


lembut di telinga Dambi dan lidahnya dengan nakal mencicipi di sana.


"Dambi, aku sangat menginginkanmu." dengan lembut diangkatnya Dambi dan dibaringkannya ke atas ranjang.


Angkasa melu m atbibir Dambi lagi dan tubuhnya bergerak dengan lembut di atas Dambi. Jemarinya menyentuh pelan, menyentuh lembut bagian depan gaun Dambi, membuat perempuan itu terkesiap, lalu


dengan lembut tetapi cekatan, Angkasa membuka kancing demi kancing gaun putih Dambi, begitu pelan gerakannya, seolah ingin menyiksa dirinya sendiri.


Kulit Dambi yang lembut terlihat sedikit demi sedikit, Angkasa membuka seluruh kancing gaun


Dambi, sampai ke pinggangnya dan menatap isterinya dengan penuh gairah, Dambi begitu


menggairahkan, perempuan mungil itu kini terbaring dengan baju terbuka, menampakkan


kulitnya dan begitu menggoda.


Angkasa membantu Dambi menurunkan gaunnya hingga


sepinggang, kemudian sambil menciumi leher Dambi dan              men ji l atnya lembut, lelaki itu

__ADS_1


melepaskan kaitan bra Dambi, membuat gadis itu tela n jang dada di depannya.


__ADS_2