Dangerous Fiancee

Dangerous Fiancee
41


__ADS_3

"Katakan, kau mengundurkan diri dari kampus memang karena aku kan? Aku tahu, jangan coba-coba berbohong." tuntut Dambi yang ikut masuk ke kamar Angkasa.


"Bukan seperti itu, ini sudah keputusanku dari beberapa hari yang lalu. Kebetulan saja pas aku mengundurkan diri bertepatan di hari kita berdua ketahuan ada hubungan." pungkas Angkasa. Ia duduk di ranjang sambil mendongak ke Dambi yang berdiri didepannya.


"Kau bohong. Tidak ada kebetulan yang seperti itu." cetus Dambi tidak percaya.


Angkasa menghela napas. Lalu tangannya meraih jemari Dambi. Mengusap-usapnya lembut. 


"Jadi, kau tidak mau aku mengundurkan diri dari jabatanku sebagai dosen?" tanyanya. Dambi mengangguk.


"Karena itu bukan maumu. Kau terpaksa karena aku. Ini semua salahku. Aku tidak seharusnya menyeretmu dalam masalah ini. Dan seharusnya kita menyelesaikan masalah kita bersama. Bukannya aku malah bersembunyi." ucapnya merasa bersalah.


Angkasa tersenyum tipis lalu menarik gadis itu duduk disampingnya.


"Bukan salahmu sama sekali. Kita berdua tidak salah apa-apa. Hanya saja posisi kita di kampus berbeda. Jadi banyak orang yang merasa aneh dan tidak suka dengan hubungan kita berdua." gumamnya. Tangannya berpindah mengusap-usap kepala Dambi..


"Aku sudah berpikir berulang kali dan akhirnya aku lebih memilih bekerja di kantor papa. Membantunya mengembangkan bisnis keluarga. Dan mencari uang sebanyak mungkin  agar nanti istri dan anakku bisa hidup nyaman." kata-kata itu meluncur dengan lancar dari mulut Angkasa. Sampai Dambi sendiri merasa malu dan berbunga-bunga saat mendengarnya.


Istri dan anak? Apakah maksud pria itu adalah dia? Siapa lagi coba, kan dialah tunangan Angkasa. Gadis itu memerah. Dan Angkasa menyadarinya. Karena ketika dia melirik ke samping, Dambi terlihat salah tingkah. Pria itu tersenyum lalu memegangi dagu Dambi membuat gadis itu mendongak padanya.

__ADS_1


"Apa yang kau pikirkan, hm?" nada bicaranya pelan dan terdengar begitu menggoda di telinga Dambi.


Dambi tersenyum kemudian menggeleng.


"Yakin, tidak ada yang sedang kau pikirkan? Bukannya kau sedang berpikir bagaimana menjadi ibu dari anak-anakku?" Angkasa yakin sekali dengan perkataannya. Dambi tertawa dan menggeleng lagi.


"Argh.." teriak Dambi saat Angkasa menjatuhkannya hingga terbaring ke ranjang.


Pria itu menindih tubuh Dambi yang terlentang di ranjang. Tangannya memegangi kedua tangan gadis itu dan menautkan jemari mereka. Kemudian pria itu mengecup singkat bibir gadis itu.


"Angkasa, jangan macam-macam. Ini masih pagi dan aku harus ke kampus." ucap Dambi was-was. Tapi Angkasa tidak peduli sama sekali. Ia kembali mengecup bibir Dambi lalu turun mengendus-endus leher jenjang gadis itu.


"Kau sangat wangi. Aku suka aromamu." gumam Angkasa pelan. Gairahnya mulai bangkit dan Dambi jelas bisa melihat itu.


Tidak, tidak. Tidak sekarang. Ia harus ke kampus. Ia juga takut ada yang tiba-tiba mengetuk pintu dan mendapati dirinya sedang berduaan dengan Angkasa dalam keadaan begini.


"A... Angkasa, berhenti. Aku harus k.. ke kampus. Nanti terlambat." ia berusaha mendorong tubuh berat Angkasa. Sayangnya tidak berhasil.


"Lima menit. Beri aku waktu lima menit. Setelah itu aku akan mengantarmu." pinta pria itu.

__ADS_1


Dambi akhirnya hanya bisa mengiyakan. Ia membiarkan Angkasa melakukan apa saja yang pria itu mau pada dirinya. Lima menit, mungkin mereka hanya akan berciuman. Jadi tidak apa-apa.


Namun ketika Angkasa mengangkat t-shirtnya ke atas, Dambi melotot.


"Angkasa! Apa yang kau lakukan?"


Angkasa tidak menjawab. Mulutnya sudah berada di atas payu d ara Dambi yang bulat. Menggoda pu t i ngnya dengan lidahnya. Entah kapan pria itu melepas bra-nya, Dambi sudah tidak sadar. Tubuh bagian atasnya sudah tidak tertutupi sehelai benang pun.


"Mmph..." Dambi terus menahan desa h an tapi satu desa h an berhasil lolos dari bibirnya. Apa yang Angkasa lakukan padanya membuatnya bergetar hebat. Lidahnya bermain dengan sangat lihai. Menggigit-gigit p u t ingnya dengan begitu ahli. Mengemutnya seperti orang kelaparan.


Astaga, Dambi yakin ini tidak akan berakhir hanya dengan lima menit saja. Karena dirinya mulai menikmati setiap permainan Angkasa. Rasanya begitu nikmat. Gadis itu menutup matanya, menikmati setiap sentuhan yang Angkasa berikan padanya.


Salah satu tangan Angkasa turun ke bokong Dambi dan meremasnya kuat. Pinggul Dambi tanpa sadar maju mundur menggesek paha Angkasa. Angkasa semakin menggila merasakan gesekan itu. Ia melepaskan k u lumannya pada puncak payu dara Dambi dan kembali ke bibir pink gadis itu.


Angkasa memagut bibir itu panas dan bergairah. Angkasa lalu melepaskan pagutannya dan menyatukan kening mereka. Angkasa memejamkan matanya mengatur nafas dan mengembalikan kesadarannya. Dia harus menghentikan ini sekarang. Walau rasanya dia begitu tidak rela. Tapi Dambi sudah berkali-kali bolos kampus akhir-akhir ini. Bagaimana kalau gadis itu bermasalah dengan kuliahnya hanya karena keegoisannya?


"Pakai kaosmu. Aku akan mengantarmu ke kampus sekarang." ucapnya. Berusaha keras meredam gairahnya yang membara. Dambi tertawa pelan. Ternyata pria itu benar-benar dengan lima menit yang dia bilang tadi. Padahal Dambi sudah melupakannya. Akibat permainan Angkasa terlalu menggodanya tadi.


"Kalau kita melakukannya lagi nanti, kali itu kau benar-benar tidak akan lolos dariku." bisik Angkasa membuat Dambi merinding sekaligus malu. Dasar Angkasa, paling bisa menggodanya sampai dia kehabisan kata-kata.

__ADS_1


__ADS_2