
"Buka pahamu, sayang." Angkasa setengah membantu Dambi membuka pahanya dan membiarkan keja n tanan Angkasa mendesak di antara paha Dambi mendesak
kewanit a annya. Lelaki itu menggesekkan tubuhnya lembut, mengirimkan getaran listrik yang
membuat tubuh Dambi membara.
"Kau sudah sangat basah," Angkasa menyentuh Dambi dengan kejant a na nnya, merasakan betapa Dambi sudah begitu panas dan basah dibawahnya.
Lelaki itu bertumpu kepada kedua sikunya, dan mendorongkan pinggulnya. Menekan tubuh Dambi dengan begitu ahli. Tetapi halangan itu cukup kuat, sehingga Angkasa harus menekan beberapa kali, mencari jalan untuk menyatukan tubuhnya ke dalam tubuh Dambi,
menuntaskan kenikmatan ini.
Dengan lembut, lelaki itu menggesek-gesekkan tubuhnya di
ujung bibir kewan i t aan Dambi, mempersiapkan perempuan itu, pelan dan pasti mencoba masuk sedikit demi sedikit, dan kemudian, ketika menemukan titik itu. Angkasa mendorong tanpa peringatan menekan kuat dan memasuki tubuh Dambi.
Yang dirasakan Dambi kemudian adalah rasa sakit yang luar biasa, Kejanta n an Angkasa mendorongnya masuk ke dalam tubuhnya, dan dia terkejut akan kekuatan besar yang
mencoba menyatukan diri dengannya. Dambi mengerang, mencoba mendorong tubuh Angkasa menjauh karena kesakitan yang dirasakannya.
"Jangan dorong aku sayang. Rilekslah, sakitnya akan segera hilang, aku janji." Angkasa berbisik pelan di telinga Dambi. Tubuhnya mendorong lagi, dan ketika akhirnya dia berhasil menembus penghalang itu dia menekankan dirinya dalam-dalam dan menahan dirinya untuk tidak langsung bergerak, mengangkat kepalanya dan mengecup pipi Dambi lembut.
__ADS_1
Dambi kesakitan selama proses itu, tapi Angkasa tidak bisa membantunya. Sekarang yang bisa dilakukannya hanyalah membantu Dambi supaya rileks dan menikmati, membantunya supaya lepas dari
kesakitan di kewa n itaannya.
"Masih sakit?" Angkasa mengusap air mata di sudut mata Dambi.
"Mau berhenti dulu?" gumamnya lembut. Dambi tersentuh atas kelembutan Angkasa. Dia menggelengkan kepalanya, membiarkan lelaki itu mengecupnya.
Dengan lembut Angkasa mulai menggerakkan tubuhnya lagi, agak sakit bagi Dambi pada awalnya,
merasakan sesuatu yang asing menggesek bagian tubuhnya yang paling sensitif. Tetapi kemudian ritmenya mulai terasa. Setiap Angkasa bergerak, Dambi mulai bisa menikmati setiap goyangan yang di dalam area sensitifnya membuatnya
mengerang, sambil berpegangan pada tubuh Angkasa.
Tubuh mereka berdua berkeringat, di atas ranjang berseprei abu-abu tua yang sekarang sudah
acak-acakan itu. Angkasa menggerakkan tubuhnya di dalam tubuh Dambi, semula lembut dan
hati-hati. Tetapi ketika merasakan tubuh Dambi mulai merespon dengan napas terangah dan erangan pelan, Angkasa bergerak dengan penuh gairah, membawa mereka menuju ke puncak gairah masing-masing.
Ketika puncak itu hampir tiba, Angkasa membimbing Dambi, membawanya ke depan, mencapai orga s me yang luar biasa itu. Dan ketika rintihan Dambi dalam pencapaiannya menandai orga s menya, Angkasa merasakan tubuh Dambi mencengkeram kejant a n annya dengan kuat di dalam, membuatnya tak tahan lagi, hingga kemudian meledak di dalam
__ADS_1
tubuh Dambi.
Kenikmatan itu begitu intens dan luar biasa, sehingga membuat tubuh mereka lemas. Angkasa
berbaring menindih tubuh Dambi, menahan dengan siku dan lututnya supaya tidak membebankan beratnya di tubuh isterinya, kepalanya berbaring di bantal di samping kepala isterinya. Napas mereka berdua terengah-engah. Kepalanya masih dipenuhi kabut kenikmatan itu.
Luar biasa rasanya berc i nta dengan orang yang dicintai. Orga s menya
sungguh tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Angkasa membuka matanya dan mengecup telinga mungil Dambi yang ada di depannya,
"Apa kau puas?"
Dambi masih berusaha menormalkan napasnya. Apakah Angkasa memuaskannya? Tentu saja.
Kalau benar ledakan luar biasa yang dirasakan tubuhnya adalah sesuatu yang orang-orang sebut sebagai orga s me, berarti Angkasa telah
memberikan orga s me yang paling nikmat kepadanya.
Dambi memang tidak punya
perbandingan. Tetapi tubuhnya yang begitu terpuaskan oleh perbuatan Angkasa.
__ADS_1
"Kita akan melakukannya lagi nanti, oh ya ampun, aku sangat tergila-gila padamu Dambi." ujar Angkasa lalu menarik Dambi masuk ke dalam pelukannya. Mereka berpelukan dengan tubuh polos itu. Dalam selimut. Namun kulit mereka bersentuhan, dan wajah Dambi bersemu merah. Dia sudah tidak perawan lagi. Tapi dirinya merasa senang. Karena laki-laki yang mengambil keperawanannya adalah suaminya sendiri.
"Tidurlah, besok aku akan lebih ganas dari malam ini. Persiapkan dirimu," gumam Angkasa lagi sontak Dambi langsung mencubit pelan lengannya. Tak lama setelah itu keduanya tertidur.