
Sepanjang perjalanan pulang, tak ada yang bersuara sedikitpun. Dambi apalagi. Ia takut membuka suara karena dilihatnya raut wajah Angkasa yang begitu merah padam karena amarah. Jadi ia memilih diam. Angkasa terus fokus kedepan tanpa menatap Dambi sedetikpun.
Suasana terasa begitu hening dan mencekam. Baru kali ini Dambi melihat sisi lain Angkasa, dan ia merasa takut. Apakah Angkasa sangat marah padanya? Apakah Angkasa kecewa melihatnya berteman dengan Nurul dan yang lain? Tapi mereka baik dan tidak macam-macam sama dia.
Tadi mereka kebetulan bertemu saat dirinya mampir sebentar di toko sepatu. Mereka lalu mengajaknya karaokean bareng. Ya, walau Nurul dan yang lain minum-minum tadi, tapi mereka masih tahu batas tidak memaksa Dambi minum. Tentu karena menghargai Dambi sebagai teman mereka.
Ketika sampai di rumah, Angkasa kembali menarik Dambi turun dari mobil dan membawanya masuk melewati para pelayan yang menatapi mereka dengan heran. Tentu saja mereka penasaran apa yang telah terjadi, tetapi takut bertanya. Mereka hanya pembantu, bagaimana kalau Angkasa langsung memecat mereka jika tiba-tiba mereka bertanya kenapa?
Dari dulu Angkasa memang terkenal sebagai anak majikan yang cuek tapi menghargai semua orang yang bekerja di rumah itu. Tapi kalau pria itu sedang marah, jangan berani-berani ikut campur. Karena marahnya Angkasa amat menakutkan. Orangtuanya saja tidak berani mendekat.
"Argh..." Dambi memekik pelan, kaget karena Angkasa menghempasnya ke tempat tidur. Tidak tergolong sangat kasar, Angkasa seperti masih tahu batas. Tapi tetap saja membuat Dambi kaget.
"Sudah kubilang tadi tunggu aku dikampus kan? Memangnya sulit bagimu menungguku sebentar saja, hah? Kau bahkan tidak mengangkat telponku. Aku menelpon berkali-kali Dambi. Apa kau sengaja tidak mengangkatnya karena terlalu menikmati bergaul dengan teman-teman ja la ngmu dan para lelaki brengsek itu? Kau mau jadi seperti mereka? Jawab aku!" tukas Angkasa melampiaskan seluruh kekesalannya pada gadis itu.
__ADS_1
Oke, dia sangat kesal sampai berkata kasar. Tapi percayalah, ia marah karena khawatir. Khawatir akan ancaman yang bisa membuat Dambi dalam bahaya. Takut gadis itu kenapa-napa.
Tapi di posisi Dambi, gadis itu hanya melihat kemarahan yang amat besar di mata Angkasa. Dan gadis itu tidak senang mendengar Angkasa menyebut temannya-temannya jal a ng. Benar mereka memiliki pergaulan bebas dan hobi mencari mangsa pria-pria kaya. Tapi bagi Dambi, kata-kata Angkasa terlalu kasar untuk teman-temannya.
"Kenapa kau semarah ini? Aku tahu aku salah, tapi kau bisa menegurku baik-baik. Aku tidak sengaja bertemu dengan teman-teman lamaku, karena itu aku ikut saja di ajak ke tempat tadi. Tapi bukan berarti aku tidak tahu batasanku. Kau keterlaluan Angkasa! Dan jangan mengatakan teman-temanku perempuan ja lang." balas Dambi tak kalah ketus. Dia tahu dia salah, tapi kata-kata Angkasa terlalu kasar dan tanpa pikir panjang malah merendahkan teman-temannya. Jelas dia kesal. Angkasa memicingkan mata menatap Dambi.
"Keterlaluan? Keterlaluan kau bilang? Saat aku sampai tadi, temanmu yang tidak tahu malu itu berciuman dengan begitu panasnya didepan banyak orang, bahkan mencoba menggodaku. Apa menurutmu itu perempuan baik-baik?" Angkasa masih tak mau kalah. Lagipula apa yang dia katakan memang benar. Perempuan baik-baik apa yang macam tadi. Pokoknya dia harus membuat Dambi tidak bertemu dengan mereka lagi. Mungkin dirinya terlalu mengatur, tapi untuk kebaikan gadis yang dia cintai, dia rasa tidak ada salahnya.
Dambi terdiam. Dia memang berada di posisi yang serba salah. Mau membela teman-temannya, tapi teman-temannya memang seperti itu. Di sisi lain, mereka baik padanya.
"Kau mencoba mengaturku?"
"Demi kebaikanmu,"
__ADS_1
"Kau egois Angkasa. Kau tidak ada hak mengatur-ngatur hidupku."
"Aku tunanganmu, aku berhak Dambi."
Dambi tertawa keras. Ia masih tidak mau kalah.
"Hubungan kita bisa berakhir kapan saja. Lagipula dari awal memang hubungan ini di mulai karena paksaan kedua orangtua kita. Kalau kau seperti ini, aku jadi ragu. Apa kita benar-benar cocok, atau tidak."
perkataan Dambi berhasil membuat Angkasa tertegun sejenak. Seperti ada sesuatu yang menghujam jantungnya. Hatinya terasa begitu pedih. Nafasnya sesak. Segampang itu Dambi mengucapkan kata-kata tadi? Apakah hubungan yang mereka jalani sampai mereka jadi sedekat sekarang tidak dianggap sama sekali oleh gadis itu? Angkasa tersenyum kecut. Ada rasa kecewa dalam hatinya.
"Istrihatlah." hanya satu kata itu yang keluar dari mulutnya sebelum pria itu mundur selangkah dan berbalik pergi dari kamar tersebut.
Ketika Dambi mengangkat kepalanya, Angkasa sudah keluar dari ruangan itu. Gadis itu menghembuskan nafas panjang.
__ADS_1
Ada rasa bersalah dalam hatinya karena kata-katanya tadi. Dia baru sadar kalau ucapannya sudah keterlaluan. Itu tidak benar-benar dari hatinya. Apa Angkasa kecewa padanya? Ahh... Kenapa malah jadi seperti ini sih.
Dambi mengerang pelan. Bagaimana sekarang? Harusnya tadi dia diam saja saat Angkasa marah-marah. Bukan malah balas marah. Apalagi mengatakan kata-kata seperti tadi. Kalau dia yang jadi Angkasa, jelas dirinya akan kecewa juga. Tapi tadi Dambi merasa terlanjur emosi juga.