Dangerous Fiancee

Dangerous Fiancee
49


__ADS_3

Angkasa kesal setengah mati. Bagaimana tidak kesal coba? Padahal tadi sudah di ujung. Tinggal sedikit lagi. Tinggal sedikit lagi dan Dambi akan menjadi miliknya seutuhnya. Tapi calon mertuanya malah muncul di waktu yang tidak tepat. Membuyarkan segala mimpinya untuk memiliki Dambi pagi ini.


Pria itu mengacak-acak rambutnya kesal. Sialan. Ingin sekali dia berteriak marah pada mama Dambi, tapi tidak mungkin bukan? Yang ada pertunangan mereka bisa batal. Angkasa akhirnya hanya bisa menahan rasa kesalnya dan pura-pura tersenyum saat datang ke ruang tamu.


Hanya ada Dambi dan mamanya. Papa gadis itu tidak kelihatan. Orangtuanya juga masih berada di luar kota. Angkasa memaksakan senyumannya dan bertingkah sebagai menantu yang baik didepan wanita paruh baya bernama Dian itu. Wanita yang akan menjadi mertuanya nanti.


"Angkasa sayang, tante dengar kamu udah berhenti jadi dosen. Jadi kamu sekarang pengen ambil alih bisnis papa kamu?" tanya Dian. Sebenarnya Angkasa tidak begitu suka membahas masalah pekerjaan di situasi begini, tapi apa boleh buat? Didepan mertuanya, ia tidak berkutik


"Iya tante. Aku pikir sekarang sudah waktunya buat kerja di perusahaan papa." sahutnya. Dian mengangguk-angguk.


"Jangan panggil tante lagi dong. Kan sebentar lagi kamu sama Yaya menikah. Kayak Yaya panggil mama kamu mama, kamu juga panggil Tante sama om mama yah."


perkataan tersebut membuat Angkasa dan Dambi saling menatap. Menikah?


Berbeda dengan Angkasa yang senang mendengar kata itu, Dambi malah bingung dan sedikit keberatan. Bukan karena tidak mau menjadi istri Angkasa, tapi karena orangtuanya yang selalu mengambil keputusan tanpa bicara dengannya dulu.


"Ma, Angkasa aja belum lamar aku. Kok udah ngomong soal pernikahan sih?" kata Dambi. Iya tahu menikah dengan Angkasa lebih baik dilakukan secepatnya karena hubungan mereka saat ini yang terlalu dekat. Apalagi barusan mereka hampir...


Kalau mamanya tidak datang tiba-tiba tadi, pasti dirinya sudah kehilangan keperawanannya. Dan ada kemungkinan dirinya bisa hamil. Jadi akan lebih baik mereka menikah secepatnya biar kalau Angkasa dan dirinya sendiri tidak bisa menahan gairah mereka, mereka bisa melakukannya dengan bebas tanpa takut apapun. Namun Dambi ingin Angkasa sendiri yang melamarnya, bukan karena rencana orangtua mereka.

__ADS_1


"Loh kenapa? Kan kalian udah dijodohin dan mama liat kalian makin dekat. Nggak salah dong kalian nikah secepatnya."


"Tapi ma,"


"Udah-udah, kita bahas itu nanti aja. Mama ke sini cuman mau jemput kamu. Tante kamu kecelakaan dan lagi di rawat di RS sekarang. Papa kamu udah di sana." Dambi tersentak. Tantenya kecelakaan? Ia cuma punya satu tante. Siapa lagi kalau bukan tante Riri, mamanya kak Rassya.


"Terus keadaannya tante Riri gimana?" tanya Dambi dengan raut wajah khawatir.


"Udah mendingan katanya. Tapi kita harus tetap ke Bandung. Rassya pengen kamu ada di sana. Kamu tahu kan kakak kamu itu kalau sedih, cuma bisa di hibur sama kamu." benar juga sih. Dari dulu kalau Rassya sedih, maunya cuma sama dia. Entah jalan-jalan, nonton bareng atau di rumah doang, yang penting ada Dambi, keadaan Rassya bisa lebih lebih baik.


"Ke Bandung?" kali ini Angkasa angkat suara.


Dua hari? Angkasa merasa keberatan. Bahkan sekalipun hanya sehari, dirinya sudah merasa bosan karena tidak melihat gadisnya itu. Apalagi dua hari? Namun Dambi belum sepenuhnya menjadi miliknya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan terpaksa pria itu akhirnya mengangguk. Mau bagaimana lagi coba.


"Ya udah. Kamu cepetan siap-siap sana. Mama tunggu." kata Dian lagi beralih menatap Dambi.


Dambi melirik Angkasa sebentar sebelum naik ke lantai atas. Ia bisa lihat lelaki itu tampak kurang senang, tapi dirinya malah merasa lucu.


"Ma, aku ke kamar bentar ya. Mama nggak apa-apa sendiri kan?" kata Angkasa.

__ADS_1


"Iya sayang, nggak apa-apa." balas Dian. Lalu Angkasa berbalik naik ke lantai atas.


\*\*\*


Angkasa tidak balik ke kamarnya, ia malah masuk ke kamar Dambi. Membuka pintu tersebut dengan gerakan perlahan dan menguncinya dari dalam. Dambi berdiri membelakanginya. Gadis itu tampak sibuk mengatur beberapa barang yang ia keluarkan dari dalam lemari.


Angkasa tersenyum. Dengan langkah perlahan tapi pasti ia berjalan ke arah Dambi dan memeluk tubuh gadis itu dari belakang dan mengendus-endus tengkuknya hingga Dambi memekik pelan.


"Angkasa!" Dambi merasa geli dan sedikit merinding.


"Ssstt... Sebentar saja." gumam pria itu serak. Kali ini mengecup telinganya. Dambi makin kegelian ketika tangan Angkasa menelusup masuk ke dalam jinsnya dan menyentuh bagian sensitif itu.


Lagi?


Dambi menutup matanya keenakan. Tapi sekarang bukan waktunya. Dia harus menghentikan niat gila Angkasa.


"A.. Angkasa stop! Ahh.. shh.. Ka.. kalau belum berhenti juga aku akan me...menetap sampai seminggu di Bandung." ancamnya di sela-sela des ahan panjang akibat perbuatan Angkasa. Bukannya mendengar ancamannya, tangan Angkasa malah bergerak makin cepat sehingga Dambi merasakan dirinya akan segera orgas me.


"Ahhh... Mmphh..." matanya tertutup menikmati hasil perbuatan Angkasa. Sepertinya mereka memang harus segera menikah kalau Angkasa terus bergairah seperti ini. Apalagi dirinya yang tidak sanggup menolak pria yang begitu menawan tersebut.

__ADS_1


"Jangan coba-coba, atau aku akan membuatmu tidak bisa berjalan." pria itu balik mengancam dengan senyuman menyeringai.


__ADS_2