Dangerous Fiancee

Dangerous Fiancee
47


__ADS_3

Niatnya hanya mau menemani Angkasa sebentar, tapi dia malah ikut tertidur juga. Gadis itu tertidur disamping Angkasa. Giliran tangannya yang melingkar ke pinggang Angkasa. Dambi tertidur sangat pulas, mungkin efek terlalu lelah siang tadi. Lelah batin karena bertengkar dengan Angkasa, dan lelah fisik tentu saja.


Sekitar pukul tiga pagi, Angkasa terbangun. Kepalanya terasa pening. Ia merasa ada tangan di atas perutnya. Pria itu menengok kesamping dan mendapati Dambi sedang tertidur disebelahnya. Dahinya berkerut, mencoba mengingat-ingat apa yang sudah terjadi semalam. Seingatnya semalam dia minum-minum untuk melampiaskan emosinya.


Lalu... Setelah itu. Ah, dia ingat Dambi datang. Namun setelah kedatangan gadis itu ke kamarnya, dia tidak ingat lagi. Kalau Dambi tidur bersamanya, apakah semalam mereka bercinta? Tidak, tidak mungkin. Pakaian mereka masih utuh. Tidak mungkin melakukan itu. Karena kalau mereka melakukannya, Angkasa tidak akan pernah lupa. Ia boleh melupakan hal lain saat mabuk, tapi tidak akan pernah melupakan yang satu itu. Itu pasti.


Angkasa memilih duduk bersandar di kepala tempat tidur sambil mengamati Dambi. Emosinya sudah kembali stabil. Apalagi melihat gadis itu tidur disampingnya.


Dambi tertidur dengan lelap, terlihat seperti tenggelam dalam mimpi yang dalam. Angkasa tersenyum senang. Bagus. Itu berarti dia bisa leluasa.


Lelaki itu menyentuhkan jemarinya menelusuri pipi Dambi. Berulang kali ia memikirkan kenapa dirinya jatuh cinta pada gadis ini. Semakin dirinya berpikir, semakin dia ingin memiliki Dambi.


Angkasa menyadari bahwa dia harus


bisa memiliki Dambi. Apapun akan dilakukannya untuk memiliki Dambi. Gadis itu memberikannya kekuatan. Semakin lama semakin kuat. Hingga mungkin dia bisa gila kalau tidak bisa memiliki gadis itu.


Angkasa kemudian menunduk dan mengecup bibir Dambi yang sedang tertidur pulas. Bersyukur atas


gadis itu yang tidurnya sangat lelap sehingga Dambi tidak akan sadar kalau dia bertindak sedikit lebih jauh. Jemarinya membuka kancing pakaian tidur Dambi, menyentuh buah


dadanya, dan meremasnya lembut.


Gairahnya naik, seperti biasanya. Kalau berhubungan dengan Dambi, Angkasa hanya mengetahui satu hal, nafsu. Satu hal yang ia tahu cara

__ADS_1


lain untuk menggambarkan perasaannya kepada Dambi. Dirinya sangat bernapsu pada gadis itu, apalagi jika ada kesempatan emas seperti ini.


Tapi bukan berarti dia hanya menginginkan tubuh Dambi. Semuanya, dia ingin semua dari gadis itu menjadi miliknya. Dan dia sanggup memberi seluruh dirinya pada Dambi, ingin membahagiakan gadis itu sampai selama-lamanya. Sampai usia mereka di dunia ini berakhir.


Bibir Angkasa turun ke leher Dambi, meresapi harumnya perempuan itu yang menggoda seluruh saraf tubuhnya. Dan Angkasa mengecupnya, mencecap setiap rasanya. Ketika bibirnya sampai ke bagian paling atas pay u dara Dambi yang ranum dan menggoda, Angkasa


mengecup lebih dalam, melu mat kulit halus itu, sehingga meninggalkan tanda kemerahan di


sana, membuat Dambi sedikit menggeliat dan mengerutkan kening dalam tidur pulasnya.


Angkasa menegakkan tubuh dan tersenyum puas melihat hasilnya. Ini sama seperti seorang pejantan yang memberi tanda kepada betinanya.


Dengan tenang dia mengancingkan kembali piyama Dambi, dan merapikan kembali


selimutnya. Dalam senyuman dia mengecup bibir Dambi untuk terakhir kalinya, sebelum kembali membiarkan gadis itu terbaring lelap di ranjang.


Sekarang belum saatnya memiliki Dambi. Nanti, kalau waktunya sudah tepat. Saat gadis itu benar-benar sadar, bukan terlelap seperti ini. Dan saat Dambi mau memberi dirinya dengan sukarela untuk Angkasa.


***


Ketika Dambi terbangun keesokan harinya, hujan turun dengan derasnya di pagi hari yang


muram itu. Menghantamkan air ke jendela kaca kamar Angkasa, membuat suasana pagi tampak gelap

__ADS_1


dan muram. Dambi menengok ke samping dan melihat Angkasa masih ketiduran. Ia tersenyum pelan dan mengecup singkat bibir Angkasa sebelum turun.


Dambi melangkah turun dari ranjang.


Matanya melihat ke lantai yang masih berserakan pecahan-pecahan gelas semalam. Lalu dengan amat berhati-hati Dambi mengambil beberapa peralatan bersih-bersih di lemari Angkasa yang serbaguna dan mulai membersihkan pecahan-pecahan itu. Setelah itu, ia keluar. Kembali ke kamarnya. Bisa bahaya kalau ada pelayan yang datang dan melihat dirinya ada di kamar Angkasa.


Walau masih malas, Dambi tetap melangkah ke dalam kamar mandinya. Dia melepaskan piyamanya dan berdiri telan jang di bawah pancuran air hangat. Dia sedang tidak ingin berlama-lama di kamar mandi, karena itu dia sama sekali tidak melirik ke arah


bathtub.


Selesai mandi dan merasa segar akibat siraman air hangat ke tubuhnya, Dambi berdiri di depan cermin dan mengambil sikat gigi dari tepi wastafel. Dia mulai menyikat


giginya dan tertegun.


Dambi tertegun melihat bayangan yang terpantul di kaca kamar mandinya. Di bagian atas


pay u daranya, ada tanda merah yang sekarang sudah sedikit membiru. Dengan bingung digosoknya tanda itu, tidak sakit. Apakah bekas gigitan serangga? Kenapa tidak terasa


gatal dan sakit?


Lama Dambi mengerutkan keningnya sambil memandang tanda itu. Lalu kemudian ketika sadar, dia melotot dan menyebut nama Angkasa dalam hati. Laki-laki itu sengaja mengambil kesempatan di saat dirinya terlelap. Pantas saja dia ingat ada yang mengganjal dalam tidurnya semalam. Dambi lalu menarik napas dan melanjutkan menggosok giginya. Saat dia keluar dari kamar mandi, dirinya terkejut melihat Angkasa yang sudah duduk manis di atas kasurnya sambil melambai ke arahnya. Astaga, apalagi ini?


Dambi cepat-cepat berbalik ke kamar mandi untuk mengambil handuk dan menutupi tubuh te l anjangnya dengan kain berbahan lembut itu.

__ADS_1


"Kenapa ditutup? Lagipula aku sudah beberapa kali melihatnya." ujar Angkasa santai.


__ADS_2