
"Selamat pagi."
Angkasa menyapa lembut ketika Dambi membuka matanya, sudah hampir lima belas menit yang lalu Angkasa bangun. Tetapi tidak bergerak dari ranjang sama sekali. Dia berbaring miring di sana, bertumpu di sikunya dan memandang isterinya yang sedang tertidur pulas di sampingnya.
Angkasa suka memandangi Dambi, dia bisa melakukannya berjam-jam tanpa bosan. Dan kesadaran bahwa sekarang sebagai suami Dambi dia bisa melakukan itu, membuatnya tambah bahagia lagi.
Dambi mengerjapkan matanya. Butuh beberapa lama sampai dia menyadari ada di mana sekarang, dan apa yang telah terjadi. Ingatan tentang malam pertama semalam yang sangat panas di antara keduanya, dan ingatan itu membuatnya merona malu.
Angkasa sendiri tampak tidak peduli, lelaki itu menelusurkan jemarinya ke sepanjang pinggul Dambi dengan menggoda.
"Bagaimana tidurmu, nyenyak? Angkasa menatap Dambi dengan mesra, membuat Dambi kehabisan kata-kata dan hanya bisa menganggukkan kepalanya. Jemari Angkasa menelusuri makin
berani, dan menyentuh kewanitaan Dambi hingga lagi-lagi Dambi harus menahan napas merasakan sentuhan lembut itu.
"Di sini masih sakit?" Angkasa mengusapnya lembut. Dambi menggeleng. Nafas Angkasa agak
terengah dan karena mereka berdua telan ja ng bulat, Dambi bisa melihat betapa kejant a nan Angkasa telah menegang keras lagi. Tetapi lelaki itu tampak menahan diri, dia mengikuti arah pandangan Dambi dan tersenyum,
"Seperti yang selalu aku bilang, aku selalu mengeras kalau bersamamu, karena kamu membuatku begitu bergairah…" pria itu mengelus pipi Dambi dengan lembut, Dambi menelan ludah.
__ADS_1
Jangan bilang Angkasa akan menyetub u hinya lagi sekarang. Semoga tidak. Meski itunya sudah tidak sakit lagi, tapi dia masih sangat lelah. Dia belum bisa melayani Angkasa lagi pagi ini. Apalagi dengan gaya berc inta Angkasa yang cukup brutal itu. Dambi benar-benar tidak mampu. Ia harus mempersiapkan diri agar siap sepenuhnya menghadapi sang suami.
"Apa yang kau pikirkan?" Angkasa tertawa pelan melihat perubahan di ekspresi Dambi. Ia tampak tegang, dan itu lucu di mata Angkasa.
"Tenanglah, aku akan menghormati hilangnya keperawananmu dengan tidak menyentuhmu dulu hari ini," Dambi baru bisa bernapas lega. Dia bebas hari ini.
"Terimakasih Angkasa,"
"Sama-sama isteriku." Angkasa lalu mengecup ujung hidung Dambi dengan lembut.
\*\*\*
Tiga hari kemudian, seperti yang dikatakan Angkasa sebelumnya, pria itu membawa Dambi bukan madu ke sebuah pulau pribadi milik keluarganya. Bisa dibilang pulau itu miliknya sekarang. Karena atas namanya dan hanya dia satu-satunya keturunan yang akan menjadi ahli waris dalam keluarganya. Tidak ada yang lain. Artinya, berapa banyakpun harta yang dimiliki oleh kedua orangtunya, semuanya pasti akan jatuh tangannya.
Ini benar-benar pantai tropis yang luar biasa. Warna pasirnya membuat Dambi tanpa pikir panjang melepas sepatunya dan memilih bertelanjang
kaki. Udara pantai yang sejuk meniup rambutnya hingga melambai-lambai di pipinya.
Beberapa orang yang sudah menunggu langsung membantu meminggirkan boat dan
__ADS_1
mengangkat koper-koper mereka.
Seorang lelaki tua berpakaian resmi menyalami mereka dan tersenyum lebar,
"Selamat datang tuan muda dan nona muda," lelaki tua tersebut menyapa ramah Angkasa dan Dambi dengan bersemangat. Ia terus menatap Dambi dan tersenyum memuji. Lelaki itu hanya melihat istri majikan mudanya di foto. Di foto memang cantik, tapi aslinya tampak jauh lebih cantik.
"Anda cantik sekali nona. Tuan muda sangat pintar memilih. Selamat datang di pulau kami. Semoga anda menyukainya nona," pujinya.
Angkasa tertawa, menepuk pundak lelaki tua itu dan tersenyum lebar ke arah Dambi.
"Ini pak mulia. Pengurus rumahku sekaligus pantai ini." pria itu memperkenalkan dan Dambi balas menyapa ramah orangtua itu.
"Salam kenal pak," ucap Dambi tersenyum lebar dan menyalami lelaki paruh baya tersebut. Setelah itu pak Mulia fokus menatap Angkasa.
"Rumah anda sudah disiapkan. Para pelayan sudah merapikan kamar kalian berdua. Kalau tuan muda dan nona muda ingin beristirahat sebentar, aku akan bilang ke koki untuk memasak satu jam lagi." Pak Mulia melangkah mendahului mereka ke arah jalan setapak berbatu dengan pohon kelapa yang ditata indah di kiri dan kanannya.
Pemandangan rumah Angkasa sangat luar biasa. Rumah itu berdiri tegak menjulang di atas
bukit tertinggi di tepi pantai. Bagian belakangnya pasti menyambung khusus ke sisi pantai
__ADS_1
tersendiri yang dipagari, sebuah pantai pribadi. Cat rumahnya putih bersih, sangat cocok
dengan pemandangan birunya laut dan hijaunya pohon kelapa yang mendominasi pulau. Gordennya melambai-lambai di jendela besar bergaya barat di bagian depan rumah. Dambi yakin sekali dia akan betah di tempat ini. Bulan madunya dengan Angkasa pasti akan menjadi bulan madu yang tak terlupakan.