
Dambi cepat-cepat masuk ke mobil setelah sampai di parkiran. Dia masih kesal. Tahu-tahu begini, sekalian saja dia tidak usah ikut tadi. Dia pikir Angkasa akan membawanya ke sebuah tempat untuk menghabiskan waktu berdua saja, untuk membuat keduanya makin dekat. Eh tahu-tahunya mereka malah ke pesta reunian kampus lelaki itu. Sudah begitu, teman-teman kampusnya Angkasa pada ngeselin semua. Bikin dia tambah bete.
"Kamu kenapa sih, kenapa kesal begitu?" tanya Angkasa yang sudah duduk dibangku sopir. Ia ikutan bingung melihat perubahan tunangannya. Perasaan tadi baik-baik saja. Bahkan Dambi tidak mempermasalahkan ketika tahu pria itu membawanya ke pesta reunian teman-teman kampusnya. Tapi sekarang, entahlah. Pasti ada sesuatu yang membuat gadis itu sampai kesal begini.
Angkasa melepaskan seatbelt yang baru dia pasang kemudian mencondongkan badannya ke dekat Dambi. Tangannya terangkat memegangi bahu Dambi.
"Hei, jawab aku. Kamu kenapa?" cara bicaranya dibuat selembut mungkin. Dambi memiringkan kepala menatapnya. Pasangan itu kini saling tatap-tatapan. Cukup lama mereka seperti itu. Sampai Angkasa dibuat terkejut bukan main ketika Dambi tiba-tiba duduk di pahanya.
"Aku ingin menciummu. Aku ingin menunjukkan ke wanita-wanita itu kalau aku juga termasuk berpengalaman dan bisa membuatmu puas." kata gadis itu tanpa rasa malu sedikitpun. Angkasa sampai terheran-heran dibuatnya. Sekarang ini Dambi terlihat seperti seorang gadis yang tengah dirasuki makhluk lain.
"Mmphh..." Angkasa ingin bicara baik-baik tapi sebelum dirinya berhasil buka suara, Dambi sudah lebih dulu menempelkan bibirnya ke bibir pria itu. Bahkan bukan menempel saja, dengan berani gadis itu melu mat, menyesap sampai lidahnya masuk ke dalam mulut Angkasa. Mengabsen satu persatu bagian yang ada dalam rongga mulut pria itu.
Angkasa terdiam membeku. Jantungnya berdebar cepat. Apalagi gerakan tubuh Dambi membuat bagian di antara kedua paha Angkasa berkedut-kedut. Gerakan tubuh Dambi tanpa sengaja menggesek bagian inti pria itu. Jelas Angkasa langsung panas dingin. Ia berusaha keras menahan gairahnya. Tapi sepertinya dia tidak mampu. Sisi liar Dambi malam ini malah membuat dirinya semakin bergairah.
Pria itu mengerang frustasi. Ia berusaha mendorong Dambi agar bisa bernafas.
__ADS_1
"Dambi, kalau kau terus seperti ini aku benar-benar tidak bisa menahan di..."
"Mmphh..." Dambi kembali menyerang Angkasa. Tidak membiarkan pria itu bicara lagi. Entah apa yang terjadi dengannya, tapi gadis itu sungguh tidak bisa berhenti. Dia ingin membuat Angkasa tahu bahwa dirinya juga pandai berciuman.
Baiklah. Sudah cukup. Batas Angkasa menahan diri cukup sampai di sini. Dambi sungguh-sungguh membuatnya gelap mata. Dia tidak tahan lagi. Pandangannya menatap ke sekeliling tempat parkiran. Banyak orang berlalu lalang di sana tapi dia tahu mereka sama sekali tidak bisa melihat kegiatan yang tengah berlangsung saat ini di dalam mobil mewah tersebut.
Mobil itu memang tidak tembus pandang. Jadi apapun yang nantinya akan mereka lakukan tidak akan ada yang tahu.
Lalu dengan berani dan tak kalah ganasnya Angkasa balik mencium Dambi. Mengambil posisi untuk memimpin.
Pria itu lalu menunduk dan menjilati sepanjang leher Dambi. Membuat gadis itu mengerang. Satu desah an lolos begitu saja dari mulutnya. Bibir Angkasa semakin liar, tidak hanya menjil at lehernya, ia juga menghisap leher Dambi. Tak hanya sampai di situ saja.
Mulut Angkasa kini berpindah. Tanpa ijin ia menurunkan gaun bagian atas yang dipakai Dambi, dan mulai menjil at dada bulat gadis itu. Dambi terkesiap kaget, tapi tidak berniat menolak perlakuan tunangannya. Keduanya sudah dipenuhi dengan kabut gairah yang sulit bisa dihentikan.
"Mmph..." erang Dambi saat Angkasa makin liar menjil ati dada bulatnya yang masih tertutup bra hitam.
__ADS_1
Desah an Dambi membuat gerakan Angkasa makin liar. Angkasa lalu mengeluarkan pay udara Dambi yang tertutupi bra dan menghisapnya dengan sangat rakus. Dambi mendongak menikmati bibir liar Angkasa di pay udaranya.
Jemari Angkasa lalu turun, menyingkap gaun Dambi dan menyentuh milik gadis itu yang tertutupi cela na dalam. Ia menyentuhnya dengan lembut. Setidaknya untuk awal pria itu harus lembut. Dambi kaget bukan main. Sentuhan itu membuatnya merasa malu bukan main. Ini pertama kalinya seseorang menyentuh area sensitifnya, selain dirinya sendiri tentu saja. Tubuhnya mendadak panas dingin, apalagi ketika jemari Angkasa mulai bergerak mengusap-usap area sensitif miliknya.
"Kau sudah basah sayang," bisik Angkasa serak. Saking malunya, Dambi langsung menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Angkasa.
Angkasa tertawa pelan. Tangannya tetap bermain dibawah sana. Semakin lama semakin liar.
"Ahhh..." des ah Dambi kuat ketika merasakan satu jari Angkasa lolos masuk ke liang kenikmatan miliknya dan bergerak keluar masuk.
Oh ya ampun, gadis itu memang pernah menonton adegan dewasa seperti ini di film-film, tapi dia tidak tahu kalau rasanya akan senikmat ini. Padahal yang masuk ke dalam intinya baru jari Angkasa, apalagi kalau...
"Ah.. ah.. Sshh..." kocokan Angkasa makin cepat, kini tiga cari pria itu bergerak di dalam Dambi. Dambi bisa merasakan sesuatu akan segera keluar dari dalam dirinya.
"A... Angkasa..., Hahh, hmm..." ia meremas kuat pundak Angkasa. Dan ketika mencapai puncaknya, Dambi menggelinjang kuat. Erangan panjangnya membuat Angkasa tersenyum puas. Pria itu mengeluarkan jarinya dari dalam inti tubuh Dambi dan mengecup kening gadis itu. Ia masih ingin lanjut, ingin gadis itu memuaskan dirinya namun sepertinya Dambi sangat malu dengan apa yang baru saja gadis itu lalui. Biar bagaimanapun ini adalah pertama kalinya Dambi di sentuh dibagian paling sensitif itu. Angkasa ingin membuat gadis itu merasa tenang dulu, saat gadis itu mulai nyaman, barulah dirinya melanjutkan dengan kegiatan yang lebih panas lagi, tentu saja di tempat yang seharusnya. Bukan di dalam mobil seperti ini.
__ADS_1
"Rapikan gaunmu. Kita pulang sekarang." ucap Angkasa pelan. Dambi tidak menjawab. Ia turun dari atas Angkasa dan kembali duduk di kursi samping pria itu. Gadis itu masih tidak berani menatap Angkasa, saking malunya. Ya ampun, kenapa juga dirinya harus mendes ah sekuat tadi. Apa Angkasa merasa jijik padanya? Pria itu bahkan menghentikan permainan mereka. Padahal setahu Dambi di film-film, setelah memuaskan wanitanya, sang pria juga akan meminta dipuaskan. Tapi Angkasa sama sekali tidak. Malah memilih berhenti. Sepanjang perjalanan, dipenuhi dengan keheningan. Keduanya sama-sama terlarut dalam pikiran masing-masing.