
Tangan Dambi belum bergerak. Ia masih terpaku dengan benda besar yang sudah keras dibalik celana Angkasa. Pria itu pasti sudah sangat tegang. Mendadak Dambi menjadi bodoh, bingung harus memulai darimana. Dia sangat malu, tapi di sisi lain dirinya ingin sekali membuat Angkasa puas, seperti yang dilakukan pria itu terhadapnya.
"Bergeraklah manis," gumam Angkasa berusaha menahan diri. Ia ingin hari ini Dambi yang memimpin dengan sentuhan-sentuhan intim gadis itu. Tangannya bergerak mengusap-usap kepala bagian belakang Dambi. Sambil menunggu gadis itu menggerakkan tangannya.
Setelah penantiannya yang cukup panjang, akhirnya tangan Dambi mulai bergerak membelai miliknya dari luar.
"Hmmm..." erang Angkasa merasakan tangan Dambi mulai aktif. Membuat tubuh pria itu bergerak gelisah karena nikmat. Pria itu menahan napas ketika Dambi membuka ristleting celananya dengan gerakan perlahan.
"Sepertinya aku tidak perlu mengajarimu yang satu ini." gumam Angkasa menatap Dambi. Gadis itu tersenyum tipis.
"Aku pernah melihat adegan seperti ini di film." ucapnya. Ia takut Angkasa akan berpikir bahwa dirinya sudah pernah melakukan adegan begini dengan laki-laki lain. Giliran Angkasa yang tertawa pelan.
"Tidak perlu kau jelaskan. Kita sama-sama sudah dewasa. Ow sshh..." balasnya lalu melenguh panjang ketika tangan Dambi mulai merem as dan bergerak naik turun di kejant a n annya. Dambi terus menggerakkan tangannya, ia bisa melihat reaksi Angkasa yang sesekali menggeram pelan dengan kedua tangan yang meremas kuat kasurnya.
"Ya... a... ahh..." Angkasa menggeram kuat. Apalagi gerakan Dambi makin lama makin cepat. Kenikmatan mulai menguasai dirinya. Ingin sekali ia menyerang gadis itu sekarang juga untuk menuntaskan seluruh hasratnya yang ingin memiliki gadis itu, tapi ditahannya. Sekarang belum waktunya. Biar Dambi yang membantunya dulu. Seperti yang dia lakukan terhadap gadis itu dua hari yang lalu.
Sentuhan tangan Dambi pada kejantanannya sungguh membuat Angkasa merasa tidak berdaya. Ternyata senikmat ini rasanya diperlakukan begitu oleh gadis yang dicintai. Ia seperti tidak ingin hari ini berakhir.
"Ohh... D... Dambi..." desis Angkasa ketika gerakan Dambi semakin cepat. Ia merasa dirinya sebentar lagi akan orga s me.
"Ya... Ya... Ahhh... mmm.." desa han panjang akhirnya lolos dari mulut Angkasa saat dirinya mencapai puncak kenikmatan yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya. Dambi membuatnya merasa sangat istimewa. Gadis itu sangat pintar. Cairan yang keluar dari miliknya begitu banyak, dan dia merasa sangat puas. Angkasa lalu menarik Dambi ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Terimakasih, sayang." gumamnya mengecup lembut kening Dambi. Gadis itu ikut bahagia. Jelas dia senang bisa membuat Angkasa puas.
"Masih mau lanjut?" pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Dambi. Sukses membuat Angkasa terkekeh. Pria itu menggeleng.
"Kalau dilanjutkan lagi, aku tidak bisa memastikan untuk tidak memakanmu bulat-bulat. Kau mungkin saja akan hamil. Memangnya kau sudah siap?" gumam Angkasa dengan nada menggoda. Sementara Dambi langsung membenamkan kepalanya di dada bidang pria itu. Dia malu.
***
"Sudah siap?" Angkasa menunggu di pintu, menoleh dan tersenyum
menatap Dambi yang tampak cantik dengan sweater merah muda dan
jins putih. Dengan lembut Angkasa menyentuh dahi Dambi
Dambi mengangguk. Dia sudah merasa tidak enak badan dari semalam tapi baru memberitahu Angkasa. Itu pun karena Angkasa masuk ke kamarnya hingga mengetahui sendiri kalau gadis itu tidak sehat. Alhasil, Angkasa membatalkan mengajar hari ini untuk memeriksakan Dambi ke rumah sakit. Ia takut kondisi tunangannya itu tambah serius kalau tidak secepatnya ditangani.
Tubuh Dambi sudah lebih enakan karena obat turun panas yang diberikan oleh Angkasa tadi. Hanya saja tenggorokannya terasa
gatal dan hidungnya panas. Mungkin dia terserang virus flu akibat main hujan-hujanan dengan Yuka dan Gerry kemaren.
Dan karena daya tahan tubuhnya turun, dia menjadi lemah dan mudah terserang penyakit. Dambi membiarkan Angkasa membimbing tangannya dan mereka
__ADS_1
berjalan bersisian keluar dari rumah menuju rumah sakit.
***
"Untung hanya flu biasa."
Angkasa dan Dambi keluar dari ruang pemeriksaan dokter, mereka
sekarang berjalan ke area luar. Tempat Angkasa memarkirkan mobilnya.
"Aku mau duduk sebentar di situ." ujar Dambi menunjuk ke arah taman kecil yang masih berada dalam lokasi rumah sakit.
"Tapi kamu harus istirahat yang cukup, biar cepat sembuh." balas Angkasa keberatan. Apalagi ketika melihat langit mulai gelap, sebentar lagi mungkin akan turun hujan. Buktinya, orang-orang yang berada di taman tadi satu persatu mulai beranjak pergi. Sampai akhirnya taman tersebut kosong.
Dambi sedikit mengerucutkan bibirnya menatap Angkasa. Akhir-akhir ini mereka berdua memang makin dekat. Dambi bahkan sudah tidak canggung lagi untuk bersikap manja ke pria itu.
"Tapi..."
"Liat, orang-orang yang di situ aja udah pada pergi semuanya. Kamu masih mau ke sana? Entar kamu hujan-hujanan lagi." kata Angkasa lagi. Gaya bicaranya dibuat lebih lembut dan tidak kaku lagi.
Dambi hanya bisa menunduk pasrah. Benar sih kata Angkasa. Dia hanya akan membuat dirinya tambah sakit kalau terkena hujan lagi.
__ADS_1
"Udah, kita pulang aja ya? Nanti kita cari waktu jalan-jalan ke tempat yang kamu suka. Setelah kamu sembuh." kalimat Angkasa yang satu ini langsung membuat Dambi berubah semangat. Gadis itu mengangguk membuat Angkasa mengacak-acak rambutnya pelan.
Pasangan tersebut lalu berjalan menuju mobil mereka sambil bergandengan tangan. Keduanya sama sekali tidak menyadari kalau ada pasang mata yang sedang memperhatikan mereka dari jarak kira-kira tujuh meter. Orang tersebut bahkan tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini dan cepat-cepat memotret mereka. Ia yakin sekali foto tersebut akan membuat heboh banyak orang.