
Angkasa yang awalnya ingin kembali ke ruangannya, tanpa sengaja melihat Dambi yang berjalan keluar gerbang kampus. Pria itu melirik arlojinya sebentar lalu menatap Dambi lagi.
"Mau kemana dia? Kelasnya masih ada." gumam Angkasa pada dirinya sendiri. Ia sudah memeriksa semua jadwal kuliah Dambi, makanya pria itu tahu jam begini gadis itu masih ada jadwal.
Ketika melihat sebuah taksi berhenti didepan Dambi dan gadis itu menaikinya, dengan secepat kilat Angkasa berlari ke parkiran tempat mobilnya di parkir dan mengikuti taksi yang dinaiki Dambi. Ia penasaran gadis itu akan pergi kemana seorang diri.
Angkasa hampir saja kehilangan jejak mobil yang membawa Dambi. Untung ada lampu merah sehingga dirinya bisa mengimbangi kecepatan mobil tersebut.
Kening Angkasa berkerut. Ia pikir Dambi mau kemana, ternyata pulang ke rumahnya. Angkasa bisa melihat dengan jelas raut wajah Dambi yang sangat tidak bersemangat ketika turun dari mobil. Apa karena kejadian waktu itu? Apa yang dia lakukan beberapa hari yang lalu sudah termasuk melecehkan tunangannya sendiri?
Tapi Angkasa melihat sendiri waktu itu Dambi sangat menikmatinya. Ya, mereka berdua sama-sama menikmati. Bahkan sampai di rumah, gadis itu tidak berani menatapnya saking malunya. Kalau Dambi menganggap itu sebagai pelecehan, gadis itu pasti sudah membencinya dan menyerangnya habis-habisan.
Angkasa lalu mengambil sesuatu di laci mobilnya dan keluar. Untung sebelum ke luar negeri mama Dambi meminjamkan kunci rumah itu padanya. Dengan alasan kalau sampai kenapa-napa sama Dambi, atau gadis itu menghilangkan kunci yang ada padanya, Angkasa bisa membantunya. Akhirnya kunci ini terpakai juga.
Angkasa memang berniat menemui Dambi nanti malam, ingin bicara masalah pribadi mereka berdua. Tapi sepertinya dengan kondisi Dambi sekarang ini, Angkasa sudah harus bicara dengan gadis itu. Ia tidak ingin Dambi menganggapnya pria brengsek yang suka bermain-main dengan banyak wanita. Setelah itu membuang mereka begitu saja.
"Buka pintunya Dambi, aku tahu kau di dalam. Kita harus bicara sekarang." seru Angkasa dari luar kamar Dambi.
Tak lama kemudian pintu kamar itu tiba-tiba terbuka dan Dambi langsung berhambur ke dalam pelukannya. Angkasa kaget bukan main, tapi pria itu tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
__ADS_1
Angkasa pikir Dambi membencinya, sepertinya dirinya yang terlalu berpikir berlebihan. Pria itu melingkarkan kedua tangannya dipinggang Dambi, ikut memeluk gadis itu erat-erat. Seperti sudah lama sekali tidak bertemu saja.
Beberapa menit kemudian, ketika Dambi menyadari posisi mereka, gadis itu cepat-cepat melepaskan pelukannya dan berlari masuk. Dambi cepat-cepat naik ke kasurnya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal miliknya.
Astaga, apa yang dia lakukan tadi? Kenapa malah memeluk Angkasa? Gadis itu sangat malu. Sedang Angkasa yang melihat kelakuannya hanya tersenyum. Pria itu melangkah mendekat dan duduk di tepi ranjang.
"Kenapa, malu hm?" goda pria itu. Sikap Dambi yang seperti itu memang kentara sekali kalau dia malu. Dan Angkasa merasa senang.
Dambi terus menyembunyikan dirinya di dalam selimut. Tidak peduli dia kepanasan atau tidak. Ia terlalu malu untuk melihat Angkasa. Namun sayang sekali, Dambi tidak bisa berlama-lama sembunyi dibalik selimut itu, karena tak lama kemudian Angkasa berhasil menyibak kain tebal tersebut. Dambi masih berusaha mau merebut selimut miliknya tapi Angkasa tidak memberinya kesempatan.
"Sampai kapan kau akan menghindar? Aku sudah memberimu waktu dua hari ini." ucap Angkasa kemudian. Mau tak mau Dambi terdiam.
Gadis itu menunduk masih malu menatap wajah Angkasa.
"Lalu kenapa terus kabur dariku?"
hening sebentar. Dambi malu menjawab. Ia terus menunduk sampai merasakan tangan Angkasa menyentuh dagunya, membuatnya menatap pria itu.
"Jawab aku," ucap pria itu dengan ekspresi serius. Dambi menggigit bibirnya lirih.
__ADS_1
"A... Aku pikir kamu jijik padaku." gumam Dambi dan kembali menunduk.
Suasana kembali hening. Angkasa tidak bicara sepatah katapun, hanya terus menatapnya. Sesaat kemudian pria itu tergelak. Tangannya naik menyentuh kepala Dambi.
"Jadi kau menghindariku karena merasa aku jijik padamu? Kenapa harus jijik? Kenapa sampai berpikir seperti itu hm?" kata Angkasa tidak bisa menahan rasa senangnya. Dambi benar-benar lucu, makin membuatnya jatuh cinta.
Giliran Dambi yang jadi kesal sendiri. Memangnya pria itu tidak sadar apa kenapa dia sampai berpikir seperti itu.
"Karena waktu itu kamu nggak..." ucapannya tertahan. Dia sangat malu membahas kejadian malam itu.
"Aku apa?"
Dambi malu meneruskan, sedang Angkasa ikut berpikir. Kira-kira apa yang salah malam itu? Apa dia melewatkan sesuatu? Ah... Dia mengerti sekarang.
"Jangan bilang karena aku tidak menyuruhmu balik memuaskanku?!"
diamnya Dambi adalah jawaban buat Angkasa. Angkasa makin senang. Dengan begitu ia tahu Dambi sudah ada rasa padanya.
Angkasa terus menatap Dambi dengan alis naik turun. Otak mesumnya kembali. Tangannya meraih jemari Dambi membuat gadis itu mengangkat wajah menatapnya.
__ADS_1
"Kalau begitu, maukah kau memuaskanku sekarang?" lalu pria itu membawa jemari Dambi menyentuh benda yang terbungkus dibalik celananya hingga Dambi dibuat terbelalak. Dambi menelan ludah. Benda keras itu membuat tubuhnya panas dingin. Begitu pula Angkasa. Tubuhnya terasa aneh, dan miliknya sudah sangat tegang. Ia menatap Dambi intens dan penuh permohonan.
"Jangan takut, aku akan mengajarimu. Bergeraklah." gumam pria itu serak.