Dangerous Fiancee

Dangerous Fiancee
53


__ADS_3

Dambi membuka matanya dengan terkejut, mengetahui bahwa dia berada di ruang sempit yang gelap. Dia langsung panik mengetahui getaran-getaran yang ada di bawahnya.


Astaga! Dia ada di dalam bagasi mobil! Tangannya diikat di belakang punggungnya, membuatnya pegal, tetapi kakinya tidak. Dambi berguling, megap-megap mencari napas, bagasi itu sempit dan gelap, dan Dambi merasa sesak napas.


Dia memukul-mukul bagasi itu sekuat tenaga, menendang-nendangnya sekencang mungkin, tetapi percuma, mobil itu tetap melaju kencang, tak peduli dengan semua usahanya. Sampai akhirnya Dambi terdiam,


dengan napas makin terengah dan lemas kelelahan.


Oh Tuhan! Dia langsung teringat keluarganya, pria yang ia cintai dan sahabat-sahabatnya. Apa akan terjadi sesuatu padanya?


Mama ....


Tiba-tiba air mata Dambi mengalir, dia megap-megap lagi berusaha mencari napas, tiba-tiba kepalanya terasa pening. Lalu semuanya gelap, dan sebelum kesadarannya hilang, Dambi sempat berpikir bahwa mungkin dia tidak punya kesempatan untuk bertemu semua orang yang dia sayang lagi.


Entah berapa lama Dambi tak sadarkan diri. Tapi pada saat dia terbangun, dia mendapatinya dirinya sudah berada di tempat lain. Di sebuah ruangan besar yang tidak terurus. Tempat itu kotor dan posisinya di ikat. Namun, bukan itu yang mengagetkan Dambi.


Ia kaget karena pada saat membuka matanya, seseorang yang sangat ia kenal tengah berdiri menghadapnya dengan senyuman jahat.

__ADS_1


"Ka ... Kak Vivi?" Dambi tidak menyangka wanita itu yang menculiknya. Jadi permintaannya pagi tadi semua adalah bagian dari rencana jahatnya?


"Jangan panggil aku kakak, wajahku bahkan terlihat jauh lebih muda dari dirimu yang jelek itu." sentak Vivi. Wanita itu sungguh berubah seperti orang lain, tidak seperti Vivi yang dia kenal. Ah ya, bukannya dia benar? Dambi memang merasa Vivi hanya pura-pura bersikap baik padanya karena kak Rassya. 


"Hah! Aku heran kenapa perempuan jelek sepertimu bisa menjadi tunangannya Angkasa."


Angkasa? Wanita ini kenal Angkasa? Kening Dambi berkerut. Ia ingat sekarang. Kak Rassya sama wanita ini dulu satu sekolah, Angkasa dan kak Rassya sahabat lama yang satu sekolahan juga. Itu berarti Vivi juga adalah teman sekolah Angkasa dulu. Ah, masuk akal sekarang. Tapi, kenapa perempuan ini menculiknya? Dambi tidak mengerti apa yang membuat Vivi sampai nekat menyuruh orang menculiknya.


Dambi tidak takut lagi. Percuma takut. Ia harus melawan.


Lalu sebuah tamparan melayang di pipi mulus Dambi. Gadis itu meringis. Sakitnya luar biasa tapi ia tahan. Tidak boleh menangis. Tidak boleh. Menangis hanya akan membuat Vivi senang. Ia harus kuat.


"Mau melawan? Kau pikir kau bisa melawan di sini?" tangan Vivi terulur mencengkeram pipi Dambi kuat sehingga Dambi lagi-lagi harus menahan sakit yang luar biasa di wajahnya.


"Dengar baik-baik ja l ang," tangan Vivi makin kuat mencengkeram pipi Dambi.


"Angkasa adalah milikku, tidak ada satu orang pun yang bisa merebutnya dariku. Apalagi ja l ang sepertimu. Sudah cukup Rassya lebih sayang kamu dari aku. Dia berpacaran denganku karena kasihan, Angkasalah satu-satunya pria yang betul-betul menyukaiku," Dambi tampak terkejut.

__ADS_1


Wanita ini, apa hubungannya dengan Angkasa? Mantan pacar pria itu? Dan sungguh aneh dia bilang seperti itu tentang kak Rassya. Padahal Dambi tahu kak Rassya pacaran sama dia karena betul-betul suka. Meski terkadang masih terbawa kebiasaan lebih peduli dan care padanya sebagai adik, Dambi tahu hati kakaknya benar-benar tulus pada wanita ini.


"Angkasa adalah tunanganku, kami akan segera menikah. Dan aku tidak pernah dengar tunanganku menyukai wanita lain selain aku. Jangan terlalu banyak bermimpi Vivi, aku tahu Angkasa tidak pernah mencintai siapapun selain aku. Dan mengenai kak Rassya, kau benar-benar cari masalah dengannya. Dia tidak pernah kasihan padamu. Dia sungguh tulus menyukaimu sebagai pacarnya. Tapi kalau tahu kau mengkhianatinya, aku yakin kakakku itu tidak akan melepaskanmu begitu saja. 


PLAK!


Lagi. Vivi menamparnya lagi.


"Ja l ang sialan! Berani bicara lagi dan aku akan merobek mulut sialanmu itu!" tukas Vivi emosi.


"RAKA!" ia berteriak memanggil sebuah nama kemudian seorang laki-laki berbadan besar masuk.


"Sumpal mulut wanita sialan ini, setelah itu bersiap-siaplah membawanya ke tempat yang seharusnya. Kita akan segera mendapat keuntungan besar dengan menjualnya," ucap Vivi tertawa jahat menatap Dambi.


Mendengar kata menjual, Dambi membelalak.


"Apa yang kau mmph ...." mulutnya di sumpal oleh sih lelaki besar yang ia yakin lelaki tersebut yang menculiknya tadi. Dambi terus meronta-ronta namun nihil. Ia tidak berdaya. Mereka benar-benar menyiksanya. Ya Tuhan, semoga kak Rassya, Angkasa bahkan orangtuanya datang menyelamatkan dia. Dia masih mau hidup, masih mau menikah dan punya anak.

__ADS_1


__ADS_2