
Napas Dambi makin terengah ketika Angkasa menyentuh pay u daranya sambil lalu, mengusap dadanya dengan gerakan seolah tak sengaja, sehingga membuat pucuknya mengeras, seakan ingin disentuh lagi.
"Mmphh ..." Dambi mengerang merasakan sensasi panas yang membakar di bukit kembar itu. Angkasa masih menciumi lehernya, lalu bibir yang membara itu naik, melu m at bibir Dambi dan berbisik di sana.
"Dimana kau ingin aku menyentuhmu sayang? Katakan padaku." suaranya menjadi serak dan sensual,
"A ... Angkasa .." Dambi mengerang, lalu memejamkan mata ketika Angkasa menunduk dan mengecup pucuk buah dadanya.
"Ahh ..." suara Dambi makin keras ketika Angkasa mengulangi perbuatannya berkali-kali. Lelaki itu mengecupi seluruh bagian dadanya. Angkasa terus melakukannya.
Bibirnya dengan lembut mengatup di bagian dada Dambi, lalu mulutnya bergerak menggoda di dalam, begitu panas dan basah, memainkan bagian itu dengan usapan-usapan lembut di dalam mulutnya. Sensasi Rasanya membuat tubuh Dambi lemas, kedua jemarinya mencengkeram rambut Angkasa membuatnya acak-acakan.
Lelaki itu sekarang sudah menindih Dambi sepenuhnya, tubuhnya yang tinggi besar melingkupi tubuh mungil Dambi, Angkasa bertumpu pada kedua siku dan lututnya, dan
menenggelamkan kepalanya di keindahan dada Dambi yang ranum, lelaki itu memuja bukit kembar itu, mencumbunya, membuat Dambi mengeluarkan erangan-erangan nikmat.
Setelah puas. Angkasa mengangkat kepalanya dan mengecup ujung hidung Dambi yang terengah-engah, napas mereka berkabut gairah. Ketika Angkasa menggeserkan tubuhnya,
Dambi merasakan kejan t anan pria itu sudah mengeras di sana, menggesek miliknya, begitu keras dan siap.
Jemari Angkasa menurunkan gaun Dambi, membantu Dambi mengangkat tubuhnya sehingga gaun itu akhirnya lepas seluruhnya, terlempar ke lantai, membuat Dambi terbaring dengan tubuh polosnya dibawah tubuh Angkasa yang masih berpakaian lengkap
__ADS_1
"Kamu sangat indah sayang," lelaki itu lalu membungkuk dan mengecupi perut Dambi, membuat Dambi merasakan sensasi panas menjalari perutnya, menuju kewan i taannya.
Kemudian lelaki itu menarik celana da l am Dambi turun, refleks Dambi langsung merapatkan kakinya, mencoba menutupi dirinya. Dia masih malu meski Angkasa sudah melihat bagian itu beberapa kali.
Tetapi Angkasa menahannya dengan jemarinya mendongakkan kepalanya dan menatap Dambi dengan matanya yang berkilau penuh gairah,
"Aku suamimu sekarang, tidak perlu malu." suaranya berat, penuh dominasi,
"Aku ingin melihat seluruh tubuh isteriku, mencicipi seluruh bagian yang aku inginkan…"
Kata-kata Angkasa membuat Dambi gemetar penuh gairah, dan terus gemetar ketika Angkasa menurunkan cel ana da lam itu, melalui sebelah pahanya dan melepaskan dari kakinya.
Dia menggerakkan jemarinya lagi,
pelan mengalun dari lutut Dambi, dan naik ke pahanya. Sampai kemudian menyentuh milik Dambi. Hanya sepersekian detik, menyentuh di sana. Dan tubuh Dambi terkesiap, berjingkat kaget oleh sengatan aneh yang menyengatnya seketika. Padahal dia sudah pernah merasakan sebelumnya. Tapi tetap saja ini masih seperti baru baginya.
Angkasa tersenyum. Dambi sangat sensitive dan siap olehnya. Jemarinya menyentuh bagian itu, memainkannya lembut dengan usapan ahli, membuat Dambi setengah bangun, bingung atas sensasi yang mengalir deras di tubuhnya, rasanya melebihi sentuhan yang pernah Angkasa beri beberapa waktu lalu.
"Angkasa ..., Ja ... Jangan di situ ..."
"Sssshh…. Tenanglah sayang." Angkasa membuat Dambi terbaring lagi.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, ini akan nikmat."
lelaki itu menunduk, lalu mengecup milik Dambi lembut, Membuat Dambi menggeliat, mencoba merapatkan pahanya. Kaget atas keintiman luar biasa yang ditunjukkan Angkasa kepadanya.
"Astaga….Angkasa… Ahhh ..." Dambi seperti mau gila rasanya dengan sentuhan Angkasa.
Angkasa menelusup, menemukan titik paling sensitiv di kewanitaannya, dan memainkannya dengan ahli. Dambi terbaring dengan mata berkabut, dengan napas terengah dan terasa melayang akibat sensasi luar biasa nikmat yang menyelimuti tubuhnya, bersumber pada miliknya.
Gerakan bibir dan li d ah Angkasa begitu ahlinya, membuat Dambi berkali-kali mengerang ketika Angkasa dengan sengaja menggerakkan li d ahnya memutar, menggoda titik sensitifnya. Dambi memejamkan matanya. Dia sudah hampir sampai ke puncaknya. Digigitnya bibirnya, merasakan sensasi panas melandanya dan membuat sekujur tubuhnya bergetar hebat.
Napasnya tersengal, jantungnya berdetak cepat, matanya terpejam menyerap kenikmatan itu, kemudian Angkasa berhenti sesaat. Membuat Dambi membuka matanya setengah memprotes.
"Kau harus menungguku," gumam pria itu tersenyum.
Angkasa menegakkan tubuh dan bertumpu pada lututnya yang mengan g kang di atas tubuh telan j ang Dambi dan membuka kemejanya, memamerkan dada bidang telanjang dengan otot-otot tubuhnya yang kekar dan keras. Membuat Dambi menelan ludah.
Lelaki itu lalu setengah berdiri dan melepaskan celananya. Seluruh pakaiannya akhirnya terlempar ke lantai. Dan sekarang Dambi menatap seorang lelaki yang berlutut tanpa sehelai pakaian pun di atasnya, dengan tubuh yang luar biasa indahnya, dan kejant a nan yang telah mengeras dan siap untuknya.
Angkasa begitu indah. Dan lelaki itu suaminya. Ingatan akan kenyataan itu membuat benak Dambi dibanjiri oleh pemikiran sensual. Angkasa tersenyum lembut, lalu meraih jemari Dambi dan mengecupnya singkat.
"Kau siap? Aku akan masuk sekarang,"
__ADS_1