
Salah satu pria dewasa mengatakan melihat sesuatu yang mencurigakan tadi pagi, dia melihat salah seorang pria bertopeng membopong karung besar... dia sempat curiga karena karung itu bergerak-gerak, tetapi karena daerah mereka jarang sekali terjadi perampokan bahkan hampir tidak pernah, dia menghapus kecurigaannya.
"Apa anda yakin dalam karung itu benar-benar adik anda?"
Rassya duduk di depan petugas polisi, sementara Angkasa ada di belakangnya. Ya. Mereka sekarang ada dikantor polisi, melaporkan hilangnya Dambi.
Rassya mengangguk,
"Adik saya pasti dibawah pergi di
dalam karung itu."
Untunglah kesaksian seorang bapak tadi sangat membantu. Pria tua itu sampai merekam dan punya video aksi orang itu sampai memasukkan karung yang dibopongnya ke dalam bagasi mobil, dan sekarang polisi sedang berusaha melacaknya.
Rassya mengerutkan kening. Ia marah dan panik karena tidak mengetahui bagaimana kondisi Dambi sekarang. Dia hanya bisa berharap bahwa adiknya baik-baik saja. Diliriknya Angkasa.
Lelaki itu tampak tenang dan memasang wajah datar tidak tampak panik seperti tadi lagi, tetapi Rassya tahu, Angkasa gelisah dan ketakutan setengah mati. Rassya tersenyum sedih, dan jangan sampai mereka
terlambat... bagaimanapun juga mereka harus menemukan Dambi. Siapa sialan yang berani menculik adiknya?
Seorang petugas polisi yang lain menghampiri mereka, mengatakan sesuatu kepada Angkasa yang langsung berdiri.
__ADS_1
Rassya menatap Angkasa dengan bingung.
"Ada apa?"
"Polisi bisa melacak mobil itu, sekarang sedang mengarah ke pelabuhan. Sepertinya si penculik ingin menghilangkan jejak dengan
menaiki kapal." Angkasa mengambil jaketnya dan mengenakannya.
"Ayo, kata petugas kita bisa ikut salah satu mobil polisi, asal jangan bertindak gegabah.
***
Sepanjang jalan begitu menegangkan bagi Angkasa, dia dan Rassya duduk di jok belakang mobil polisi itu. Informasi yang didapat dari radio polisi, mobil yang menculik Dambi dikendarai masih ada di jalan tol, belum keluar menuju arah pelabuhan. Sepanjang jalan mereka melewati truk-truk besar pengangkut barang.
dengan cepat, akankah kekasihnya itu diselundupkan seperti ini? Di dalam truk yang penuh barang kemudian di bawa menyeberang pulau seperti ternak?
Angkasa makin geram kepada sih penculik, dia merasa kepalanya penuh dengan menghabisi orang-orang brengsek itu. Penculikan ini, meskipun mereka belum bisa membuktikannya, sudah pasti didalangi oleh orang yang terus menerornya lewat telpon. Karena tadi orang itu kembali mengiriminya pesan tentang penculikan Dambi. Dia harus menghubungi kenalan detektifnya itu segera. Kasus ini bukan kasus sederhana. Mereka tidak boleh membiarkan pelaku itu kabur.
Lalu tiba-tiba sirene polisi dibunyikan, lima mobil polisi mengerubuti sebuah jeep warna merah yang langsung mengebut kencang, tidak mau berhenti. Mobil itu tancap gas, setengah zig zag, benar-benar nekat dan tetap tidak mau berhenti meskipun lima mobil polisi mengejarnya.
Kejar-kejaran berlangsung menegangkan. Yang ditakutkan Angkasa dan Rassya adalah Jeep merah itu, yang mungkin ada Dambi di dalamnya, terlalu mengebut dan kehilangan kendali, membuat Dambi celaka.
__ADS_1
Angkasa mengikuti pengejaran itu sambil berdoa dalam hati, berdoa semoga kekasihnya selamat. Setelah pengejaran selama beberapa kilometer, sebuah mobil polisi berhasil mengejar Jeep merah itu dan memepetnya ke bahu jalan tol. Mobil yang lain mendahului dan menghadang tepat di depan. Membuat Jeep itu terpaksa berhenti, dengan suara berdecit keras dan ban yang berasap.
Beberapa petugas polisi langsung keluar, menodongkan senjatanya dan memerintahkan supir Jeep merah itu turun. Sopir mobil itu pun turun dengan tangan di atas kepala, kemudian dipaksa berlutut.
Setelah kondisi dipastikan aman, Angkasa dan Rassya boleh keluar dari
mobil.
Hati Angkasa mencelos ketika polisi itu memeriksa tempat duduk dan memastikan tidak ada penumpang lain di sana.
Jadi di mana Dambi? Di mana kekasihnya? Demi Tuhan, meski dia mati dia akan mengejar sang pelaku kalau terjadi sesuatu pada tunangannya.
Lalu seorang polisi mencongkel bagasi dengan linggis, dan di sanalah, di dalam bagasi itu, terbaring Dambi yang sudah pingsan kehabisan udara.
Rassya dan Angkasa berlari secepat kilat ke sana. Rassya yang mengeluarkan Dambi dari dalam bagasi. Melihat keadaan kekasihnya yang tampak menyedihkan dan masih lengkap dengan baju tidur itu, mata Angkasa menggelap.
Pandangannya berpindah ke laki-laki yang membawa Jeep merah tadi, yang tangannya sudah diborgol siap dimasukan ke dalam mobil polisi. Dengan emosi Angkasa berlari kencang ke orang tersebut dan meninjunya dengan membabi buta.
"Brengsek! Percayalah aku akan membunuhmu sekarang juga!" Pekik Angkasa dengan emosi tak terkontrol. Ia benar-benar kehilangan kendali. Kalau saja tidak ada polisi yang menahannya, ia yakin sekali laki-laki itu sudah habis ditangannya.
"Angkasa, Dambi memanggilmu!" lalu nama Dambi yang disebutkan Rassya membuat Angkasa tersadar seketika. Ia berlari menghambur pada kekasihnya. Mengambil alih Dambi dari pelukan Rassya.
__ADS_1
"Sayang, kamu sudah sadar? Di mana yang sakit, mm?" gumam Angkasa mengusap-usap seluruh wajah Dambi penuh sayang. Tapi Dambi masih syok, belum bisa banyak bicara. Gadis itu hanya menatapnya lalu menangis. Hati Angkasa terasa begitu sakit melihat keadaan gadis yang dia cintai itu.
"Kita bawah Dambi ke rumahku dulu," ucap Rassya. Mereka lalu kembali masuk ke mobil polisi. Sepanjang perjalanan Dambi terus menempel pada Angkasa, dan lelaki itu tak berhenti menenangkannya. Perasaannya sudah lebih lega dari yang tadi, karena Dambi baik-baik saja meski masih syok.