
Dambi tiba-tiba segera bersembunyi dibalik pot bunga besar yang berada di taman kampus. Berusaha untuk menghindari Angkasa yang tengah berjalan dengan beberapa dosen muda. Sudah dua hari ini ia bersembunyi dari pria itu. Semenjak kejadian malam itu, di parkiran restoran tempat mantan teman-teman kampus Angkasa membuat pesta reuni.
Dambi masih malu. Ia terlalu malu melihat pria itu. Dia ingat bagaimana dirinya mencumbu Angkasa dengan liar, dan Angkasa yang menyentuh area miliknya yang sangat amat pribadi hingga sanggup membuatnya mendes ah kuat. Ya ampun, mengingat hal itu sungguh membuat Dambi ingin menenggelamkan dirinya ke laut. Jelaslah dia malu setengah mati.
Di sisi lain, Angkasa tahu Dambi memang sengaja menghindarinya. Pasti karena malu. Angkasa sangat mengerti karena ia tahu sentuhan yang dia berikan pada Dambi waktu itu baru pertama kalinya di rasakan oleh gadis itu. Pertama kali untuknya juga. Dambi pasti sangat malu. Berbeda dengan dirinya yang malah amat sangat percaya diri.
Karena itulah Angkasa sengaja membiarkan Dambi bersembunyi darinya beberapa hari ini. Tapi ia jamin itu tidak akan lama. Ia tidak mau Dambi terus-terusan menghindarinya. Ia ingin melihat gadis itu dari jarak dekat, dan melanjutkan permainan yang belum dia tuntaskan. Ia ingin memiliki Dambi sepenuhnya.
Angkasa tertawa pelan ketika matanya menangkap sosok gadis yang berstatus sebagai tunangannya tersebut tengah bersembunyi dibalik pot bunga besar ketika dirinya melewati taman kampus. Lucu. Batinnya. Dasar bodoh, gumam Angkasa dalam hati. Dipikir dirinya tidak lihat apa?
"Anda lihat apa pak Angkasa?" tanya Rilly sih dosen wanita yang terus sejak tadi terus mengekorinya. Angkasa masih berusaha menjaga sikap pada wanita itu. Ia tahu wanita itu sengaja mau mendekatinya, dan Angkasa sudah siap-siap seandainya wanita itu sudah melewati batas, dirinya tidak akan tinggal diam. Heran, padahal wanita itu sudah tahu kalau dirinya telah bertunangan, tapi masih saja gatal mau mendekatinya. Jaman sekarang kebanyakan orang memang sudah aneh-aneh. Hanya sedikit dari mereka yang berpikir sewajarnya. Terutama dalam hal menghormati privasi orang lain.
Saking kesalnya pada dosen wanita bernama Rilly yang terus mengekorinya, Angkasa sampai tidak menjawab pertanyaannya. Pria itu malah cuek. Tidak penting juga. Lagian apapun yang dia lihat sekarang ini tidak ada urusannya dengan wanita itu. Sedang Rilly yang dicuekin hanya bisa menahan malu didepan dua dosen lainnya yang berjalan bersama mereka.
__ADS_1
Sepeninggalnya Angkasa dan para dosen tersebut, Dambi menghela napas dan menyembunyikan wajahnya di kedua lututnya yang tertekuk. Sungguh ia merasa frustasi dan bingung. Dengan susah payah ia berdiri dari tempat sembunyinya dan memutuskan pulang. Memang masih ada satu mata kuliah, tapi Dambi merasa malas untuk belajar sekarang ini. Lebih baik pulang saja.
Bukan pulang ke rumah Angkasa. Untuk menghindari pria itu, dirinya memilih pulang ke rumahnya. Memang dia takut sendiri, apalagi sejak orangtuanya berangkat keluar negeri para pembantu rumah mereka ikut pulang kampung. Tapi Dambi tetap ingin pulang ke rumahnya.
Dambi pikir, dirinya memang lebih baik tinggal di kamarnya. Untuk menghindari Angkasa. Pokoknya saat ini dirinya masih malu sekali jika berpapasan dengan pria itu. Dia ingin tinggal di rumahnya saja mulai sekarang. Karena kalau tinggal di rumah Angkasa, dirinya pasti akan terus bertemu dengan laki-laki itu. Ia tidak tahu bagaimana cara Angkasa memandangnya sekarang, yang sangat ia takutkan dan membuat dirinya merasa frustasi adalah jika Angkasa merasa jijik padanya dan menganggap dirinya terlalu gampangan.
"Aish, kenapa aku harus melakukan kesalahan seperti itu sih!" Dambi mengacak-acak rambutnya sambil bersandar di kasur yang rasanya begitu nyaman. Hanya kasur itu yang nyaman, berbanding terbalik dengan suasana hatinya saat ini.
Pipi Dambi memerah karena dia teringat kejadian itu lagi. Dimana Angkasa membelai bagian yang paling intim ditubuhnya dan dirinya yang tidak mampu menolak. Sungguh, rasanya sangat nikmat. Dambi berdebar-debar. Astaga, dia benar-benar sudah gila karena menginginkan sentuhan Angkasa lagi.
Tok tok tok...
Ketukan didepan pintu kamarnya membuat Dambi terkesiap. Siapa itu?Rasa takut menghampiri dirinya. Siapa yang masuk siang-siang ke rumahnya?
__ADS_1
Apa pembantu rumahnya tiba-tiba kembali? Tapi kenapa tidak bersuara? Ya ampun, cobaan apalagi ini. Padahal dirinya pulang ke rumah agar bisa tenang dari segala rasa frustasinya, tapi malah diperhadapkan dengan situasi yang menakutkan begini. Apa jangan-jangan pencuri? Mana ada tamu yang langsung masuk sampai ke dalam rumah. Apa jangan-jangan dia lupa mengunci pintu depan?
Dambi mendadak panik. Kalau sampai itu benar perampok dia harus bagaimana? Bagaimana kalau perampok itu menyakitinya? Dia masih mau hidup. Masih banyak yang ingin dia lakukan. Dirinya masih sangat mudah juga.
tok tok tok...
Dambi kembali tersentak mendengar bunyi pintu kamarnya diketuk lagi. Ia langsung merapalkan doanya dalam hati. Gadis itu tidak berniat membuka pintu. Bagaimana kalau orang jahat didepan pintu itu tiba-tiba menyerangnya? Kan tidak lucu.
"Pergilah, pergilah..." ucap Dambi sambil menutup matanya kuat-kuat, dan terus merapalkan doa. Ia tidak bisa berpikir jernih lagi, karena saat ini pikirannya sudah dipenuhi oleh ketakutan.
"Siapapun tolong aku..." gumamnya terus-terusan.
"Dambi, ini aku. Aku tahu kau di dalam. Buka pintunya, kita harus bicara."
__ADS_1
orang diluar sana akhirnya bicara. Dambi bergeming. Ia jelas tahu itu suara siapa. Angkasa. Itu Angkasa! Lalu tanpa pikir panjang gadis itu berlari membuka pintu dan menghambur ke pelukan Angkasa. Dia melakukannya secara tidak sadar, karena tadi dirinya sangat ketakutan. Itu sebabnya menyadari keberadaan Angkasa, gadis itu sangat senang karena merasa sudah aman. Makanya secara refleks dirinya langsung memeluk pria itu.