Dangerous Fiancee

Dangerous Fiancee
46


__ADS_3

Malam ini... seharusnya menjadi jam istirahat yang menyenangkan bagi semua orang. Tetapi emosi Angkasa luar biasa buruknya malam ini dan menyebar ke seluruh penjuru rumah.


Suasana rumah jadi menegangkan. Seluruh pelayan berbicara sambil berbisik-bisik ketakutan, membicarakan anak majikan mereka yang marah-marah. Saat memasuki dapur tadi, Angkasa sudah membanting gelas di meja hingga


anggurnya berceceran di taplak meja yang berwarna putih, hanya karena minumannya tidak cocok dengan seleranya.


Angkasa memanggil salah satu pembantu yang bertanggung jawab di dapur dan membentaknya, bahkan yang lain pun ikut kena semprot.


Sekarang semua orang saling bersembunyi berusaha menghindari


berurusan dengan majikan mereka yang begitu mengancam, seperti


beruang yang terluka. Untung sudah malam, jadi mereka bisa menggunakan waktu tidur untuk bersembunyi. Terkecuali dipanggil oleh Angkasa. Terakhir kali yang salah satu pelayan kepala lihat, pria itu naik ke lantai atas dengan beberapa botol anggur.


Kepala pelayan tersebut mendesis bingung. Entah apa yang terjadi dengan Angkasa dan calon istrinya itu. Pasti mereka bertengkar tadi, karena sejak pulang keduanya tidak tampak baik-baik saja. Sebagai pelayan yang bukan siapa-siapa di rumah itu, mereka tidak bisa melakukan apapun. Hanya bisa diam. Mana orangtuanya Angkasa sedang ke luar kota lagi.


Angkasa mengusap wajahnya frustasi, berdiri mondar-mandir di kamarnya, lalu duduk bersandar di dinding tempat tidur kemudian


menuangkan segelas vodka murni untuk dirinya sendiri. Dia

__ADS_1


meneguknya, dan cairan putih itu serasa begitu membakar di tenggorokkanya.


Sudah lama dia tidak minum-minum seperti ini. Bahkan tidak pernah dirinya minum sampai semabuk ini. Karena dulu, belum ada yang membuat hatinya terasa sesakit ini sampai rasa-rasanya bernafas saja begitu berat. Ucapan Dambi tadi begitu menusuk ke dalam hatinya.


Apa gadis itu tidak berniat serius dengannya? Ingin hubungan pertunangan ini berakhir? Gampang sekali Dambi bilang seperti tadi di saat dia benar-benar sudah memberikan seluruh hatinya pada gadis itu. Angkasa terus tertawa dalam mabuknya dan kembali meneguk minuman itu segelas lagi.


Dambi tidak mengerti. Kenapa dia sekasar tadi, itu karena dirinya takut gadis itu mungkin saja berada dalam bahaya. Dia marah, karena terlalu khawatir bukan berarti menganggap rendah gadis itu. Tapi Dambi membalasnya dengan kalimat yang begitu menohok, membuatnya merasa runtuh seketika.


                                    ***


Sementara itu, Dambi tidak bisa tidur. Ia memilih berdiri malam itu di balkon kamarnya, berharap udara dingin bisa meredakan hatinya yang merasa dilema. Ditatapnya jendela kamar Angkasa di sebelah kamarnya. Pintu balkonnya terbuka, entah di mana orangnya. Dambi tidak lihat.


Ia menatap lagi ke jendela yang  terbuka itu, dan cahaya temaram memantul dari sana. Dambi menatap jendela itu dengan penuh harapan agar bisa melihat Angkasa di sana. Dengan begitu, otaknya tidak akan berputar kemana-mana. Sayangnya pria itu tetap tidak terlihat sama sekali.


Dengan kecewa Dambi menatap ke depan lagi dan mendongak ke atas, menerawang ke langit-langit malam yang nampak begitu indah. Tak lama kemudian ia mendengar bunyi pecahan dari dalam kamar Angkasa. Bunyi tersebut meski tak kedengaran oleh yang lain, tapi kedengaran jelas dari balkon kamarnya. Dambi cepat-cepat berlari ke arah balkon Angkasa dan masuk ke dalam kamar pria tersebut. Ingin tahu ada apa.


Ketika berhasil masuk, di sana dia melihat ada beberapa botol vodka dan pecahan gelas yang sudah berhamburan ke lantai. Angkasa sendiri duduk bersandar di tempat tidur dengan keadaan yang mabuk berat. Pantas saja ia tidak melihat pria itu tadi. Dambi menatap Angkasa dengan wajah sedih dan rasa bersalahnya. Berapa banyak yang dia minum sampai semabuk ini?


"A... Angkasa," gumamnya mendekati pria itu. Dia sangat berhati-hati agar tidak terkena pecahan gelas. Pasti pria itu sengaja melemparnya tadi.

__ADS_1


Angkasa membuka matanya yang sayup-sayup karena mabuk.


"Oh, lihat siapa ini." gumamnya tertawa khas orang mabuk. Lalu tangannya terangkat memegangi pipi Dambi, membuat bibirnya maju ke depan.


"Tunanganku yang manis. Aku mencintainya, tapi dia meragukan hubungan ini. Membuatku kecewa berat," racau pria itu. Kini tangannya berpindah ke pinggang Dambi dan menariknya ke dalam pelukan.


"Angkasa, kau sudah mabuk. Ayo berdiri dulu." Dambi berusaha melepaskan tangan pria itu yang menekan kuat pinggangnya, lalu membantu memapahnya ke tempat tidur. Dengan susah payah Dambi mengangkat tubuh besar Angkasa sampai dirinya ikut terjatuh di atas kasur, menindih pria itu saking beratnya tubuh Angkasa.


Dambi ingin bangun, tapi Angkasa menahannya. Pria itu melingkarkan tangannya dipinggang Dambi hingga gadis itu kesulitan berdiri.


"Jangan pergi," gumam pria itu masih dalam keadaan mabuk.


"Le..lepas dulu. Aku harus membersihkan pecahan di lantai."


"Tidak usah, temani aku saja. Aku butuh kamu. Aku tahu aku salah bicara kasar tadi, tapi itu karena aku terlalu khawatir padamu. Aku pikir orang yang mengancamku telah menculikmu. Pleasee Dambi, jangan bilang kita tidak cocok, kau sangat tega padaku." racau Angkasa lagi. Meski masih mabuk, itu benar-benar keluar dari hatinya.


Dambi tertegun sejenak. Apa yang sudah dia lakukan tadi? Dia sudah menyakiti perasaan Angkasa. Padahal yang pria itu lakukan semua adalah demi dirinya. Dan siapa orang yang mengancam Angkasa?


"Kumohon temani aku, hm?" gumam Angkasa lagi. Mau tak mau Dambi mengikuti keinginan pria itu dan memutuskan menemaninya sebentar.

__ADS_1


__ADS_2