Dangerous Fiancee

Dangerous Fiancee
55


__ADS_3

"Sialan!"


Vivi mengumpat ketika melihat anak buahnya yang akan membawa Dambi ke kapal berhasil digagalkan oleh polisi. Wanita itu mengamati dari tempat tersembunyi, dia mengepal tangannya kuat-kuat ketika melihat Angkasa memeluk Dambi, menenangkan perempuan sialan itu dengan penuh sayang. Rassya juga tampak sangat khawatir. Vivi tidak terima.


Dia sudah merencanakan rencananya ini sebaik mungkin, menculik dan menjual perempuan itu


ke sindikat perdagangan manusia untuk dijadikan pelacur. Sayang sekali gagal ditengah jalan.


Dengan marah Vivi berbalik pergi dari tempat persembunyiannya mengemas dan kemudian menelepon untuk mendapatkan tiket penerbangan dengan jadwal yang paling cepat. Dia harus kabur secepatnya sebelum Dambi cerita pada Angkasa dan Rassya kalau dirinya adalah dalang penculikan itu.


Sayangnya semua penerbangan hari ini penuh dan dia harus menunggu


enam jam lagi paling cepat.


Vivi panik mengetahui itu. Dia bolak-balik di gedung tua tempat mereka menyekap Dambi tadi, ketakutan dan bingung. Akhirnya yang bisa dia lakukan sekarang hanyalah menghujat orang-orang bodoh yang gagal melakukan tugas mereka.


"Brengsek, gara-gara kebodohan mereka, aku harus segera mencari tempat untuk kabur. Tidak, tidak! Aku harus pergi dari sini sekarang juga."


kata Vivi bicara sendiri. Sekarang dia hanya harus pergi jauh-jauh dari kota  ini secepatnya. Setelah ada kesempatan baik lagi, dia akan kembali beraksi melakukan penculikan terhadap perempuan yang sudah merebut miliknya itu.


Vivi sudah selesai berkemas dan siap-siap keluar dari tempat itu.


Sayangnya, Ketika dia membuka pintu, beberapa polisi berpakaian

__ADS_1


preman sudah berdiri di sana, siap menangkapnya, membuat wajah-


nya pucat pasi.


                                    ***


Di kantor polisi, Dambi bertatapan dengan Angkasa yang sedang


membuat laporan di kepolisian. Mata mereka bertatapan. Dan terpatri


jelas kebencian dan rasa muak Angkasa kepada ayah perempuan itu.


Ya, Angkasa sudah tahu dalang dari penculikan kekasihnya. Bukan dari mulut Dambi. Dambi sekarang sedang bersama Rassya dan mamanya. Masih syok dan perlu ditenangkan. Jadi dari mana Angkasa tahu bahwa Vivilah dalang dari perbuatan keji itu?


Angkasa makin muak mendengar penjelasan Vivi di kantor polisi. Perempuan itu benar-benar tidak tahu malu. Sekarang ia tahu alasannya kenapa wanita itu tega meneror dan menculik kekasihnya. Vivi bahkan bercerita dengan penuh percaya diri pada polisi. Seolah Dambi adalah gadis yang merusak hubungan keduanya. Padahal jelas-jelas mereka tidak pernah berhubungan. Angkasa hanya pernah menolong Vivi dulu, waktu perempuan itu hampir di perkosa oleh beberapa preman. Namun rupanya Vivi menganggap lain, dari ceritanya, sejak hari itu Angkasa adalah miliknya. Cih, psikopat. Angkasa bahkan sudah lupa wajah dan nama perempuan itu kalau Rassya tidak mengingatkan.


Angkasa yang berada di dekatnya wanita itu berbisik puas.


"Aku akan menikahi Dambi segera. Dia akan menjadi istriku, dan khayalan gila mu untuk tentang hubungan kita tidak akan pernah terjadi. Pergilah ke neraka bersama bersama pikiran gila mu itu. Kau beruntung karena dirimu adalah seorang wanita, kalau tidak percayalah, aku sudah menghabisimu sekarang juga."


Kata-kata pedas itu membuat wajah Vivi pucat pasi, tetapi wanita itu


tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya semakin membenci Dambi.

__ADS_1


Angkasa dan seorang laki-laki besar yang beberapa tahun lebih tua darinya sama-sama menatap kepergian Vivi ke ruang


pemeriksaan. Laki-laki itu adalah detektif yang membantunya.


'Begitu pengacaranya datang,


paling berat dia akan menerima hukuman empat tahun penjara, karena dengan sengaja merencanakan penculikan, mengatur menjual korban pada sindikat perdagangan manusia, dan mengakibatkan trauma pada korban." kata detektif itu pada Angkasa.


Angkasa mengangkat bahunya,


"Tidak apa-apa," gumamnya "Setidaknya aku bisa memastikan dia tidak akan mengganggu kehidupanku dan tunanganku lagi.


"Apakah sama sekali tidak ada rasa tersentuh di hatimu melihatnya?"


Pria itu bertanya ingin tahu,


"Bagaimanapun juga dia adalah wanita yang masih muda. Hidupnya masih panjang. Berada di penjara selama itu bisa menghancurkan karirnya."


"Siapapun yang mencoba menyakiti wanita yang aku cintai, tidak akan pernah lolos dari hukumanku." Angkasa menggelengkan kepalanya,


Apalagi saat berinteraksi dengan perempuan bernama Vivi tadi, perempuan itu sama sekali tidak menyesali perbuatannya, bahkan berkali-kali mengumpat dan mengatai Dambi hanyalah seorang wanita         ja l ang. Bagaimana Angkasa tidak emosi coba saat kekasihnya yang  tidak ada salah apa-apa dilecehkan seperti itu.


Lelaki itu lalu menandatangani laporannya dan menyerahkan kepada petugas polisi. Lalu,

__ADS_1


"Ayo, aku harus ke rumah Rassya, aku takut Dambi mencariku kalau pergi terlalu lama."


__ADS_2