Dangerous Fiancee

Dangerous Fiancee
Berita heboh


__ADS_3

Besoknya dikampus, foto Angkasa dan Dambi yang di ambil diam-diam oleh seseorang sengaja di tempel di mading kampus. Dalam sekejap berita tentang mereka yang ternyata menjalin hubungan tersebar di seluruh kampus. Bahkan di antara para dosen dan petinggi-petinggi kampus lainnya.


Dambi sampai heran melihat semua orang menatapnya ketika dirinya melewati koridor kampus menuju ruang kelas kuliahnya hari ini. Bahkan rata-rata perempuan melihatnya dengan wajah garang, seperti ingin memakannya hidup-hidup.


Aneh. Ada apa ini? Kenapa semua orang memperhatikannya hari ini? Apa dia membuat kesalahan? Kenapa semua orang melihatnya seperti ini? Lalu Dambi merasakan tangannya di tarik oleh seseorang. Dia kaget bukan main.


"Yuka! Jangan narik-narik gitu dong. Aku jadi kaget tahu." cetus Dambi jengkel. Siapa juga yang tidak jengkel kalau dikagetkan seperti itu.


"Udah, jangan banyak omong dulu. Ada hal yang jauh lebih penting dari itu. Ikut aku sekarang juga." seru Yuka terus menarik Dambi, kali ini melewati jalan belakang yang memang jarang sekali ada yang melewati jalan tersebut. Dambi jelas bingung.


Lalu mereka berhenti di sebuah ruangan yang diketahui Dambi sebagai gudang kampus. Gudang yang  sebenarnya tidak terlihat seperti gudang lagi. Karena sudah di renovasi seindah mungkin hingga menjadi sebuah tempat yang sangat layak buat dihuni.


Gery yang merenovasinya dan baru selesai beberapa hari yang lalu. Ia sengaja merenovasi tempat itu agar bisa dijadikan markas buat mereka bertiga. Tapi sekarang mereka tidak bertiga. Ada Angkasa juga di sana. Raut wajah pria itu tampak serius ketika Yuka dan Dambi masuk.


"Angkasa?" gumam Dambi saat melihat pria itu tengah duduk di sofa saling berhadap-hadapan dengan Gerry. Angkasa sendiri berdiri dari sofa dan cepat-cepat berjalan ke arah Dambi. Menggenggan jemari Dambi. Ia tidak peduli sekalipun di situ ada Yuka dan Gerry.


"Ini nih yang bikin cepat ketahuan. Memangnya kalian nggak bisa nahan diri sebentar saja?" ujar Yuka.

__ADS_1


Angkasa terkekeh. Ia dan Dambi sekarang memang makin dekat. Dan itu tidak lepas dari pandangan Gerry dan Yuka. Yuka sendiri masih tidak habis pikir, padahal Dambi pernah bilang tidak akan pernah menyukai laki-laki menyebalkan seperti Angkasa. Lihat sekarang, dia menjilat ludahnya sendiri dengan terus menempel pada dosen tampan itu. Entah apa yang sudah Angkasa lakukan sampai-sampai Dambi sesenang itu tiap kali bersamanya.


"Kenapa ke sini? Kan sebentar lagi kita ada kelas?" tanya Dambi kali ini melirik Yuka dan Gerry bergantian.


Dia belum tahu suasana macam apa yang sedang terjadi di kampus. Orang-orang lagi heboh bergosip tentang hubungannya dengan Angkasa.


Yuka dan Gerry saling menatap. Kemudian Gerry mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menunjukkan ke Dambi. Dambi membaca majalah kampus online yang dibuka Gerry.


Berita panas hari ini


tulisan itu disertai dengan gambar keduanya yang tampak mesra di parkiran rumah sakit. Posisi mereka dalam potret tersebut adalah Angkasa  yang tengah mengecup kening Dambi.


Dambi melotot. Sekarang ia paham kenapa orang-orang tadi terus menatapnya saat ia muncul di kampus.


"Aduh, kok jadi kayak gini sih?" katanya berubah tidak tenang. Bukan takut, tapi ia berpikir nantinya dirinya akan menjadi bahan gosip para penghuni kampus. Tentu saja dirinya merasa risih. Ia tipe gadis yang mau hidup tenang dan bebas dari gosip apapun.


Berbeda dengannya, Angkasa malah biasa saja dan justru senang. Dengan begitu dirinya tidak bisa terang-terangan menemui Dambi atau membawanya kemanapun. Lagian mereka memang sudah mengikat janji. Kalau perlu ia bisa menikahi gadis itu secepat mungkin agar gadis itu tidak akan pergi kemana-mana lagi.

__ADS_1


"Memangnya kampus ini ada peraturan dosen dan mahasiswa tidak bisa pacaran?" Angkasa angkat suara. Tangan terus menggenggam jemari Dambi, seolah tidak rela melepaskannya. Ia melirik Yuka dan Gery bergantian. Yuka menggeleng.


"Kalau begitu kami berdua tidak harus menjelaskan apapun. Hubungan kami sudah jelas. Apa lagi yang harus diperjelaskan?"


"Benar sih. Tapi mau gimana lagi, udah pada heboh semuanya. Pak Angkasa setidaknya harus kasih penjelasan, biar orang-orang nggak nuduh sembarangan tentang Dambi." ujar Yuka panjang lebar.


"Aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan." balas Angkasa tegas. Sejak tadi dia memang tampak tenang, tapi bukan berarti dia tidak peduli. Sekarang baginya, masalah kenyamanan Dambi adalah nomor satu. Siapapun tidak boleh mengusik tunangannya.


"Jadi gimana sekarang?" tanya Dambi. Angkasa menatapnya dan tersenyum lembut.


"Jangan khawatir. Sekarang kamu sama mereka dulu ya, tunggu aku selesain semuanya." ucapnya lembut. Kemudian melepaskan genggamannya dari jemari Dambi lalu keluar meninggalkan ketiga sahabat tersebut.


                                  ***


Entah apa yang dilakukan Angkasa. Tapi semua berita di mading dan majalah kampus semuanya mendadak hilang. Bahkan tidak ada yang berani terang-terangan bergosip atau menatap aneh Dambi ketika gadis itu melewati kerumunan.


"Gila, kekuatan tunangan kamu memang nggak main-main." seru Yuka. Karena gosip pagi ini yang membuat semua orang heboh dan kampus tiba-tiba riuh, menjadi tenang. Dambi saja heran apa yang dilakukan Angkasa untuk menenangkan mereka semua. Tapi akibat gosip hari ini, gadis itu sudah malas masuk kelas. Ia memaksa Yuka dan Gery menemaninya bolos. Alhasil, ketiganya sekarang berada di cafe tempat biasa mereka ngumpul.

__ADS_1


__ADS_2