Dangerous Fiancee

Dangerous Fiancee
56


__ADS_3

"Jadi dalangnya pacar kamu? Kok kamu nggak sadar dia benci sama adik kamu sih? Siapa namanya, Vivi? Tante nggak akan lepasin dia, dia harus dapat hukuman setimpal atas semua perbuatannya. Pokoknya kalian putus saja. Kamu nggak cocok sama perempuan macam begitu. Dari dulu emang udah duga perempuan itu sedikit aneh." ujar Dian menahan emosinya. Untung putrinya tidak kenapa-napa. 


Rassya terdiam sesaat. Otaknya dipenuhi dengan pikiran-pikiran yang membuat kepalanya terasa sakit. Siapa juga yang menyangka kalau Vivi adalah dalang dari penculikan Dambi. Rassya marah, kecewa, dan masih tidak menyangka. Apalagi ketika tahu Vivi juga berani meneror Angkasa. Dan Vivi tidak ada perasaan sama sekali padanya, karena wanita itu menyukai Angkasa. Hati Rassya sakit. Tega-teganya Vivi berkhianat padanya. Pria itu mengepal tangannya kuat-kuat.


Pandangan Rassya berpindah ke Dambi yang masih tertidur. Dokter bilang gadis itu tidak apa-apa, hanya syok saja. Rassya bernapas lega. Kalau  terjadi sesuatu yang buruk pada sang adik, dia akan merasa bersalah. Apalagi dia yang mengajak Dambi menginap di rumah Vivi semalam, sehingga membuat Vivi mendapatkan kesempatan untuk berbuat jahat.


"Tante, Maafin Rassya ya. Rassya nggak becus jagain Dambi." ujarnya meminta maaf ke Dian, tantenya. Dian menghela napas lalu merangkul lelaki itu.


"Udah, ini bukan salah kamu kok. Yang penting adik kamu udah nggak apa-apa.


"M ... Mama," Rassya dan tante Dian sama-sama melirik ke Dambi yang mulai sadarkan diri. Ada pergerakan dari tangannya dan gadis itu membuka matanya perlahan. Tante Dian mendekat memengangi sebelah tangannya.


"Kamu udah bangun sayang?" gumam Dian senang. Dambi masih setengah sadar. Ia menatap ke sebelah mamanya dan mendapati Rassya berdiri di sana. Tapi mana Angkasa? Seingatnya laki-laki itu ada tadi. Kemana Angkasa pergi?


"Kak Rassya, Angkasa ke mana?" tanyanya.


"Angkasa lagi ke kantor polisi. Ngelaporin Vivi biar di adili dengan setimpal. Enak aja berani nyulik anak mama." Dian yang menjawab. Sementaras Rassya masih nampak lesu. Tak semudah itu menerima keadaan yang terjadi padanya. Semua butuh waktu. Dan Dambi bisa mengerti perasaan pria itu ketika melihat ekspresinya. Kasihan kak Rassya, batinnya.

__ADS_1


"Dambi!" Dambi menoleh ke arah pintu masuk dan melihat Angkasa berjalan cepat mendekatinya.


Mamanya tersenyum penuh arti.


"Rassya," gumam tante Dian. Rassya menoleh sekilas menatap wanita paruh baya itu.


"Ayo keluar dulu. Beri mereka berdua waktu." lanjut Dian. Rassya mengangguk.


"Jagain anak mama ya," kata Dian lagi lalu mengedipkan matanya ke Angkasa dan keluar dari kamar itu.


"Gimana keadaan kamu?" tanyanya lalu duduk di tepi ranjang memeriksa Dambi dengan raut wajah khawatir. Ada tanda-tanda tamparan di pipi kekasihnya sehingga langsung keluar sumpah serapah dari mulut lelaki itu terhadap Vivi.


"Perempuan sialan, berani sekali dia nampar kamu. Akan ku buat dia menderita dalam penjara!" makinya emosi. Dambi yang melihat kemarahan pria itu saja merasa ngeri.


"Udahlah semuanya sudah berakhir." ucap Dambi menenangkan sang kekasih. Angkasa menatapnya lama, lalu mengecup bagian pipi bekas tamparan itu.


"Masih sakit?" tanyanya lagi. Dambi menggeleng. Lalu Angkasa mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Dambi menarik napas. Sepertinya dia tahu benda apa itu.

__ADS_1


"Sayang," gumam Angkasa lembut. Pria itu menatap Dambi dalam-dalam.


"Setelah kejadian hari ini, aku sangat takut kehilangan kamu. Aku takut seseorang akan membawamu pergi jauh dariku, membuatku tidak bisa melihatmu lagi. Aku ingin kita selalu bersama. Untuk itu aku sudah memutuskan. Kita akan segera menikah. Kau mau jadi istriku? Berbagi semuanya bersama, dan melahirkan anak-anak kita." gumam Angka panjang lebar. Dambi terharu mendengarnya. Matanya terasa sembab.


Dambi tidak pernah menduga kehidupannya akan menemui jalan yang begitu membahagiakannya, pasti Tuhan begitu menyayanginya


sehingga memberikan kekasih yang begitu sempurna, kekasih yang


tidak pernah berani dibayangkannya sebelumnya. Walau di mulai dengan rasa tidak suka terhadap lelaki itu, tapi akhirnya sangat manis.


Dambi dengan haru mengiyakan kemudian Angkasa memasang cincin di jari manis gadis itu. Setelah cincin indah tersebut tersemat di jari manis Dambi, Jemari mungil Dambi melingkari pinggang Angkasa, dan lelaki itu makin mempererat pelukannya yang penuh cinta kepada Dambi.


Nanti, pada saatnya nanti masih ada banyak waktu terbentang di depan


mereka untuk berpelukan setiap saat. Angkasa akan memiliki Dambi di


rumahnya, menjadi milik pribadinya, saling memiliki dengannya. Mengingat akan datangnya hari itu, Angkasa tersenyum senang. Dambi adalah sosok perempuan yang sanggup membuatnya merasa menjadi laki-laki sejati. Harapannya adalah bisa menjaga gadis itu seumur hidup.

__ADS_1


__ADS_2