
Pagi ini seindah pagi-pagi yang lain. Dambi sampai tidak sadar bahwa mereka sudah melewatkan beberapa hari di pulau indah ini. Berbulan madu. Begitu kata orang-orang. Dan
memang itulah yang terjadi. Mereka benar-benar bersenang-senang sepanjang hari, makan, mengobrol, membaca, bercanda, dan berci n ta dengan begitu panas di malam harinya.
Pipi Dambi memerah, mengingat malam-malam panas mereka. Angkasa benar-benar lelaki yang sangat bergairah. Di pagi hari, saat mereka sudah bercinta semalaman, lelaki itu masih bangun dengan kejantanan mengeras dan mereka bercinta lagi. Seperti kata Angkasa padanya dulu, lelaki itu memang selalu bergairah kepadanya.
"Aku tidak melihat satupun pelayan hari ini," Dambi bergumam pelan sambil melirik ke sudut-sudut tempat yang biasanya jadi tempat para pelayan berkumpul. Seperti dapur, halaman belakang, depan rumah bahkan ruang tamu. Tak didapatinya mereka satupun.
"Memang, mereka tidak akan ada seharian ini."
"Seharian?" Dambi mengernyit.
"Aku meliburkan semua pelayan sampai besok pagi mereka baru kembali." sahut Angkasa.
"Kenapa kamu meliburkan semua pelayan?"
Angkasa tersenyum nakal, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Dambi dan berbisik menggoda,
"Karena aku ingin hari ini kita di rumah seharian, hanya berdua."
Dambi memerah. Apa sebenarnya yang direncanakan oleh Angkasa.
\*\*\*
Rumah benar-benar benar sepi ketika para pelayan tidak ada di rumah, biasanya setiap saat Dambi akan berpapasan dengan para pelayan yang lalu lalang mengerjakan sesuatu di rumah ini. Sekarang suasana hening, tidak ada suara percakapan di lorong, kesibukan di dapur maupun suara langkah kaki orang-orang yang lewat.
Dambi dan Angkasa menghabiskan hari itu dengan menonton dan membaca. Angkasa menonton bola sementara Dambi membaca novel kesukaannya. Saat tiba jam makan siang, Dambi ke beranjak ke dapur untuk mempersiapkan makanan buat suaminya.
Para pelayan sudah memasak makana mereka seharian ini. Tugas Dambi tinggal memanaskan saja. Ketika gadis itu sedang sibuk-sibuknya menyiapkan makanan, Angkasa datang mendekat dan memeluknya dari belakang dengan mesra. Mengecup Dambi dengan menggoda.
"Angkasa berhenti, atau kau akan terciprat kuah yang sedang mendidih ini."
__ADS_1
Dambi mengingatkan Angkasa, tetapi tidak ada penolakan dari tubuhnya.
Angkasa melingkarkan
lengannya makin erat, jemarinya bergerak menggoda, mengusap puncak pay u dara Dambi sambil lalu. Membuat Dambi mengerang, Kuah itu telah mendidih, dan Dambi mematikannya.
"Angkasa mengajak Dambi mundur dari kompor, masih memeluknya, dia bersandar di meja dapur dan membawa Dambi yang masih di peluknya dari belakang.
"Kita bisa tela n jang seharian di rumah, karena tidak ada orang lain di sini ..."
"Angkasa!" Dambi berseru dengan pipi memerah malu, membuat Angkasa tertawa dan mengecupi leher Dambi penuh gairah.
"Atau kita bisa berc i nta di atas meja dapur." Angkasa setengah menggigit leher Dambi, meninggalkan bekas kecil kemerahan di sana. Jemarinya meraba lembut dada Dambi dan merem asnya dari belakang.
"Bagaimana menurutmu?"
"Jadi ini yang ada di benakmu ketika meliburkan semua pelayan?" Dambi berbisik lirih, kemudian membiarkan bibirnya dil u mat oleh Angkasa. Lelaki itu duduk
atas Dambi dan melu m at bibirnya, dengan cara terbalik, menciptakan sensasi yang
berbeda. Membuat dia bisa mencecap, dan merasakan bibir Angkasa dengan cara yang lebih
sensual.
Tubuh Dambi melemas akibat ciuman itu sehingga Angkasa harus menopangnya, dia bersandar sepenuhnya di tubuh Angkasa, dan merasakan kejant a nan Angkasa mulai mengeras, menekan tubuh belakangnya.
Dengan lembut, Angkasa kemudian membalikkan tubuh Dambi dan beranjak turun dari meja dapur. Dia mengangkat tubuh Dambi hingga terduduk di atas
meja dapur itu. DIkecupnya dahi Dambi lembut, hidungnya, pipinya dan kemudian kembali ke
bibirnya lagi.
__ADS_1
Setiap kecupan Angkasa membuat tubuh Elena panas membara. Lelaki itu lalu membuka kemeja Dambi dan menurunkannya, Dambi tidak pakai bra karena Angkasa melarangnya tadi. Dua gunung kembar itu terpampang indah di depan Angkasa.
Lelaki itu memuja ***********. Mengelusnya lembut, mengusap pucuknya dengan
penuh gairah hingga mengeras dan siap di tangannya. Lalu setelah pu t ing itu memenuhi keinginannya, Angkasa mengecupnya lembut, dengan menggoda. Membuat Dambi mengerang, merindukan his a pan Angkasa yang membuatnya melayang.
Dambi lemas dan terbaring di atas meja dapur itu, dengan kaki menjuntai ke bawah. Posisi Angkasa sangat pas, karena tubuhnya tinggi, meja dapur itu pas setinggi pinggangnya.
Dan sekarang dihadapannya, isterinya terbaring dengan kaki menjuntai ke bawah, pahanya terbuka, siap menerimanya.
Angkasa menurunkan celana d a lam Dambi dan membukanya.
Lalu dengan penuh gairah, tanpa peringatan apapun, karena Angkasa tahu Dambi sudah sangat siap untuknya, Angkasa menyatukan tubuhnya ke dengan Dambi.
Kaki Dambi langsung melingkar di pinggang Angkasa. Kemudian, ketika gerakan Angkasa makin cepat, dia berdiri dan menumpukan tangannya di tepi meja dapur, membuat
Dambi yang terbaring di sana menerima desakan-desakan Angkasa jauh di dalam tubuhnya yang menimbulkan gelenyar panas tak tertahankan.
Angkasa lalu mengangkat kaki
Dambi yang semula melingkari pinggangnya dan mengangkatnya ke pundaknya. Posisi itu membuatnya semakin mudah bergerak, menemukan titik-titik kenikmatan Dambi yang ada jauh di dalam area sensitifnya, dan akhirnya membawa Dambilangsung ke puncak kenikmatannya.
"Mmphh ..."
“Kau sungguh nikmat sayang..." erang Angkasa ketika mendapatkan puncaknya.
"Katakan kau mencintaiku Dambi," pinta Angkasa.
"Aku mencintaimu," ucap Dambi penuh ketulusan. Angkasa tersenyum mengecup keningnya lembut.
"Aku juga. Selamanya."
__ADS_1
**T A M A T**