
.
.
.
"Kakuzu, jangan mengangguku! Aku akan menggunakan mereka untuk ritualku! Uang adalah bagianmu." Ucap Hidan.
"lakukanlah untukku. Jangan menganggap remeh, kau bisa tewas." Jawab Kakuzu datar.
"ya ampun itu tidak mungkin lah..jika mereka bisa membunuhku, aku akan membiarkannya. Tapi itu tidak akan terjadi kan?" Ucap Hidan sambil membuat lingkaran yang di dalamnya terdapat segitiga atau bisa disebut diagram dengan darahnya sendiri. Tim Asuma memandang Hidan bingung saat Hidan membuat diagaram dari darahnya sendiri.
'apa yang akan di lakukannya dengan diagram itu?' batin Shikamaru.
"aku akan memimpin. Segera setelah kau melihat adanya celah, lumpuhkan orang itu dengan jurus bayanganmu, Shikamaru. Jika kau hanya bisa memberiku beberapa detik, aku akan memotong kepalanya dan semoga itu bisa menahannya agar dia goyah." Ucap Asuma sambil melirik kearah Shikamaru yang berada di sampingnya.
"itu terlalu beresiko! Ini tidak seperti dirimu yang seperti biasanya." Ucap Shikamaru.
"aku juga akan maju." Ucap Kotetsu.
"apa kalian tidak mengerti?! Ini adalah strategi yang terbaik yang kita milik sekarang!." Ucap Asuma dengan Nada membentak.
'aku tidak pernah melihat Asuma seperti ini.' Batin Shikamaru.
"mereka bahkan lebih kuat dari pada aku! Izumo, Kotetsu, awasi yang satunya dan lindungi Shikamaru!" Perintah Asuma.
"jika kita tahu apa kemampuan mereka sekarang, sebaiknya kita mundur dan mengatur ulang Strategi baru?" Tanya Izumo.
"mereka tidak akan membiarkan kita pergi. Jika kita lari tanpa perlawanan, sama halnya dengan bunuh diri dan Konoha akan berada dalam bahaya yang lebih besar. Anggap saja ini suatu pasukan penuh, terkadang hal itu adalah satu-satunya pilihan." Jawab Asuma.
'jangan katakan kalau Asuma akan mengorbankan dirinya sendiri!' batin Shikamaru.
"apa kalian sudah selesai dengan diskusi kalian? Sakit, arghhh. Cara menusuk seperti itu menyakitkan sekali. Dewa akan membunuh orang yang tidak mengerti rasa sakit Orang lain seperti kalian." Ucap Hidan sambil mencabut kedua senjata yang menusuk tubuhnya. Asuma lalu berlari kearah Hidan dengan senjata di kedua tangannya.
TRANKK TRANKK TRANKK
Pertarungan sengit antara Asuma melawan Hidan terjadi.
Hidan yang sudah berada di mode kutukannya, sedang terikat oleh bayangan Shikamaru.
"sialan, lepaskan aku." Ucap Hidan sambil berusaha memberontak. Shikamaru lalu menyurus Hidan agar keluar dari Diagram tersebut. Asuma yang sedang memegangi luka di paha kirinya langsung bangkit dan berlari kearah Hidan dengan senjata andalannya.
JRASHHHH
Kepala Hidan langsung terpotong oleh Asuma. Shikamaru yang melihat itu hanya tersenyum sambil mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal.
"tinggal satu orang lagi." Ucap Kotetsu sambil melirik kearah Kakuzu.
BRUKK
Tubuh Hidan tanpa kepala yang sudah masuk mode kutukannya terlentang di atas tanah. Kakuzu hanya memandang datar pada tubuh Hidan.
__ADS_1
"jika kau membutuhkan bantuan, sebaiknya kau lakukan itu sebelum bertarung." Ucap Kakuzu datar sambil melihat kepala Hidan yang terpisah dari tubuhnya.
"KURANG AJAR, APA-APAAN KAU KAKUZU! KAU MEMBIARKAN HAL INI TERJADI!" teriak Hidan. Walaupun sudah terpisah dari tubuhnya, ia masih bisa hidup. Asuma, Shikamaru, Izumo dan Kotetsu membelalakan matanya saat Hidan masih bisa berbicara.
"tadi sebelum di mulai kau bilang bahwa aku harus tetap diam dan menonton saja! Sekarang, dengan kepala sialan itu kau masih berpikir kau bisa berteriak kepadaku?" Tanya Kakuzu dengan nada datar seperti biasa. Hidan memandang bosan kearah Kakuzu.
"ya,baiklah sesungguhnya aku tidak memintamu untuk tidak terlibat. Tapi itu bukannya aku mencoba untuk mempermalukanmu ataupun merendahkanmu. Ya sudah, terserah, cepat bawakan tubuhku! Kakuzu, bisakah kau membawakan tubuhku ke sini? Kakuzu-chan, tolonglah, kumohon,ya?" rengek Hidan.
ZWUSHH
Kakuzu dengan shunsinnya sudah berada di dekat Hidan. Kakuzu lalu mengambil kepala Hidan.
"h-he! t-tunggu! Tunggu dulu! Kakuzu, tubuhku! Bawakan tubuhku kesini,sialan!" ucap Hidan geram.
"kau sangat berisik." Ucap Kakuzu.
"itu bukan masalah! Apakah kau mengabaikanku? Sakit, sakit tahu! Kau menjambak rambutku!" ucap Hidan sambil meringis kesakitan.
"jika kau akan mengeluh tentang rasa sakit, setidaknya mengeluh tentang lehermu." Ucap Kakuzu seperti biasa.
'bahkan kepalanya terpisahpun, dia masih hidup.' Batin Asuma.
ZWUSHHH DHUAGGGGHH
"arghhhhh." Rintih Asuma saat Kakuzu menghantamkan pukulan di punggungnya. Kakuzu lalu berjalan kearah tubuh Hidan. Dan memasangkan kembali kepala Hidan dengan suatu yang mirip tali yang keluar dari lengannya. Setelah selesai,Kakuzu langsung berlari kearah Izumo dan Kotetsu.
Pertarunganpun kembali di mulai antara Kakuzu melawan Izumo dan Kotetsu, Hidan melawan Asuma.
TRANKK TRANKK JRASHHH BRUKK
"arghhhhh." Rintih Asuma saat Hidan menusukan senjata miliknya di perutnya sendiri. Asuma lalu terduduk di atas tanah sambil memegang perutnya yang mengeluarkan darah segar.
"HAHAHAHAHAHA AKAN KU AKHIRI SAMPAI DISINI."
JRASSHHHHHH BRUKK
Hidan lalu menusuk dadanya sendiri dengan senjatanya hingga tembus kebelakang, Asuma membelalakan matanya, tubuh Asuma lalu ambruk seketika.
"ASUMA!" teriak Shikamaru sambil berlari mendekati tubuh Asuma. Tiba-tiba muncul gagak-gagak yang menghalangi pemandangan Hidan dan Kakuzu. Chouji langsung membawa tubuh Asuma ke tempat Yang aman.
POFF POFF
gagak-gagak itupun menghilang secara bersamaan, membuat tempat tersebut di penuhi asap.
"Shikamaru, Chouji, Ino bawa Asuma dari sini. Kami akan menahannya." Ucap beberapa Jounin Konoha yang baru saja datang.
"baik." Jawab Mereka bertiga. Mereka bertiga lalu pergi membawa tubuh Asuma dari sana.
"tidak akan kubiarkan hadiah ku pergi." Ucap Kakuzu sambil berlari kearah Shikamaru yang sudah membawa Asuma pergi.
"kau adalah lawan kami." Ucap shinobi-shinobi Konoha tersebut.
__ADS_1
Sementara Shikamaru, Ino, dan Chouji membaringkan Asuma di sebuah bangunan tua.
"uhuk..uhuk"
"asuma-sensei." Ucap mereka bertiga saat Asuma terbatuk mengeluarkan darah segar dari dalam mulutnya.
"Ino cepat obati Asuma-sensei." Perintah Shikamaru.
"jangan.." Ucap Asuma dengan nada lemah. Shikamaru,Ino dan Choujipun memandang tak percaya kearah Asuma.
"..aku sudah selesai..bahkan aku..bisa mengatakan..kalian bertiga harus menyadari hal itu." Lanjut Asuma.
"diamlah! Jangan bicara dulu! Ino." Ucap Shikamaru. Ino langsung mencoba mengobati luka Asuma dengan jutsu medisnya.
'mereka melukai organ vitalnya.' Batin Ino.
Shikamaru yang menyadari raut wajah Ino langsung menundukan kepalanya.
"aku pikir,aku akhirnya mengerti mengapa sandaime melakukan apa Yang dia inginkan..tapi seperti biasa, aku terlalu lama untuk mengetahuinya. Ino, Chouji, Shikamaru..ada satu hal terakhir yang harus di beritahukan pada kalian." Ucap Asuma dengan nada lemah. Mereka bertiga seketika membatu mendengar perkataan Asuma barusan.
"sensei, kau tidak perlu banyak bicara dulu." Ucap Chouji sambil berusaha menahan air matanya yang akan keluar.
"Ino, Chouji ini adalah kata-kata terakhir dari Asuma-sensei dengarkan saja!" ucap Shikamaru. Asuma lalu menoleh kearah Ino.
"ino, kau berkemauan keras, dapat diandalkan dan bertanggung jawab. Chouji dan Shikamaru..mereka memiliki banyak kekurangan. Buatlah mereka sejalan dan jangan biarkan Sakura mengalahkanmu dalam ninjutsu maupun percintaan." Ucap Asuma.
"baik." Ucap Ino dan perlahan Ino mengeluarkan air matanya.
"Chouji, kau adalah orang baik yang peduli pada rekan-rekanmu. Itulah sebabnya..kau akan menjadi seorang shinobi yang kuat daripada yang lainnya. Percayalah pada diri mu sendiri. Dan mungkin..sedikit diet. " ucap Asuma sambil menatap Chouji.
"itu mungkin terlalu banyak,tapi aku akan melakukan yang terbaik." Ucap Chouji sambil menyeka air matanya yang sudah mengalir deras.
"dan Shikamaru , kau sangat pintar…dan memiliki pikiran yang jenius sebagai seorang shinobi. Kau pasti mampu menjadi …kau terlalu malas…kau mungkin akan membencinya. Aku bahkan tidak pernah sekalipun mengalahkanmu dalam Shougi. Oh ya masih ingat pembicaraan kita tentang raja?" Tanya Asuma sambil melihat kerah Shikamaru. Shikamaru lalu mengangguk.
"aku akan memberitahumu siapa dia. Mendekatlah." Ucap Asuma. Shikamaru lalu mendekatkan kepalanya. Asuma lalu membisikan ketelinga Shikamaru. Shikamaru langsung membulatkan matanya saat mendengar perkataan Asuma.
"Asuma..kau..tetapi.." "kumohon, Shikamaru..sekarang tidak masalah,bukan? Meskipun aku berhenti..itu berada di kantongku..aku ingin merokok untuk terakhir kalinya." Potong Asuma.
Shikamaru lalu memasangkan sebuah rokok pada mulut Asuma, dan ia langsung menyalakannya.
"hiks..hiks..hiks..hiks." tangis Chouji dan Inopun rokok tersebut mulai memendek.
TUK
Rokok Asuma seketika terjatuh, dan perlahan kesadaran Asuma mulai menghilang. Matanya langsung menutup.
"SENSEI."
"hiks..hiks…hiks..hiks."
TES TES TES
__ADS_1