
"Kau bukannya jadiin cantik, tapi malah bikin rusak wajah cantiknya bodoh! Coba lihat aja ekspresi datarnya itu, dia sangat tertekan karena ulahmu!" Tegas, itulah saat Satoru berkata kepada William. Dia tidak takut kepada siapapun yang memiliki status dan kekuatan yang ada di atasnya.
"Haha, dia sama sekali tidak tertekan kok, coba lihat lebih baik, Amira malah terlihat sangat senang" Sama sekali tidak benar, pikir Satoru. Amira memaksa dirinya untuk tersenyum, dan sedikit ada urat di dahinya. Terlihat dari tatapan dia ingin sekali mencakar wajah William.
Satoru membayangkan dari ekspresi Amira jika mencakar wajah William habis-habisan, Glek! Satoru menelan saliva nya sendiri dengan susah. Tubuhnya sedikit bergetar, bulu-bulu halu di lengannya menaik tegang.
Mempunyai adik perempuan sangatlah menyeramkan bukan? Setiap anak laki-laki yang memiliki adik perempuan akan ada yang merasa senang dan ada juga yang merasa… tersiksa. Mereka senang, karena mendapatkan adik perempuan yang imut, sedangkan mereka tersiksa karena sifatnya dan kelakuannya kalo enggak ada orang tua. Apalagi kalo sang Kakak yang disuruh jaga sang adik, seharian tidak ada yang namanya ketenangan.
*Note : Saya Salah Satunya ✋
"Jadi, apa yang ingin kau tanyakan Satoru? Kau tidak mungkin ingin menjemput Amira saja bukan? Pasti ada hal lain" William masih fokus merias wajah imut Amira yang tertekan, Satoru mendekati meja William dan duduk di kursi yang ada di depan meja tersebut. "Yah, seperti yang diharapkan dari Kepala Akademik ini. Baiklah, kapan perlombaannya akan dimulai? Sepertinya selama aku pergi pasti ada berita yang terlewatkan"
"Oh soal perlombaan, kalo soal itu sih…kayaknya besok akan dilaksanakan, jadi bersiap-siaplah Satoru" William mengganti pandangannya menuju Satoru, dia berkata sambil tersenyum. "Sayang kenapa kamu kemari?" Istri William tiba-tiba saja datang, sejak kapan? pikir Satoru.
"Ara-ara~ ternyata ada nak Satoru, apa yang kau lakukan di tempat orang tua mesum itu?" Elizabeth yang muncul sejak kapan, langsung saja mengejek sang suami tanpa sadar, "Sayang, kau…bilang aku mesum?" Itu memang benar, pikir Satoru. "Aku hanya ingin menjemput Amira saja kok, Nenek Eliz" Tanpa jawaban dari sang Istri, Satoru mengalihkan pembicaraan dari pada harus mendengar dan menonton drama suami istri di depannya ini.
"Begitu ya~ apa kau akan langsung pergi setelah menjemput Amira?" Elizabeth langsung menebak niatan Satoru. Omong-omong ada satu hal yang terlupakan dari episode-episode sebelumnya yaitu, William dan Elizabeth adalah bangsa Elf yang usia mereka sudah 700+ tahun. Itulah mengapa Satoru memanggil William dengan sebutan Pak Tua dan Elizabeth dengan sebutan Nenek.
"Iya Nek, aku ada urusan penting seharian ini. Nenek sudah tahu bukan? Kalo aku seorang OSIS yang banyak tugasnya, bukannya Nenek yang memasuki aku ke dalam OSIS?" ujar Satoru.
Meskipun Satoru pintar dan tegas dalam segala hal, dia sangat menghormati wanita yang ada di depannya ini. Dan dia yang telah merawat Satoru dan Rose saat telah sampai di kota ini, setelah mengemis di pinggir jalan untuk meminta uang dan makanan.
Saat di rawat oleh mereka berdua, Satoru dan Rose secara diam-diam masuk ke dalam organisasi yang sekarang mereka layani yaitu, Phantom.
Ok kembali ke cerita, setelah beberapa saat berbincang-bincang hal yang tidak penting. Satoru pamit undur diri, dan membawa pergi Amira.
"Aku benci Kakek itu" Ucap Amira secara tiba-tiba, ekspresi terlihat sangat jengkel dengan kelakuan William.
"Benci tapi senang bukan?" Tanya Satoru, dia menggendong Amira di pundaknya karena keinginan Amira saat ingin pergi dari ruangan Kepala Akademik.
__ADS_1
"I~iya" Ujar Amira dengan malu, dia menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajah merahnya yang seperti buah/sayur Tomat.
*Note : Tomat Itu Sayur Atau Buah?
.
.
.
The Next Day
POV' Kazuki Satoru
.
.
.
Namun kali ini, seluruh Akademik yang ada di benua Arcania mengadakan pertemanan antar murid melalui sebuah perlombaan. Setiap 5 tahun sekali, perlombaan nasional ini dilakukan, dan berbagai Akademik menjadi tuan rumah. Tapi kali ini adalah Akademik Niachaten menjadi tuan rumah perlombaan nasional tahun ini.
Pekerjaanku selama 3 bulan kali ini akan sangat berat, sebagai peserta sekaligus pengawas. Namanya juga OSIS yang sudah menjadi babu sekolah ataupun Akademi. Sorry canda babu, aku pernah merasakan yang namanya menjadi OSIS di dunia sebelumnya.
Dan itu sangat melelahkan, setiap hari di atas mejaku hanyalah sebuah kertas, kertas, dan kertas. Pergi pagi pulang sore, malam juga masih ada sebuah tugas sekolah. Paginya belajar, piket kelas, dan melakukan aktivitas OSIS.
Dahlah, aku nggak akan banyak bicara dan berpikir di perlombaan ini. Aku hanya akan menikmatinya saja, bye-bye.
.
__ADS_1
.
.
POV' Normal
"Apa murid-murid dari Akademi lainnya sudah datang?" Tanya Leon salah satu anggota OSIS di Akademi Niachaten, dia seorang Elf dan seorang Bendahara di anggota OSIS ini.
"Sudah, mereka semua terlihat kuat-kuat juga, tapi ada yang kubenci di salah satu Akademi yang menjadi peserta di tahun ini" Jawab Christian, teman Leon yang seorang manusia dan salah satu peserta, dia menjawab pertanyaan Leon dengan kesal.
"Memangnya mereka dari Akademi mana?" Tanya Leon sekali lagi, dia melihat sang teman merasa sangat kesal tadi.
"Akademi White Moon, Akademi yang penuh dengan orang sombong, bahkan yang jelata pun sangat sombong hanya karena mereka 3 kali menang dalam perlombaan nasional berturut-turut" Ujar Christian menatap banyak murid-murid yang masuk melewati gerbang Akademi.
"Bukannya itu pantas untuk mereka menjadi sombong, mereka sudah 3 kali menang berturut-turut loh, jadi itu sangat pantas" Ucap Leon dengan santai.
"Dan Akademi kita juga memiliki banyak murid yang bertalenta, seperti Ratu Berduri Rose, Pangeran Api Jonathan, Ketua OSIS kita Evan si Raja Singa itu, dan masih banyak lagi" Lanjut Leon dalam perkataan tadi.
"Kau melupakan satu orang" Sambung Christian yang tampak menjadi serius dalam pembicaraan ini.
"Siapa? Perasaanku hanya mereka saja yang terkuat" Bingung Leon, karena dia hanya tahu ketiga orang itu yang menjadi murid terkuat di Akademi.
"Apa kau melupakan satu murid yang bernama Kazuki Satoru?" Tanya Christian kepada Leon dengan tatapan serius.
"Ha? Si bocah misterius itu, perasaanku dia hanya bocah lemah di anggota OSIS. Dia jarang berbicara, sangat dingin kepada semua orang, bahkan Ketua pun tidak berani berbicara kepadanya, tapi apa hubungannya dengan murid terkuat?" Ejek Leon tentang Satoru di belakang punggungnya.
"Kau sama sekali tidak tahu kebenarannya, banyak yang bilang jika dia adalah sang Assassin Ghost yang terkenal, karena dia selalu memakai sebuah topeng. Dan banyak murid maupun guru tidak tahu kekuatan sebenarnya, juga rahasia tentang wajahnya yang ketampanannya melebihi tiga Ras yang memiliki ketampanan di atas rata-rata, dan masih banyak lagi rumor-rumor tentang dirinya" Jelas panjang lebar Christian kepada Leon dengan sedikit bisikan.
"Eh! Masa sebanyak itu rumornya, aku tidak tahu sama sekali. Tapi…soal kekuatan itu benar sekali, dia tidak pernah menunjukkan hal itu kepada siapapun" Leon merasa bingung dengan pikirannya sendiri.
__ADS_1
"Kau juga tahu bukan, kalo Ratu Duri Rose, itu sangat takut kepada Kazuki Satoru itu. Bahkan aku pernah di pukul oleh Rose karena ingin memukul Kazuki Satoru, terus saat Rose menghukum aku dan temanku yang lain. Kazuki Satoru sempat tersenyum kepada Rose, bagiku itu hal yang biasa saja, tapi saat aku lihat ke arah Rose dia sangat ketakutan bahkan gemetaran" Christian menceritakan pengalamannya tentang bagaimana dirinya pernah bertemu dengan Kazuki Satoru.