
"Oh begitu~, Satoru kenapa tadi kamu tidak bilang ke Mama?" Aku merasakan hawa dingin yang melebihi suhu tubuhku, keringat panas juga mengalir di dahiku. Hawa panas pun juga terasa, karena Raja dan Ratu Neraka Jahanam telah marah besar!!!.
Aku melihat kanan dan kiriku secara pelan-pelan, karena aku sudah bisa merasakan senyuman iblis dari dalam lembut dari luar. Senyuman yang selalu ditakuti oleh para anak-anak laki, karena kami para lelaki peka terhadap senyuman berbeda dengan para gadis. "Bu, aku bisa jelaskan" Wajah tenang diluar hati takut di dalam, itulah yang terjadi kepadaku sekarang.
>Glek!
"Bocah, coba ceritakan kepada kami, semuanya yang kau rahasiakan kepada kami!" Aku melihat Ayahku tersenyum sambil memegang kepalaku, tangannya terlihat berurat sama seperti aku yang mendapatkan nilai jelek saat ulangan, dan dilihat oleh Ayahku.
"Haaaa~...Baiklah, akan aku ceritakan semuanya" 1 Jam aku bercerita kepada mereka, bagaimana aku bisa membuka Soul Core milikku? Dan juga bagaimana aku mempelajari sihir-sihirku, tapi aku memberi tahu mereka jika aku bisa 3 elemen dan 1 non-elemen. Elemen itu adalah Api, Angin, Tanah, dan Non-elemen adalah Ice.
Aku membuktikan keempat sihirku itu di tanganku, aku mengeluarkan sihir api, angin, dan tanah di tapak tanganku. Ketiga elemen itu berputar secara rotasi bumi, dan elemen es ku, tinggal ku keluarkan tangan kiriku yang sudah beku menjadi es. "Non-elemen ini aku dapatkan saat masih 5 tahun atau 2 tahun yang lalu, Ayah dan Ibu, apa kalian ingat saat aku tiba-tiba menjadi kesakitan? Itu adalah karena non-elemen ini"
Orang tuaku dan teman-temannya terkejut mendengar apa yang kuceritakan? Karena elemen Ice hanya dimiliki oleh orang-orang benua Selvia, tapi aku berbeda karena Ice ini tidak murni dari darahku. Ice ini kudapatkan berkat bantuan Eve kepadaku.
{Tidak Host, Elemen Ice Itu Murni Dari Darah Host Sendiri}
__ADS_1
Begitu, kalo begitu aku bersyukur. Aku kira sihir Ice ku hanya pinjaman saja, ternyata murni milikku. Sepertinya aku harus mengembangkan sihir Ice ku menjadi paling kuat, terutama sihir Kegelapan milikku, dan tambahan latihan membuat senjata.
"Sudah, begitulah aku mendapatkan Soul Core milikku, dan sekarang sudah berada di tingkat Black Purple" Aku berkata dengan senyuman dan ku arahkan senyumanku kepada kedua orang tuaku. Ayahku terlihat bangga kepadaku, berbeda dengan Ibuku? Aku tidak tahu dia melihatku seperti mangsa hewan buas, dan aku memiliki firasat buruk!.
"Satoru, apa kamu pernah membunuh seseorang?" Wow, itu pertanyaan dari mana Ibu? Apa kau menuduh anakmu ini pembunuh? Yah, aku pernah sih membunuh orang, serius! Itu terjadi 1 tahun lalu, dimana aku saat itu masih berusia 6 tahun. Aku ingin melatih semua elemen sihir dan non-elemen sihirku di hutan Achaten. Hutan Achaten adalah hutan yang berada di tengah-tengah benua Arcania, dan desaku sangat dekat dengan Hutan itu, tinggal keluar desa sudah sampai. Dan desa Lily sebenarnya desa yang tidak tercatat di dalam peta benua Arcania.
Dan juga desa Lily dipenuhi penyihir Core Red Ruby dan Blue Ruby. Energy Sihir di desa Lily lebih besar daripada desa dan kota-kota lainnya, karena desa Lily dekat dengan Hutan paling mematikan di benua Arcania. Cerita yang kudengar dari Hutan Achaten adalah Hutan ini adalah tempat lahirnya The Fallen Angel, dan juga para Komandan 7 Iblis.
Oke lanjut ke ceritaku! Aku yang saat itu mencari tempat untuk melatih sihirku, melihat ada seseorang yang sedang di... pokoknya yang tidak boleh dilihat oleh anak-anak kecil sepertiku. "Paman, apa yang kau lakukan kepada Kakak itu?" Ueek!! Pengen sekali aku muntah. Mukanya sangat jelek dan mesum saat menatap ke arahku, dia tetap bermain kuda-kudaan di hadapanku.
Ekspresi yang kehilangan kehidupan, ingin sekali mati daripada tersiksa seperti ini. Itu terlihat sangat jelas di wajahnya, aku sama sekali tidak terasa iba atau apa, tapi ingin kubunuh saja daripada terus tersiksa, bukan? Seorang gadis yang sudah kehilangan...itulah pokoknya, maka tidak akan ada masa depan yang menjanjikan dihidupnya.
"F*ck, sudah cukup! Kau membuatku kesal Bajingan sampah!" Aku membakar tubuh Paman Ugly itu dengan sangat sadis, itu membakar tubuhnya perlahan-lahan. "Beruntung sekarang aku ingin melatih sihirku" Aku entah kenapa merasa sangat senang saat menyiksa bajingan sampah ini! Aku secara langsung mengeluarkan sihir Dark Flame yang membentuk menjadi cambukan tulang rusuk.
Aku mencambuk, mencambuk, dan terus mencambuk tubuh bajingan sialan itu!! Teriakan yang sangat membuatku ingin terus menyiksanya. Oke cukup, itu sudah seperti salah satu karakter Manga saja. Sebenarnya aku memang menyiksa dia, tapi yang tadi adalah siksaan batin, jiwa, dan fisiknya.
__ADS_1
"Semoga kakak tenang di alam sana, Heaven Ice" Aku membekukan seluruh tubuh Kakak itu, dan terbentuk menjadi crystal.
>Trang!
Crystal Ice itu pecah menjadi butiran partikel dan terlihat menjadi bintang-bintang kecil yang ada di langit malam. Heaven Ice, adalah sihir Ice milikku yang khusus untuk orang-orang yang berdosa ingin bertobat. Kematian yang nyaman untuknya, agar dia tidak tersiksa seperti Kakak yang tadi.
Sekarang tinggal bajingan sampah ini! Aku membelah angin secara vertikal menggunakan tangan kosong, dan tubuh bajingan, mesum, biadab, dan sampah ini!! Terbelah menjadi dua bagian.
Jadi seperti itulah aku membunuh 2 manusia untuk pertama kalinya, tapi memang pantas untuk dibunuh kan? Jadi aku bebas dari jeratan orang tuaku, jika aku membunuh monster kayaknya boleh saja kalo aku minta ijin kepada Ibuku dan Ayahku. "Aku tidak pernah membunuh seseorang kok" Itulah jawabanku👍, mantap bukan? Memilih berbohong daripada tersiksa oleh siksaan Ratu Neraka.
"Hmm...Baiklah Ibu percaya. Oke Mikel dan Chlorine ayo panggil teman-teman kalian untuk datang kesini, kita akan melakukan pesat Reunian!!" Ibuku sangat bersemangat, "Bu, aku akan ke kamar terlebih dahulu", dan Ibuku tidak membalas hanya mengobrol dengan temannya itu.
Malam harinya, pesta para orang tua dimulai. Aku hanya mengawasi dari sudut ruangan, karena kalian tahu jika aku tidak menyukai keramaian dan banyak orang. Soalnya itu akan membuat ruangan penuh dengan tawaan, teriakan, dan nggak tahu apa lagi. Aku melihat Ayahku melakukan panco bersama Ibuku, dan mereka terlihat sama-sama mabuk. Dan aku baru tahu jika Ibuku ternyata lebih kuat daripada penampilannya.
Bahkan Ayahku yang seorang Ksatria Kerajaan kalah panco melawan seorang wanita desa yang polos, ceroboh, bodoh, tapi pintar dalam hal rumah tangga.
__ADS_1