Darkness Inside Me

Darkness Inside Me
Chapter 40 : Pertemuan Tidak Terduga


__ADS_3

"Apa keadaannya sudah membaik?," Tanya Satoru kepada salah satu perawat yang merawat Pangeran Leon. Satoru menatap tubuh Leon yang telah di beri perban keseluruh tubuhnya.


Dia merasa kasihan dan iba terhadapnya, walaupun sedikit kesal sih ... Leon dimatanya terlalu banya bicara dan membuat orang - orang kesal terhadapnya, tapi ada yang bahagia karena sifatnya yang ceria. Informasi ini Satoru dapatkan dari markasnya.


Berbeda dengan sang sepupu yang memiliki sifat berlawanan. Marfel adalah Pangeran berhati dingin, jarang berbicara, dan kaku. Bagi Marfel sendiri dia terlalu mementingkan dirinya sendiri daripada orang Lain, selalu menyendiri dan hanya ditemani oleh Leon.


"Oh, ... Kau berkunjung rupanya? Aku kira kau tidak akan datang ... Pangeran Marfel" Ucap Satoru tiba - tiba, menatap ke arah pintu masuk. Terlihat Marfel sedang menundukkan kepalanya karena tidak sanggup menatap sang sepupu yang terbaring tidak berdaya.


"Kau, ... Kazuki Satoru, salah satu murid di Akademi ini bukan?" Marfel berucap dan bertanya kepada Satoru, dia masih tertunduk dan tidak menatap ke arah Satoru.


"Iya, itu aku. Kau ternyata mengenalku, dari mana kau tahu namaku?"


Nada bicara Satoru perlahan mendingin yang awalnya terdengar santai menjadi mencekam. Dirinya tidak terlalu terkenal di luar Akademi, apalagi di dalam Akademi. Tapi Pangeran di hadapannya mengenal dirinya.


"Tentu saja aku mengenalmu! Kau ... Kau ... Kau adalah murid yang dekat dengan Sang Ratu Bunga Berduri, Rose Black! Gadis yang menjadi idaman setiap pria bangsawan di hampir seluruh negeri"


Marfel seketika panik dan berbicara dengan nada sedikit menaik. Kelihatan dari wajahnya jika dia sedang gugup, kemudian menjadi malu - malu, dimana sifat dan sikapnya tadi?! pikir Satoru berteriak saat ini.


"Haa? ... Aku tidak mengerti, tapi aku baru tahu kecantikan yang dimiliki Rose lebih besar dari yang kuduga. Apa mataku saja yang salah? Kalau dilihat - lihat wajahnya malah mirip ikan" Satoru bergumam dengan pikiran yang dilanda kebingungan.


Hachuu!!


"Ada yang sedang menjelek - jelekkan aku nih, ... Tapi siapa?"


Kembali di sisi Satoru.


"Bagaimana keadaan Leon?" Marfel bertanya kepada Satoru yang masih bergumam tidak jelas. Mendengar pertanyaan dari Marfel, Satoru kembali menatap Marfel.


"Kau bisa lihat bukan? Dia sekarang sudah terluka parah, dan sedang koma. Diperkirakan butuh 6 bulan untuk sembuh, kalau sadari 1 bulan ... Teknik yang kau gunakan tadi saat pertandingan itu, memiliki racun yang merusak saraf dalam tubuh Pangeran Leon. Apa kau tahu itu?"


"A-Aku sama sekali tidak mengetahuinya..."


Ucapan Marfel perlahan menjadi pelan di akhir ucapannya, dia bertambah menunduk dan terlihat lebih menyesal dari sebelumnya. Keinginan kuat saat bertarung dengan Leon, Marfel sangat ingin mengalahkan Leon dan mengeluarkan niat membunuh tanpa disadarinya.


"Haaa~, ... Sebaiknya kau urungkan terlebih dahulu dirimu, jangan mengunjungi Leon karena mungkin saja dia akan merasa trauma saat sadar. Dan itu akan sangat merepotkan"

__ADS_1


"Aku akan pergi terlebih dahulu... Kau jangan lupa, 'istirahat' kan perasaanmu"


Satoru berjalan melewati Marfel yang bergeming di tempat tanpa bergerak, mendengar suara pintu tertutup, Marfel tersadar dan menatap ke arah Leon yang terbaring di atas ranjang dengan tubuh dipenuhi perban.


"Maafkan aku... Leon"


Disisi lain, Satoru berjalan menelusuri lorong Akademi, berjalan menuju ruangan William karena bosan di luar. Dia ingin mengobrol sesuatu dengan Elf Tua itu.


Sesampainya di ruangan William, Satoru mengetok pintu tiga kali hingga sang pemilik ruangan mengizinkannya masuk. Satoru masuk keruangan dan tampak disana sang Adik bermain dengan Elizabeth istri William.


"Amira... Apa yang sedang kau lakukan disini?"


"Apa Kakak lupa? Padahal Kakak yang menitipkan aku disini"


Mendengar jawaban dari Amira, Satoru hanya mengangguk mengerti. Kemudian dia beralih menatap William yang duduk di kursi kebanggaannya, Satoru berjalan menuju kuris di hadapan meja William dan duduk dengan tenang.


"Karena kau sudah berada di sini... Aku ada berita yang penting untukmu"


"Berita apa?"


"Oh, begitu...."


Sepertinya mereka akan benar-benar datang, apa aku harus menyambut mereka. Kazuki Satoru


2 Bulan Kemudian...


"Nox, kau mendapatkan sebuah misi" Ucap tiba-tiba seorang pria dari jendela kamar belajar Satoru, dan secepat itu juga pria itu menghilang dari sana tanpa ada hembusan angin.


Satoru yang mengerjakan beberapa berkas dan tugas dari William yang diberikan kepadanya. Pria muda (Tua) itu berkata jika ia sudah terlalu lama meninggalkan tugas miliknya saat menjalankan misi. Tetapi Satoru hanya biasa saja, karena itu seharusnya tugasnya bukan milik Rose.


Dalam benak Satoru saat ini berkata. "Melelahkan sekali, konflik turnamen baru saja selesai, tugas dari Akademi juga belum selesai, dan sekarang misi baru? Hari yang melelahkan" Satoru bersandar dengan malas di kursinya kebesarannya. Menatap langit-langit ruangan yang gelap, Satoru membayangkan sesuatu.


"Andaikan aku adalah manusia normal dengan kehidupan yang biasa, tapi takdir berkata lain. Masih banyak misteri dalam kehidupan kali ini"


Satoru bangkit dari kursinya, ia melambaikan tangannya dengan pelan dan asap gelap mulai menutupi tubuhnya. Pakaian yang awalnya adalah pakaian tidur berganti pakaian yang sering digunakan Satoru saat menjalankan misi.

__ADS_1


"Malam ini begitu tenang" Sambil menatap bulan yang menerangi dirinya, Satoru lompat dari jendela kamarnya dan menghilang bagaikan angin.


Kota Billburt


Kota kecil di pinggiran perbatasan Kerajaan Winsdom dan Kerajaan Monich adalah kota perdagangan yang sering dikunjungi banyak orang. Misalkan jika ada yang ingin merantau mencari pekerjaan ataupun berjualan untuk penghasilan.


Di kota inilah Satoru menjalankan misinya. Sang MC, Satoru yang sedang berada dalam bar melakukan pencarian informasi dari orang sekitar. Penampilan yang tidak terlalu mencolok dikarenakan ia berpenampilan layaknya penyihir Konjurir. Memakai jubah dan membawa tongkat panjang sebagai inti memperkuat basic attack magic milik para penyihir.


Namun, dimata Satoru tongkatnya saat ini adalah senjatanya andalan miliknya yaitu Kurowashi. Senjata berelemen Kegelapan miliknya karena memang elemen itu yang terkuat dalam list Satoru, dan yang kedua adalah elemen es yang dimana elemen itu berasal dari tubuhnya sendiri yang selalu memancarkan aura dingin.


Kenapa orang-orang di Akademi tidak merasakan aura dingin milik Satoru? Dikarenakan terdapat sihir khusus milik William yang menyembunyikan aura dingin dan meredakan sementara aura dingin milik Satoru. Dan saat ini aura dingin itu menjadi bertambah kuat seberjalannya waktu.


Back To The Topik...


"Hei apa kau sudah dengar tentang penangkapan seorang roh di kota ini? Kudengar roh itu sangat kuat dan cantik. Ia di lelang di tempat biasanya para penjual budak berjualan" Ucap warga random.


"Ya, aku mendengar berita itu. Tapi kata mereka elemen dari roh itu tidak diketahui sama sekali, bahkan beberapa orang yang mencoba untuk mendekati roh itu mereka langsung mati ditempat" Ucap warga random lainnya.


"Aku juga tahu hal itu. BLA BLA BLA..."


Satoru yang mendengar informasi terbaru dan ter hot saat ini. Segera meninggalkan tempat makan itu, karena Roh itu adalah tujuan dari misinya. Ditengah perjalanan tanpa disengaja Satoru menabrak seseorang.


>Brugh!


"Aduh!..." Teriak pelan perempuan tersebut. Ia segera memperhatikan barang belanjaannya yang berhamburan, Satoru yang berada di dekat perempuan itu segera membantu mengambil barang belanjaan milik perempuan tersebut.


Satoru segera meminta maaf sambil membantu perempuan itu. "Maafkan saya yang tidak melihat anda. Saya tadi melamun memikirkan sesuatu"


Suara buatan Satoru yang selalu ia gunakan setiap menyamar jadi seseorang agar tidak ada yang tahu tentang ciri-ciri dirinya. Perempuan itu hanya tersenyum, Satoru belum melihat wajahnya sama sekali karena terlalu fokus mengambil barang-barang belanjaan.


"Tidak apa. Yang penting belanjaan saya tidak ada yang rusak" Suara lembut dan menawan perempuan itu segera menghentikan pergerakan Satoru. Satoru tertegun, ia sangat mengenal suara perempuan tersebut.


Satoru perlahan menatap ke arah wajah perempuan yang saat ini tersenyum cantik kepadanya, senyuman dan wajah polos yang cantik tanpa polesan riasan. Satoru merasakan debaran kencang di dadanya, ia mengingat kejadian 4 bulan yang lalu.


"So... Sonya" Gumam lirih Satoru dengan tatapan sendu dan teduh di balik jubah itu.

__ADS_1


__ADS_2