Darkness Inside Me

Darkness Inside Me
Episode. 38 Volume. 2 Arcania


__ADS_3

>Syuuff~~~!!


Seluruh jendela yang ada di dalam ruangan terbuka secara lebar dan paksa, hembusan angin yang kencang menerpa wajah kedua orang tersebut. Dan disaat itu juga, Satoru berkata kepada William...


"Hem…tentu saja aku akan menang Pak Tua" Balas Satoru, dan saat itu juga Satoru menghilang dari tempat dimana dia duduk tadi.


.


.


.


Disisi Satoru yang berjalan dengan santai di lorong sekolah, tujuannya adalah arena pertandingan para murid. Sesekali ia berpikir suatu hal yang tidak ada hubungannya dengan sekarang ini. Satoru sendiri memang dingin dan cuek dari luar, tapi... kalo dari sudut pandangannya sendiri dia itu adalah orang paling cerewet.


Dalam hati dan pikirannya, ia selalu berbicara kepada dirinya sendiri. Berargumen tidak jelas, pikirannya selalu kemana-mana, tapi anehnya ia tetap fokus berjalan tanpa terhantam sesuatu.


Matanya selalu berfokus kedepan dan sebenarnya Satoru sedang melamun dengan ekspresi wajah datar, murid-murid yang melihatnya hanya menatap kagum dan terpesona dengan parasnya yang sangat tidak manusiawi.


Bahkan 1 bulan lalu tanpa disadari oleh Satoru saat tertidur adalah kaum-kaum bidadari sedang mengawasinya dari dekat. Sangking tampannya bahkan bidadari dari dunia atas harus turun untuk melihat ketampanan Satoru, para kaum malaikat hanya bisa menatap Satoru dengan perasaan sedikit iri.


Para kaum Malaikat dan Bidadari di dunia ini memiliki watak yang baik, sopan, lembut, dan penyayang. Berbeda dengan kaum Iblia yang kebalikan dari kaum Malaikat. Oke kembali ke cerita...

__ADS_1


Satoru telah sampai ketujuannya, ia bertemu dengan Rose dan Evan yang sedang menunggu dirinya dari depan gerbang masuk para murid khusus yang ikut berlomba. "Kenapa kalian ada disini?" Satoru berhenti tepat depan mereka berdua dan bertanya dengan alis yang terangkat.


"Kami hanya menunggumu saja, karena waktunya sangat mepet sekarang" Evan yang menjawab pertanyaan Satoru, dia merangkul pundak Satoru dan menariknya masuk ke dalam ruangan tunggu. Satoru hanya bisa diam dan mengikuti, sedangkan Rose sendiri ia lebih mengikuti dari belakang Satoru dan Evan.


Satoru mengambil sesuatu dari kantong celananya dan terlihat lah sebuah topeng wajah bagian atas yang sering digunakan olehnya. "Cepat sekali kau memakainya kembali? kukira kau akan melepasnya terus" dan Satoru membalas. "Aku tadi hanya ingin merasakan sejuknya angin pagi ini, masa aku terus menerus memakai topeng kan panas bodoh"


"Oh iya...hehe, maaf aku lupa. Baiklah ayo kita ke ruang tunggu, perlombaan akan segera dimulai jadi persiapkan diri kalian berdua" Evan terkekek di awal, dan akhirnya kembali serius. Ia menatap kedua manusia beda kelamin itu dengan serius, walaupun dia tahu jika kedua orang itu sudah siap dari awal. Tapi dia hanya akan mengingatkan saja.


"Tidak perlu kau ingatkan... kau tahu kalau kami berdua selalu Siap/Siap!" Satoru dan Rose berkata dengan perkataan yang sama dan juga di saat yang bersamaan. Evan hanya bisa terdiam sesaat dan akhirnya dia menghela nafas lemas sambil menggaruk belakang kepalanya. "Haaa...Terserah kalian berdua saja"


"Satoru, kali ini senjata apa yang akan kamu pakai?" Rose bertanay seperti itu karena ia tahu jika Satoru memiliki banyak senjata, hampir setiap misi mereka. Satoru selalu berganti senjata-senjata dari dalam cincin penyimpanan miliknya. "Aku akan menggunakan Sycthe, kali ini aku akan menjadi Pencabut Nyawa bagi Akademi lain"


Senjata itu adalah Scythe milik Satoru yang ia jarang gunakan karena terlalu berat dan susah untuk ia pelajari. Elemen yang terdapat dari senjata tersebut adalah Kegelapan dan Petir. Sycthe milik Satoru memiliki sebuah rantai di bagian bawah yang melilit tangan Satoru seperti senjata itu tidak bisa terlepas dari Satoru.


Senjata-senjata Satoru sendiri memiliki jiwa masing-masing tapi Satoru tidak mengetahui hal itu. Karena kalo senjata atau familiar yang diberi nama maka senjata akan memiliki jiwa dan familiar akan menjadi kuat sekaligus bisa berbicara.


"Bukankah itu terlalu besar? Apa kamu bisa menggunakannya?" Rose menatap Satoru dengan heran, ia memperhatikan senjata yang ada di pangkuan pundak Satoru. Senjata itu sangat besar dan terlihat sangat berat di mata Rose, bahkan murid-murid yang melewati mereka berdua tidak bisa melepaskan pandangan heran mereka kepada Satoru dan Rose.


"Aku tidak memiliki senjata lainnya, semua sudah kugunakan dan hanya senjata ini yang belum pernah aku gunakan. Jadi kasihan, makanya aku gunakan dia" Jelas Satoru berjalan melewati Rose dan menuju Evan yang menunggu mereka.


Beberapa saat kemudian, perlombaan telah dimulai. Para penonton berteriak kencang, perlombaan yang hanya diadakan 5 tahun sekali itu sangatlah meriah bagi para warga di seluruh berbagai kerajaan. Walaupun ada yang tidak bisa menonton, tenang... para Penyihir tipe non-element Dimensi.

__ADS_1


Jadi para penyihir Dimensi akan menampilkan layar hologram keseluruh benua Arcania agar para warga bisa menonton. Bisa dibilang seperti kameraman dari saluran televisi, penyihir Dimensi sangat banyak di benua Arcania. Kalian berpikir jika mereka kuat? Sama sekali tidak! Mereka penyihir Job Support kalau disini.


Sungguh kasihan bukan? Padahal di novel-novel, game, ataupun film pasti yang memiliki kekuatan Dimensi mereka adalah karakter yang kuat. Berbeda besar di novel ini.


Back to the story. Satoru duduk dengan kaki bertumpu di pahanya, memeluk senjatanya dengan melipaf kedua tanganya di dada dan kepala tertunduk. Yap benar, Satoru sedang tertidur karena mengantuk. Saat ini ia menunggu waktunya tiba untuk bertarung, dan pertarungan dimulai yang diawali pertarungan antara Akademi Sun Lion dari timur melawan Akademi Moon Wolf dari utara.


Kedua Akademi yang diakui banyak orang kalau kedua Akademi ini adalah rival, tapi kenyataannya ada mereka Akkademi antar saudara. Kedua Akademi tersebut di pimpin oleh dua saudara kembar identik, orang-orang kira kedua saudara itu selalu bertarung jika bertemu. Padahal tidak, itu hanya sebuah salam bagi mereka.


Disisi Akademi Sun Lion dipimpin oleh Jack Martinus Sun, dan Akademi Moon Wolf dipimpin oleh Jason Marcus Moon. Yang satu berambut pirang emas dan yang satunya berambut perak, memiliki paras tampan di usia mereka yang udah mencapai 100+ tahun keatas. Tapi terlihay seperti pria paruh baya usia 40- tahun.


"Baikla mari kita sambut dari sisi kanan panggung yaitu, Pangeran Akademi Sun Lion, Leonardo Goldsun. Anak dari Kepala Akademi Sun Lion, kekuatan yang sangat kuat dan idola para kaum hawa yang ada disini bukan? Haha... Baiklah di sisi kiri kita sambut meriah sang Pangeran Akademi Moon Wolf, Marfelino Moonstar. Yah itu pengenalan yang sangat singkat....Mari kita mulai pertandingan!!!" Sang pembawa acara berteriak dengan ceria, dan para penonton membalas dengan sorakan di antara kedua sisi.


"Halo kak Marfel!! Hari ini kita bertarung lagi yah!" Kata Leon dengan nada bahagia dan penuh semangat. Dia mengarahkan tinjunya kepada Marfel yang berwajah datar dan mata dingin, bagaikan panasnya matahari dan dinginya bulan.


"Hmm..." Hanya itu balasan Marfel, ia mengeluarkan pedangnya dari sarung pedang. Pedang perak yang mulus bersih tanpa lecet, seperti senjata yang baru saja digunakan saat ini. Senjata khusus kerajaan Moon Night, senjata yang seperti senjata rakyat Elf yang sangat tajam.


"Seperti biasa, kau sangat dingin Kak... Tapi aku tahu kau sangat bersemangat melawanku bukan?" Leon juga mengeluarkan senjata yang ia miliki yang berupa Pedang Rantai. Pedang itu baru ia keluarkan, api sudah menyelimuti pedang itu di sekujur seluruh pedang tersebut dan mengitari Leon seperti melindunginya.


"LET'S THE FIGHT BEGIN!!!!!!!!!!!!"


>Sorry Baru Update Kawan-kawan, Karena Saya Sangat-sangat Sibut Di Real Life Jadi Saya Ingin Berkata Gomen Nasai

__ADS_1


__ADS_2