Darkness Inside Me

Darkness Inside Me
Episode. 39


__ADS_3

"LET'S THE FIGHT BEGIN!!!!!!!!!!!!"


.


.


.


"Hahaha... Seperti biasa kak, kau sangat hebat. Tapi... itu masih belum seberapa" Ucap Leon yang tertawa bahagia dan menjadi serius.


Ia menyerang Marfel dari atas langit, mencambuk-cambuk Marfel. Marfel sendiri merasa kewalahan, serangan yang dimiliki Leon sangat kuat dan juga memiliki jarak yang luas. Sedikit saja ia terkena api dari Pedang Rantai Leon, maka itu adalah kesalahan fatal.


"《Sun Magic....》" Pedang Rantai Leon kembali ke arahnya. Senjata itu memberi jarak dan membentuk bulat seperti Matahari. Marfel yang melihat itu merasa waspada, ia mengeluarkan teknik yang ia miliki untuk menahan atau menyerang Leon.


"《Moon Magic....》" Pedang Marfel bersinar terang seperti Bulan di malam hari. Ia mengambil ancang-ancang untuk menyerang Leon di saat bersamaan. Leon hanya tersenyum melihat kakak sepupunya tersebut, dan....


"Moon Sword Technique: Dragon Tail Blow/Sun Chain: Thorns of Hell!!!!!!!" Mereka berdua berteriak disaat bersamaan. Aura dingin dan panas menutupi tubuh Leon dan Marfel...


>Boom!!!!!!!


Tanah pijakan mereka retak besar, kecepatan mereka tidak terlihat oleh siapapun yang menonton kecuali para ahli. Disisi Satoru, ia terbangun saat mendengar suara ledakan dan merasakan aura panas dan dingin. Tapi baginya panas dan dingin itu terlalu kecil tidak dengan tubuhnya yang dingin dan panasnya Black Flame miliknya, jadi ia memutuskan untuk tidur kembali.

__ADS_1


Kembali ke sisi orang yang bertarung. Leon dan Marfel saling menyerang dan bertahan, kekuatan mereka setara dan juga kecepatan mereka berdua pun sama. Leon ingin menangkap Marfel dengan Pedang Rantainya tetapi Marfel menepisnya dan menerjang ke arah Leon.


"《Moon Magic, Moon Sword Technique: Moon Shard Slash》" Marfel yakin jika serangannya tersebut akan mengenai Leon. Tapi ia terlalu meremehkan adik sepupunya tersebut, Leon hanya tersenyum simpul. Ia sudah tahu hal ini akan terjadi, Marfel menyadari satu hal yang terjadi.


Ia pun berbalik dan melihat Pedang Rantai milik Leon menyerang ke arahnya, Marfel sedikit menggerakkan tubuhnya kesamping. Ia tidak bisa menghentikkan serangannya tersebut, jadi ia mengarahkannya ke arah lain.


>Jleb!!


"Ugh!!" Pundak belakang Marfel tertusuk, ia bisa merasakan panas dari Pedang tersebut. Panas itu menjalar keseluruh lengan Marfel, ia mencoba untuk meredakannya dengan sihir Bulan miliknya yang dingin. "Kak Marfel, jangan ditahan jika ingin berteriak. Ayo Kak berteriak lah, agar bisa melepaskan kelegaanmu" Ucapan Leon membuat Marfel kesal, apalagi ditambahkan senyuman polos dan tidak berdosa milik Leon.


Sialan. Aku akan memukulmu saat pulang nanti, awas saja kau!!. Batin Marfel berteriak kesal, adik sepupunya ini sangat manja kepadanya jika di kerajaan. Tapi jika sparring, yah ini lah yang terjadi. Leon menjadi sedikit serius dan kuat, tidak terlihat sama sekali sifat kasihan dan manja kepada Marfel.


>Trangg!!


Marfel mematahkan ujung pedang milik Leon, lalu menyerang Leon agar ia menjauh. Leon menghindari serangan Marfel, Marfel langsung mencabut ujung pedang yang tertancap di belakang pundaknya tersebut. Ia tidak merasakan sakit, karena baginya ini sudah sering terjadi.


"Akan aku akhiri ini... Leon" Gumam Marfel menatap dingin dan tajam menusuk ke arah Leon yang juga menatapnya dengan wajah serius. "Moon Magic..."


Leon langsung mengambil posisi bertahan, ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi yang ada dalam pikiran dan hatinya berkata untuk waspada dan bertahan, pedang rantai Leon kembali menjadi satu dan Leon membentuk pedangnnya menjadi perisai.


"《Moon Sword Technique: Red Moon Ancestor》" Aura merah darah yang terang benerang menyelimuti tubuh dan pedang Marfel, matanya bersinar merah dan memancarkan aura dingin.

__ADS_1


Tebasan besar dia arahkan kepada Leon yang mengambil posisi bertahan, tebasan sabit berwarna merah dengan beberap bulan sabit kecil yang berada di tebasan tersebut. Tebasan horizontal itu memiliki besar setengah arena pertandingan, yang dimana dinding tempat para peserta masuk menjadi hancur.


>BOOOM!!!!!!!!!


Serangan itu telah mencapai Leon, kumpulan asap sangat besar menutup pandangan siapapun. Semua penonton terbatuk-batuk karena asap dan debu dari serangan Marfel, diatas arena sama sekali tidak kelihatan apapun. Semua hanya bisa menunggu hingga asap dan debu menghilang.


Beberapa menit kemudian. Debu dan asap telah menghilang dan memperlihatkan 4 orang yang berada di atas arena, terlihat Marfel masih dalam posisi menebas, sedangkan Leon sudah terkapar dengan banyak luka. Orang lain yang ada di atas arena ada Kepala Akademi William dan seorang pemuda berambut hitam keperak-perakan sedikit panjang menahan Marfel dengan sebuah senjata yang sering digunakan oleh Malaikat Pencabut Nyawa.


Pemuda itu adalah Satoru, ia terbangun saat serangan Marfel telah diluncurkan dan menghancurkan dinding yang ada dihadapannya. Satoru mengarahkan Sycthe miliknya ke arah leher Marfel dan berkata dengan begitu dingin.."Jangan pernah membuat serangan sebesar itu di kandang orang lain, jika kau menginginkan kematianmu begitu cepat" Wajah dingin Satoru berada di samping wajah tampan Marfel, ia membisikkan kata-kata tersebut.


Tubuh Marfel bergetar hebat, ia menjadi takut. Bukan kepada Satoru, tapi kepada adik sepupunya yang terluka sangat parah. Dalam hatinya ia merasa bersalah karena terlalu berlebihan saat mengeluarkan teknik terkuat miliknya. Dan ia sangat terkejut saat sebuah Sycthe sudah berada di lehernya, bergerak sedikit saja ia akan mati.


Marfel tidak mengetahui Sycthe milik siapa ini? Tapi saat merasakan tubuhnya menggigil, betul-betul sangat menggigil. Ia ingin melihat ke arah samping tapi ia tidak berani, Marfel merasakan aura dingin itu mendekat dan berhenti tepat disampingnnya dan disitulah ia mendengar perkataan Satoru.


"Bagaimana keadaannya?" Satoru mendekati William yang sedang melihat keadaan Leon yang terlihat mengenaskan, "Kondisinya sangat parah... Panggil para penyembuh, cepat!!!" William berteriak memanggil tim penyembuh.


"Gunakan ini untuk menutup beberapa lukanya" Satoru melemparkan sebuah botol yang berisikan sebuah ramuan obat. Kemudian Satoru memilih turun arena untuk kembali beristirahat sekaligus bertemu Rose dan Evan.


William menangkap botol pemberian Satoru dan meminumkannya kepada Leon. Selang beberapa saat kemudian, luka-luka kecil yang ada pada tubuh Leon menutup dan darahnya berhenti mengalir.


"Baiklah, tadi itu pertandingan yang sangat luar biasa semuanya... Dan arena saat ini sudah begitu hancur lebur, jadi sepertinya pertandingan berikutnya akan dihentikan sementara yah. Kalau begitu semuanya permisi" Pembawa acara itu memberi pengumuman kepada seluruh penonton. Ia melihat ke arah bawahnya yang dimana sudah begitu hancur dan berantakkan. Haha... sungguh pangeran-pangeran yang berbakat di usia mereka yang begitu muda....Dan.... pemuda tadi terlihat sangat kuat.

__ADS_1


__ADS_2