
"Kita sampai!"
Seorang gadis berambut pirang cerah membentangkan kedua tangannya ke samping, berseru dengan semangat saat baru menapakkan kakinya di komplek khusus ini.
Di belakangnya, seorang lelaki muda berambut coklat tua yang pendek dipangkas rapi serta berwajah sedikit garang tertawa melihat sikap gadis di depannya ini.
"Kau bersemangat sekali ya, Lisa" ucap Roby.
"Oh, tentu saja" tiba gadis lain yang langsung merangkul pundak Lisa. "Dia sudah lama sekali ingin ke sini" ucap gadis berambut hitam sepunggung itu, Anna.
"Benarkah?"
Muncul lagi seorang pemuda berambut hitam dan bertubuh tinggi, Fio.
Dia menghampiri mereka ketiganya bersama lelaki yang tampaknya lebih muda darinya. Dengan rambut hitam yang poninya sudah menutupi sebagian matanya. Lelaki itu sibuk dengan ponselnya dan terlihat cuek dengan sekitar, Alvin.
"Benar" Lisa mengangguk. "Sudah lama aku ingin ke perpustakaan dunia ini"
"Kalau begitu, kita masuk!" ucap Roby dengan semangat.
Gedung perpustakaan ini sangat besar. Jangankan gedungnya, halaman serta fasilitas yang ada di luar perpustakaan juga begitu luas. Di kelilingi oleh bangunan segi empat dan lahan parkir yang luas serta taman bunga tulip yang menjadi tempat foto bagi para pengunjung.
Dengan desain klasik, bangunan ini sudah hampir mirip seperti kastil kerajaan pada masa lampau. Berwarna emas dan terdapat patung elang raksasa di depan.
"Terima kasih, silahkan masuk"
"Terima kasih"
Setelah mengurus beberapa hal di meja administrasi, mereka diperbolehkan masuk. Perpustakaan ini benar-benar kelas dunia. Di dalamnya berisi ratusan bahkan ribuan buku yang berbaris di rak-rak yang ukurannya juga tidak kecil dan biasa. Yang paling menarik perhatian mereka adalah buku-buku yang terletak di dinding. Dinding itu berubah fungsi menjadi rak.
Lampu gantung dan berbagai macam furnitur yang ada menambah kesan mewah pada perpustakaan ini. Jumlah pengunjung yang tidak terlalu ramai membuat siapapun penggemar buku akan betah di sini.
"Baik, wilayah mana yang akan kita kunjungi terlebih—"
Sebelum Fio menyelesaikan ucapannya, ketiga temannya langsung mengusul pendapat dengan semangat. Lisa dan Roby mengusulkan mereka langsung ke wilayah fantasi, sedangkan Anna lebih memilih ke wilayah misteri.
Anna yang mendengar Lisa mengusulkan pergi ke tempat di mana buku-buku fantasi berada membuatnya keheranan.
"Serius?"
Anna tahu kalau Lisa adalah penggemar romance dan misteri. Fantasi bukanlah kegemaran asli dari gadis berambut pirang ini.
"Aku hanya mencari sesuatu yang berbeda. Aku jarang membaca fantasi, jadi..." Lisa tersenyum malu ketika mengatakan hal yang sebenarnya.
"Apa boleh buat" Anna menghela napas. "Kalau begitu, kita ke fantasi dulu, lalu ke misteri"
"Bagus, Lisa" Roby tersenyum lebar. Sama halnya dengan Anna, Roby juga sempat kaget, namun ia senang karena ia tidak perlu ke wilayah misteri dan lainnya terlebih dahulu.
"Baiklah, kita ke fantasi. Alvin, kau?" Fio menoleh ke Alvin yang masih sibuk dengan ponsel ditangannya.
"Aku ikut saja" ucapnya, singkat.
Setelah mendapat konfirmasi dari Alvin, mereka bersama-sama menuju ke wilayah fantasi. Setiap buku di sini memiliki genre dan wilayah yang bermacam-macam, jadi supaya tidak membuat pengunjung pusing, pihak perpustakaan telah mengatur di mana letak buku sesuai jenisnya.
"Woah, lihat ini!"
Roby yang begitu sampai ke wilayah ini langsung menghampiri satu per satu buku.
"Semua buku yang ada di internet ternyata ada di sini!"
"Tentu saja, bodoh. Namanya perpustakaan dunia, pastinya buku-buku yang kau lihat di internet ada di sini" gerutu Anna.
Sementara Roby, Anna dan Alvin mencari buku yang sesuai dengan minat mereka, Lisa terpaku pada sebuah buku yang terletak paling pojokkan, tersisih dari yang lain.
Ia mengambilnya, ternyata sudah berdebu. Lisa meniup debu-debu itu dari sampul buku. Begitu debu itu hilang, judul dari buku tersebut akhirnya terlihat. Di warnai dengan warna emas, sedikit berkilau. Sampulnya berwarna merah, sedikit berbulu.
"Dataran Lafier?"
"Ya ampun!"
Ketika Fio mengeja nama judul buku tebal ini, Lisa menjerit kaget. Gadis ini saking terpakunya pada buku tersebut sampai-sampai ia tidak menyadari keadaan sekitarnya.
"Fio!" Lisa menggeram lalu memukul bahu Fio dengan pelan.
"Kenapa?" Fio tertawa geli melihat reaksi Lisa.
__ADS_1
Setelah mendengus kesal, Lisa kembali mengarahkan pandangannya kembali ke buku.
"Buku ini sepertinya sudah lama sekali, sampai berdebu" ujar Fio sembari mengelus sampul buku.
"Kenapa letaknya di bedakan dari buku lainnya?" tanya Lisa.
"Hey, kalian sudah dapat?"
Saat itu juga Roby dan yang lainnya datang. Mata Fio terbelalak saat melihat tumpukan buku yang di bawa Roby dikedua tangannya yang sedikit kekar.
"Aneh, bukan?" Anna berpendapat saat melihat reaksi Fio.
"Ayo, ke meja" Alvin lebih dulu melangkah menuju meja. Buku yang ia bawa tipis, tidak seperti yang lain.
Mereka semua duduk bersebrangan. Anna duduk di samping Roby, sedangkan Lisa berada di antara Fio dan Alvin.
"Buku apa itu?" tanya Anna.
"Entahlah. Roby, kau tahu?" tanya Lisa pada Roby.
"Hm?" Roby mengerutkan dahinya ketika melihat buku tersebut. "Tidak, aku tidak tahu buku apa ini"
"Bagaimana isinya?" tanya Fio.
Lisa membuka halaman pertama, tidak ada daftar isi atau kata pengantar. Lisa langsung disambut oleh Bab Satu, Selamat Datang.
Karena penasaran, Fio mendekat dan ikut membaca. Tulisan yang ada di buku ini lumayan kuno tapi rapi, sehingga mereka bisa membacanya dengan mudah.
"Coba kau bacakan untuk kami" ujar Anna. Lisa mengangguk dan mulai mengucapkan kata demi kata.
Gadis itu terlihat serius, suaranya yang anggun keluar untuk menceritakan kisah yang ada pada buku ini. Hal itu membuat Fio sedikit melirik wajah Lisa. Matanya yang terfokus pada buku dan anak rambutnya yang satu per satu jatuh menutupi wajahnya, membuat Fio tertegun. Lisa terlihat begitu cantik dan ia tidak ingin lepas dari kecantikan itu.
Alvin melirik sedikit ke samping dan mendapati Fio yang diam-diam memperhatikan Lisa dari samping.
"....Berada di dalam hutan yang lebat dan, eh?"
Begitu Lisa hendak membalikkan halaman, ia mendapati halaman selanjutnya sobek.
"Ada apa?" tanya Roby.
"Ini sobek. Lihat" Lisa memperlihatkannya. Benar, halaman tersebut sobek, seperti ada yang menyobekkannya dengan sengaja.
"Hmm... ini membuatku semakin penasaran" Fio berpendapat. Kini, semua teman-temannya menoleh ke Fio. "Buku ini terlihat kuno dan letaknya jauh dari buku lain. Tidak ada daftar isi dan kata pengantar lalu ini ada halaman yang sobek. Pinjam"
Fio mengambil buku itu dari tangan Lisa. Ia memeriksa halaman selanjutnya, ternyata ada dan terus seperti itu.
"Berarti, halaman ini memiliki info yang tidak boleh orang lain tahu" sambung Fio.
"Coba lihat halaman paling akhir" usul Anna.
Lisa menurut dan membuka halaman yang paling akhir. Ia mendapati tulisan tegak sambung yang berbunyi, jangan ada satupun halaman yang hilang atau hal yang buruk akan terjadi.
"....Tertanda A. I. Winston" gumam Lisa.
"Siapa A. I. Winston?" tanya Roby.
"Siapapun itu, pasti penulis buku ini" jawab Anna, yakin.
"Kita sobek?" tanya Fio.
"Apa?" Lisa, Anna dan Roby menoleh kearahnya secara bersamaan dengan menatapnya heran dan bingung.
"Kita sobek, bagaimana?" tanya Fio sekali lagi.
"Kau serius? Di sini kita sudah diperingati untuk tidak menyobek kertas. Bagaimana hal yang buruk mendatangi kita?" Roby balik bertanya.
"Kita belum tahu. Entah ini asli atau bukan, lagipula kita bukan di dunia fantasi yang nantinya kalau kita sobek kita akan masuk ke dalam dunia lain" Fio sedikit tertawa saat menjelaskan.
"Ini seperti yang ada difilm dan dinovel atau dikomik yang kubaca setiap hari" Alvin membuka suaranya. Pemuda itu tampak tidak peduli dan tidak penasaran, ia tetap membaca buku tipisnya dengan kepala yang ditopang oleh tangan kanannya.
"Mungkin hal itu akan terjadi. Di mana karakter utama akan membuat pilihan, dari sana masa depan karakter itu akan di tentukan. Klasik" lanjut Alvin.
"Tapi tetap saja kita tidak bisa membuktikannya" Fio masih bersikukuh.
Anna dan Roby masih ragu. Sejujurnya, mereka sama penasaran dengan Fio tapi ketakutan mereka lebih besar dari rasa penasaran itu sendiri.
__ADS_1
Fio pun menyobek salah satu halaman dengan cepat. Halaman itu kini berada di tangan Fio. Teman-temannya yang melihat itu kaget dan tercengang melihat tindakan yang diambil oleh Fio.
"Fio, k-kau..." Roby saja sampai kehilangan kata-kata.
Mereka menunggu beberapa saat kemudian, namun tidak terjadi apa-apa.
"Ternyata hanya omong kosong"
"Tapi kita akan ganti rugi, dasar gila!" bisik Roby, kesal.
Triing!
Tiba-tiba saja, sebuah bunyi seperti bel muncul, membuat mereka kebingungan. Alvin yang dari tadi membaca dengan malas sedikit tertarik perhatiannya. Pandangannya tertuju pada buku yang mulai mengeluarkan cahaya keemasan.
"Apa itu?" Anna yang menengok ke atas mengarahkan pandangannya menuju buku. "Astaga"
"Bukunya.." Lisa menjauhi buku itu, ia berdiri, semua temannya turut berdiri.
"Kenapa bukunya bercahaya?" tanya Fio.
"Uuh.. ada yang bisa menjelaskannya?" Roby langsung mengambil ponselnya yang ada di atas meja.
Buku itu terbuka lebar menuju halaman tengah. Mendadak, tubuh mereka seperti ditarik oleh sesuatu.
"Eh?"
"Kalian ditarik?"
Anna dan Lisa saling bertanya, tapi tidak ada satupun yang bisa menjawab. Tarikan itu semakin erat dan kuat, memaksa mereka mendekat ke buku.
Roby dan Fio menjatuhkan diri ke lantai dan berpegangan pada sesuatu, Lisa dan Anna juga begitu. Alvin dengan sekuat tenaga meraih tiang yang ada di belakangnya.
"Apa yang terjadi?!" Roby histeris.
"Tarikannya semakin kuat!" teriak Lisa.
"Buku itu memaksa kita masuk ke dalamnya!" jelas Alvin. "Sudah kuduga ini mirip seperti difilm-film"
"Terima kasih atas dugaannya, kita akan masuk ke dalam buku itu!" Fio menggerutu.
"Aku tidak bisa menahannya lagi!" Anna kehilangan pegangannya, tarikan itu semakin kuat. Alhasil, Anna tertarik masuk ke dalam buku dan menghilang begitu saja.
"Anna!" teriak Lisa.
"Aku tidak kuat lagi!" Roby merelakan dirinya masuk.
"Sial, Roby!" teriak Fio.
Alvin mengarahkan pandangannya ke sekitar, tidak ada cara lain untuk selamat dari tarikan ini.
"Oke, bye" Alvin pun menyerah dan masuk ke dalam buku.
Lisa yang berusaha mati-matian untuk tidak masuk perlahan kehilangan kekuatannya untuk bertahan.
"Tolong aku!" jerit Lisa.
Fio melebarkan matanya pada Lisa. Keadaanya juga tidak kalah parahnya dari Lisa.
"Fio!!" teriak Lisa sebelum ia benar-benar masuk ke dalam buku itu.
"Sial..." Fio marah pada dirinya sendiri. Mau tidak mau, ia harus ikut ke dalam dan melihat ada apa di sana.
Sosok lima remaja itu lenyap begitu saja. Buku yang awal mulanya terbuka, membalikkan halaman dengan sendirinya menuju halaman bagian akhir.
Di sana tertulis...
"Kelima orang itu harus memutuskan siapa diantara mereka yang patut dikorbankan..."
———
**Hello!!
Huehuehe, apa kabar? Selamat datang di kisah baru yang saya ciptakan ini.
Berjudul 'Dataran Lafier'. Mengisahkan kelima remaja yang terjebak di dunia fantasi.
__ADS_1
Kisah ini mungkin terinspirasi dari 'Narnia' dan anime isekai-isekai lainnya. Ya gitu lah, semoga suka dengan kisah ini, saya harap gitu :v
Next - Ch.1 - Selamat Datang**!