Dataran Lafier

Dataran Lafier
Ch.27 - Langkah Baru


__ADS_3

Alvin tidak ada di kamarnya setelah Roby mengajak Fio untuk memeriksa kamar inap Alvin.


Memang Alvin tidak ada di sana, tapi ranjangnya terlihat rapi, seperti tidak ada yang menempatinya. Fio datang mendekat dan meraba alas kasur itu.


"Sedikit hangat" kata Fio. "Dia belum lama pergi"


"Kita harus mencarinya" ujar Roby. Fio setuju dan mereka berdua beranjak dari sana.


Mereka keluar dari gedung ini dan berjalan di jembatan gantung untuk sampai ke pohon yang satunya. Mereka berhenti di jembatan sejenak untuk melihat-lihat ke bawah, barangkali mereka menemukan Alvin di sana.


"Fio, Roby?"


Lisa dan Anna datang. Mereka kebingungan melihat dua lelaki itu di luar sini, terlebih lagi Fio yang belum diperbolehkan keluar.


"Sedang apa kalian?" Lisa bertanya.


"Fio, kau bukannya belum boleh keluar?" Anna ikut menambahkan pertanyaan.


"Alvin tidak ada di kamarnya" jawab Fio.


"Kami sedang mencarinya ini. Lebih baik kalian ikut bantu" tambah Roby.


Kedua gadis itu terkejut dan langsung setuju untuk membantu mereka dalam mencari Alvin. Mereka menyebar ke beberapa tempat di desa ini dan bertanya ke warga yang berlalu lalang.


Ciri-ciri Alvin ini sederhana, ia mirip seperti orang tanpa ekspresi, rambut berantakan, tinggi 171 cm dan yang terpenting adalah ia bukan Elf. Mereka yakin kalau Alvin masih mengenakan pakaian pasien.


Butuh waktu yang cukup lama untuk mereka mencari Alvin. Para warga juga tidak melihat sesosok Alvin berkeliaran di sekitar mereka.


"Apa anda melihat seorang berpakaian pasien di sekitar sini?" tanya Fio.


"Maaf, aku tidak melihatnya" Ibu ini menggeleng. "Ah, sepertinya aku melihat satu"


"Benarkah? Di mana?"


"Di bar itu" Ibu ini menunjuk ke bar yang ada di seberang jalan sana.


Fio berterima kasih dan langsung menuju tempat itu. Bar ini terletak di dalam pohon dan pengunjungnya sedikit ramai, Fio pun menjadi ragu. Biasanya Alvin tidak suka tempat yang ramai, selain itu ini adalah bar, Alvin sepertinya juga tidak menyukai tempat ini.


Namun, ia harus memeriksanya.


Fio masuk melewati sepasang daun pintu bar. Begitu masuk, matanya segera disambut dengan pemandangan bar yang tenang. Di sini cukup, walaupun sedikit ramai.


Meja-meja bundar kayu terletak memenuhi bar, lalu ada panggung kecil untuk ditempati beberapa orang yang sedang melantunkan musik. Fio masih mencari keberadaan Alvin di sini, sampai ia menemukan seseorang yang berpakaian pasien di meja bartender.


Fio bergegas menghampirinya dan menyapa orang itu dengan memanggil nama Alvin. Namun, Fio salah orang, nyatanya itu adalah Sien yang sedang sedikit mabuk.


"Sien?"


"Fio ... sedang apa di sini?" tanya Sien. Ia masih bisa mengendalikan dirinya.


"Kukira kau adalah Alvin" Fio menghela napas. "Aku sedang mencarinya"


"Maaf, aku tidak melihatnya" Sien menggeleng pelan. Fio memperhatikan Sien sedang sibuk dengan minumannya, alhasil Fio pamit dari sana.


Sudah cukup lama ia mencari Alvin, tapi tidak kunjung ketemu. Ia memilih duduk di kursi taman untuk melepas penat.


Lalu, tidak lama kemudian, Roby dan Lisa datang. Mereka berdua duduk di samping Fio dengan tujuan sama-sama melepaskan rasa lelah dari tubuh mereka.


"Kalian juga tidak ketemu, ya?" Fio bertanya tanpa menoleh.


"Ya" jawab mereka serentak.


Ketiganya pun menghela napas secara serentak.


Kemudian, Anna datang dengan membawa semangkuk es krim. Gadis itu tampak menikmati cemilannya sambil duduk di samping Lisa.

__ADS_1


"Kalian murung sekali" ujar Anna.


Ketiganya ingin protes, tapi rasa penat ini sudah menguasai mereka. Anna tetap saja menyantap es krim itu.


Fio mendengus pelan. Jika bukan karena Alvin, ia tidak akan keluar sore-sore begini. Namun, mendadak ia teringat ucapan Caligria.


..


"Kau mempunyai teman-teman yang siap membantu, tapi kau tidak ingin merepotkan mereka atas kesalahan yang kau perbuat"


"Cobalah meminta bantuan dari mereka. Aku tahu kalian berteman sangat baik dan mereka menunggumu untuk memberi aba-aba"


..


Mungkin karena mereka berkumpul di sini, membuat Fio kembali mengingat permasalahan utama mereka.


"Teman-teman, aku ingin bicara kepada kalian. Apakah kalian mau mendengarkannya?"


Ketiga temannya menoleh pada Fio. Mendadak saja Roby merangkul lelaki itu.


"Jangan minta izin seperti itulah" Roby tertawa. "Kalau mau curhat, ya silahkan. Kami akan senantiasa mendengarnya"


Fio tersenyum. "Terima kasih"


Ia mulai mengutarakan perasaannya. Fio merasa permasalahan ini harus dibagi kepada mereka. Fio tidak bisa menanganinya sendiri, ia harus meminta tolong kepada teman-temannya.


"Sebelumnya aku berpikir kalau aku harus menebus kesalahanku untuk membawa kita semua pulang, namun sepertinya aku terlalu ceroboh" ia menjeda kalimatnya. "Aku sadar kita semua dalam bahaya. Kematian bisa saja menjemput kita kapan saja dan kalau ada sesuatu yang terjadi pada kita, akulah yang akan bertanggung jawab ..."


Fio melanjutkan, "Aku tidak akan memaafkan diriku kalau adalah salah satu dari kita yang mati di sini. Namun, aku tidak bisa membawa kalian semua keluar dari sini hidup-hidup jika ... kita semua tidak saling percaya. Maksudku, aku ingin minta tolong. Aku sadar ini adalah salahku dan rasanya aku ini adalah pengecut untuk membawa kalian dalam masalah yang kubuat, tapi ..."


Tiba-tiba, Roby memukul kepala Fio dari belakang.


"Apa yang kau lakukan, Br*ngsek?!" Fio mendecak kesal. Padahal ia sedang serius-seriusnya, tapi Roby malah menganggunya.


"Jangan dramatis seperti itu, kami semua sudah sadar" Roby tersenyum lebar.


"Ya, kalau kau itu bodoh dan pengecut" sahut Anna.


"Maksudnya adalah ... kami tidak pernah membebankanmu dalam masalah ini, Fio" jawab Lisa. "Meski kau yang membuat keputusan gila itu di perpustakaan, kami tidak pernah menyalahkanmu"


"Aku tahu di dunia ini banyak hal gila, tapi kita juga menemukan hal yang indah dan tidak akan ditemukan oleh orang manapun di dunia" tambah Roby.


"Dengan kata lain, kau membuat kami masuk ke dalam petualangan impian banyak orang" ucap Anna.


"Dunia fantasi yang melebihi novel dan komik manapun" sambung Lisa.


"Itulah Lafier dan kau yang membawa kami. Sebenarnya, kami juga berterima kasih kepadamu" kata Roby.


"Tapi, kalian akan terkena dalam bahaya" ujar Fio.


"Ah, kami bisa menjaga diri kami sendiri" Roby tersenyum miring. "Kita hanya perlu belajar untuk bertahan hidup di dunia baru ini"


"Ya, kurasa itu yang dibutuhkan" sahut Anna.


Mereka tampak tenang dan tidak secemas Fio. Mungkin dia terlalu berlebihan dan menganggap teman-temannya tidak bisa menjaga diri. Hal itu membuat Fio tersenyum malu atas apa yang ia pikirkan selama ini.


"Begitu, ya. Terima kasih" kata Fio.


Roby merangkul lelaki itu, Lisa bersandar di bahu dan Anna bersandar di bahu Lisa. Mereka berempat sangat dekat antara satu sama lain dan mereka juga mulai dari sekarang akan menjaga satu sama lain. Inilah perjalanan baru mereka, hidup di antara bahaya dan keindahan.


"Mengharukan sekali" sahut orang di belakang mereka. "Seolah-olah aku tidak diharapkan"


Mereka berempat menoleh ke belakang dan mendapati Alvin yang tengah membaca buku secara diam-diam.


"Alvin!" seru mereka semua.

__ADS_1


"Tunggu, sejak kapan kau ada di sini?" Roby bertanya dengan bingung.


"Dari tadi" jawab Alvin sembari membalikkan halaman bukunya.


"Kau kemana saja sampai harus pergi dari kamarmu?" tanya Lisa.


"Aku bosan" jawabnya, singkat.


"Yah, itulah Alvin" Anna mengedikkan bahunya.


***


"Kau serius?!"


Fio dan Roby tercengang begitu mendengar Alvin mengisahkan pertarungannya dengan Dark Elf, Tobias.


Di sana Alvin mengatakan kalau ia sempat mendaratkan beberapa serangan kepada Tobias lalu berhasil menghantamnya ke tanah sebanyak dua kali.


Selain itu, Alvin menggunakan cara liciknya untuk mencekik Tobias dari belakang, namun tentunya itu langsung dibalas oleh Tobias.


"Kau bercanda, kan?" Roby menyipitkan matanya.


"Kau pikir aku pembohong?" Alvin menggeleng pelan sambil melahap cemilannya.


"Lalu, lalu?" Anna tampak antusias.


"Ya ... seingatku, dia membunuh enam pemanah yang kubawa dengan satu tebasan asap hitam dari pedangnya" jawab Alvin.


"Itu serangan yang sama ia keluarkan ketika melawan Asvia" ujar Anna. "Dia membuat puluhan tebasan asap hitam itu untuk menyerang Asvia"


"Kau terkena serangan itu?" tanya Lisa.


"Tidak" Alvin menggeleng. "Dark Elf itu berhasil melemparku ke sebuah pohon hingga aku tidak sadarkan diri"


"Sepertinya Dark Elf ini berbahaya" gumam Roby. "Aku dengar Asvia juga salah satu dari mereka"


"Benar" Anna mengangguk. "Tapi, kulit Asvia dengan Dark Elf itu berbeda. Jika Asvia berkulit putih, lain dengan Dark Elf yang menyerang kita, dia abu-abu"


"Mungkin dia dari keturunan yang berbeda" tebak Fio.


"Itu benar"


Tiba-tiba, Caligria muncul di tengah-tengah mereka semua. Mereka kaget, kecuali Alvin.


"Hey, kenapa kau tidak terkejut?" tanya Roby, heran.


"Sebenarnya, aku lihat dia masuk" jawab Alvin.


"Apa maksudmu, Profesor?" Lisa bertanya.


"Hm, sebaiknya bukan aku yang menjelaskannya, tapi ayahnya sendiri" jawab Caligria. "Masuklah, Neill"


Di saat itu juga, seorang yang gagah dan berwibawa masuk ke dalam dengan senyuman di wajahnya.


"Salam kenal semuanya" Neill menyapa mereka.


____


Jika kalian puas, kalian boleh menekan tombol like pada novel ini. Satu like dari kalian, maka akan menambah kesan dari kisah ini.


Oh, jika kalian ingin mendapat info lebih dari 'Dataran Lafier' atau novel lainnya, kalian bisa follow instagram saya.


@haritsataqii


Oke, stay tune!

__ADS_1


Makasih <3


Next : Ch.28 - Petunjuk Dari Neill


__ADS_2