Dataran Lafier

Dataran Lafier
Ch.6 - Perkemahan


__ADS_3

Jein terduduk lesu begitu mendapati perkemahan kelompoknya kini telah kosong dan hanya menyisakan tenda-tenda yang hancur dan jatuh ke tanah. Pagar-pagar yang rubuh, alat-alat masak dan senjata juga dibiarkan di tanah.


Tempat ini seperti dihantam oleh badai kuat. Namun, yang membuat Jein lebih syok lagi adalah adanya bekas pertempuran di sini. Panah-panah, tancapan tombak di tanah dan beberapa pohon yang rubuh.


Fio dan yang lainnya berkeliling melihat-lihat sekitar.


Roby menemukan beberapa senjata yang masih bisa dipakai. Lisa memungut benda-benda kecil yang bentuknya beragam, ada yang segitiga, bulat dan persegi. Ada juga kacamata yang sudah hancur, mungkin karena diinjak.


Perhatian Lisa tertuju pada kain merah panjang di tanah. Ia mengambilnya dan baru menyadari kalau itu adalah syal.


"Menemukan sesuatu?"


Tiba-tiba, Fio datang menghampirinya. Lelaki itu tidak membawa apa-apa di tangannya.


"Lumayan. Aku juga menemukan ini" Lisa menunjukkan syal itu pada Fio.


"Mungkin ini milik orang yang meninggalkan tempat ini"


"Ayo kita berikan ke Jein"


Lisa dan Fio menghampiri Jein yang duduk bersandar di batang pohon. Pikiran lelaki itu kacau untuk saat ini, ia bingung sekaligus marah dengan situasi yang menimpa kelompoknya.


"Jein"


Lamunannya seketika buyar saat mendengar suara lembut nan hangat itu masuk ke dalam telinganya. Ia menoleh dan mendapati Lisa dan Fio telah berdiri di hadapannya.


"Ini syal siapa?" tanya Lisa.


Jein mengangkat kedua alisnya. Melihat reaksi itu, Lisa menyerahkannya kepada Jein. Pemuda Elf tersebut menatapi syal itu untuk beberapa saat.


"Ini... milik temanku" ucapnya. "Syal ini selalu berada di lehernya, tidak pernah ia lepaskan.."


Jein pun mulai bercerita...


Ia dan temannya itu memasuki kelompok ekspedisi yang sama. Mereka berangkat dari perkampungan dan sampai di sini. Wilayah ini dijadikan spot untuk mengawasi keadaan para kanibal.


Sejak Jein masih di sini, ia dan temannya itu sering berlatih bersama. Berdasarkan kemampuan dan pengalaman, Jein lebih unggul. Sering sekali temannya ini meminta Jein untuk mengajarinya. Tentu saja Jein menerimanya dengan senang hati.


Hari pun berlalu dan memaksa mereka untuk berpisah karena Jein ditugaskan untuk menjelajah sendiri. Saat itulah mereka berpisah.


"Dia adalah teman masa kecilku. Kegemarannya adalah panahan. Anak itu lebih muda setahun di bawahku. Ia sering sekali memanggilku dengan sebutan 'Kakak'..." Jein menjeda kalimatnya. "Kuakui dia bodoh, tapi dia tidak pernah menyerah dan selalu berusaha. Di hari itu, ia sempat meminta untuk ikut, tapi aku menolak dengan mengatakan... diluar sana sangat berbahaya"


Sadar matanya mulai berkaca-kaca, Jein pun menguceknya dan mengembangkan senyum, walau terpaksa.


"Maaf membuat kalian mendengar ocehanku" Jein tertawa canggung.


"Itu bukan ocehan" Lisa tersenyum lembut. "Itu adalah curahan hatimu"


"Curahan... hatiku?" Jein bergumam. Ia tertegun sesaat melihat senyuman Lisa. Senyuman gadis itu sangat menghipnotisnya. Meskipun sudah beberapa kali melihatnya, senyuman itu tetap membuat dadanya menjadi hangat.


"Benar. Biasanya terjadi ketika orang mengutarakan isi hatinya dan itu akan membuat orang lebih tenang" jawab Lisa.


"Ya. Kadang menceritakan suatu masalah akan menjadikan hati kita lebih ringan" sahut Fio.


"Begitu, ya.." Jein tersenyum tipis. "Terima kasih telah mendengarkan ceritaku"


"Terima kasih kembali karena kau telah mempercayai kami dengan mencurahkan isi hatimu" Lisa tertawa kecil.


Bahkan tawanya berasa seperti nyanyian malaikat, batin Jein.


"Hey, Jein, apa yang harus kita lakukan setelah ini?" tanya Roby yang muncul membawa berbagai senjata.


Jein berdiri. Ia memasang syal itu di lehernya dan akan menjaganya sampai ia bertemu lagi dengan temannya itu, semoga.


"Karena situasinya telah berubah, kita terpaksa harus melanjutkan perjalanan lagi menuju Perkampungan Stofein" jawab Jein. "Mulai saat ini, kita harus bersiap karena perjalanan kali cukup memakan waktu yang lama. Jika saja kita mendapatkan peta, mungkin kita akan bisa sampai ke perkampungan dalam waktu yang singkat"

__ADS_1


"Seperti ini?" Alvin muncul dari belakang mereka sambil mengangkat sebuah kertas.


"Itu peta!" kata Jein, riang.


"Ternyata ada!" sorak Anna.


"Kau hebat, Alvin!" Roby mengacungkan jempolnya.


"Tentu saja" jawab Alvin. "Dan lagi, aku menemukan anak panah ini. Tadi menancap di peta"


Alvin memberikannya pada Jein. Jein tahu panah siapa ini. Soalnya ada penanda berupa tali merah mengikat di batang panah ini. Jein tersenyum, ia menduga temannya sengaja meninggalkan peta ini untuk dirinya.


Jein membentangkan peta ini di atas meja. Mereka berenam berdiri mengelilingi peta.


"Baik, ini rutenya..."


Jein mulai menerangkan. Pertama ia menunjuk tempat mereka berada saat ini.


"Kita ada di sini, sedangkan perkampungannya ada di sini. Tepat berada di dalam hutan"


Jein menggeser jarinya di atas kertas peta. Ada simbol pepohonan yang menjadi penanda perkampungan itu berada.


"Butuh waktu tiga sampai empat hari untuk sampai kesana" ujar Jein.


"Dengan jalan kaki?" tanya Lisa.


Jein menggeleng. "Dengan kendaraan"


"Apa?!"


Fio, Roby dan Anna tercengang begitu mendengarnya. Dengan kendaraan saja sudah memakan waktu berhari-hari, apalagi dengan berjalan kaki.


"Seminggu kemudian kita mungkin baru sampai di sana" keluh Roby.


"Maka dari itu, kita akan singgah di sini" Jein menunjuk simbol rumah di peta. "Ini adalah Desa Swafan. Kita akan mencari kendaraan di sana"


Desa Swafan. Berlokasi di atas bukit dengan dipenuhin oleh bangunan-bangunan kecil yang bergaya arsitektur kuno.


Desa ini cukup ramai akan penduduk lokal dan pengunjung. Banyak sekali pedagang yang terlihat menjajakan barang dagangannya.


Kelima remaja ini cukup terkesima dengan pemandangan desa ini. Tapi, yang membuat mereka sedikit bingung dan heran adalah adanya bendera-bendera biru di atas rumah penduduk.


Bendera itu berupa pedang yang terhunus ke atas dengan bintang di tengahnya.


Selain itu, ada pula prajurit berbaju zirah yang lalu lalang. Mereka mengenakan senjata dan mengawasi seluruh orang di sini. Selain mereka, ada pula yang bukan terlihat prajurit mengenakan senjata. Tempat ini ternyata dipenuhi oleh orang-orang yang beragam.


"Baik, tetap berada di dekatku" kata Jein.


Mereka pergi menuju suatu tempat yang merupakan sebuah bar. Begitu masuk, mereka langsung disambut tatapan tajam dari penghuni bar. Tatapan yang begitu mengintimidasi itu membuat mereka ciut, kecuali Jein yang sama sekali tidak terusik.


Mereka melangkah menuju bartender yang tengah membersihkan gelas. Pria kekar dan botak yang hanya memakai baju kulit yang sangat jelas menunjukkan otot-ototnya.


"Ada yang bisa kubantu..." bartender itu menjeda kalimatnya sejenak, menambah efek dramatis. "Jein?"


"Aku ingin kendaraan" jawab Jein dengan tatapan datar. Ia mengeluarkan kantung kecil dari dalam tasnya. "Untuk pulang"


Bartender itu mengambil kantung tersebut yang ia periksa ternyata penuh dengan koin emas.


"Tapi ini belum cukup. Aku ingin bayaran lebih" katanya, sinis. Itu membuat Jein mengerutkan dahinya, tanda tidak suka.


"Hai, Sayang. Kau cantik sekali"


Sementara itu, ada pria sangar yang duduk di samping mereka tengah merayu Anna. Ia menyentuh rambut Anna, tapi gadis itu menjadi risih. Sebelum Anna berkata kasar, Roby datang membatasi antara pria itu dan Anna.


"Jangan sembarangan sentuh, Paman" Roby menatapnya dingin.

__ADS_1


Selain Anna, Lisa juga dirayu oleh pria disampingnya. Kecantikan yang dimiliki Lisa membuat pria-pria di sini meliriknya. Tangan nakal seorang pria menyentuh rambut pirangnya.


"Lepaskan" Fio mencengkram tangan pria itu.


Alvin memperhatikan sekitar. Orang-orang di sini nampak ingin menghabisi mereka di saat ini juga. Diam-diam ia meraih gelas yang terletak di atas meja bar.


"Kalau begitu, aku pergi dan serahkan kantung tadi" ujar Jein.


"Tidak bisa. Kau telah datang dan membuat negosiasi, kau tidak bisa begitu saja pergi. Bayar atau mati di sini"


"Dengan apa aku membayarmu?"


Bartender itu melirik Anna dan Lisa. "Serahkan dua gadis itu dan aku akan memberikanmu kendaraan"


"Tidak bisa" jawab Jein dengan nada dingin. "Aku tidak akan menyerahkan mereka"


"Baik, bersiaplah" kata bartender itu.


Tiba-tiba dua pria datang kearah mereka dengan pemukul di tangan. Alvin yang menyadari itu langsung melempar gelas pada salah satu dari mereka. Pria tersebut tumbang ke lantai dan itu memicu keributan di sini.


Jein melempar anak panah beracunnya ke sang bartender. Anak panah itu tertancap di keningnya. Racunnya mulai bekerja hingga bartender itu tersungkur ke lantai.


Fio dan Roby yang telah bersiap dengan kursi di tangan mereka menyuruh Lisa dan Anna untuk bersembunyi. Kedua gadis itu memilih berlindung di balik meja bar.


Fio dan Roby mulai menghajar siapa saja yang datang dengan kursi. Roby memukul kepala seorang pria, sedangkan Fio menerjang perutnya lalu memukul wajah lawannya.


Alvin melompati meja bartender, ia hendak mengambil botol minuman yang ada di rak, namun ada seorang pria yang menarik lengannya. Alvin berbalik lalu langsung memukul wajah lawannya itu hingga tumbang. Ia pun mengambil beberapa botol lalu menjadikannya senjata. Alvin melempar botol-botol tersebut dari sana ke lawan-lawannya.


"Kau curang" ucap Anna.


"Aku lebih suka menyebutnya efektif" jawab Alvin.


Jein menghindari satu pukulan. Ia membalas dengan pukulan di wajah dengan telak. Datang satu dari samping dengan alat pemukul, tapi Jein dapat menangkapnya dengan mudah. Ia merebutnya lalu menjadikannya senjata untuk menghajar orang itu.


Jein menendang meja di depan, akibatnya dua pria yang ada di sana terjatuh. Ia menangkap tinjuan yang datang dari sampingnya. Jein memelintir tangan pria itu lalu melemparnya menuju tumpukan orang-orang yang sudah tidak kuat untuk berkelahi.


"Jein sangat keren" Anna terkagum-kagum. Ia mengintip sedikit dari balik meja bar itu.


Namun, di tengah-tengah keributan itu, dari pintu belakang bar, muncul tiga orang bertopeng dan berpakaian hitam. Mereka masuk dan mengendap-endap datang menuju Alvin dan kedua gadis itu.


Ketika Alvin sedang sibuk melempar-lempar botol yang tersisa, salah satu orang bertopeng menusuk punggungnya dengan jarum beracun. Alvin terkejut tapi ia terlambat untuk menyadarinya sebelum ia jatuh tertidur.


Lisa yang terkejut melihat kedatangan mereka ingin berteriak, tapi mulut dan hidungnya ditutupi oleh kain yang mempunyai aroma yang tajam. Lisa pun jatuh tidak sadarkan diri.


Anna masih sibuk menonton Jein yang bertarung, sampai-sampai menjadikan dirinya sebagai target yang empuk. Anna disekap dari belakang, cara melumpuhkannya sama dengan apa yang dilakukan mereka terhadap Lisa.


Begitu ketiganya berhasil ditidurkan, mereka dibawa keluar melewati pintu belakang dan menghilang dari bar itu.


Fio yang baru selesai dengan pertarungannya menyadari kalau Alvin, Lisa dan Anna tidak berada di tempat.


"Mana mereka?" tanya Fio.


"Astaga, kita membiarkan mereka diculik" Jein pucat menyadari keadaan.


———


Jika kalian puas, kalian boleh menekan tombol like pada novel ini. Satu like dari kalian, maka akan menambah kesan dari kisah ini.


Oh, jika kalian ingin mendapat info lebih dari 'Dataran Lafier' atau novel lainnya, kalian bisa follow instagram saya.


@haritsataqii


Oke, stay tune!


Makasih <3

__ADS_1


Next : Ch.7 - Colloseum


__ADS_2