
Jarak antara Desa Swafan dan Perkampungan Stofein kira-kira menghabiskan dua hari perjalanan dengan menggunakan kendaraan.
Kendaraan yang mereka gunakan ini merupakan semacam kereta. Kereta di sini maksudnya kereta yang ditarik oleh hewan. Bukan kuda, melainkan sepasang badak berbulu. Awalnya mereka ingin menggunakan kuda sebagai penarik kereta, namun melihat jumlah penumpang yang rasanya melebihkan kapasitas, alhasil mereka berpindah pada badak berbulu.
Meskipun kecepatan yang ditempuh sepasang badak ini tidak secepat seekor kuda, mereka masih lebih cepat dari hanya berjalan kaki.
Kereta ini memiliki barisan kursi memanjang dari ujung sana ke ujung lainnya. Di tengah-tengah barisan kursi yang bersebrangan ini, terdapat lorong sempit yang di mana Ultra diletakkan di sana. Pria kekar itu masih dalam kondisi tidak sadarkan diri akibat rantai yang membekukan dirinya.
Alvin juga diletakkan di lorong, namun beralaskan kain dan selimut. Lukanya sudah ditangani tadi oleh Naru.
Kanoe dan timnya tertidur di kursi. Mereka merasa kelelahan setelah bebas dari desa itu. Asvia sendiri mengelap pedangnya dengan sehelai kain hanya untuk mengisi waktu. Lisa dan Anna memilih tidur, mereka saling menyandarkan kepala.
Melihat posisi tidur mereka yang tidak nyaman, Roby dan Fio menjadikan bahu mereka sebagai tempat sandaran untuk kepala dua gadis itu. Lisa bersandar pada Roby dan Anna pada Fio.
Jein tersenyum melihat kepedulian kedua lelaki ini.
"Kalian sudah lama berteman, ya?" tanya Jein.
"Hm? Ya, kami berlima berteman sejak kecil" jawab Fio yang direspon dengungan singkat dari Jein.
"Jein" panggil Roby dengan bisikkan. "Apa dia yang kau maksudkan teman masa kecilmu itu?" tanya Roby, menunjuk Naru yang tertidur pulas di punggung Zenzen.
"Iya, itu dia" Jein mengangguk.
"Wah, beruntung juga kau, mempunyai teman wanita yang manis seperti dia" ucap Roby.
Jein mengangkat alisnya, ia ingin tertawa mendengar kesalahpahaman Roby.
"Maaf mengecewakanmu, Roby. Naru itu bukan seorang wanita, dia laki-laki"
"Apa?!" bisik Roby, kaget dan tidak percaya mendengar ucapan Jein.
"Tunggu, apa?" Fio juga. Awalnya ia mengira Naru adalah seorang wanita, karena parasnya yang manis.
"Tanyakan saja nanti" Jein terkekeh pelan.
***
Matahari sudah terbenam. Mereka tidak bisa melakukan perjalanan saat malam hari. Selain resiko diserang bandit dan makhluk buas, ada kemungkinan juga mereka diserbu kanibal.
Mereka pun memilih beristirahat di hutan ini. Jein dan Sova membuat api unggun untuk menghangat seluruh orang di sini. Suhu pada malam ini cukup dingin, karena itu Fio dan Noya membawa lebih banyak kayu bakar untuk membuat api unggun ini cukup menghangatkan sekitar.
Lisa, Anna dan Naru menyiapkan alat dan bahan untuk masak. Di sini, Gilvai dan Zenzen berperan sebagai koki dadakan. Makanan yang didapat adalah ikan yang mereka pancing barusan.
"Jangan sampai gosong" Jein berpesan.
"Iya, kami tahu" jawab mereka serentak.
Fio duduk di samping Jein. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Ia memainkan benda itu, berharap mendapat sinyal internet.
"Tentu saja" Fio menundukkan kepalanya, lesu. Ia sudah tahu sinyal internet tidak ada di dunia ini, tapi ia tetap saja mencoba hal yang percuma itu.
Baterai ponselnya ini tinggal 48%, cepat atau lambat benda tersebut akan mati daya dan mati untuk selamanya karena tidak bisa mengisi daya lagi. Di dunia ini mungkin listrik dan barang elektronik lainnya belum ada, karena itu ponselnya beserta milik teman-temannya merupakan barang yang paling canggih di sini.
"Itu benda yang sama dipakai Alvin waktu itu, ya?" tanya Jein.
"Iya, kami semua memilikinya. Ini benda yang wajib untuk dibawa-bawa" jelas Fio.
"Begitu, ya"
"Kau ingin memainkannya?"
"Eh, bagaimana caranya? Aku tidak paham"
"Akan kuajari"
Fio pun mengajari seorang Elf yang belum pernah menyentuh alat elektronik untuk bermain ponsel pintar. Fio membiarkan Jein memegangi ponselnya itu, ia mengajari Jein memainkan sebuah permainan mobil balap.
"Kendaraan apa ini?!" Jein tercengang saat melihat sebuah mobil balap yang penuh dengan warna.
"Itu namanya mobil balap. Kendaraan ini lebih cepat dari kuda manapun" Fio dengan bangga menjelaskannya.
Melihat keseruan di sana, Noya dan Sova menghampiri Jein. Mereka mengintip dari belakang dengan antusias. Jein tengah balap saat ini. Dengan instruksi dari Fio, Jein memiringkan ponsel setiap mobilnya berbelok. Jein menyentuh layar ponsel untuk membuat mobil balapnya melaju.
__ADS_1
"Keren sekali!" kata Noya dan Sova serentak. Mata mereka berbinar melihatnya.
Suara yang ditimbulkan dari ponsel Fio menarik perhatian yang lainnya. Gilvai yang sedang memberikan seekor ikan bakar pada Roby teralihkan perhatiannya pada Jein dan teman-temannya yang mulai mengelilingi lelaki itu.
"Tunggu aku!"
Gilvai berlari ke sana. Ikan bakar tadi hampir jatuh jika Roby tidak sigap menangkapnya dengan alas daun.
"Hampir saja" Roby mendengus kesal.
"Kenapa mereka?" tanya Anna sambil duduk di samping Roby.
"Sepertinya Fio meracuni mereka dengan permainan di ponselnya" jawab Roby sembari menyantap ikan bakarnya.
"Benarkah?" Anna segera mengeluarkan ponselnya.
"Jika kau ingin mencari sinyal maka jangan lakukan, sia-sia" ucap Roby yang mengetahui niat Anna.
"Yaaahh..." Anna cemberut.
Naru meletakkan ikan yang sudah matang pada selembar daun lebar. Ia mengopernya pada Lisa.
Tidak seperti yang lain, Naru lebih memilih untuk melakukan kegiatannya di sini daripada berdesakkan untuk melihat sebuah benda kecil yang mengeluarkan suara besar.
Lisa membawa ikan itu, ia hendak memberikannya pada Alvin yang saat ini berada di dalam kereta.
"Tunggu"
Tiba-tiba, Asvia memanggilnya. Lisa berhenti dan menoleh ke arah Asvia yang berjalan menghampirinya.
"Kau ingin mengantarkan ini pada Alvin?" tanya Asvia.
"Iya" Lisa mengangguk.
"Apa boleh aku yang mengantarkannya?"
"Tentu" Lisa tanpa pikir panjang memberikan makanan itu pada Asvia untuk ia antarkan pada Alvin.
Sesampainya ia di sana, ia melihat Alvin duduk di lantai, bersandar pada pinggiran kursi. Tubuhnya dibaluti dengan selimut, wajahnya yang lelah itu tampak murung dan mengantuk. Asvia masuk dan menghampirinya.
"Ini, makanlah" Asvia menyodorkan daun berataskan ikan.
"Apa ini?" Alvin menerimanya.
"Itu ikan"
"Aku tahu"
"Lalu, kenapa bertanya?"
Asvia bertanya dengan heran, namun Alvin tidak merespon. Asvia masih berdiri di sana, menunggu Alvin untuk memakan ikan itu. Tapi saat ia terus menunggu, Alvin tidak kunjung makan, bahkan ia tidak menyentuh makanannya sama sekali.
"Oi, kau tidak mau memakannya?" tanya Asvia, namun tidak ada respon.
"Hey" Asvia mengguncang sedikit tubuh Alvin.
Tapi saat diguncang, Alvin malah mau tumbang ke lantai. Dengan sigap, Asvia menangkap tubuh Alvin dan juga ikan yang ada di tangannya tadi.
"Efek obatnya masih ada, ya" Asvia menghela napas. Ini pasti obat-obatan yang dibuat Naru untuk menghilangkan rasa sakit dan mempercepat pemulihan tulangnya.
Alhasil, Asvia tidak punya pilihan lain lagi selain duduk di samping Alvin dan menyuapkannya. Sebelum itu, ia harus membangunkan bocah ini terlebih dahulu.
"Hey, bangun, kau harus makan"
Alvin belum kunjung bangun.
"Hey" Asvia menepuk pundaknya. Tetap tidak ada respon. Dengan terpaksa Asvia memukul wajah Alvin agar ia terbangun.
"Aduh!" ucap Alvin. Cara kasar itu ternyata ampuh, Alvin terbangun dengan memegang pipinya.
"Kenapa kau memukulku? Apa itu hobimu, Wanita Kasar?" tanya Alvin, dengan memberikan tatapan dingin pada Asvia.
"Aku tidak punya pilihan lain dan namaku juga bukan Wanita Kasar. Aku mempunyai nama sendiri" Asvia mendengus karena dikatain kasar oleh Alvin.
__ADS_1
"Begitukah? Siapa namamu, Wanita Cerewet?" Alvin masih mengejeknya. Jika bukan dalam keadaan begini, Asvia pasti sudah memotong-motong Alvin menjadi beberapa bagian.
"Habiskan makananmu dulu, baru aku memberitahumu" jawab Asvia.
"Kau bukan Ibuku" Alvin merebut ikan beralaskan daun itu dari tangan Asvia. Dengan perasaan kesal, Alvin menyantapnya.
"Biar aku saja" Asvia malah merebutnya kembali setelah melihat Alvin makan dengan barbarnya. "Jika kau makan seperti itu, kau akan tersedak"
"Kenapa kau malah peduli?" tanya Alvin, heran.
"Sudah, diam saja. Ini juga tanda terima kasihku padamu saat di colloseum tadi" Asvia memotong daging ikan yang lembut itu dan menyodorkannya pada Alvin.
"Buka mulutmu" ucap Asvia.
"Aku bukan anak kecil" Alvin melempar pandangannya ke tempat lain.
"Buka mulutmu, Anak Manis" Asvia menggodanya.
"Kau—" Alvin ingin protes, namun mulutnya yang sempat terbuka itu menjadi kesempatan Asvia untuk menyuapkan Alvin.
"Akhirnya masuk juga" Asvia tersenyum puas, ia sedikit geli dengan sikap Alvin yang kekanak-kanakan ini.
"Berhenti melakukan itu" ucap Alvin. "Kembalikan. Aku tidak suka disuapkan" Alvin merebut kembali ikan itu dari Asvia.
Kini ia makan dengan perlahan atau tidak Asvia akan menyuapkannya lagi. Asvia sendiri sebenarnya ingin tertawa, selain sikap bocahnya, Alvin juga bertingkah seolah tidak mau dipermalukan seperti tadi. Asvia memperhatikan Alvin dari samping. Wajahnya tersembunyi dari poni rambutnya yang panjang.
"Asvia"
"Hah?" Alvin menoleh ketika Asvia menyebutkan namanya.
"Namaku Asvia. Kita belum sempat berkenalan semenjak dari colloseum"
"Kalau begitu, aku Alvin"
"Baiklah, Alvin..." Asvia meregangkan sedikit tubuhnya. "Saat pertama kali melihatmu bertarung di colloseum, kau sudah membuatku tertarik. Karena itu, saat sampai di perkampungan, apa kau mau bergabung di tim pengawas?"
"Itu tawaran?" Alvin balik bertanya.
"Iya, itu tawaran" Asvia mengangguk.
Alvin pun mulai berpikir sejenak. Ia tidak tahu apa itu tim pengawas. Tidak ada salahnya juga untuk menerimanya saat ini, tapi Alvin lebih memilih untuk memikirkannya.
"Untungnya bagiku?" tanya Alvin.
Asvia terdiam sejenak, berpikir.
"Kau ditawar langsung oleh salah satu kapten skuad di tim pengawas, apa itu belum menjadi keuntungan darimu?" Asvia menaikkan alisnya.
Alvin sadar apa yang Asvia ucapkan. Wanita di hadapannya ini tidak lain adalah kapten skuad. Memang benar ia merasa diakui, tapi itu bukanlah keuntungan yang menggiurkan.
"Aku akan menerima tawaranmu ini tapi dengan dua syarat" ucap Alvin.
"Apa itu?"
"Pertama, biarkan aku dan teman-temanku merasa bebas tanpa dikekang aturan. Maksudnya adalah kami tidak mau diatur, tapi kami tidak akan mencoba melanggar aturan kalian. Kedua, aku adalah tipe pekerja sendiri, aku tidak suka diperintah dan tidak mau memerintah. Apa itu sudah cukup?"
Asvia merenung. Kedua syarat yang diajukan Alvin ini agak berbahaya. Sebagai posisi pendatang, mungkin saja Alvin dan teman-temannya mempunyai maksud tertentu, tapi sejauh ini ia belum menemukan maksud itu. Syarat kedua sama saja menempatkan Alvin setingkat dengannya, dengan begini ia harus melakukan sesuatu.
"Baiklah, aku menerimanya"
———
Jika kalian puas, kalian boleh menekan tombol like pada novel ini. Satu like dari kalian, maka akan menambah kesan dari kisah ini.
Oh, jika kalian ingin mendapat info lebih dari 'Dataran Lafier' atau novel lainnya, kalian bisa follow instagram saya.
@haritsataqii
Oke, stay tune!
Makasih <3
Next : Ch.15 - Perkampungan Stofein
__ADS_1