Dataran Lafier

Dataran Lafier
Ch.26 - Nasehat


__ADS_3

Asap hitam melesat di langit suatu kota dengan kecepatan tinggi, menerobos barisan burung-burung hingga tercerai kemana-mana.


Bagaikan komet yang meluncur ke permukaan bumi, asap ini menukik cepat ke sebuah halaman luas yang dimiliki oleh sebuah mansion mewah. Di sana, asap itu menyebar dan membentuk diri menjadi seorang Elf berjubah.


Itu Tobias.


Prajurit-prajurit di sana langsung berdiri tegap menyambut kedatangan pria itu.


Mansion ini terletak di area khusus, jauh dari lokasi kota. Lebih dari seribu prajurit berjaga di sekitar sini. Dengan di kelilingi hutan pinus yang menjadi aset keamanan mansion, tempat ini merupakan tempat ideal sebagai tempat berkumpulnya para pemimpin keluar Gertein.


Dua pintu terbuka lebar untuk menyambut kedatangannya. Langkah Tobias diikuti oleh dua pelayan di sini. Mereka pergi menuju ruangan yang ada di lantai tiga.


"Beritahu pemimpin, aku datang"


Tobias berhenti di depan pintu yang dijaga oleh dua prajurit. Salah satunya mengangguk lalu masuk untuk memberitahu kedatangan Tobias.


"Tuan, Ketua Tobias datang"


Prajurit itu membungkuk begitu menghadap kepada pemimpin keluarga Gertein.


"Suruh dia masuk"


Pemimpin itu langsung memberi perintah. Segera, prajurit tadi keluar dan memberi izin Tobias untuk masuk.


Pria berwajah dingin itu masuk dan berdiri di hadapan sang pemimpin keluarga Gertein. Tobias sedikit melirik ke arah seorang Elf berambut merah yang berdiri dengan tangan terikat ke atas di dinding ruangan ini. Ia terlihat lemah dengan tubuh penuh dengan luka.


"Sepertinya kau gagal kali ini, Tobias"


Sang pemimpin tidak melihat Asvia di sisi Tobias. Hal ini sudah membuatnya menebak kalau Tobias gagal menjalani misi yang ia berikan.


Tobias menghiraukan Elf di sana. Ia tahu siapa Elf itu. Tobias pun tidak mempedulikan keberadaannya dan lebih memilih untuk berbicara dengan sang pemimpin.


"Aku gagal" jawab Tobias. "Namun, aku menemukannya"


"Benarkah?" Pemimpin itu melepaskan kacamatanya.


"Ya, sesuai dugaanku" Tobias mengangguk yakin. "Stofein"


"Apa alasanmu gagal?"


"Neill Erfais"


"Ah" Pemimpin itu melebarkan senyumnya yang mengerikan, lalu bangkit dari kursinya.


Nampaklah sesosok pemimpin itu. Berambut panjang hingga menutupi leher belakangnya, berkulit yang sama dengan Tobias, beralis tebal dan memiliki aura membunuh yang mengerikan.


"Sang Pengembara sudah kembali ternyata"


Ia beranjak dari mejanya dan berjalan menghampiri Tobias.


"Bagaimana kekuatannya?"


"Dia tidak memperlihatkannya"


"Oh" orang ini terkekeh pelan. "Berarti Stofein sudah bersiap. Mereka gesit juga"


"Benar"


"Hm, kalau begitu ..." Ia menoleh ke Elf berambut merah itu. "... kita tidak membutuhkan orang ini lagi"


"Benar"


"Tobias, apa kau bersedia?"


"Menurutku, Tuan yang berhak"


"Begitukah?" Ia menyeringai. "Terima kasih, aku juga sudah lama ingin melakukannya"


Elf berambut merah mengangkat kepalanya sekuat tenaga. Ia menatap kedua Dark Elf keji ini dengan tajam.


"S-semoga ... kalian mendapatkan ... pembalasan yang ... setimpal"


Elf itu berusaha mengatakan kalimat terakhirnya. Mulutnya bergetar, bukan karena takut, tetapi karena sudah kehilangan banyak tenaga.


Meski tahu kalau akan mati di tangan mereka, Elf ini tidak pernah takut sampai ia menghembuskan napas terakhir di markas lawan.

__ADS_1


***


"Ayo! Angkat!"


Bersama-sama, sepuluh orang prajurit berusaha mengangkat sebuah kayu besar yang akan berguna sebagai bahan untuk pembangunan.


Dengan bantuan para prajurit, para tukang bangunan mendapat keringanan. Dengan begini, bangunan yang akan menjadi salah satu infrastruktur perkampungan bisa selesai dalam waktu yang cepat.


Caligria langsung turun ke lapangan untuk melihat proses pembangunan dengan didampingi oleh Maxip yang merupakan seorang wakil dari Caligria.


"Sepertinya pembangunan ini akan selesai lebih cepat dari perkiraan waktu semula" Maxip tersenyum puas.


Caligria merespon dengan tawa ringan. Para prajurit dan tukang banguna sama-sama sibuk di sini. Namun, di samping itu semua, perhatian Caligria tertarik pada Noya dan Sova yang ikut membantu di atas sana. Yah, meskipun mereka berdua tampak seperti sedang bermain-main.


"Itu jagoan kembar kita" Caligria menunjuk ke arah mereka. "Noya! Sova!"


Keduanya segera menoleh ketika nama mereka dipanggil dari bawah. Langsung saja mereka berdua turun dari sana dan menghadap kepada pimpinan mereka.


"Siap!"


"Ada yang perlu kami bantu?"


Keduanya langsung bersikap seperti prajurit yang patuh kepada pemimpinnya, tetapi sikap mereka itu malah terlihat aneh di mata Caligria dan Maxip, terlebih ketika Sova merasa geli dengan dirinya sendiri.


"Kalau boleh jujur, kalian tampak konyol jika bersikap seperti itu" Maxip berpendapat. Caligria tertawa di sampingnya. Noya dan Sova setuju, mereka ikut tertawa sambil mendorong satu sama lain.


"Noya dan Sova akan terlihat lebih keren jika mereka hidup dengan gaya sendiri" Caligria tersenyum lebar.


Dua orang bersaudara itu tersipu malu karena dipuji begitu. Mereka ingin berbincang-bincang, tapi seseorang berkuda datang menghampiri mereka.


Itu Vaz.


Ia turun dari kudanya dan memberi hormat kepada mereka semua. Vaz datang kemari untuk memberi pesan kepada Noya karena sinyal dari Kerajaan Nozaz.


"Apa?" Noya mengerutkan dahinya.


"Cepat sekali" Sova ikut berkomentar.


Noya dan Sova meminta izin untuk pergi, ada yang harus mereka selesaikan dengan Kerajaan Nozaz.


Mereka bertiga, termasuk Vaz, pergi ke pohon yang tertinggi untuk melihat sinyal langit yang dikirim oleh kerajaan itu. Dua saudara kembar itu terkejut, ternyata mereka mengirim sinyal berwarna putih, tanda mereka netral.


"Sesuai perkiraanku" Noya tersenyum lebar. "Kerajaan kotor itu tidak akan mungkin repot-repot datang ke sini hanya untuk menjemput seorang gladiator rendahan. Mereka bisa mencari yang baru dan yang lebih kuat"


"Jadi, Ultra bisa jadi budak kita?" Sova menyeringai lebar.


"Berharap saja dia tidak akan mati karena frustasi" Noya merasa puas hari ini.


***


"Fio ... tolong"


Alvin merangkak dengan darah tercecer ke lantai yang kusam ini. Ia berusaha mencapai tempat Fio berdiri sambil memohon bantuan darinya.


"Fio ... kumohon"


Fio sendiri tidak bisa bergerak. Melihat Alvin seperti itu, membuatnya membeku di tempat antah berantah ini.


"Fio ... tolonglah"


Alvin berusaha sekuat tenaga bergerak mendekatinya. Darahnya terus tumpah keluar tanpa henti.


"Fio ..."


.....


...


..


Ia terbangun.


Fio kembali terbangun untuk kelima kalinya karena mimpi buruk yang ia alami.


Ia menghela napas panjang. Meskipun sudah kelima kalinya, ia masih saja terguncang, selain itu mimpinya tetap berulang-ulang. Baginya, itu adalah pemandangan yang mengerikan.

__ADS_1


Fio masih berada di kamar rumah sakit. Lukanya belum pulih, alhasil Fio harus rela berdiam diri di sini.


Ia bangkit dari posisi tidurnya. Fio memandangi kedua lengannya yang dibaluti perban. Rasa sakit dari luka ini memang mulai menghilang, tapi begitu mengingat kembali bagaimana ia mendapatkan luka ini, akan menimbulkan kenangan yang buruk.


Sekali lagi, Fio menghela napas panjang.


Tiba-tiba, pintunya diketuk dari luar.


"Apa kau sudah bangun, Fio?" Itu suara Caligria. Fio pun menjadi keheranan.


"Ya, silahkan masuk, Professor" jawabnya.


"Aku masuk, ya" Caligria masuk ke dalam, lalu berjalan mendekati penghuni kamar ini.


"Bagaimana kabarmu?" Caligria bertanya dengan senyuman hangat.


"Baik" Fio tersenyum tipis.


"Bagus, itu yang dibutuhkan saat ini" kata Caligria sambil mencari kursi untuk ia duduki di samping ranjang Fio. "Merasa pulih dan sehat adalah harta yang paling berharga"


"Iya" Fio mengangguk.


"Jadi, bagaimana perasaanmu?"


"Perasaanku?" Fio termenung sejenak. "Entahlah, aku juga tidak paham"


"Apa kau takut dengan sesuatu?"


"Sejujurnya, aku sangat ketakutan"


"Dengan apa?"


"Segala hal"


Caligria bisa melihatnya. Anak ini jelas sangat-sangat terguncang dengan apa yang menimpanya dan juga teman-temannya.


"Lalu, apa yang akan kau lakukan setelah ini?" tanya Caligria. "Apa kau ingin menyerah?"


"Tidak!" Fio menjawab dengan cepat. "Aku sudah berjanji untuk tidak akan menyerah dan kami akan pulang"


Fio pun merenung dan menundukkan kepalanya. Ia bingung sendiri dengan ucapannya, ia mengatakan kalau ia tidak mau menyerah, tetapi jauh di dalam dirinya, sudah lama ia ingin menyerah.


Fio meremas selimutnya, merasa kesal pada dirinya sendiri.


"Kami, warga Stofein selalu membulatkan tekad yang hidup di dalam diri kami" ucap Caligria. "Jika tekad itu padam, maka bersama-sama kami akan membantu menyalakan kembali tekad itu"


Caligria menjelaskan makna tekad kepada Fio. Caligria melihat kalau Fio tampak menanggung seluruh tanggung jawab di pundaknya. Ia masih merasa kalau dialah yang harus mencari jalan keluar untuk teman-temannya, tanpa memikirkan batas kemampuannya sendiri.


"Kau mempunyai teman-teman yang siap membantu, tapi kau tidak ingin merepotkan mereka atas kesalahan yang kau perbuat"


"Itu ..."


"Cobalah meminta bantuan dari mereka. Aku tahu kalian berteman sangat baik dan mereka menunggumu untuk memberi aba-aba"


"Apa benar?"


Tiba-tiba, Roby membuka pintu kamar Fio dengan wajah pucat. Lelaki itu terengah-engah, sepertinya ia berlari untuk sampai kesini.


"Fio!"


"Ada apa, Roby?" Fio menjadi keheranan.


"Alvin menghilang!"


"Apa?"


____


Jika kalian puas, kalian boleh menekan tombol like pada novel ini. Satu like dari kalian, maka akan menambah kesan dari kisah ini.


Oh, jika kalian ingin mendapat info lebih dari 'Dataran Lafier' atau novel lainnya, kalian bisa follow instagram saya.


@haritsataqii


Oke, stay tune!

__ADS_1


Makasih <3


Next : Ch.27 - Langkah Baru


__ADS_2