Dataran Lafier

Dataran Lafier
Ch.18 - Rumit


__ADS_3

Dua hari berikutnya, Alvin sudah dinyatakan benar-benar pulih. Ia pun diperbolehkan untuk bergerak seperti biasa. Namun, pagi ini sepertinya dia malas untuk beranjak satu senti pun dari ranjangnya.


Pagi ini ia sudah diberitahu kalau mereka akan menjalani latihan militer. Alvin juga sudah mengetahui tujuan mereka di dunia ini dan cara untuk pulang, tapi yang namanya bangun pagi untuk orang semalas dia memanglah sulit.


Matanya sudah terbuka sepuluh menit yang lalu. Ia terbangun di mana Fio dan Roby ribut di luar kamarnya. Tidak tahu apa yang mereka ributkan, Alvin hanya pasrah di atas kenyamanan ranjangnya.


"Itu sepatuku!" teriak Roby.


"Maafkan aku!" bentak Fio. "Bentuknya sama dan ukuran kaki kita juga sama!"


Alvin menghela napas. Di belakangnya ada jendela bundar. Ia menyeret dirinya ke jendela itu dan membukanya. Begitu jendela tersebut terbuka, bermacam-macam suara dari bawah sana masuk ke dalam kamar.


Ia melihat ada beberapa orang yang siap berdagang dan bersiap untuk berkebun. Lalu, suara dentuman pedang dan teriakan prajurit dapat ia dengar juga. Tidak lama kemudian, dua peri melesat melewatinya.


Alvin menutup kembali jendelanya. Alvin bangkit untuk duduk. Ia meraih ponselnya dari atas nakas dan melihat pantulan dirinya dari layar gelap itu. Rambutnya acak-acakkan dan tatapannya seperti orang mati. Alvin menekan tombol power, ia langsung disambut oleh wajah Asvia yang sedang mengembangkan senyumnya.


Bukannya terpesona, Alvin malah teringat sesuatu yang merepotkan dari wanita itu. Hari ini ia akan menjalani latihan hari pertamanya. Kemarin, Fio dan yang lain sudah mulai terlebih dahulu.


Alvin menghela napas panjang dan bangkit dari ranjangnya untuk bersiap-siap.


***


"Apa dia sudah sadar?" Noya memasuki ruangan tertutup ini. Di sana, ada Sova dan seorang Elf yang bertubuh tegap dengan kulit sawo matang.


"Sudah, tapi dia masih keras kepala" Sova tidak melihat Noya, tetapi terus memandangi orang yang sedang mereka interogasi ini.


Siapa lagi? Itu adalah Ultra. Pria kekar itu kini terduduk dengan posisi kedua tangan terperangkap gelang besi dan tubuh yang terikat dengan rantai.


"Kesabaran kami mulai habis..." Noya mengangkat kaki kanannya. "....dan aku mulai bosan mengurusimu. Sebaiknya lekas bicara" Noya meletakkan kakinya di bahu Ultra dan mencengkram rahang pria itu.


"Hmph! Kau mengira aku takut pada Elf kecil sepertimu?" Ultra menyengir. "Meskipun dalam posisi seperti ini, aku sama sekali tidak takut padamu"


"Keras kepala" Noya mengangkat kakinya dari bahu Ultra, lalu menendang wajahnya. "Kau begitu loyal ternyata pada kerajaan busuk itu. Aku semakin kasihan padamu"


"Kenapa?" tanya Ultra.


"Hmph" Noya tersenyum licik. "Begini saja, bagaimana kalau kita bertaruh?"


"Apa itu akan membuatku bebas?"


"Oh tentu saja, aku ini orang yang baik hati!" Noya tertawa renyah. "Kita bertaruh jika rajamu datang menyelamatkanmu, kau bebas tapi ... jika tidak? Kau akan tinggal di sini, menjadi budak dan melepaskan seluruh ikatanmu dengan kerajaan itu"


Ultra menahan napasnya. Ia menjadi bimbang.


"Bagaimana?"


Ultra merenung untuk berpikir. Tapi, jika ia melihat terus ke dalam ingatannya, ketika ia menjadi pelayan untuk rajanya, menjaganya, bahkan bersimbah darah untuknya. Ultra dengan yakin kalau rajanya akan datang untuk menjemputnya.

__ADS_1


"Aku terima" jawab Ultra.


"Baiklah, nikmati sisa waktumu. Akan kuberi kau waktu satu minggu dan kuberi surat kepada rajamu hari ini juga" Noya melangkah keluar bersama Sova dan seorang Elf lagi. Pintu ruangan itu mereka kunci, meninggalkan Ultra di dalamnya.


"Dia benar-benar yakin" ujar Sova.


"Yah, itu tidak akan berlangsung lama" jawab Noya. "Vaz, buatlah surat untuk Kerajaan Nozaz. Kita tunggu sinyal langit dari mereka"


"Dimengerti"


***


Para prajurit melakukan latihan lari keliling di lapangan.


Hal ini, merupakan latihan wajib yang harus dijalankan oleh seluruh skuad Asvia.


Ya, ini adalah skuad Asvia, termasuk Fio dan teman-temannya. Anna yang berada di barisan belakang merasa tertinggal dan berusaha sekuat tenaga untuk tetap bertahan.


Asvia bahkan meneriakkinya dari tengah lapangan. Anna tidak punya pilihan untuk harus berlari sampai garis akhir. Ia mulai menyesali keputusannya dulu yang jarang mengikuti kelas olahraga.


Setelah lari, Asvia mengumpulkan mereka semua dan memberitahu kalau mereka akan menjalani misi untuk lusa besok.


Misinya adalah membunuh Orc yang menembus wilayah Stofein bagian utara. Asvia mengatakan wilayah itu memang rawan dimasukki penyusup karena rendahnya pengawasan dan juga bukan wilayah tetap Stofein.


Karena itu mereka harus berhati-hati sampai akhir misi.


Di sini akan ada dua kelompok, yaitu kelompok penyerang dan kelompok penyelinap.


Asvia mendapat laporan kalau ada sarang mereka di sekitar sana. Maka dari itu, Asvia dan kelompoknya akan menjadi kelompok penyerang, sedangkan Gerru, wakil Asvia, akan pergi ke sarang Orc.


Lisa dan Roby akan ikut dengan Asvia sedangkan Alvin, Fio dan Anna ikut dengan Gerru.


Sehari sebelum misi.


Fio berusaha meningkatkan latihannya panahannya. Ia memilih menjadi pemanah. Kali ini sudah lebih dari lima belas kali ia menembakkan anak panahnya, namun semua tembakannya meleset.


Merasa lelah, ia pergi untuk istirahat, namun ketika ia lewat lapangan di sebelah lapangan pemanah, ia melihat Jein dan Lisa sedang berlatih pedang.


Fio buru-buru sembunyi dan mengintip mereka berdua. Keduanya terlihat sangat hebat, di samping Jein memberi instruksi, Lisa mampu mengikutinya.


Jein berdecak kagum, Lisa pun memberitahu alasan ia bisa lihai seperti ini, karena Lisa memiliki darah seorang ahli pedang dan tidak heran dia menjadi berbakat dalam seni pedang.


Masih mengintip mereka, Fio dikagetkan dengan kedatangan Noya dan Sova yang ikut mengintip. Fio memperingati mereka agar tetap diam selagi mengintip dua orang di sana.


Jein mengajak Lisa berduel. Dengan senang hati Lisa menerimanya. Di sana mereka saling bertukar serangan. Dimulai dari Lisa yang memberikan perlawanan cukup sengit, Jein sempat kesulitan menangkis serangannya di beberapa tempat.


Tidak mau kalah, giliran Jein yang memberi perlawanan. Namun, baru saja Jein melayangkan beberapa serangan, Lisa malah kewalahan dan lebih parahnya ia terjatuh kalau tubuhnya tidak ditahan Jein.

__ADS_1


Jein menahan punggung Lisa dengan tangannya. Lisa memang tidak jatuh, tapi posisi ini membuat siapa saja jadi canggung.


Melihat itu, Fio lebih memilih untuk pergi. Noya ingin menghentikannya, namun melihat tatapan Fio membuatnya mengurungkan niat.


Jein segera meminta maaf pada Lisa karena membuatnya terjatuh. Lisa tertawa dan tidak mempermasalahkannya, ia malah senang kalau Jein melawannya dengan sungguh-sungguh. Keduanya tertawa di sana dan tidak mengetahui kalau ada yang merasa sesak.


***


"Dark Elf sudah mulai berulah" Kanoe membuka suara. "Salah satu alasan aku dan tim ekspedisi tertangkap juga karena campur tangan Dark Elf"


Kanoe kini sedang bersama beberapa petinggi perkampungan di ruangan perpustakaan milik Caligria. Mereka duduk mengelilingi meja bundar ini. Selain Kanoe dan pemilik ruangan, ada juga Taysen, serta dua Elf lainnya yang berambut hijau


"Aku rasa kematian Agney juga disebabkan oleh Dark Elf" Kanoe berasumsi.


"Sabar dulu, Kanoe, kita tidak boleh mengambil keputusan seperti itu" ucap Caligria. "Apa kau benar-benar yakin kalau Dark Elf menyerangmu waktu itu?"


"Ya, dari rambut dan simbol di punggung tangan mereka. Bahkan saat bertarung satu lawan satu dengan Dark Elf, aku dapat merasakan energi gelap dari mereka"


"Apa mereka menjalin kerja sama dengan Kerajaan Naux?" tanya Taysen.


"Setahuku, Naux menolak keras Dark Elf. Namun saat Ganory diangkat sebagai raja, aku sering mendengar isu kalau raja itu memulai kerja sama dengan mereka" jawab salah satu Elf berambut hijau. Elf itu berkulit pucat dan sedikit kurus.


"Maxip benar. Selain itu, aku mendengar kabar burung kalau Dark Elf terlihat sedang mengatur serangan" tambah Elf lainnya. Elf itu bertubuh pendek dan sedikit gemuk.


"Serangan apa, Hannes?" tanya Caligria.


"Aku juga tidak mengetahuinya secara rinci, Professor, tapi yang jelas itu bukan pertanda yang baik" jawab Hannes.


Caligria mendengus pelan. Kini, situasi semakin rumit. Selain para kanibal yang mulai berani keluar dari wilayah mereka, sekarang mereka harus berhadapan dengan Dark Elf yang terbilang jauh lebih berbahaya dari kanibal.


"Aku takut kalau mereka menyebarkan pengaruh buruk mereka, Professor" ujar Kanoe.


"Untuk saat ini kita akan menambah kewaspadaan. Kanibal adalah prioritas utama kita, namun Dark Elf sepertinya belum memusatkan perhatian kepada kita. Tapi dengan begitu kita tidak boleh lengah. Aku akan memberitahu ini kepada seluruh kapten skuad dan meminta mereka untuk mengatur strategi" jawab Caligria.


_____


Jika kalian puas, kalian boleh menekan tombol like pada novel ini. Satu like dari kalian, maka akan menambah kesan dari kisah ini.


Oh, jika kalian ingin mendapat info lebih dari 'Dataran Lafier' atau novel lainnya, kalian bisa follow instagram saya.


@haritsataqii


Oke, stay tune!


Makasih <3


Next : Ch.19 - Misi Pertama

__ADS_1


__ADS_2