
"A-apa ... yang terjadi pada Alvin?"
Suara Anna bergetar. Saat ini ia memikirkan keadaan Alvin, tapi di saat yang bersamaan, ia juga takut akan keselamatan dirinya dan juga teman-temannya di sini. Melihat mereka semua tumbang di hadapan pria itu, membuat Anna tidak tahu harus berbuat apa.
Di sana, ada Jein yang tergeletak di atas tanah. Lelaki itu tidak menunjukkan pergerakkan layaknya makhluk hidup lainnya. Lalu, Fio juga sama. Mereka semua tidak ada yang berusaha bangkit.
"Apa yang kau inginkan?" Asvia menatap dingin pada Dark Elf itu.
"Aku ingin kau kembali ke kaummu. Tujuanku kemari hanya untuk membawamu kembali" jawabnya.
Asvia memejamkan matanya sejenak. Jadi, semua kekacauan yang ditimbulkan orang ini hanya untuk dirinya.
"Kau kira aku mau, huh?!"
Tiba-tiba, Asvia mendadak muncul di belakang pria itu sambil mengayunkan pedangnya. Satu goresan kena di pipi Dark Elf tersebut sebelum ia menghindar.
Pria tersebut cukup terkejut. Darah segar mengalir dari goresan itu. Ia menyentuh darahnya dan mengembangkan senyum sinis pada Asvia.
"Kau menguasai sihir Dark Elf" katanya. "Sihir manipulasi. Itu membuktikan siapa dirimu sebenarnya"
Dua pedang bercahaya hitam keluar dari kedua tangan orang itu. Aura yang dikeluarkan dari kedua pedang magis itu terasa begitu mencekam. Itu adalah salah satu benda yang dimiliki para Dark Elf.
"Pedang ini hanya dimiliki kaum kita, kau juga mempunyainya, bukan? Kenapa tidak kau tunjukkan saja?"
Asvia bersiaga, ia mengambil kuda-kuda lalu mengangkat pedangnya ke depan.
Melihat posisi Asvia, orang itu menghela napas. "Dengan senjata seperti itu, jangan harap menang dariku"
"Kalau begitu, kemarilah dan kalahkan aku" tantang Asvia.
Pria ini memutar kedua pedangnya lalu berlari cepat menuju Asvia. Asvia melebarkan matanya melihat kecepatan itu, sampai pedang mereka bertemu. Ledakan udara timbul dari tubrukkan kedua pedang itu.
Pria itu mengayunkan pedang yang satunya. Asvia menunduk untuk menghindar, tapi kepalanya diterjang oleh lutut musuh. Asvia mendadak pusing, lalu sebuah tendangan terarah ke perutnya.
Asvia terhempas tapi bisa mendarat di tanah dengan kedua kakinya.
Asvia menyadari kecepatan dan kekuatan orang ini melebihi dirinya. Ia pun kembali menerjang pria itu. Mereka saling tukar serangan di sana.
Terlihat Asvia yang kesusahannya mengimbangi serangan yang diluncurkan ke arahnya.
Pria itu begitu tenang dan serangannya berirama. Ayunan yang dihasilkan dari kedua pedangnya meninggalkan asap hitam. Ia menebaskan pedangnya ke udara, terciptalah asap hitam berbentuk bulan sabit dari tebasan itu dan mengarah cepat menuju Asvia.
Wanita itu meluncur ke kiri untuk menghindar, namun datang lagi serangan ke arahnya. Asvia berlari cepat menghindari setiap serangan. Namun, pria ini tidak berhenti menebaskan pedangnya ke udara.
Mendadak Asvia berhenti ketika ia terkepung oleh belasan asap hitam berbentuk bulan sabit itu. Mereka mengarah ke dirinya, mengepungnya dari segala arah.
Asvia tidak menemukan jalan untuk keluar. Kalau begini, ia akan tamat.
"Bersiap, Sova!
"Aku tahu itu, Noya!"
Tiba-tiba, dua saudara kembar itu muncul di depan dan belakang Asvia. Mereka berdua sama-sama menyentuh tanah dengan kedua tangan mereka yang tiba-tiba saja bercahaya.
Dari dalam tanah, muncul cahaya yang membentuk diri menjadi kubah tembus pandang. Kubah cahaya itu menutupi mereka bertiga dari serangan asap hitam tersebut. Begitu dua element berbeda itu bertabrakan, muncul ledakan yang cukup dahsyat, membuat Anna hampir terpental dari tempat berdirinya, jika tubuhnya tidak ditahan oleh seseorang.
__ADS_1
"Noya, Sova! Kalian datang"
Asvia kaget melihat dua orang ini. Merasa keren dengan tindakan mereka, keduanya mulai bertingkah aneh.
"Tentu saja, kami selalu siap menolong siapa saja"
"Siapa lagi kalau bukan kami yang harus mengurusi semua masalah yang kau hadapi"
Noya dan Sova membusungkan dada mereka sambil bersikap sok keren. Kubah yang mereka ciptakan itu terbuat dari element cahaya, sehingga menjadi kekuatan yang cocok untuk melawan element kegelapan tadi.
Noya dan Sova melempar pandangan mereka kepada pria di ujung sana.
"Ternyata memang ada penyusup" keluh Sova.
"Cukup berani juga, ya. Walaupun ini wilayah utara, kau tidak bisa masuk begitu saja, Pak Tua" Noya menyilangkan tangan di dada.
"Hmph" Pria itu menggeleng pelan. "Jangan berpikir dengan menambahkan dua bocah bodoh akan dapat mengalahkanku"
"Apa katanya?" Noya bertanya.
"Dua bocah bodoh?" Sova heran. Tidak lama kemudian, mereka tertawa terbahak-bahak.
Pria itu mengerutkan dahinya melihat mereka berdua.
"Kurasa dia tidak tahu apa yang ia ucapkan" Sova menyeka air matanya karena tertawa terlalu keras. "Paman, kita apakan orang ini?"
Asvia bingung ketika Sova memanggil seseorang dengan sebutan 'Paman'. Tetapi, jawabannya segera muncul begitu seorang pria paruh baya dengan kumis dan janggut pirang serta rambut yang tersisir ke belakang muncul bersama Anna.
"A-ayah?!" Asvia melongo kaget melihat pria gagah itu.
"Ayah?" Anna menatap Asvia bingung. "Jadi, paman ini adalah ayahmu, Kapten?"
"Ayah, kau kembali" Asvia mengerutkan dahinya. "Kenapa baru pulang?"
"Nanti saja bicaranya, kita urusi penyusup ini dulu" pria ini menoleh ke Dark Elf itu.
"Wah, wah, lihat siapa ini. Tuan Neill. Sudah lama tidak bertemu" ia menyeringai sinis pada mereka.
"Kau sudah merindukanku, Tobias?" Neill tersenyum tipis.
"Ah, setelah empat tahun tidak muncul, kau datang untuk menyelamatkan putri kesayanganmu yang kau ambil dari kami" Tobias tersenyum dingin padanya.
"Aku kembali karena ada sesuatu hal yang berurusan dengan kalian. Tobias, sebaiknya kau pergi dari sini. Aku memperingatkanmu"
"Kau mulai sombong, Pak Tua" kata Tobias. "Walaupun kalah jumlah, aku bisa membantai kalian sekaligus"
"Benarkah?" Neill mengangkat kedua alisnya sembari tersenyum. Di saat yang bersamaan, dari langit, muncul puluhan prajurit, berdiri di belakang dan samping Neill.
Melihat prajurit sebanyak itu, membuat Tobias ragu untuk menyerang. Jika ia memutuskan untuk bertarung di sini, kemungkinan ia menang di bawah sepuluh persen.
"Baiklah, peringatanmu kuhargai. Aku akan pergi" Tobias melenyapkan pedangnya. "Namun, aku akan meninggalkan catatan kecil di sini. Seorang Dark Elf tetaplah Dark Elf"
Setelah mengatakan itu, Tobias menghilang dari hadapan mereka semua.
"Kukira dia akan berani menyerang" Sova berkomentar.
__ADS_1
"Kau tidak apa, Asvia?" tanya Neill.
"Ya, aku baik-baik saja" Asvia menunduk. "Aku kaget melihat kalian semua datang, terutama kau, Ayah"
Neill tersenyum. "Anakku dalam bahaya, sebagai seorang ayah, sudah menjadi tanggung jawabku untuk menjagamu"
"Ya, sebaiknya kita menolong prajurit-prajurit di sini" Asvia mengedarkan pandangannya, lalu berhenti di senjata Alvin. "Mereka membutuhkan pertolongan ketimbang diriku"
"Kau benar-benar sudah menjadi kapten tim yang baik" Neill menepuk pundak Asvia.
"Aku harus pergi, ada yang kuurus dulu" Asvia berlalu pergi.
"Kapten Asvia!" panggil Anna. "Bagaimana dengan Alvin?"
Asvia berbalik sejenak. "Itulah yang akan kuurus. Kita akan bertemu di perkemahan"
Anna melihat Asvia yang melaju pergi menggunakan kudanya. Ia berharap Alvin baik-baik saja di sana.
***
Roby dan Lisa dikagetkan dengan pemandangan prajurit-prajurit yang di bawa ke perkemahan.
Semuanya segera mengosongkan tempat untuk para prajurit yang terkena luka parah ini. Para unit medis segera bertindak untuk mengobati mereka semua.
Roby dan Lisa segera menghampiri Fio yang sedang tidak sadarkan diri. Mereka bertanya-tanya kenapa lelaki iniĀ bisa terluka. Bukan hanya Fio, Jein juga sama. Mereka diletakkan di tanah yang beralaskan tikar.
Di antara para prajurit yang terluka, Gerru menjadi salah satu yang tewas di misi ini. Ia mati karena kehilangan darah terlalu banyak.
Sien yang tangannya melepuh itu segera diobati. Anna meminta maaf berkali-kali pada lelaki itu karena luka Sien disebabkan akibat menyelamatkan Anna, meskipun Sien tidak mempermasalahkannya.
"Di mana Alvin?!" Roby panik. Setelah melihat Fio terluka, pikirannya kacau.
Tiba-tiba, tubuh Alvin diletakkan di samping Fio. Roby dan Lisa kaget melihat kondisi anak itu, Anna langsung menghampiri mereka.
Alvin mengalami luka parah. Kepalanya mengucurkan darah yang mulai mengering, terdapat luka lebam di wajahnya, lalu ada beberapa sayatan pedang di tubuh dan lengannya.
"Kenapa?" gumam Lisa. Ia membelai wajah Alvin yang tengah tertidur itu. "Kenapa ini bisa terjadi?"
Fio dan Alvin terluka, Roby dan Lisa juga sama. Ini menandakan kalau dunia ini benar-benar berbahaya untuk mereka.
Asvia memberi tatapan sayu kepada mereka. Asvia benar-benar lemah jika dalam kondisi seperti ini, melihat seluruh temannya tergeletak tidak berdaya dan sedang menunggu nasib untuk hidup atau mati. Namun, ia adalah seorang pemimpin dan pemimpin yang baik itu tidak menunjukkan kelemahannya di depan umum.
"Kau sudah bekerja keras" Neill datang dari belakang. "Semua ini tidak dapat dihindarkan. Jangan menghukum dirimu sendiri"
Asvia mengangguk pelan. "Kita kuburkan dengan layak mereka yang telah gugur dan kita berikan mereka penghormatan terakhir"
____
Jika kalian puas, kalian boleh menekan tombol like pada novel ini. Satu like dari kalian, maka akan menambah kesan dari kisah ini.
Oh, jika kalian ingin mendapat info lebih dari 'Dataran Lafier' atau novel lainnya, kalian bisa follow instagram saya.
@haritsataqii
Oke, stay tune!
__ADS_1
Makasih <3
Next : Ch.25 - Ketakutan