
Colloseum semakin berisik. Petarung demi petarung sudah tumbang dan tanpa disadari, sekarang hanya tersisa lima petarung. Mereka adalah tiga petarung raja dan Asvia serta Jein yang mendadak menjadi salah satu peserta.
Ultra dan seorang petarung raja lainnya sudah kalah. Meskipun sekarang sudah tersisa tiga petarung raja, tetap saja kesulitannya berada di level tinggi. Menghadapi Cosmos saja mereka sudah kewalahan dan kehabisan tenaga.
Saat ini, Jein dan Asvia saling membelakangi, menempul punggung antara satu sama lain. Dengan posisi seperti ini, keduanya bisa mengawasi gerak-gerik lawan yang mulai mengepung mereka.
"Kuakui, Narres" Ganory menyeringai. "Pertarungan kali ini sangat menarik. Tidak kusangka, dua underdog bisa bertahan sejauh ini"
"Saya juga tidak menyangkanya, Yang Mulia Raja" Narres tertawa canggung. Sebenarnya ini tidak masuk bagian pertandingan.
"Dan juga, dua petarung raja lainnya bisa tumbang sebelum puncak acara" Ganory menyindir sambil melirik kedua raja yang petarungnya telah kalah.
Dua raja itu hanya bisa mengumpat dalam hati. Jika bukan karena posisi Ganory yang lebih tinggi dari mereka, pasti kedua raja ini sudah mengancamnya dari tadi.
"Selain itu, aku sudah tidak sabar—" Ganory mendadak menghentikan kalimatnya ketika melihat tribun selatan yang awalnya tempat hadiah utama berada sudah kosong. Kosong di sini mengarah pada hilangnya Lisa dan Anna.
"Di mana hadiahnya, Narres?" tanya Ganory.
"Tentu saja di sana..." Narres melongo. Ia tidak melihat dua gadis itu di tribun sana. "Hilang?" Narres menjadi pucat.
"Ada di mana hadiahnya, Narres?" nada bicara Ganory menjadi dingin. "Kau tidak sedang mempermainkanku, bukan?"
"Te-tentu saja, Yang Mulia. Saya tidak akan berani mencobanya" jawab Narres. "Hadiahnya mungkin sedang—"
"Mungkin?" Ganory menyela. "Aku tidak suka kata mungkin. Sebaiknya kau suruh anak buahmu untuk memeriksanya"
"Ba-baik. Tentu saja" Narres bergegas ke belakang. Ia pun menyuruh penjaga di sana untuk segera mencari Lisa dan Anna.
"Lakukan dengan cepat atau Ganory akan memenggal kepala kita semua!" bisik Narres pada anak buahnya.
Kembali ke pertarungan.
Asvia menghindari ayunan gada emas itu. Ia berguling melewati kaki lawannya dan segera memanjati punggung petarung raja ini. Di sana ia duduk di belakang leher dan kemudian menyikuti kepala lawannya itu.
Namun, kakinya di pegang oleh petarung raja tersebut. Asvia dilempar ke udara. Ia berputar-putar di sana sebelum menyeimbangkan tubuhnya dan mendarat dengan mulus di lantai.
"Cih, ini menyebalkan" gerutu Asvia.
Sudah berkali-kali ia mencoba menyerang, namun mereka belum menunjukkan tanda-tanda untuk kalah.
Di ujung sana, Jein sedang bermain-main dengan dua petarung. Karena selalu menghindar, Jein tidak punya kesempatan untuk menyerang balik.
"Lihat ke mana kau, Kucing Kecil?"
Mendadak Cosmos muncul dari belakangnya. Ayunan pedang raksasanya membelah angin. Asvia merendahkan badannya untuk menghindar. Pedang itu lewat di atasnya. Asvia membalas, ia mengayunkan pedangnya ke kepala Cosmos berulang-ulang. Karena seluruh serangannya meleset, Asvia berpindah ke bawah dan menebas paha Cosmos.
Satu goresan dalam muncul di pahanya. Cosmos menggeram kesal. Ia memutar pegangan pedangnya dan kemudian ia ayunkan kembali ke arah Asvia. Mereka saling tukar serangan di sana.
Semakin sengit, Asvia mengeluarkan sebuah belati dari saku belakangnya. Ia melemparnya sedikit ke udara, lalu menendang ujung ganggang pedang itu, hingga melesat dan menancap di bahu Cosmos.
Cosmos mengerang melihat belati itu masuk melewati kulit dan dagingnya. Belum selesai, Asvia menggoreskan pedangnya ke lengan Cosmos, ia bahkan menusuk lengan atas pria itu sehingga Cosmos tidak mempunyai kekuatan lagi untuk memegang pedang.
Asvia menebas dada dan perut pria kekar itu. Merasa dalam posisi bahaya, Cosmos melayangkan sebuah pukulan, namun Asvia bisa menghindar. Asvia menghadiahkan sebuah pukulan di leher, lalu menendang kuat Cosmos hingga ia terlempar beberapa meter.
Cosmos berakhir di lantai. Ia baru saja dikalahkan oleh seorang wanita. Sorakkan penonton semakin bergemuruh katanya. Penonton senang dan bersemangat, namun tidak untuk Ganory.
Pria itu mencengkram pegangan kursinya. Wajahnya menegang bahkan sedikit mengeluarkan urat karena menahan malu dan kekesalan di saat yang bersamaan.
Dua raja yang ia sindir tadi tampak lebih baikkan melihat Cosmos sudah kalah.
Di sela-sela itu semua, mereka tidak menyadari akan ada penganggu yang akan mengacaukan pertandingan kali ini.
"Kau sudah siap, Noya?"
"Selalu, Sova!"
Si Kembar ini berada di posisi paling atas colloseum. Dari sana, mereka bisa melihat seisi arena, namun bukan itu tujuan mereka sebenarnya. Di samping mereka ada seember penuh dengan air. Mereka dari tadi mengunyah sesuatu di dalam mulut mereka.
Begitu selesai mengunyah, keduanya meludahkan sesuatu ke ember yang berisikan air tersebut. Jika diperhatikan itu adalah dua buah permen karet yang berwarna merah muda.
"Waktunya pertunjukkan" ucap Noya.
Mereka turun dari sana, bergelantungan di udara dengan tali yang entah dari mana sumbernya. Sementara itu, permen karet yang mereka cemplungkan ke ember tadi mulai menunjukkan pergerakkan. Permen tersebut membesar dan semakin membesar. Benda itu keluar dari ember dan menyebar ke seluruh atap colloseum. Permen tersebut lalu jatuh ke tribun penonton dan mulailah kekacauan.
__ADS_1
Mereka semua berteriak panik melihat permen karet raksasa mulai menjebak dan menenggelamkan mereka semua.
Para raja dan bangsawan menyelamatkan diri mereka melewati jalur evakuasi. Ganory mendecak kesal, ini adalah hari kesialannya. Selagi mereka menyelamatkan diri, para warga saling mendorong dan mendesak, bahkan ada yang terinjak.
Permen itu sudah menelan tribun timur dan terus membesar.
Sementara itu, dari luar Colloseum. Roby yang mencoba mencari sinyal di sini dengan ponselnya menoleh ke colloseum. Ada benda merah muda sedang menelan tempat itu.
Asvia, Jein dan petarung lainnya menghentikan pertarungan mereka. Mereka kabur dari arena itu. Cosmos dengan susah payah ikut lari menyelamatkan diri.
"Asvia!" panggil Jein. "Kita harus pergi dari sini!"
Asvia mengangguk, namun ia teringat sesuatu. Ultra masih tergeletak di sana, masih pingsan. Asvia menghampiri pria itu lalu menyeretnya dari sana.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Jein, panik.
"Aku harus membawa orang ini untuk ditanyai di perkampungan" jawab Asvia yang buru-buru pergi dari arena.
Jein geleng-geleng sendiri, ia pun turut membantu. Mereka masuk ke dalam gerbang dan berlarian di koridor. Karena beban yang mereka tarik ini cukup berat, kecepatan lari mereka melambat.
Sementara itu, permen ini belum kunjung menunjukkan tanda untuk berhenti.
"Kita akan tertelan kalau terus membawa orang ini!" ucap Jein.
"Biar kami bantu!"
Tiba-tiba saja, tiga orang datang. Yang paling mengejutkannya adalah ketiganya merupakan tim ekspedisinya yang sempat hilang.
"Naru, Zenzen, Gilvai! Kalian selamat!" Jein bersorak senang. Ia lega, beberapa waktu yang lalu sebelum sampai ke tempat ini, Jein kehilangan mereka di perkemahan.
"Tentu saja kami selamat! Kau ke mana saja?" tanya Zenzen. Elf laki-laki berkulit coklat dengan postur tubuh tinggi.
"Kami berusaha menahan mereka saat itu" sahut Gilvai. Elf laki-laki yang bertubuh sedikit gempal dengan wajah polos.
"Kau pergi terlalu lama" ucap Naru. Dialah yang paling ingin berjumpa lagi dengan Jein dan dia juga yang merupakan teman masa kecil lelaki itu.
Naru melihat Jein mengenakan syalnya. "Itu syalku, bukan?"
"Kau menyelamatkan syalku, terima kasih" Naru tersenyum cerah.
"Kalian sudah selesai ngobrolnya? Kalau sudah, ini waktu yang tepat untuk melarikan diri" Asvia menunjuk ke belakang sana. Permen itu semakin mendekat.
Mereka berlima mengangkat tubuh Ultra secara bersamaan. Dengan begini, mereka bisa cepat menuju gerbang keluar.
Berpindah ke luar colloseum. Lisa, Anna beserta tahanan colloseum lainnya sudah berkumpul di gerbang halaman.
Saat mereka sampai di sana, Lisa dan Anna terkejut melihat Alvin sedang terbaring tidak sadarkan diri. Kini, Lisa menjadikan pahanya sebagai tempat untuk bantalan kepala Alvin.
"Fio di mana? Lama sekali dia" tanya Anna.
Di saat yang bersamaan, Noya dan Sova datang. Mereka langsung menanyakan keberadaan Jein dan Asvia.
"Kurasa mereka masih ada di dalam" jawab Kanoe. Kembaran itu memperhatikan colloseum dengan cemas. Kalau Jein dan Asva mati, merekalah yang akan bertanggung jawab.
"Itu Fio!" tunjuk Anna.
Di ujung sana, Fio keluar bersama Arui. Arui terlihat tengah membawa seseorang di atas kedua lengannya.
"Apa semuanya sudah lengkap?" tanya Fio.
"Tinggal Jein dan cewek sexy itu" jawab Roby. "Mereka masih di dalam"
Mereka terus menunggu. Permen karet itu sudah menelan seperempat colloseum. Mereka terus berharap ada sebuah keajaiban yang muncul, hingga seseorang yang mereka kenali terlihat di ujung sana.
"Itu Asvia!" seru Sova.
Jein dan yang lainnya memunculkan diri. Mereka membawa seseorang di atas pundak mereka. Kelimanya berlari dengan cepat dari kejaran permen karet itu.
"YAA!!" sorak mereka. Noya dan Sova menghela napas lega.
Mereka semua kembali berkumpul, terkhususnya Jein dan tim ekspedisinya yang sempat terpisah. Mereka saling berpelukkan erat, menghilang rasa cemas dan memunculkan rasa lega.
"Syukurlah kau selamat" kata Kanoe, sambil menepuk-nepuk pundak Jein.
__ADS_1
"Aku yang lebih senang bertemu kalian" Jein tersenyum lebar. "Oh iya, saat dalam perjalanan pulang, aku bertemu dengan mereka. Saat itu mereka berlima sedang dikejar oleh monster rawa-rawa"
"Ah, jangan ingatkan itu lagi" Roby tertawa. Fio merangkulnya.
"Benarkah?" Kanoe menaikkan kedua alisnya. "Kalian sedikit kurang beruntung, ya"
"Benar, benar" Fio tertawa malu. Setelah itu, Jein memperkenalkan mereka semua, termasuk Alvin yang sedang pingsan.
"Aku berniat mengajak mereka ke perkemahan waktu itu, tapi di perjalanan kami dihambat oleh kanibal-kanibal" ucap Jein.
"Itu gila, kawan" sahut Noya.
"Ya, bertemu dengan mereka saja sudah mengerikan, apalagi berhadapan" Sova merinding.
"Aku juga bertemu dengan jasad Kapten Agney di perkampungan mereka" sambung Jein.
"Oh, berarti itu alasannya dia menghilang selama ini" Kanoe menjadi murung.
Semuanya terdiam.
Kanoe menghela napasnya. "Ya, itu sudah resiko kita menjadi tim pengawas dan pengintai. Kematian selalu di depan kita"
Jein mengangguk. "Aku juga berniat membawa mereka ke perkampungan. Apa itu diizinkan?"
"Tapi, apa mereka bisa dipercaya?" Kanoe bertanya.
Mendengar itu, Fio dan Roby saling melempar pandangan dengan wajah keheranan.
"Iya, aku menjamin itu" jawab Jein, yakin.
"Bagiku itu tidak masalah" Asvia menyahut. "Bocah ini sudah menyelamatkanku tadi. Ya, meskipun itu tidak sengaja" Asvia melirik ke Alvin.
"Izinkan saja. Kami tidak keberatan menerima dua wanita cantik di kediaman kami" Sova tersenyum genit. Kanoe memukul kepala pemuda itu.
"Kenapa kau lakukan itu, Paman?!" protes Sova.
"Baik, kalian boleh ikut. Saat di perkampungan kita akan bincang-bincang lagi" Kanoe setuju.
Mereka pun bersiap-siap untuk berangkat. Tahanan lain mengucapkan rasa terima kasihnya pada Sova dan Noya yang sudah bersedia membebaskan mereka. Dua lelaki kembar itu hanya tersenyum malu menanggapi mereka.
Saat mereka sedang menunggu kendaraan, Fio memperhatikan Arui. Lelaki itu tengah menggali tanah dengan cangkul.
Arui terus menggali, namun ia berhenti sejenak saat Fio memegang pundaknya. Lelaki itu tersenyum padanya, ia turut membantu. Lalu, Roby juga datang, tubuhnya yang sedikit besar itu bisa menggali dengan cepat. Jein juga ikut, lalu Asvia dan yang lainnya. Mereka bersama-sama menggali tanah untuk dijadikan peristirahatan terakhir untuk adiknya Arui.
Kuburan itu selesai, dengan hati-hati, Kanoe, Roby dan Arui meletakkan jasad gadis kecil itu di dalam tanah. Mereka lalu menguburkannya. Itulah terakhir kali Arui melihat adiknya. Kuburan itu selesai, adiknya bisa beristirahat dengan tenang.
Setelah merenung dan berdoa, mereka memberi semangat kepada Arui. Mungkin lelaki itu masih bersedih, namun dengan memberikan semangat padanya mungkin akan merubah sesuatu.
"Terima kasih semuanya. Dengan begini, aku bisa melepaskannya" ucap Arui. "Hanya inilah yang bisa kuperbuat untuk adikku"
"Ini memang sesuatu kejadian yang buruk untukmu, Nak. Jangan patah semangat untuk terus berjuang" nasehat Kanoe.
"Berada terus dijalan benar, Kawan" ucap Roby.
"Terima kasih, aku akan mengingatnya" Arui membungkukkan tubuhnya. "Maukah kalian mengatakan ini pada Alvin nanti bahwa tujuanku sudah terpenuhi? Bilang, aku sudah bertemu dengan adikku"
"Tentu saja" Fio tersenyum.
"Terima kasih"
———
Jika kalian puas, kalian boleh menekan tombol like pada novel ini. Satu like dari kalian, maka akan menambah kesan dari kisah ini.
Oh, jika kalian ingin mendapat info lebih dari 'Dataran Lafier' atau novel lainnya, kalian bisa follow instagram saya.
@haritsataqii
Oke, stay tune!
Makasih <3
Next : Ch.14 - Tawaran dan Syarat
__ADS_1