Dataran Lafier

Dataran Lafier
Ch.21 - Predator


__ADS_3

Kekacauan terjadi di regu Asvia. Mereka diteror dengan kemunculan para Orc yang mendadak dari balik hutan.


Satu per satu prajurit yang dibawa Asvia menjadi mangsa mereka. Mereka menjerit sebelum dilahap hidup-hidup oleh para Orc.


Asvia menggigit bibir melihat situasi ini. Sebagai pemimpin, ia harus memutar otak untuk keluar dari bencana ini. Sejauh mata memandang, kiri dan kanannya hanyalah barisan hutan, sedangkan jalan keluar ada di ujung sana.


Tiba-tiba, Lisa dan Roby menjerit dari belakang. Dari atas mereka, seorang Orc terlihat hendak menerjang mereka dengan udara. Asvia segera bertindak, ia mencabut pedang dari punggungnya lalu melemparkannya pada Orc tersebut. Alhasil, dadanya tertusuk dan ia merasa seperti dipukul oleh sesuatu yang besar, Orc itu terhenti di udara sejenak sebelum jatuh ke tanah.


Asvia mengambil satu pedangnya yang tersisa. Tidak ada yang bisa mengatasi serangan mendadak ini, mereka hanya harus keluar dengan cepat.


"Semuanya, tetap berjalan lurus!" teriak Asvia. Dari saku pahanya, ia mengambil dua bulatan kecil, lalu menjatuhkannya ke tanah. Dua bulatan itu kemudian mengeluarkan asap tebal dan menutupi arah jarak pandang.


Lisa menutupi hidung dan mulut menggunakan sehelai kain. Ia tidak tahu apa yang terjadi di luar kabut asap ini, ia tidak mengetahui kondisi orang-orang di sampingnya. Roby dan Asvia tidak dapat ia lihat, namun Lisa harus bergerak ke depan dan keluar dari sini.


Namun...


Tiba-tiba, kudanya tidak sengaja menginjak sesuatu hingga mereka harus terjatuh mencium tanah. Lisa meringis sambil memegangi lengannya, ia mencari tahu apa yang baru saja ia injak itu, tapi kudanya malah lari dari sana.


"T-tunggu!" Lisa berteriak memanggil, namun kudanya menghilang di tengah kabut asap.


Lisa bangkit menahan sakit. Ia masih mencari apa yang membuatnya terjatuh. Lisa segera memalingkan wajahnya begitu tahu kalau ternyata mayat seseorang yang sudah terpotong yang menjadi alasan terjatuhnya.


Lisa menyingkirkan pikiran yang negatif dari kepalanya dan memilih beranjak dari sini.


Di lain pihak, Asvia dan beberapa anggotanya berhasil keluar dari jalan itu. Asvia segera menghitung berapa anggota yang tersisa. Ternyata hanya tersisa 7 termasuk dirinya. Dari 13 orang yang ia bawa, sekarang berkurang menjadi 7.


"Di mana Lisa?" tanya Roby.


Asvia yang merenung sejenak tadi baru menyadari kalau Lisa tidak ada.


"Lisa? Lisa!" Roby kembali memacu kudanya ke dalam jalan itu.


"Roby! Sial, kalian tetap di sini!" Asvia terpaksa mengejar Roby.


Roby kembali masuk ke dalam. Baru saja ia kembali ke sini, ia sudah berpapasan dengan kuda milik Lisa. Degup jantung Roby berpacu, ia semakin cemas dengan nasib Lisa di dalam sana.


Roby memacu kudanya semakin cepat. Perasaan cemas ini semakin menggebu-gebu. Ia menembus udara dengan cepat, seperti ksatria pada masa lampau.


Harapannya semakin menipis ketika ia tidak kunjung melihat sesosok Lisa. Namun, keberuntungan masih menaung di atasnya. Di sana terlihat Lisa yang tengah berjalan kaki.


"Lisa!" teriak Roby sambil melambai.


Lisa menengok. Itu Roby, Lisa tersenyum lebar dan membalas lambaian itu dengan semangat.


Betapa senangnya ia melihat Lisa di sini, di saat sebelumnya ia berpikir kalau gadis ini sudah tewas di misi pertamanya. Mendadak, mata Roby melebar ketika melihat Orc yang tingginya lima meter berjalan di belakang Lisa.


"Ya ampun! Lisa, di belakangmu!" Roby melambai dan berusaha memberitahu Lisa. Tetapi gadis itu sama sekali tidak paham dengan peringatannya.


"Ada Orc!! Ada Orc!!" teriak Roby sambil menunjuk ke belakang Lisa.


Sadar apa yang Roby maksud, Lisa segera menoleh ke belakangnya. Pemangsa itu mengayunkan tangannya, hendak meraih Lisa. Dengan respon cepatnya, Lisa menghindar ke depan dengan menggulingkan tubuhnya. Ia ingin berdiri, tapi rasa sakit di lengannya ini kambuh.


Lisa melihat Orc ini lagi, makhluk tersebut tetap ingin menangkapnya. Lisa mengerahkan kekuatannya untuk menebas tangan Orc itu hingga darah makhluk itu keluar dengan deras.


Selagi Orc tersebut mengerang kesakitan, Lisa berlari sekuat tenaga. Roby sudah mulai mendekat.


Orc ini kemudian murka dan berlari mengejar Lisa. Langkahnya yang raksasa mampu menyusul gadis itu.


Tidak.


Orc berhasil meraihnya, namun bukan Lisa, melainkan Roby. Lisa sendiri kaget, ketika Roby datang mendorongnya dan dengan sengaja menempatkan dirinya di posisi yang berbahaya. Roby baru saja menggantikan dirinya dengan Lisa, sehingga ia yang tertangkap oleh Orc itu.


"Lari!" teriak Roby. Lelaki itu mengerang ketika tubuhnya diremas, terasa seperti diremukkan.

__ADS_1


"Roby!" Lisa tidak sampai hati untuk meninggalkannya di sini.


Orc itu menggegam erat tubuh Roby. Lelaki itu hendak ia arahkan ke dalam mulutnya, bersiap untuk memakan Roby hidup-hidup. Lisa bergetar hebat melihat pemandangan mengerikan ini, ia tidak bisa melakukan apa. Selain lengannya yang sakit, kakinya malah tidak bisa berdiri karena saking ketakutannya.


"Sial!" umpat Roby.


Tiba-tiba, dari depan dan belakang Orc itu melesat dua orang yang secara sengaja melukai wajah Orc ini. Waktu terasa melambat ketika kedua orang ini melakukan adegan yang epic itu.


Lisa dan Roby dapat melihat mereka. Itu Asvia dan Jein.


Dua Elf itu mendarat dengan sempurna di tanah. Keduanya belum selesai, Jein melepaskan tiga anak panah sekaligus ke dada makhluk itu dan Asvia menambahkan dua belati ke tengkuknya.


Orc itu mengaum keras, merasakan sakit yang luar biasa menusuk tubuhnya. Asvia melayangkan pedangnya ke lengan kekar Orc tersebut. Lemparan keras dari Asvia mampu memisahkan lengan pemangsa itu dari tubuhnya. Roby pun terjatuh dan segera disambut oleh Jein.


"Kau tidak apa, Kawan?" tanya Jein.


"Sedikit" Roby menjawab sambil menahan sakit.


Sepuluh prajurit bermunculan dan mengepung Orc ini. Mereka menembak mati makhluk itu dengan puluhan anak panah yang menerjang tubuh kekarnya.


Pertarungan singkat itu dapat diatasi. Lisa dan Roby masih belum bisa mencerna apa yang mereka saksikan ini dan lagi, aksi yang dilakukan oleh Jein dan Asvia benar-benar mengagetkan mereka.


Jadi, itu kekuatan mereka..., batin Lisa.


Setelah Orc itu tumbang, sepuluh prajurit yang mana merupakan anggota Jein mencari sisa Orc di sekitar sini.


"Bukannya kau sedang berjaga?" tanya Roby. Ia berbaring di tanah, Jein tengah sibuk mengobatinya.


"Benar, tapi kami bisa menjadi bala bantuan kalian. Asvia langsung memberi sinyal kepadaku" jawab Jein.


Lisa dan Roby menoleh pada Asvia.


"Ya, saat aku melepaskan asap itu, aku juga mengeluarkan sinyal ke udara, dengan melempar kedua bola ini" jawab Asvia seraya memperlihatkan kedua bola kecil yang ukurannya mirip bola golf itu.


"Tidak, aku malah merasa sebaliknya. Aku bertanggung jawab atas tewasnya 6 rekan kita"


Tatapan datar Asvia seketika berubah menjadi tatapan yang menyedihkan. Sebagai seorang pemimpin prajurit, segala keputusannya akan ditanggung oleh seluruh prajurit, maka dari itu Asvia merasa bersalah karena keputusannya membuat 6 orangnya mati di sini.


"Apa wilayah ini sudah habis dari para Orc?" tanya Roby.


"Sepertinya begitu" jawab Jein. "Ketika mereka menyerang kalian secara tiba-tiba, kami juga datang seperti hantu" Jein tersenyum singkat lalu mengikat erat perban ini di badan Roby.


"Terlalu kencang!" Roby menjerit, ia melayangkan pukulan ke kepala Jein.


Jein tertawa lalu melihat Lisa yang dari tadi memegangi lengannya.


"Kau terluka?"


"Ah, kurasa ini luka kecil. Aku terjatuh dari kuda tadi" Lisa tersenyum, berusaha menyembunyikan rasa sakitnya.


"Kemarilah, biar kuobati" Jein mendekati Lisa. "Sekecil apapun lukanya harus cepat diobati" Jein menggulungkan lengan baju Lisa ke atas dan memulai pengobatannya.


"Kau hebat dalam bidang medis juga, ya?"


"Aku menguasai sedikit ilmu medis" Jein tertawa kecil menanggapinya.


Asvia melihat langit, hari mulai gelap dan mereka harus berkemah di sekitar sini.


"Masih ada satu titik lagi yang harus kita kuasai, sebaiknya malam ini kita harus berkemah dan melanjutkannya besok"


***


Di malam harinya, tepat di bawah rembulan dan di dalam hutan pinus ini, mereka mendirikan kemah dan sudah dijamin bebas dari Orc atau pemangsa lainnya.

__ADS_1


Pagar sudah selesai mereka bangun untuk mengitari area kemah. Tenda medis dan tenda pemimpin sudah didirikan, perapian dan tikar lalu pos kecil untuk berjaga-jaga telah siap.


Prajurit yang tidak bertugas alias sedang terluka diperbolehkan untuk beristirahat. Roby memanfaatkan waktu itu untuk bercanda gurau dengan prajurit lain. Tawa canda mereka dapat terdengar hingga ke pos penjaga.


"Tinggal titik ini lagi saja, kita bisa mengepung mereka dari seluruh arah" kata Asvia sambil menunjuk tanda merah pada peta yang mereka kelilingi.


"Semoga saja tidak ada masalah di sini" sahut Jein. "Aku sempat mengawasi area ini dan di sana ada beberapa kanibal yang berkeliaran"


"Kenapa bisa ada kanibal di wilayah ini?" tanya Alvin, dahinya sedikit mengkerut.


"Bisa jadi ini ada hubungannya dengan tindakan mereka yang sudah berani keluar dari wilayah mereka" Asvia mengetuk jarinya di atas meja, mencoba berpikir.


"Lalu, bagaimana cara kita mengusir mereka?" tanya Gerru, ia menoleh pada Alvin. "Perlu taktik Kucing-Tikus lagi?"


"Taktik apa?" Asvia mendadak bingung.


Gerru menjelaskan taktik itu pada kaptennya. Gerru juga menambahkan alasan keberhasilan mereka menaklukan sarang Orc itu karena taktik yang dibuat oleh Alvin.


Asvia sedikit kaget. Ia tidak mengira Alvin bisa membuat taktik cerdik itu. Tapi Asvia sudah sadar kalau Alvin adalah tipe pengumpan, jadi taktik seperti itu memang sesuai untuknya.


"Tidak, itu malah merugikan kita" Alvin menggeleng. "Apa kanibal takut api?"


"Iya, kenapa?" tanya Jein.


"Gunakan itu. Misalkan mereka memang muncul, aku ingin ada seseorang yang menarik mereka semua ke dalam satu titik"


"Kau bilang kita tidak akan menggunakan taktik Kucing-Tikus" Gerru berucap.


"Ini bukan taktik Kucing-Tikus, tapi taktik Lingkaran Setan" Alvin mulai menggambarkan rencana yang ia maksud ke sehelai kertas.


"Ini pengumpan" Alvin menggoreskan tinta pada kertas itu. "Dan ini para kanibal" Alvin menggoreskan lagi tinta pada bagian kertas yang lain.


"Sang pengumpan akan menarik seluruh perhatian kanibal ke dalam lingkaran ini" Alvin membuat lingkaran sederhana. "Di saat kanibal-kanibal itu masuk ke dalam sini, mereka akan disambut oleh panah api dari pemanah yang sudah berjaga di sini"


"Kenapa kita malah menggunakan panah api?" tanya Asvia


"Jaga-jaga kalau meleset, mereka akan lari"


Asvia mengangguk pelan. Rencana Alvin masuk akal untuk mereka gunakan. Jadi, kedua jenis yang berbeda ini akan dikepung, tapi dengan begitu prajurit mereka akan terbagi dan takutnya akan kalah jumlah.


"Aku menyarankan Asvia dan Jein di tim yang sama untuk mengalahkan kawanan Orc ini. Kekuatan kalian akan dibutuhkan di sini" ucap Alvin. "Soal kanibal, aku akan mengajukan diri sebagai pengumpan dan aku hanya akan meminta enam pemanah untuk ikut bersamaku"


"Enam? Kalian tidak akan berhasil" Asvia protes.


"Karena itu aku hanya meminta enam agar seluruh prajurit yang tersisa bisa memusatkan perhatian kepada kawanan Orc" Alvin mendengus pelan. "Aku sudah mempelajari kepintaran kanibal yang di bawah rata-rata ini, mereka lebih mengutamakan rasa takut daripada rasa lapar"


"Dia benar, Asvia. Selain itu, Alvin akan menjadi pengumpan yang cerdik" Jein mengangguk.


Asvia pun setuju dan akan meminjamkan enam pemanah padanya. "Dengan begitu, kau akan menjadi pemimpin mereka. Berusahalah untuk membawa mereka semua kembali dengan selamat"


"Aku tahu"


___


Jika kalian puas, kalian boleh menekan tombol like pada novel ini. Satu like dari kalian, maka akan menambah kesan dari kisah ini.


Oh, jika kalian ingin mendapat info lebih dari 'Dataran Lafier' atau novel lainnya, kalian bisa follow instagram saya.


@haritsataqii


Oke, stay tune!


Makasih <3

__ADS_1


Next : Ch.22 - Taktik Alvin


__ADS_2