Dataran Lafier

Dataran Lafier
Ch.23 - Kemunculan Dark Elf


__ADS_3

Tiga Orc tengah menyantap sarapan pagi mereka yang berupa seekor sapi raksasa berkepala dua.


Saking sibuknya dengan makanan mereka, sampai-sampai ketiganya tidak merasakan ada bahaya mengintai.


Seperti sebelumnya, Asvia memakai taktik menyelinap. Taktik ini sudah ia gunakan untuk menaklukan lima Orc sebelum sampai kemari.


Asvia yang tengah berdiri di atas pepohonan diam-diam mengangkat tangan kirinya ke atas udara. Melihat Asvia melakukan gerakan, para pemanah di dekatnya bersiap dengan busur mereka.


Sambil menunggu waktu yang tepat, Asvia memberi isyarat kepada Jein untuk bergerak. Lelaki itu mengendap-endap mendekati tiga Orc tersebut.


Asvia menurunkan tangannya, para pemanah, termasuk Fio, menembakkan panahnya pada ketiga Orc itu.


Mendapat serangan mendadak dari belakang mereka, ketiganya sama-sama berbalik, namun mereka malah diserang lagi. Kali ini di wajah, begitu mereka berbalik, Jein dan dua pemanah lainnya melompat tinggi lalu menembakkan wajah tiga makhluk ini.


"Anna, ini kesempatanmu!" Asvia memberi perintah dari atas sana.


Meskipun ketakutan, Anna memegang tombaknya dengan erat. Ia mulai membidik dada salah satu Orc, tapi begitu dilemparkan, sasarannya hanya mengenai perut Orc itu.


"Tidak!"


Anna memegang kepalanya ketika melihat tembakannya meleset.


"Tidak apa, Anna" sahut Asvia. "Sien, selesaikan!"


Sien mendadak muncul dari samping Anna sambil melemparkan tombaknya. Lesatan tombak Sien tepat sasaran, itu menancap tepat di jantung Orc.


"Kau hebat sekali, Sien" puji Anna.


"Kau juga tidak kalah hebatnya" Sien tersenyum.


Satu Orc tumbang, dua Orc buta dan tidak tahu arah. Keduanya bisa menjadi target empuk bagi mereka.


"Jein, Gerru, selesai-"


"Kapten!"


Asvia hendak memerintahkan Jein dan Gerru, namun Fio dengan lantang menyelanya. Asvia menoleh cepat menuju Fio. Lelaki itu memandang serius ke arahnya.


"Izinkan aku mengalahkan salah satu dari mereka!" Fio berucap dengan tegas, penuh keyakinan.


Asvia tidak langsung menjawab. Ia menatap kedua mata yang jujur dan yakin dengan ucapannya itu.


"Jein, Fio akan menemanimu!" Asvia berseru, namun matanya tidak berpindah dari Fio.


Lelaki itu segera keluar dari tempat persembunyiannya. Salah satu Orc yang kedua matanya terkena panah mengarah ke dirinya. Fio menghindar ke samping dengan berlari sambil menyiapkan busurnya.


Getaran yang dihasilkan dari langkah Orc itu membuat Fio menjadi kesusahan untuk meletakkan anak panah pada busurnya.


"Sial" gumam Fio.


Jein muncul di sampingnya. "Fio, butuh bantuan?"


"Tidak, aku bisa sendiri. Kau urus saja yang satunya" jawab Fio. Ia langsung berhenti dan kemudian membidik wajah jelek Orc itu.


Jein yang bingung dengan sikapnya memilih berpindah pada Orc yang satunya.


Tatapan tajam Fio berusaha fokus pada sasaran besar di hadapannya. Dengan busur dan anak panah sebagai senjatanya, Fio mengumpulkan keberanian. Kali ini, ia harus tepat sasaran.


.....


...


.


*Beberapa hari yang lalu...


Lagi-lagi Fio gagal tepat sasaran, padahal ini sudah kesepuluh kalinya ia mencoba tapi masih saja tidak ada satupun yang mengenai sasaran.


"Aaahh!!" Fio berteriak frustasi. "Busurnya rusak!"


"Kau yang payah malah busur yang kau salahkan" Alvin dengan cueknya menjawab sambil berlalu pergi.


"Diam kau, Bocah!" Fio menggeram kesal. Ia hampir putus asa, sekeras apapun usahanya ia tetap saja gagal.


"Aku dulu juga seperti itu"


Tiba-tiba saja, Jein muncul dari belakangnya. Pemuda Elf itu bermandikan keringat selepas berlari keliling lapangan. Ia hanya mengenakan celana dan membiarkan dada bidangnya terbuka tanpa busana.


"Kau juga kesusahan sepertiku?" tanya Fio, heran. "Lalu, bagaimana kau bisa hebat menggunakan busur? Tunggu, jangan katakan kalau kau harus berlatih giat untuk menjadi hebat"


Jein terkekeh lalu berjalan menghampiri Fio. "Tanpa latihan bagaimana caranya kau bisa menjadi kuat?" tanya Jein, ia pergi mengambil busur lalu kembali ke tempat Fio.

__ADS_1


"Pemanah bukan hanya mengandalkan busurnya, tapi juga fokus dan keadaan sekitarnya" ucap Jein. Ia meletakkan anak panah di busurnya lalu bersiap untuk menembak.


"Di depanmu ada target yang harus kau tembak. Sebisa mungkin kau harus bisa mengenainya dan jangan ragu" Jein kemudian menembak dan anak panahnya menancap di tengah-tengah target.


"Meskipun targetmu sebesar raksasa, kau tidak akan bisa mengenainya kalau kau ragu dengan sekitarmu. Pahamilah targetmu, kemana ia akan bergerak. Terkadang, target yang diam di tempat juga sulit untuk dikenai, karena itulah bayangkan antara dirimu dengan target ada semacam penghubung yang menjadi arah tembakmu"


.


...


.....


"Penghubung dengan target.."


Fio menghembuskan pelan napasnya keluar dari mulut. Ia mulai membayangkan seolah-olah dirinya sendiri bersama Orc ini.


Dari sini ia dapat melihat targetnya. Bagaikan patung jerami raksasa, ini adalah target yang mudah, namun ada lingkaran merah di dada kiri patung itu. Itulah target Fio yang sebenarnya.


Titik itu dapat ia lihat dengan jelas.


"Baik" Fio menarik tari busurnya dan mengambil posisi yang bagus. Berdiri dengan kedua kakinya, Fio membidik dengan tenang.


Patung yang ia bayangkan tadi berubah kembali menjadi Orc setinggi lima meter. Makhluk itu sedang mengarah ke dirinya.


Merasa yakin, Fio melepaskan anak panah dari busur. Bagaikan pembelah udara, anak panah itu melesat cepat menuju dada kiri Orc tersebut.


Tertancap!


Anak panah itu berhasil menyentuh jantungnya. Fio menahan napasnya begitu melihat tembakannya tepat sasaran.


"Tembak lagi" bisik Fio.


Serangannya belum cukup, Fio mengambil anak panah lagi untuk ia tanamkan di tubuh makhluk tersebut. Ia menembak, kali ini kena di leher. Fio terus menembak dan menembak. Bukan hanya senang, Fio menambahkan rasa kekesalannya di setiap ia menembak.


Sudah lebih dari sepuluh panah ia tembakkan ke tubuh Orc itu. Fio menyiapkan serangan terakhir. Serangan ini ia arahkan untuk kebodohannya sendiri.


Anak panah terakhir itu mendarat di dahi Orc dan itu menandakan akhir dari Orc tersebut untuk tumbang ke tanah.


Tanah bergetar sejenak, lalu bergetar lagi, menunjukkan Orc yang satunya telah kalah dari Jein. Pemuda Elf itu cukup terkejut melihat Fio dapat mengalahkan Orc itu sendiri, terutama ada 14 panah yang menjadi bukti keganasan Fio pada makhluk rakus itu.


Asvia memerintahkan seluruh prajuritnya untuk keluar dari persembunyian. Dua Orc yang mati ini menjadi pertanda kalau mereka sudah berhasil menyelesaikan misi.


"Kau hebat, Fio!" Anna berlari pada Fio lalu memeluk erat lelaki itu. "Aku kagum padamu! Bagaimana kau melakukannya?" tanya Anna, masih melingkarkan kedua lengannya di leher Fio.


"Kau berhasil, Fio" Jein tersenyum sambil menepuk pundaknya. "Akhirnya kau bisa mengatasi keraguanmu. Hanya saja..." Jein menengok sejenak mayat Orc itu. "Kau terlalu brutal" lanjutnya sambil tertawa ringan.


"Aku tak bisa melakukannya tanpa bantuanmu" Fio tersenyum tipis. "Terima kasih"


Jein membalas dengan senyuman. Mereka bisa menghela napas lega setelah misi yang memakan banyak stamina dan mental. Sejak dua hari ini mereka sudah berhadapan dengan Orc.


"Kurasa kita sudah berhasil menuntaskan misi kali ini" Asvia datang menghampiri. "Kurasa Alvin dan kelompoknya juga sudah selesai. Kita akan bertemu dengan mereka di perkemahan"


Lalu, di tengah-tengah perayaan kecil mereka, sebuah pedang melesat cepat menuju ke arah Anna.


Mengetahui ada sambaran besi tajam mengarah pada gadis itu, Sien menangkap ganggang pedang itu sebelum senjata tersebut menembus otak Anna.


Orang-orang di sekitar sana terkejut, terlebih lagi Anna yang tidak bisa berteriak karena rasa kagetnya yang lebih dulu menyelimuti dirinya.


Asvia dan Jein segera bersiaga, prajurit lain juga begitu. Mereka mengawasi keadaan sekitar, kemungkinan lawan adalah tipe yang tidak biasa.


"Tunjukkan dirimu!" teriak Asvia. "Kau sudah memasuki wilayah Stofein tanpa izin!"


Walaupun Asvia sudah memberinya sinyal ancaman, penyerang ini belum mau menampakkan dirinya. Namun, perhatian mereka langsung berpindah pada Sien yang tiba-tiba menjerit.


Jein melotot ketika melihat tangan Sien melepuh. Lelaki itu berusaha menahan sakit pada tangannya. Ia berlutut ke tanah, menyaksikan tangannya yang terlihat seperti terbakar itu.


"Pedangnya.." Asvia memusatkan perhatiannya pada ganggang pedang yang tadi Sien tangkap. "Pedangnya beracun"


"Ternyata itu kau"


Mendadak muncul seseorang dari belakang pepohonan. Orang itu mengenakan jubah hitam yang terlihat menyembunyikan tubuhnya. Selain itu, kulit abu-abunya serta rambut hitam itu sudah menunjukkan identitas aslinya.


"Dark Elf!"


Sejumlah prajurit membentuk perisai untuk Asvia dan yang lainnya. Mereka menodongkan busurnya pada pria itu.


Meski diancam dengan senjata, pria itu tidak memperlihatkan rasa takut, malah ia berani menatap tajam ke arah Asvia.


"Asvia Gertein" pria dengan suara tajam itu membuat Asvia melebarkan kedua matanya.


"Asvia, mundur" Jein hendak maju, namun Asvia menahan pundak pemuda itu.

__ADS_1


Fio dan Anna bingung dengan situasi seperti ini. Untuk saat ini, mereka lebih baik diam dan menunggu saat yang tepat untuk berbuat.


"Siapa kau?" tanya Asvia. "Kenapa kau tahu namaku?"


"Seharusnya kau tahu siapa aku" jawabnya.


Entah ia sadar atau tidak, Gerru dan seorang prajurit lainnya menyelinap mendekat.


"Aku tidak tahu siapa kau, namun kau akan dihukum dengan berat karena sudah memasuki wilayah Stofein tanpa izin" jawab Asvia.


Pria itu tertawa sinis. "Sepertinya kau sudah sepenuhnya menjadi bagian dari jenis sampah ini. Kau rela menyerahkan kekuatan yang sudah ditakdirkan diberikan padamu sebagai seorang Dark Elf kepada atasan mereka yang lembek"


Gerru melompat dengan mengayunkan pedangnya ke leher pria itu.


Tetapi, serangan Gerru dapat ditangkis dengan pedangnya. Pria itu menarik Gerru lalu menjadikannya sebagai tameng untuk menghindari serangan prajurit yang satunya. Secara tidak sengaja, prajurit itu menebas punggung Gerru.


Gerru menjerit kesakitan. Belum selesai, pria itu menendang Gerru dan mengenai prajurit yang satunya. Mereka berdua terhempas dan membentur pada salah satu pohon di sana.


Prajurit lain datang menyerang. Bersama-sama mereka berusaha untuk menundukkan pria ini. Namun karena perbedaan level yang jauh, prajurit-prajurit itu dengan mudah dihajar.


Tiba-tiba, Jein datang dari atas. Ia melayangkan pukulannya pada orang itu, namun ia dengan gesit menghindar. Jein mengeluarkan dua belatinya dan mulai mengayunkannya.


Pria ini memiring kepalanya untuk menghindar dua serangan Jein, lalu dengan kuat menepis satu tangan Jein. Ia menepuk perut pemuda itu, lalu menusuknya dengan dua jari. Tiba-tiba, Jein mengalami batuk darah. Untuk penyelesaian, ia memukul dagu Jein hingga pemuda itu terlempar menjauh darinya.


Asvia datang dengan pedangnya, tapi lagi-lagi ia bisa menangkis serangan. Tatapan mereka bertemu.


"Lihatlah dirimu, begitu lemah karena berada di sekeliling mereka" ucapnya.


Asvia menurunkan pedangnya, lalu mengarahkan tendangan ke leher pria itu. Kesal karena diserang, pria tersebut mendaratkan pukulannya pada wajah Asvia.


Asvia terseret ke belakang. Ia menyeka darah segar yang mengalir di sudut bibirnya.


Perhatian pria itu teralihkan pada Anna yang memberanikan diri menyerang dengan tombak. Tiga kali ia menghunuskannya pada pria itu, tapi semuanya dapat dihindar. Ketika Dark Elf tersebut mengayunkan pedangnya ke arah Anna, mendadak Fio datang.


Kedua lengan Fio terluka karena serangan itu. Sambil meringis kesakitan, Fio berusaha memukul Dark Elf itu, tapi malah ia yang mendapat pukulan telak di wajahnya. Pria itu menambahkan tendangan di perut Fio.


"Fio!" teriak Anna.


Tiba-tiba, Anna dicekik olehnya, lalu diangkat hingga kakinya tidak lagi menyentuh tanah.


"Apa ini? Lemah sekali"


Sebuah belati melesat ke arah Dark Elf itu. Dengan terpaksa ia harus melepaskan Anna dan memilih menghindar. Gadis itu terduduk di tanah sambil batuk-batuk. Ia hampir tidak bisa bernapas tadi.


Asvia datang menghampiri dan berdiri di depannya. Dari tadi Asvia terus berusaha tenang. Ia memperhatikan sekitarnya, seluruh prajurit dapat dikalahkan dalam waktu singkat oleh orang ini.


Siapa dia?


"Lihat, kan? Mereka lemah" ucapnya. "Mereka tunduk, sedangkan kau masih berdiri. Kenapa? Karena kau adalah Dark Elf, salah satu dari kami"


Napas Anna tertahan ketika mendengarnya.


"Oh, ketika dalam perjalanan kemari, aku sempat bertemu dengan seseorang" pria itu mengambil sesuatu dari dalam jubahnya. "Dia cukup merepotkan dan cerdik, tapi masih bukan tandinganku" ia mengeluarkan sebuah crossbow, lalu melemparkannya ke tengah.


Asvia dan Anna sama-sama melebarkan matanya. Senjata itu milik Alvin.


"Kau apakan dia?" Asvia memandang marah padanya.


"Bukan sesuatu yang parah. Aku hanya menidurkannya. Mungkin, saat ini ia sedang bermimpi indah"


***


Di tempat lain, di mana Alvin dan kelompoknya melawan para kanibal.


Di tempat itu, tidak ada tanda-tanda pergerakkan dari orang-orang yang sedang berbaring di atas rerumputan dengan ditemani angin yang berhembus.


Di sana, Alvin, seorang pemimpin kelompok kecil, sedang terduduk dengan posisi kepala yang menunduk di bawah rindangnya pohon di belakangnya.


Seperti yang dikatakan Dark Elf itu, ia sedang tertidur untuk waktu yang tidak bisa ditentukan.


____


Jika kalian puas, kalian boleh menekan tombol like pada novel ini. Satu like dari kalian, maka akan menambah kesan dari kisah ini.


Oh, jika kalian ingin mendapat info lebih dari 'Dataran Lafier' atau novel lainnya, kalian bisa follow instagram saya.


@haritsataqii


Oke, stay tune!


Makasih <3

__ADS_1


Next : Ch.24 - Akhir Dari Misi


__ADS_2