Dataran Lafier

Dataran Lafier
Ch.22 - Taktik Alvin


__ADS_3

Asvia mengumpulkan sebagian besar prajurit di halaman perkemahan ini. Ia akan mengumumkan perihal misi untuk keesokan hari.


Di hadapan 24 prajurit termasuk kelompok Jein, berdirilah Asvia dan Alvin. Beberapa prajurit berbisik-bisik keheranan melihat Alvin yang notabenenya seorang anak baru.


"Aku dan Alvin akan berperan sebagai pemimpin untuk misi besok" kata Asvia. "Dalam misi ini, kemungkinan besar kita akan menghadapi kanibal..."


Mendengar kata kanibal disebutkan, mereka sontak kaget dan mulai keheranan. Menghadapi Orc saja mereka sudah kawalahan, sekarang kanibal malah ikut-ikutan. Dua makhluk ini adalah mimpi buruk bagi mereka, apalagi jumlah mereka yang sedikit saat ini.


"....karena itu kami sudah menyusun rencana. Diam!" Asvia berteriak, melemparkan kekesalannya pada prajurit-prajurit ini yang berbisik-bisik saat ia sedang berbicara.


"Kami sudah menyusun rencana, jadi dengarkan, agar tidak ada nyawa yang harus dikorbankan" Asvia mendengus kesal. Prajurit-prajurit itu akhirnya mau tenang.


"Orc dan kanibal harus dipisahkan agar kita tidak kerepotan. Dalam kasus ini, aku mempercayakan Alvin untuk mengurus para kanibal" Asvia memegang pundak Alvin sejenak. "Ia mengajukan diri sebagai pengumpan untuk menarik para kanibal hingga ke titik yang telah ia tentukan. Alvin menyebutnya taktik Lingkaran Setan"


"Tapi ... dia hanya anak baru"


"Kami tidak terlalu yakin, Kapten"


Mereka mulai protes. Di mata mereka, Alvin memang terlihat sebagai bocah pendek yang lemah. Selain itu, ia masih terlihat muda dan tidak berpengalaman.


"Kalian boleh berkata seperti itu kalau belum melihat kemampuannya" Sien memutar kedua bola matanya melihat sikap prajurit-prajurit yang terdengar merendahkan Alvin.


"Ah.." Alvin menghela napas pendek. Sien malah membuatnya tambah kerepotan. Dengan begini, para prajurit justru ingin sekali melihat kemampuan Alvin.


"Keputusanku sudah bulat untuk menunjuk Alvin sebagai pemimpin untuk menangani kanibal. Jika dia berbuat salah, maka aku yang bertanggung jawab penuh" Asvia menekan setiap kalimat yang ia ucapkan, menunjukkan ia tidak akan merubah keputusannya.


Asvia melanjutkan, "Untuk melawan kanibal, aku akan menunjuk enam pemanah sebagai penembak untuk Alvin"


"Hanya enam?" tanya Anna, bingung.


"Enam pemanah itu akan dilengkapi anak panah api..." Asvia menjelaskan secara rinci taktik Alvin ini.


"Sementara itu, sisanya akan ikut denganku dan Jein untuk melawan Orc yang tersisa" Asvia menyelesaikan kalimatnya. "Ada yang ingin bertanya?"


Setelah tidak ada yang mau bertanya, Asvia membubarkan mereka semua. Alvin menghela napas panjangnya begitu barisan prajurit itu sudah tidak ada di depannya.


"Ada apa?" tanya Asvia.


Alvin tidak langsung menjawab, tatapannya mengarah ke bawah.


"Aku pernah mengajukan syarat kepadamu, kalau aku tidak ingin memimpin suatu pasukan. Tapi, kau malah menjadikanku pemimpin mereka" Alvin menjawab sambil berjalan ke depan, menuju luar perkemahan.


"Karena kau lah yang mengajukan taktik ini" Asvia mengikuti dari belakang. "Hanya kau yang bisa memimpin taktik yang kau buat sendiri"


Alvin berdiam diri di luar lingkungan perkemahan sambil memandangi langit malam yang saat ini begitu indah karena kelap-kelip bintang yang mewarnai langit malam.


Asvia turut melihat ke atas. "Apa kau gugup?"


"Hm..." Alvin mengeluarkan ponselnya dan mengarahkannya ke langit, lalu memotret pemandangan di atas sana. "Aku hanya belum terbiasa memimpin. Menurutku itu sangat merepotkan"


"Hmph" Asvia terkekeh lalu tersenyum mengejek. "Kau ini ya, selalu ingin yang mudah saja, dasar bocah"


"Untuk kali ini kau benar" Alvin tersenyum tipis.


"Aku jadi ingin mengetahui banyak tentang dirimu dan dunia asalmu. Bagaimana kalau kau menceritakannya setelah misi ini selesai?"


"Aku tidak begitu yakin kau akan menyukainya" Alvin menoleh ke Asvia. "Baiklah, saat aku lagi senggang saja"

__ADS_1


***


Tibalah saatnya untuk mereka menyelesaikan misi pada hari ini. Roby dan Lisa harus terpaksa untuk tinggal di perkemahan karena luka yang mereka alami.


"Hati-hati, ya"


"Tolong bawakan kabar baik"


Lisa dan Roby melambai pada prajurit-prajurit yang hendak berangkat. Khusus untuk prajurit pria, mereka menjadi lebih bersemangat saat mendapat sorakan semangat dari Lisa.


Tatapan Lisa dan Fio bertemu. Sejak tadi malam mereka belum berbicara. Fio hanya memperhatikan gadis itu dari jauh, berpura-pura tidak mengetahui kondisinya. Namun, begitu mereka saling menatap satu sama lain, Fio menjadi salah tingkah.


"Hati-hati"


Tanpa diharapkan oleh Fio, Lisa mengembangkan senyum lembutnya. Untuk sesaat, Fio merasa terperangkap dalam kilauan senyum itu.


"I-iya" Fio mengalihkan wajahnya dari Lisa. Sungguh ia tidak bisa mengatasi perasaannya ini.


"Aah, kenapa aku harus ikut juga?" keluh Anna.


"Kau bahkan tidak terluka sama sekali" jawab Alvin dari samping.


Asvia yang berada di depan mulai bergerak setelah memeriksa semua prajuritnya. Prajurit-prajurit yang tersisa ini akan beraksi lagi untuk mengusir penyusup-penyusup ini dari wilayah mereka.


***


Asvia dan Alvin berada paling depan dengan kuda mereka yang melaju sangat cepat.


Mereka sampai di titik perpisahan. Asvia mengangguk pada Alvin sebelum mereka berpisah di sana. Alvin dengan enam prajuritnya mengarah ke tempat di mana para kanibal itu dilaporkan terlihat.


Baru saja mereka berpisah, seorang kanibal sudah terlihat. Tanpa harus mendekati kanibal itu, Alvin menembaknya dengan crossbow di punggung tangannya. Kanibal itu tumbang dengan satu tembakan tepat di kepalanya.


Prajurit di belakangnya terkesima dengan tembakannya tadi.


"Di sini kita berpisah. Aku akan mengumpulkan para kanibal. Bersiaplah!" ucap Alvin. Ia pun pergi ke arah yang berbeda dari prajuritnya.


Alvin melajut cepat di padang rumput ini. Beberapa kanibal terlihat berkumpul di bawah rindangnya pepohonan di ujung sana. Alvin bergerak ke sana, sengaja memancing perhatian mereka.


Melihat ada santapan segar mendekat, kanibal-kanibal itu melolong. Alvin melirik ke samping, setelah lolongan tadi, ada sekitar 13 kanibal keluar dari tempat persembunyian.


Setelah Alvin menghitung kanibal secara keseluruhan, ada 18 kanibal berkumpul di wilayah ini. Jumlah itu lumayan banyak untuk kanibal yang berada di luar wilayah mereka.


Alvin menukik berbelok dan sengaja melambat agar bisa dikejar oleh mereka. Kawanan kanibal buas itu berlari dengan kaki-kaki mereka di atas padang rumput ini.


Ia mencari lebih banyak kanibal di sini. Alvin berputar-putar di area ini hanya untuk mengumpulkan para kanibal.


Ada 30 kanibal di sini.


"Aku tidak mengira mereka akan sebanyak ini" gumam Alvin. Ia mengambil sebuah tombak dari samping kudanya yang terpasang dengan pelana kuda.


Alvin menyalakan api di ujung tombaknya yang dibungkus oleh kain dengan dicairi minyak. Ia hanya harus mencari api untuk mengobarkan tombak ini dengan api.


"Tembak!" Alvin berseru pada prajuritnya sambil mengangkat tombak itu ke atas.


Salah satu dari mereka menembakkan panah api itu ke tombak Alvin. Ujung tombaknya kini terbakar oleh api. Sekarang tibalah tahap akhir.


Alvin berkendara memutar, diikuti oleh 30 kanibal itu. Ia mengarahkan tombak tersebut ke rerumputan selagi ia terus berputar dan membentuk lingkaran api yang ia sebut sebagai Lingkaran Setan.

__ADS_1


Tanpa sadar, para kanibal itu terjebak di dalam lingkaran dan tidak tahu mau kemana. Alvin keluar menembus pagar api. Gilirannya sudah selesai, tinggal tahap eksekusi.


Enam prajurit bersiap membidik ke udara dengan anak panah api mereka. Setelah mendapat aba-aba, mereka meluncurkan panah itu ke udara.


Jeritan para kanibal dapat mereka dengar beriringan dengan jatuhnya panah-panah api ke dalam lingkaran setan itu.


Ini memang cara tersadis, tapi Alvin lebih menyukai cara ini karena lebih efektif. Mereka terus menembak hingga tidak ada lagi teriakan yang tersisa di dalam sana.


"Sudah selesai?"


"Seharusnya sudah" jawab Alvin. Ia maju untuk memeriksa keadaan. Dari kobaran api yang mulai membesar itu, tidak terlihat ada satupun kanibal yang berdiri.


Alvin menyuruh enam prajuritnya untuk memadamkam api ini. Bersama-sama mereka menghujani lingkaran itu dengan air.


"Maafkan kami karena sudah meragukanmu"


Tiba-tiba saja mereka meminta maaf. Alvin yang tengah sibuk memadamkan api menjadi terdiam karenanya.


"Ya, kami minta maaf. Seharusnya kami tidak menilaimu malam itu"


"Setelah melihat kemampuan yang lebih nekat itu, kami menjadi yakin kalau kau bukan sembarangan prajurit biasa"


"Nekat" Alvin tersenyum tipis. "Ya, kurasa kalian benar. Aku nekat, tapi ini bukanlah diriku"


Alvin merenung dan merasa bingung dengan perubahan yang ia alami. Entah kenapa ia menjadi lebih aktif ketimbang dirinya yang dulu. Jauh dalam lubuk hatinya, ia merasa kalau  dunia ini sudah cocok dengan kepribadiannya.


Tiba-tiba...


Dari tengah-tengah lingkaran itu, jatuh sesuatu yang mengeluarkan cahaya ungu dari langit. Jatuhan itu menyebabkan ledakan yang cukup untuk menghempaskan orang-orang di sini.


Alvin mendarat dengan punggungnya, lalu berguling ke belakang. Ia terdiam sejenak di rerumputan sembari berusaha melihat kemunculan sesuatu yang mengagetkan itu.


Dari kepulan debu bekas ledakan yang mengepul di udara, terlihat siluet bayangan seseorang di dalamnya. Alvin menyipitkan matanya, berusaha melihat orang itu.


"Energi ini?!"


Prajurit yang jatuh tidak jauh di sampingnya menjadi pucat.


Kepulan debu itu mereda. Perlahan, sesosok misterius itu mulai terlihat. Dari rambutnya yang hitam pekat dengan corak ungu, berkulit abu-abu, mengenakan jubah hitam yang berkibar dihembus udara. Berwajah arogan tanpa ekspresi.


Alvin mengerutkan dahinya ketika melihat tatapan orang ini yang begitu dingin tanpa perasaan.


Merasa ada aura bahaya dari orang ini, Alvin menembakkan satu anak panah dari crossbownya ke arah kepala orang tersebut.


Namun, Alvin dibuat kaget karena si misterius itu bisa menangkap lesatan panahnya yang mengarah tepat ke wajah. Begitu ditangkap, lalu mematahkannya menjadi dua.


"Sekarang beritahu aku" orang itu membuka suara baritonnya. "Di mana Asvia Gertein?"


___


Jika kalian puas, kalian boleh menekan tombol like pada novel ini. Satu like dari kalian, maka akan menambah kesan dari kisah ini.


Oh, jika kalian ingin mendapat info lebih dari 'Dataran Lafier' atau novel lainnya, kalian bisa follow instagram saya.


@haritsataqii


Oke, stay tune!

__ADS_1


Makasih <3


Next : Ch.23 - Kemunculan Dark Elf


__ADS_2