Dataran Lafier

Dataran Lafier
Ch.25 - Ketakutan


__ADS_3

"Dia belum sadar"


Roby menggeleng pelan saat ia masuk ke kamar ini. Di sini, hanya ada Lisa dan Anna. Fio ada di ranjangnya, duduk sambil memeluk lutut.


Sudah dua hari saat mereka kembali ke perkampungan. Suasananya begitu mencekam begitu masyarakat menyambut mereka dengan tatapan kaget dan sedih.


Setelah misi itu, banyak prajurit yang harus meregang nyawa. Jasad mereka tidak dibawa balik ke kampung, itu sudah menjadi tradisi warga Stofein kalau prajurit mati di medan pertempuran, maka ia harus dimakamkan di luar kampung.


Keluarga yang ditinggalkan tentunya menjadi sedih dan berat untuk menerima kenyataan. Di saat yang bersamaan, kembalinya Neill membuat atasan Stofein harus memulai rapat mereka.


Berita tentang kemunculan Dark Elf di wilayah utara tersebar cepat ke penjuru kampung. Selama dua hari ini, berita itu masih dibicarakan oleh orang-orang. Mereka dengan yakin, kalau penyebab kematian masal dari prajurit bukan karena Orc, melainkan Dark Elf. Hal ini secara tidak langsung berdampak pada Asvia yang merupakan gadis Dark Elf.


Masyarakat tidak mengucilkannya atas apa yang terjadi, namun kenyataannya kalau ia adalah Dark Elf sudah diketahui oleh seluruh warga di sini.


Sejak kepulangan mereka, Fio tidak mau berbicara satu patah katapun. Setelah melihat kekuatan besar dari Dark Elf itu, membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Begitu mengetahui Alvin juga terluka dan belum sadar sampai sekarang dikarenakan oleh Dark Elf itu, menambah rasa takutnya.


Lisa dan Anna hanya menghela napas berat begitu Roby memberitahu kabar ini.


Alvin berada di ruangan terpisah dan sedang dirawat oleh dokter-dokter di sini. Mereka hanya bisa berharap Alvin baik-baik saja dan bisa kembali beraktivitas, setidaknya sampai mereka semua pulang dari Lafier.


"Apa yang harus kita lakukan setelah ini?" Roby menghempaskan dirinya ke kursi, sembari memegang kepalanya yang berdenyut.


Tidak ada yang mau menjawab. Semuanya tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi ke depannya. Dari sini saja, misi yang sederhana berubah menjadi malapetaka dan kemungkinan besar itu akan terjadi secara terus menerus untuk menimpa mereka.


Ruangan ini hening untuk beberapa saat sampai seseorang mengetuk pintu dari luar.


"Ini aku Naru" ucapnya dari luar. "Bolehkah aku masuk?"


"Silahkan" jawab Anna.


Setelah mendapat izin, Naru masuk. Lelaki berwajah feminim itu membawakan sekeranjang buah dan setangkai bunga.


"Aku turut prihatin atas apa yang terjadi pada kalian" katanya. "Kuharap kalian lekas sembuh"


Roby melirik pada barang bawaan Naru. "Apa yang kau bawa itu, Naru?"


"Ah, ini untuk kalian" Naru memberikan sekeranjang buah dan bunga itu pada Roby. "Aku pernah membaca buku yang menceritakan tentang manusia. Jika aku membawakan buah-buahan dan bunga seperti ini, kalian akan membaik. Itu yang dituliskan di buku"


Lisa tersenyum melihatnya. "Terima kasih, kami sangat menghargainya"


"Bagaimana keadaan Jein dan Sien?" tanya Anna.


"Mereka mulai pulih, tapi belum boleh latihan seperti biasa" Naru mengangguk pelan. "Aku harap Alvin bisa pulih secepatnya. Aku dengar dia melawan Dark Elf, Tobias"


"Ya, bocah itu melawannya" Roby tersenyum pahit.


Naru ikut berduka. Setelah berkunjung, ia pergi. Ruangan ini kembali sepi.


***


"Tobias Gertein" Neill membuka suaranya di hadapan Caligria dan atasan lainnya. "Itu namanya. Aku mengetahuinya lima tahun yang lalu"


Neill duduk bersama empat pemimpin Stofein di meja bundar ini, yang tidak lain adalah Caligria, Kanoe, Taysen dan Maxip. Di luar, Asvia berdiri sambil menyilangkan tangan ke dadanya, menunggu dan menguping pembicaraan mereka.


"Berasal dari keluarga Gertein, mereka ahli dalam pengendalian sihir kegelapan. Termasuk untuk seorang Tobias"


"Aku mendengar kabar kalau ia dipenjara dua tahun yang lalu" ujar Maxip yang duduk di sisi kirinya.


"Tidak, tidak, itu palsu" Neill menggeleng. "Tobias tidak pernah sekalipun berurusan dengan pihak keamanan pemerintahan manapun"


Neill lalu menjelaskan sesosok Tobias Gertein ini. Tobias adalah salah satu prajurit kelas atas yang berasal dari keluarga Gertein. Seperti yang mereka ketahui semuanya, Gertein adalah keluarga Dark Elf yang sedang berkonflik dengan salah satu kaum Elf lainnya, Fire Elf.


Gertein merupakan keluarga yang berpengaruh dan mereka adalah salah satu keluarga bangsawan. Gertein jarang berurusan dengan Stofein, namun akhir-akhir ini mereka mulai melakukan pergerakkan untuk memicu konflik baru dengan Wood Elf, yaitu kaum Elf yang ada di Stofein.


Alasannya mungkin hanya satu dan itu ada hubungannya dengan Neill dan Asvia.


"Asvia adalah keturunan asli dari keluarga Gertein" Neill berucap. "Dan alasan mereka kemari tidak lain adalah untuk merebut Asvia dari kita"


Asvia mengerutkan dahinya, tetapi ia berusaha untuk tetap tenang.


Caligria mengetahui itu. Asvia memang satu-satunya Dark Elf di sini dan sekaligus menyandang nama Gertein.

__ADS_1


"Namun, kenapa mereka ingin mengambil Asvia?" tanya Kanoe.


"Kurasa ini ada hubungannya dengan permasalahan mereka baru-baru ini" Caligria berpendapat.


"Sebentar" Taysen angkat bicara. "Apa mereka mau memperkuat pasukan mereka?"


"Jika konflik dengan Fire Elf memanas, maka itu ada benarnya" Neill membenarkan.


"Professor, kita tidak bisa membiarkan mereka merebut Asvia" Kanoe menoleh ke arah Caligria.


"Benar, akan buruk dampaknya nanti" Maxip ikut memohon. "Kita tahu Asvia adalah salah satu prajurit terkuat kita di sini, kehilangan dia berarti kita kehilangan 100 prajurit"


"Aku paham dengan kecemasan kalian" Caligria mengangguk. "Tentunya aku tidak akan membiarkan mereka mengambil Asvia. Tetapi, dengan begini kita akan sering berhadapan mereka"


"Mau tidak mau, kita harus bersiap" tambah Neill. "Mungkin Gertein akan menambah konfliknya dengan Stofein"


Di luar sana, Asvia mendecih dan geram pada dirinya sendiri. Ia sudah cukup mendengar semuanya. Inti dari rapat ini tidak lain adalah dirinya dan karena dirinya, ada kemungkinan kalau Gertein akan memusuhi Stofein.


***


Entah kenapa Asvia kepikiran untuk melangkah di area medis ini.


Langkahnya memenuhi koridor yang sepi ini. Asvia tidak berjalan menghadap ke depan, melainkan selalu ke samping agar ia dapat melihat pasien-pasien yang tengah dirawat di sini.


Sinar lentera yang terpasang di dinding bangunan membuat koridor ini terang dari gelapnya malam di luar sana.


Langkah Asvia terhenti ketika melihat Jein di dalam sana sedang bermain dengan belatinya. Lelaki itu sepertinya sudah membaik. Ia baru saja dihajar dengan telak oleh Tobias dan hampir dibuat mati olehnya.


Melihatnya sudah membaik, Asvia ikut senang.


Ia terus melangkahkan kakinya sampai ia bertemu dengan Sien yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Sien?"


"Ah, Kapten!"


Sien terkejut melihat Asvia ada di sini. Karena itu, ia membungkukkan dirinya untuk memberi hormat pada pimpinannya itu.


"Kenapa kau keluar?" tanya Asvia.


"Apa kau sudah pulih?"


"Ya" Asvia memperlihatkan tangannya yang diperban. "Walaupun masih agak terasa panas"


"Begitu?"


"Umm ... Kapten sendiri mau kemana?"


"Aku hanya ingin melihat kondisi kalian semua" Asvia sedikit menunduk. "Aku tidak bisa tinggal diam di saat prajurit-prajuritku sedang terluka"


"Begitukah? Kau memang kapten terbaik" Sien mengembangkan senyum khasnya. "Kalau begitu, aku pergi dulu, Kapten"


"Ya"


Sien melambai seiiring ia menjauh. Asvia juga harus pergi, ia rasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, melihat mereka semua pulih dengan baik.


Namun, ketika ia hendak keluar dari bangunan ini, Asvia tidak sengaja melihat sebuah ruangan di ujung sana.


"Bagaimana keadaannya?" gumam Asvia.


Merasa penasaran, ia melangkah menuju ruangan itu. Dari bulatan kaca yang terdapat di pintu, Asvia dapat mengintip ke dalam ruangan. Di sana, seseorang sedang terbaring dengan lemahnya.


Melihat tidak ada siapapun selain pasien itu, Asvia masuk. Ia menatap pemuda di ranjang itu dengan tatapan sedih.


Alvin terlihat begitu lemah, melebihi ketika mereka saat di colloseum. Rambutnya yang berantakan, serta bekas-bekas luka yang sudah diobati, lalu tubuhnya yang diselimuti oleh kain lebar untuk melindungi sekujur tubuhnya dari hawa dingin yang menusuk.


Asvia bimbang mau duduk di mana. Sebagai info, Asvia belum pernah mengunjungi seseorang yang ada di rumah sakit. Biasanya ia hanya melihat dari luar sebentar dan pergi begitu saja.


Akhirnya Asvia duduk di sudut ruangan, dekat dengan pintu. Tetapi, dari sini ia juga tidak dapat melihat Alvin dengan jelas.


Perlahan, Asvia mendekat hingga kursinya berada di samping ranjang. Ia pun duduk di sana sambil memperhatikan Alvin dalam jarak yang dekat ini.

__ADS_1


Asvia hanya diam, ia terus memandangi wajah Alvin yang babak belur itu. Sesekali ia melihat dadanya yang kembang kempis tanda ia bernapas.


Perhatian Asvia lalu berpindah pada ponsel Alvin yang berada di nakas samping ranjang.


"Tidak ada salahnya, kan?" gumam Asvia.


Ia pun meraih benda kecil itu lalu menggenggamnya. Awalnya bingung, benda itu hanya menampilkan warna gelap di layar depannya. Sembari menggaruk kepala, Asvia memperhatikan sisi samping ponsel ini.


"Tombol apa ini?"


Asvia menekan tombol power itu dengan telunjuknya. Ia pun dikagetkan dengan sinar terang dari layar itu dan karena kaget, Asvia secara tidak sengaja melempar ponsel Alvin dan hampir mendarat di wajah lelaki itu. Untung Asvia menangkapnya dengan cepat.


"Benda yang aneh"


Asvia mengusap layar itu lalu terbukalah tampilan menu dari ponsel tersebut.


Matanya sedikit terbuka lebar ketika melihat foto dirinya terpampang dengan jelas di sana. Ternyata Alvin masih menyimpan gambar dirinya dan itu membuat Asvia mengembangkan senyum walaupun secara tidak sadar.


Ia mengingat kembali bayang-bayang suara Alvin yang saat itu berhasil membuatnya tidak bisa berkata-kata.


--


"Aku tidak akan meletakkan foto apapun di dalam ponselku selain gambar itu terlihat indah bagiku" ucap Alvin.


Asvia tertegun sejenak. "Wajahku ... indah bagimu?"


"Ya, apa kau tidak menyadarinya?" Alvin menghela napas panjang lalu pergi ke atas pohon. "Mungkin kau terlalu keras dan dingin, sehingga kau lupa semanis apa wajahmu. Apa harus aku yang mengingatkannya?"


--


Asvia langsung menghilangkan ingatan acaknya itu. Setiap ia mengingat kata-kata Alvin yang terdengar sedikit angkuh itu selalu membuat pipinya memanas.


"Apa yang salah denganku?" Asvia menggeleng cepat. Ia pun menatap tajam wajah Alvin, tapi perlahan ekspresi wanita ini melunak.


"Ya ampun ..." Asvia menyandarkan kepalanya di pinggir ranjang Asvia. Ia merasa aneh pada dirinya.


Tentu saja, selama ini Asvia jarang memperhatikan bawahannya. Palingan hanya Jein dan Noya serta Sova saja yang dapat ia ajak bicara, diskusi dan bercanda, tapi ketika bertemu dengan bocah licik ini, membuat ia merasakan sesuatu yang berbeda.


"Alvin ..." Asvia tanpa sadar memanggil nama lelaki itu. Ia menegakkan kembali kepalanya dan menatap lekat wajah Alvin.


"Bangunlah, aku tahu kau kuat" Asvia mengguncang sedikit tubuh Alvin. "Mana sifat sombongmu? Apa kau mau terlihat lemah begini di depanku?"


Alvin tidak merespon.


Asvia melirik tangan Alvin yang berada di luar selimut. Sedikit demi sedikit, Asvia meraih jari jemari Alvin. Tangannya terus merayap ke punggung tangan Alvin, lalu berhenti dan menggenggam tangannya yang dingin.


"Bangun" ucap Asvia, pelan. "Jika kau bangun, aku akan mengizinkanmu bermain Stickball lagi ..." Asvia lalu bercerita sedikit tentang permainan ini.


Ia mengatakan kalau Stofein punya tim Stickball sendiri. Tim Stofein sering mengikuti kejuaraan, namun sayangnya tidak pernah merasakan juara.


"... jika kau bergabung, mungkin kita akan bisa memenangkan kejuaraan dan mengisi lemari kosong itu dengan piala"


Asvia terkekeh pelan, tetapiĀ  tatapannya kembali sedih. Alvin belum juga menunjukkan tanda untuk bangun.


"Hey, mau tahu sedikit rahasia?" Asvia berbisik. "Aku tahu ini memalukan, tapi aku ..."


Perlahan Asvia bangkit dan mencondongkan tubuhnya ke wajah Alvin. Asvia mendekatkan bibirnya ke dahi Alvin, lalu mengecupnya dengan lembut.


Kecupan itu ia akhiri dengan mengangkat bibirnya dari sana, lalu menempatkan dahinya di bekas ia meninggalkan kecupan kecil tadi.


"Aku menyukaimu. Jadi, bangunlah"


____


Jika kalian puas, kalian boleh menekan tombol like pada novel ini. Satu like dari kalian, maka akan menambah kesan dari kisah ini.


Oh, jika kalian ingin mendapat info lebih dari 'Dataran Lafier' atau novel lainnya, kalian bisa follow instagram saya.


@haritsataqii


Oke, stay tune!

__ADS_1


Makasih <3


Next : Ch.27 - Nasehat


__ADS_2