
Perkiraan Jein, sore ini mereka sudah bisa sampai di perkemahannya, namun alam mengatakan hal lain.
Hujan lebat mengguyur bumi pada siang itu, memaksa mereka berteduh pada suatu goa. Fio dan yang lainnya menunggu di sana sampai hujan reda.
Hawa sejuk dan juga goa ini yang lembab membuat mereka berenam menjadi kedinginan. Mungkin tidak untuk Jein, ia tampak terbiasa, namun kelima remaja manusia biasa ini sungguh tidak tahan.
Anna dan Lisa terus menggesek-gesek telapak tangan mereka untuk menciptakan kehangatan walaupun tidak sebanding dengan dinginnya temperatur di goa ini.
"Alvin... bisa kau pinjamkan jaketmu?" tanya Anna, menggigil.
"Aku mau saja, tapi jaketku basah" Alvin mengangkat jaketnya yang ia letakkan di bebatuan. "Apa kita bisa buat api?"
"Tidak, angin dari luar terlalu dingin" jawab Jein. Ia menoleh ke belakang, di kegelapan sana mungkin lebih hangat dari luar sini, tapi Jein ragu. Biasanya, goa menjadi tempat tinggal makhluk buas.
Tetapi, mati kedinginan di sini juga tidak lucu.
Jein bangkit dari duduknya, lalu mengeluarkan semacam bola kaca. Ia menggesekkan telapak tangannya dengan cepat di sisi bola kaca tersebut. Tidak lama kemudian, benda itu mengeluarkan cahaya.
"Hujannya mungkin tidak akan reda dalam waktu yang cepat. Kita harus masuk ke dalam goa ini, berharap menemukan sesuatu yang dapat menghangatkan diri kita"
"Apa? Masuk ke dalam sana?" Roby menunjuk kearah kegelapan. "Apa kau tidak merasakan ada bahaya di dalam sana?"
"Iya, aku merasakannya. Tapi, begini saja, pilih mati kedinginan di sini atau ikut denganku ke dalam sana, bagaimana?"
Mereka berlima tampak berpikir. Fio mengintip keluar sejenak, memang hujan ini semakin lama semakin lebat dan belum ada tanda-tanda untuk reda. Dengan mengumpulkan seluruh keberaniannya, ia mengangguk setuju dan memilih ikut dengan Jein.
"K-kau mau ikut dengannya?" Roby terkejut melihat keputusan yang diambil Fio.
"Ya. Kita belum tahu apa yang ada di dalam sana" jawab Fio.
Roby mengerutkan dahinya, ia berdiri dan menatap Fio dengan tajam. "Asal kau tahu saja, karena keputusanmulah yang membuat kita terdampar ke sini. Kau juga mengatakan hal yang sama sebelum hal buruk menimpa kita"
"Tapi situasinya sudah berbeda—"
"Sama seperti saat itu!" bentak Roby, memotong ucapan Fio.
Sadar ia kehilangan kesabaran lagi, Roby menarik napasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan.
"Baiklah, aku ikut. Aku tidak tahu lagi" Roby pun setuju.
"Lisa, Anna?" Jein bertanya.
Kedua gadis itu juga tidak punya pilihan lain. Mereka pasrah ikut, lagipula mereka berdua juga sudah tidak tahan dengan hawa dingin yang menusuk kulit rapuh mereka ini.
"Alvin?"
"Aku ikut saja"
"Baiklah" Jein memimpin perjalanan, diikuti oleh Roby di belakangnya, lalu Anna dan Lisa.
Fio masih terpaku di tempatnya berdiri. Ucapan yang dilontarkan Roby tadi benar-benar membuatnya kembali bersalah. Semenjak datang kemari, Fio selalu dibayang-bayangi kecemasan.
Ketika dikejar oleh predator tadi di hutan, ia sama sekali tidak memikirkan nasib teman-temannya. Ia hanya lari untuk menyelamatkan dirinya sendiri, padahal dialah yang paling bersalah. Ia juga tidak bisa membantu Roby yang tersandung akar, ia terlalu ketakutan. Alhasil, Alvin lah yang mengambil tindakan yang beresiko itu.
"Ayolah"
Alvin menepuk pundak Fio begitu ia berjalan melewatinya. Dengan perasaan yang tidak tenang, Fio mengekor dari belakang.
Sejak masuknya mereka ke dalam goa ini, mereka masih belum menemukan apapun. Hanya lorong gelap dan suara langkah mereka.
Alvin yang berada paling belakang sesekali memeriksa keadaan di belakangnya. Kedua gadis itu berada di tengah-tengah, jaga-jaga kalau ada sesuatu yang terjadi, mereka dapat dilindungi.
Mereka terus berjalan masuk, sampai Jein mengangkat tangan kanannya dengan telapak tangan yang mengepal, mengisyaratkan untuk berhenti.
Merasa ada yang aneh di depan, Jein melempar bola cahaya miliknya. Bola itu menggelinding sampai akhirnya terjatuh ke dalam jurang.
"Ada jurang di depan" kata Jein. Ia memeriksa jurang itu. "Cukup dalam" gumamnya.
"Bagaimana sekarang?" tanya Lisa.
Jein merenung sejenak sambil memikirkan sebuah cara. Di depan sana ada jalan, tapi mustahil untuk sampai kesana. Jarak antara tempat mereka berdiri dan seberang sana mungkin ada dua puluh meter jauhnya.
"Aku tidak ingin digendong lagi" sahut Alvin dari belakang.
"Kita tidak akan menyebrang, melainkan turun" jawab Jein, tiba-tiba.
Mereka berlima kaget dengan keputusan Jein. Jurang ini dalam dan lebih parahnya gelap serta mungkin ada makhluk pemakan daging yang siap membuat mereka jadi dendeng ataupun sup.
__ADS_1
"Kuakui kau hebat dan cerdas, tapi kali ini, aku menganggapmu gila, kawan" kata Roby.
Krak...
Fio mendengarkan suatu bunyi dari belakangnya. Ia pun menoleh, diikuti oleh Alvin yang juga sama penasaran dengannya.
Bunyi seperti ketukan benda keras itu semakin mendekat, tapi rasanya bunyi itu lebih dari satu. Berirama, mirip suara langkah.
Sementara itu, Jein sudah mengikatkan tali pada bebatuan di sana untuk menahan beban mereka kalau jadi turun. Roby masih protes, ia bilang tidak ingin turun apapun yang terjadi.
Fio dan Alvin terus mengamati di mana sumber suara itu datang. Suara tersebut mendekat, namun ada bayangan besar yang juga muncul seiring bunyi itu mendekat.
Dari belokan lorong itu, muncul seekor laba-laba hitam raksasa dengan sedikit bulu di tubuhnya.
Fio berteriak. Yang lainnya kaget dengan teriakan itu, langsung menoleh ke belakang. Mereka pun panik, terutama Roby.
Roby, yang awalnya tidak mau turun, menjadi orang yang pertama turun karena kehadiran laba-laba raksasa itu.
"Semuanya turun ke bawah sekarang!" seru Jein. "Ayo, para gadis terlebih dahulu. Kami akan menahan mereka selagi kalian turun"
"Kami?"
"Yang benar saja"
Fio dan Alvin mengomel, tapi Jein tidak mempedulikannya. Ia langsung mengeluarkan busurnya dan juga anak panah.
Lisa dan Anna turun menggunakan tali yang sudah Jein julurkan tadi ke bawah.
Bersama-sama, ketiganya berusaha menahan agar laba-laba itu tetap di tempatnya. Fio dan Alvin melempar bebatuan kearah hewan itu, sedangkan Jein menggunakan panah dan busurnya.
Merasa terdesak, sang laba-laba hendak mundur, tapi melihat Alvin dan Fio tidak punya apapun lagi untuk di lempar, nafsu membunuhnya meningkat.
"Kalian turunlah terlebih dahulu!" seru Jein.
Fio dan Alvin berlari menuju tali. Jein terus menembakkan anak panahnya kepada laba-laba itu, meskipun ia selalu mundur ke belakang. Tapi, siapa sangka, ia malah tersandung. Busurnya lepas dari pegangan, mengarah ke jurang.
Fio yang hendak turun melihat busur Jein.
"Jein dalam masalah" kata Fio.
Jein bangkit berdiri dan berjalan pelan ke belakang. Ia menggunakan anak panahnya sebagai pertahanan.
Itu sia-sia, Jein malah dihantam oleh salah satu kaki laba-laba itu hingga terhempas menuju jurang. Tubuhnya melayang jatuh ke bawah. Dengan cepat Alvin menangkapnya sebelum ia benar-benar jatuh dan mendarat di tanah.
Fio masih berada di atas. Busur dan anak panah milik Jein tergeletak di dekatnya, sedangkan laba-laba itu semakin mendekat.
"Bagaimana cara pakainya?" tanya Fio pada dirinya sendiri. Ia berusaha meletakkan anak panah itu pada tali busur.
Sementara ia sedang fokus, laba-laba itu tinggal beberapa meter di depannya.
"Fio! Turun cepat!" teriak Alvin.
Fio masih berusaha. Busur dan anak panah itu sulit sekali dikendalikan. Setelah berhasil meletakkan anak panah itu pada tempatnya, Fio membidik.
"Apa yang dilakukan mereka di atas sana?"
Roby menengok ke atas. Alvin dan Jein masih bergelantungan di tali.
Fio melepaskan tembakannya. Anak panah itu melesat hingga tertancap di salah satu mata laba-laba tersebut. Hewan itu kesakitan, ia meronta-ronta dan kabur begitu saja.
"Aku berhasil?" tanya Fio. "Aku berhasil! Tidak kusangka aku berhasil!"
"Fio!" panggil Alvin.
"B-baik, aku turun" jawabnya.
Selepas pertarungan yang melelahkan itu, Fio menceritakan aksinya tadi kepada teman-temannya. Dengan semangat ia menjelaskannya dengan rinci tanpa ada yang dilebih-lebihkan dan juga dikurang-kurangi.
Jein terkekeh. "Mungkin kau mempunyai bakat sebagai seorang pemanah. Kau bisa menjadi bagian dari pemanah Perkampungan Stofein"
"Tidak, tidak, yang kulakukan tadi hanya kebetulan saja" Fio tertawa malu.
"Jein, kau belum menceritakan tempat tinggalmu kepada kami" ujar Roby.
"Benar juga, bagaimana Perkampungan Stofein ini?" tanya Lisa.
Jein memperhatikan wajah penasaran mereka berlima. Ia tersenyum lalu bangkit dari tanah. "Kapan-kapan aku cerita saat kita sampai di perkemahan"
__ADS_1
"Yah!" Roby dan Anna tampak kecewa.
"Maaf, ya" Jein tersenyum canggung. "Kita harus menelusuri goa ini dulu. Aku harus buat obor"
Mereka kembali berjalan. Semuanya mulai berhati-hati dan bersiaga, tidak ingin kejadian tadi terulang, mereka semua memasang mata dan telinga sebaik-baiknya.
Keadaan di bawah goa ini semakin mencekam. Jein yakin dari tadi, semenjak mereka turun, ada yang mengawasi. Matanya lihai berpindah kemana-mana, memperhatikan apa saja yang ada di sekitar.
"Wah, besar sekali"
Roby menemukan fosil tengkorak hewan. Fosil itu besar, mungkin Roby hanya sebesar gigi tengkorak itu.
"Hey, lihat" panggil Anna. Ia menemukan sebuah tombak tergeletak di tanah.
"Mungkin sudah ada yang pernah kemari" pikir Jein.
"Kurasa juga begitu" Fio menemukan goresan-goresan di dinding serta pakaian kulit yang sudah dimakan rayap sebagian.
Ketika Lisa ikut memeriksa sekitar, sudut matanya tidak sengaja menangkap sesuatu. Di balik celah antara dua dinding yang terpisah ini, ia melihat ada sebuah kotak dan kain merah.
Penasaran ada apa di dalamnya, ia mencoba masuk. Untungnya tubuhnya muat untuk masuk ke dalam sana. Ketika berada di sana, ternyata ada dua kotak kayu yang ukurannya sama, sebuah pedang yang berkarat, busur dan barang-barang yang sudah tidak bisa dipakai lainnya.
Begitu ia mengambil salah satu kotak, cahaya obornya menerangi sesuatu dan itu menarik perhatian Lisa.
Itu kerangka manusia, mungkin.
Degup jantungnya terpacu saat itu juga, napasnya mulai sesak. Ia tidak bisa berteriak, yang ia lakukan hanyalah mundur secara perlahan hingga punggungnya menyentuh sesuatu yang hangat.
"Ssh.."
Dari belakang, ada yang menutupi kedua matanya dengan telapak tangan. Rasanya lembut dan hangat, entah kenapa Lisa menjadi tenang.
"Jangan berkeliaran"
Suara yang dingin dan datar itu langsung membuat Lisa mengenali siapa pemiliknya.
"Alvin?"
"Ya. Apa?"
Lisa menghela napas lega. Segera saja ia membenamkan kepalanya di dada Alvin. Ia ketakutan, keringatnya bahkan menjadi dingin, seluruh tubuhnya menggigil ketakutan.
"Ada tengkorak" gumamnya.
"Kau itu penakut, tapi suka berkeliaran sendiri. Ini hanya tulang belulang, tidak bernyawa" kata Alvin.
"Tetap saja mengerikan" Lisa memasang wajah cemberut.
Seolah tidak peduli, Alvin mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Mata datarnya berbinar ketika melihat ada sebuah pedang, ia langsung memungutnya.
"Sebaiknya ambil yang berguna" kata Lisa.
"Ya.." Alvin mendengus pelan. Ia memperhatikan kerangka yang tengah duduk itu. "Menurutmu, kenapa dia mati dengan posisi seperti itu?"
"Itu mengerikan" Lisa bersembunyi di belakang Alvin.
"Apa mungkin..." Alvin seolah mendapat sebuah alasan yang bagus. Ia mencoba menerangi ruangan sempit ini, dan juga ia mengukur celah masuk yang menjadi jalan ke ruangan ini.
"Astaga, kalau ini benar, maka..." Alvin terdiam sejenak.
"Ada apa?" Lisa menjadi heran.
"Dia mati karena melindungi dirinya dari sesuatu dan malah terjebak di sini sampai hidupnya berakhir"
Lisa merinding. Di saat itu juga, keduanya dikejutkan oleh jeritan Anna di luar sana.
———
Jika kalian puas, kalian boleh menekan tombol like pada novel ini. Satu like dari kalian, maka akan menambah kesan dari kisah ini.
Oh, jika kalian ingin mendapat info lebih dari 'Dataran Lafier' atau novel lainnya, kalian bisa follow instagram saya.
@haritsataqii
Oke, stay tune!
Makasih <3
__ADS_1
Next : Ch.4 - Dikejar